
Serentak para Goblin berlari menyerbu setelah melihat tiga orang itu berlari ke medan perang. Sosok Illiam menghentikan langkahnya, berteriak lantang. "Terimalah! Berkat dari dewa!"
Perasaan yang sama setelah teriakan itu dirasakan oleh kedua laki-laki yang terus berlari, begitupun Tempest Wolf yang ditugaskan Ryuha untuk menjaga wilayah sekitar Illiam.
Tusukan tombak, tebasan sabit, dengan cepat gerombolan Goblin yang mendekati mereka tumbang mengotori tanah dengan bercak darah merah. Nafas berat berpadu dengan tawa jahat Goblin yang terus berdatangan membisingi medan perang tersebut. Ryuha dan Louise menghadapkan punggung mereka sembari mengatur ulang nafas.
Tekanan udara kuat jatuh tepat di atas meraka, membuat pandangan keduanya teralih ke arah itu. Sebuah balok kayu raksasa hendak menjatuhi mereka. Cepat Louise menghentakkan kaki di tanah, melesat meninggalkan Ryuha yang melempar tombaknya kuat-kuat, menembus perut Goblin-goblin di arah depan.
"Fiery Blow!" Boommm!!!
Beradu kekuatan, balok kayu itu terpental sebab kekuatan yang dikeluarkan Ryuha lebih kuat. Tekanan yang dihasilkan oleh keduanya membuat tanah di sekitar Ryuha mendapatkan retakan-retakan kecil.
Menggunakan Telekinesis, Ryuha mengambil tombak tulang yang tertancap di salah satu bangkai Goblin, menghentakkan kaki dan melompat tinggi menggunakan Emptiness Step. Tatapannya tajam melihat Orc yang berdiri kehilangan keseimbangan. Dengan tenaga penuh, dilemparnya tombak tulang itu tepat ke arah jantung sang raksasa. Tombak melesat yang tak dapat dilihat oleh mata biasa, tepat mengenai iga raksasa.
Boomm!!!
Ledakan kecil di dada raksasa membuatnya kalang kabut untuk berdiri dan akhirnya tumbang. Tanah di medan perang bergetar hebat seketika tubuh raksasanya menghantam tanah. Ryuha jatuh dengan kepalan tangan kanan yang bersiap untuk memukul.
"Fiery Blow!" Boommm!!!
Terhempas Goblin-goblin yang berada di sekitar titik jatuh, tanah pun semakin banyak mendapatkan retakan. Louise dan Illiam yang melihat peristiwa itu hanya ternganga di tempat. Namun tidak dengan Ryuha, terlihat sosoknya menggertakkan gigi dan menatap tajam tubuh sang raksasa. Terlihat di matanya, tombak tulang yang hancur menjadi kepingan-kepingan kecil ketika menghantam iga milik Orc itu.
Beranjak bangkit tubuh raksasa itu. Semakin ternganga kedua orang di belakang Ryuha. Namun kawanan Goblin yang terus berdatangan tak memberikan kesempatan bagi mereka untuk terkejut. Louise yang mulai merasa kewalahan pun sedikit demi sedikit mundur mendekati Illiam dan Tempest Wolf.
Melihat sosok hijau yang buruk rupa, Ryuha hentakkan kembali kaki di tanah, sembari melompat dia mengambil Double Barrel Shotgun dari dalam cincin.
__ADS_1
Duarr!!!
Percikan peluru api yang menyebar menumbangkan langsung lima Goblin dengan tubuh mereka yang terkoyak dan terlihat terbakar. Jatuh ke tanah, laki-laki itu disambut dengan balok kayu raksasa. Cepat hentakkan kakinya di tanah, kembali melompat tinggi menyerong ke belakang. Dia tembakkan lagi peluru api, kali ini ke arah kepala Orc.
Duarr!!!
Peluru api terpercik ke sekujur arah di depan, dari jarak mereka yang lebih dari lima meter, beberapa berhasil terpercik ke wajah seram itu. Sang Orc segera meraung kesakitan sembari menutup luka di wajah dengan tangan kiri. Ryuha memutar-mutar tubuh di udara dan jatuh dengan mantap di dekat rekan-rekannya.
"Kulit Orc sangat keras, senjata biasa tidak akan bisa melukainya. Tapi jika aku menggunakannya... " Batin Ryuha. Sedikit melirik ke kain yang membalut Blood Curse Sword. "Kakek Illiam, apa anda bisa menggunakan teknik selain Berkah Dewa?" Tanyanya sembari mengisi peluru senapan.
Hanya terdiam, kakek itu membuang kasar nafasnya. "Dulu aku bisa leluasa menggunakan teknik ini. Namun diriku sudah tua, monster yang kujalin kontrak pun telah lama mati. Setelah aku menggunakan teknik ini, aku tidak akan lagi bisa memberikan Berkah Dewa."
Menyadari hal itu adalah teknik yang hebat sehingga memakan banyak tenaga, Ryuha tersenyum kecil. "Aku sudah terbiasa bertarung tanpa adanya Berkah Dewa. Jadi, kali ini aku mengandalkan anda!"
Ucapan itu sontak membuat rasa percaya diri muncul di lubuk hati Illiam. Dirinya pun ikut tersenyum dan mengangguk yakin.
Sang raksasa yang melihat itu sontak meraung ganas. Lagi, makhluk itu mengayunkan balok kayu raksasanya. Itu terbaca, dia langsung hentakan kakinya di tanah, sosok Ryuha seketika berada tepat di atas balok kayu setelah asap coklat tebal diciptakannya, dan terus berlari di atas balok kayu. Tangan kiri hijau berotot yang lepas hendak menamparnya, segera dia mengacungkan senapan ke arah itu.
Duarr!!!
Percikan peluru seluruhnya mengenai telapak tangan sang Orc, sehingga tangan raksasa itu kembali terangkat. Rasa sakit tak dihirau, akal masih dapat berjalan, makhluk itu menekuk siku kanannya, jalur yang digunakan Ryuha sehingga tubuhnya kalang kabut untuk berdiri utuh. Dalam kondisi panik, kepalan tangan berotot melesat ke arahnya. Laki-laki itu menggertakkan gigi, mengacungkan senapan tepat ke wajah buruk rupa makhluk itu dan langsung menarik pelatuknya.
Duarrr!!!
Seluruhnya mengenai wajah seram itu sehingga kepalanya terdangak hampir menyentuh punggung. Namun sayang sekali, tangan yang terkepal itu, walaupun tidak berhasil memberikan pukulan dia berhasil menggenggam erat Ryuha. Cengkeraman yang sangat kuat, serasa tulang-tulangnya hendak bergeseran, dadanya pun terasa cukup sesak. Sekuat tenaga menahan itu, laki-laki itu menggertakkan gigi, melihat wajah seram yang dipenuhi luka bekas tembakan yang masih segar.
__ADS_1
Terlihat wajah kesal itu, sang raksasa memperkuat cengkeramannya sampai terdengar suara renyah yang membuat Ryuha terpejam meringis kesakitan. Cengkeraman itu berhasil meretakkan tulang lengan kiri Ryuha. Terus meraung memuncratkan liur ke wajah Ryuha, makhluk itu melempar lalu memukulnya dengan kuat menggunakan balok kayu layaknya tengah bermain baseball.
Boommm!!!
Asap tipis tercipta setelah tubuh Ryuha menghancurkan tembok yang terbuat dari batu bata, yang membuat pandangan rekan-rekannya teralih ke arah itu. Benar-benar serangkaian serangan yang bisa dibilang mematikan. Akan tetapi, Ryuha malah menampakkan senyum dingin di wajahnya. Itu karena dia menyadari sesuatu, begitupun sang Orc yang sontak mendangakkan kepala.
Terlihat jelas di tengah-tengah awan, sesuatu seperti tornado, namun itu membentuk jarum seukuran tubuh raksasanya. Seperti halnya manusia, keringat dingin mencucur di wajahnya.
Ukiran senyum terlihat di wajah Illiam. "Ini adalah teknik peninggalan rekan seperjuangnku. Terimalah ini!!!"
"Sharp Hurricane!!!" Diiringi teriakan serak halus, benda itu melesat bagai jarum yang dilemparkan secara lurus, itu tepat ke arah sang Orc. Makhluk yang panik itu sontak berlari tanpa mempedulikan apapun. Namun itu sudah terlambat.
Blakk, boomm, woshhhh!!!
Hembusan angin kencang menghempaskan semua benda yang ada di sekitar sana. Pepohonan tumbang, Goblin-goblin beterbangan seperti bulu yang tertiup angin kencang. Dengan perisai, Louise melindungi dirinya dan Illiam yang sudah terlutut lemas bersama Tempest Wolf di sampingnya, Ryuha berlindung di balik tembok yang bergoyang seiring berjalannya waktu. Tekanan angin itu bahkan mampu meniup genteng-genteng rumah di dalam desa dan beberapa bangunan tua.
Berlangsung selama setengah menit, hembusan kuat itu memudar secara perlahan. Semua yang ada di sekitar sana sontak memenuhi hasrat untuk bernafas, terutama Ryuha yang menyandarkan tubuh sambil meringis kesakitan.
Beberapa Goblin masih dapat bangkit, Louise dan Tempest Wolf ikut bangkit dan mulai membasmi mereka.
"Cuihh, monster-monster jelek sialan! Merepotkan saja!" Louise membuang ludah, terus beranjak dari medan perang menghampiri Ryuha. Nampak Tempest Wolf yang terus gemetaran sekujur tubuhnya, itu terlihat seperti benar-benar kehabisan tenaga. Walau masih sedikit merasa takut, dia memberanikan diri dan membopongnya.
Entah mengapa, tingkahnya terlihat aneh, binatang itu seakan tak bisa mengendalikan kekuatan yang ada dalam tubuhnya. Namun tak ada satupun diantara mereka yang tahu dan hanya berpikir jika Tempest Wolf hanya kehabisan tenaga. Binatang itu pun terjun ke dalam bayangan pemiliknya.
"Ryu, bertahanlah! Aku... " Hendak membantu Illiam memapah Ryuha, ketiga orang itu seketika terdiam dengan mulut sedikit terbuka saat melihat pemandangan baru di medan perang.
__ADS_1
Hawa membunuh yang menyesakkan dada, medan perang mereka seakan dipenuhi oleh aura seperti itu. Namun yang membuat mereka terus terdiam gemetaran bukanlah hal itu, sesuatu seperti benang-benang hitam yang terjundat rapi, yang terus menjalar melilit bangkai-bangkai yang ada di sana. Seekor Goblin berjubah hitam perlahan menampakkan diri dari kegelapan, bersamaan dengan bangkitnya mayat-mayat dengan penampilan baru mereka.
Bersambung ...