( Re ) Legendary Summoner

( Re ) Legendary Summoner
Tempest Wolf Awakening


__ADS_3

Itu adalah sebuah lautan tulang belulang, berbagai macam tengkorak tersebar di tempat itu termasuk tengkorak manusia. Ditelan ludahnya setelah sesaat bulu kuduknya berdiri.


Sedikit melihat lebih jelas, bagaimana kondisi di sana, dan itu semakin membuatnya tercengang. Seekor Awakening Tempest Wolf dengan ukuran tiga kali lipat lebih besar nampak tengah bersemayam di atas batu di ujung ruangan berbentuk lingkaran tak rata itu. Hal itu membuat hatinya bertanya-tanya 'Kenapa hal itu bisa terjadi?'


"Sepertinya itu Boss Dungeon ini?! Dilihat dari pawakkannya, aku yakin makhluk itu terus berkembang dengan memakan Essence di dalam?!" Ujar Baal. Ryuha mengangguk kecil setelah memikirkannya.


"Aku mengerti, Dungeon ini cocok untuk monster beratribut Wind berkultivasi." Ucapnya. "Em, kultivasi setiap monster akan dua kali lebih cepat jika berada di dalam Dungeon yang sama atributnya."


Mendapatkan seputar informasi, tapi itu tidak penting sekarang dan tak ingin dia pikirkan termasuk yang lain sampai urusan di dalam tempat ini terselesaikan olehnya.


Dirinya pun bersiap untuk masuk ke dalam sana. "Tempest Wolf kau siap?" Ucapnya. Segera setelah satu lolongan, mereka berdua melesat bersamaan melayangkan serangan kepada serigala yang tengah bersemayam di atas batu itu.


Agaknya suara langkah kaki di dengarnya, sang Boss Dungeon beranjak bangkit dari tidurnya. Melihat dua makhluk beda spesies berlari ke arahnya, makhluk itu langsung melesat ganas menerkam mereka.


Sesaat tercengang, Ryuha dan Tempest Wolf melompat ke arah yang berlawanan.


Boomm!!!


Asap coklat tebal tercipta setelah sang Boss Dungeon pijakkan kaki di tanah. Tak memberi kesempatan untuk terkejut, dengan kecepatannya yang tak bisa dipungkiri, makhluk itu kembali melesat ke arah Ryuha dari dalam asap tebal itu.


Mulut binatang itu benar-benar terbuka lebar. Diadunya pedang itu, Ryuha menebaskannya secara horizontal.


Crakkk!!!


Bilah pedang digigit kuat-kuat oleh sang Boss Dungeon, membuat Ryuha kesulitan untuk bergerak. Cakar tajam raksasanya dia keluarkan hendak dicabikkan kepada Ryuha, segera diambilnya belati di punggungnya, keduanya dilayangkan secara bersamaan.


Saling beradu kekuatan keduanya, itu benar-benar membuat tenaga Ryuha terkuras sangat cepat akibat kekuatan mereka yang terpaut cukup jauh. Bagaimana tidak, dengan ukurannya yang sebesar itu, Awakening Tempest Wolf itu sudah sekelas dengan monster bintang empat, sedangkan dirinya hanya seorang Summoner level empat belas.


Namun Ryuha tetap tak gentar menghadapinya, dirinya menyeringai. Tiba-tiba dari belakang muncul Tempest Wolf yang menerkamnya dengan ganas, kaki kiri belakang raksasa itu berhasil digigit kuat-kuat oleh sang Tempest Wolf, membuat makhluk itu terkejut dan kehilangan konsentrasi. Kaki itu terus menendang Tempest Wolf sehingga membuatnya terhempas tergelinding ke belakang.


Mendapatkan satu celah, tentu Ryuha tidak ingin membuangnya sia-sia, belati yang beradu dengan cakar raksasa itu dia hentakkan kuat-kuat sehingga cakar itu terdorong ke belakang, tanpa selang waktu setelahnya dia terus menusukkan mata belati ke telapak tangan itu.


Roarrrr!!!


Langsung meraung kesakitan, membuat kedua telinga Ryuha yang ada tepat di depannya itu berdengung. Kesempatan emas ada di depan mata, Ryuha terus mengambil ancang-ancang dan menebaskan pedangnya kuat-kuat secara vertikal.


Bilah pedang yang melesat itu disadari oleh Awakening Tempest Wolf, tanpa mempedulikan apapun makhluk itu segera menggigitnya kembali. Kegagalan dalam serangan membuat laki-laki itu spontan terkejut. Tempest Wolf dari belakang, makhluk kembali berlari hendak menerkam sang Boss Dungeon setelah beranjak bangkit. Serangan yang sama tidak akan efektif dilakukan dua kali, Awakening Tempest Wolf yang menyadarinya sontak menarik pedang kuat-kuat sehingga membuat Ryuha hampir tersungkur, cakar kanannya segera dia cabikkan kepada Ryuha.


Woshhh!!!


Disertai tekanan angin kuat, tubuh Ryuha terhempas terguling-guling di udara dengan sedikit luka gores di dadanya, terus sampai menghantam dinding, ke mana pedangnya terhempas. Sang Boss Dungeon segera membalikkan badan, pergerakan Tempest Wolf yang sangat cepat itu seperti terlihat jelas di matanya. Binatang itu langsung hentakkan kakinya lalu melesat menerkamnya yang masih melesat di udara.


Jauh lebih cepat daripada Tempest Wolf, makhluk itu membuka mulut dan cakarnya lebar-lebar. Mulut yang hampir memakannya itu berhasil dihindari oleh Tempest Wolf, namun cakar raksasa berhasil menangkapnya sehingga binatang itu hanya bisa pasrah saat dihempaskan ke dinding.


Brakk!!!


Remukan bebatuan kecil berjatuhan mengiringi Tempest Wolf yang terbanting ke tanah setelah menghantam dinding batu. Kembali bangkit, tatapannya lebih buas dari sebelumnya. Kembali mereka mengadu terkam.


Kertakan gigi karena kesal, Ryuha beranjak bangkit dengan berpegang pada dinding yang merupakan sebuah bebatuan. Tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu, benda itu terasa sedikit dingin dengan permukaan halus, juga terasa seperti kelereng yang terkubur separuh dalam tanah.


"Ini Essence?!" Sedikit terkerut alisnya saat memandangi batu kecil itu. "Bagus! Kita membutuhkan dua lagi untuk meng-Awaken Tempest Wolf!" Ujar Baal.


"Ha? Bagaimana caranya?" Semakin terkerut alis Ryuha. "Tinggal berikan saja untuk dimakan!" Jawab Baal.

__ADS_1


"Bisakah seperti itu? Bagaimana dengan ritual-ritual anehnya?"


"Persetan dengan ritualnya! Cepat lakukan saja, keadaan kita sangat tidak menguntungkan sekarang!" Tegas Baal.


Dua serigala yang masih beradu terkam, sosok Awakening Tempest Wolf jauh lebih domain, bahkan ritme nafasnya hanya berubah sedikit setelah berkali-kali melakukan terkaman. Keduanya kembali hentakkan kaki, melesat secara bersamaan. Terlihat sangat jelas kecepatan Tempest Wolf yang jauh lebih lambat dari sebelumnya. Beradu kekuatan di udara, cakar raksasa itu berhasil meraih Tempest Wolf, makhluk itu terus mencengkeramnya membuatnya tak bisa bergerak dan hanya bisa pasrah saat cengkeraman itu menjadikannya sebuah pijakkan. Serasa tulang belakangnya mendapat retakan, serigala itu hanya mengeram sambil terus menatap tajam sang Boss Dungeon.


Dari belakang, sebuah benda seperti bola api melesat ke arahnya. Awakening Tempest Wolf sontak melompat menghindar sehingga bola api itu meleburkan dinding batu.


Sosok Ryuha segera berpindah ke tempat Tempest Wolf yang terus beranjak bangkit menggunakan Emptiness Step. Mereka berdiri berdampingan sambil memantapkan tatapan kepada serigala raksasa yang tengah mengeram itu. Pikiran mereka seakan menyatu, Tempest Wolf segera paham apa yang tengah dipikirkan oleh majikannya.


Kembali hentakkan kaki, sang Boss Dungeon dengan kecepatan diluar nalar melesat menerkam mereka berdua.


Jelas disadari walaupun hanya bisa melihat sekelebat saja, mereka berdua melompat ke arah berlawanan kembali. Sama seperti saat-saat pertama, dari balik asap tebal itu sang Boss Dungeon langsung melesat kembali tanpa memberikan selang waktu, bedanya kali ini makhluk itu melesat ke arah Tempest Wolf.


Tempest Wolf pun ikut melompat, menghindar tanpa adanya rasa terkejut atau panik. Lagi-lagi tanpa selang waktu, Awakening Tempest Wolf menerkamnya secara ganas, binatang itu pun terus dan terus menghindar.


Seringai yang dilakukan Ryuha, semuanya sesuai rencana, karena dia tahu jika sang Boss Dungeon memiliki kecerdasan yang sedikit lebih tinggi dari Tempest Wolf pada umumnya sehingga tidak akan melakukan serangan yang sama dua kali, namun tetap saja yang berbeda hanyalah siapa yang diserangnya, dan itu menguntungkan bagi Ryuha dan Tempest Wolf.


Sementara kedua serigala itu berkejar-kejaran, Ryuha berlari menyusuri dinding-dinding batu sambil mencari Wind Essence. Sampai saat tiga buah batu bulat kecil berada di genggamnya, segera laki-laki itu memanggil Tempest Wolf.


Sontak binatang itu langsung siaga, tepat saat dia melompat menghindar, Ryuha melempar ketiga batu itu ke dalam jalur lesat Tempest Wolf, berhasil masuk ketiganya ke dalam perut sang serigala. Rasanya sangat aneh saat benda itu masuk, seperti kekuatannya meluap-luap tak beraturan.


Segera sebelum sang Boss Dungeon menerkam Tempest Wolf, Ryuha berpindah menggunakan Emptiness Step bersamaan dengan pukulan berapinya.


"Fiery Blow!" Hanya menggunakan udara sebagai pijakan, laki-laki melayangkan pukulannya kuat-kuat tepat ke kepala makhluk yang melesat ke arahnya itu.


Makhluk itu yang terkejut hanya bisa pasrah menerima pukulan itu.


Booomm!!!


Tak seperti Ryuha yang bangkit dengan perlahan, sang Boss Dungeon terus bangkit seperti tak merasakan rasa sakit sama sekali. Menyadari sesuatu yang janggal, binatang itu kembali hentakkan kaki dan melesat menerkam Tempest Wolf sebelum proses Awakeningnya selesai dan mendapatkan kemampuan baru.


Bersamaan dengan itu, lima buah cincin api segera muncul beterbangan di sekitarnya. Seringainya semakin jelas saat tangannya melekuk-lekuk mengerahkan kelima cincin apinya.


"Ring Of Fire! Lock!" Kelimanya langsung melesat beterbangan. Sang Boss Dungeon yang tak mengetahui apa itu tak ingin mengelak dan hendak beradu dengannya.


Namun sayang sekali, cincin itu bukannya beradu dengannya tapi malah mengunci tubuhnya, sehingga makhluk itu jatuh tersungkur sebelum mengenai Tempest Wolf. Hanya mengeram menatap kedua makhluk di depannya dengan tajam.


"Heh, dasar binatang sialan!" Ucap Ryuha lemas dengan tubuh sempoyongan.


Benang-benang aura mulai menyelimuti tubuh Tempest Wolf, semakin lama semakin banyak sampai tubuhnya tertutup rapat oleh itu. Terlihat bergetar, semakin hebat semakin lama. Itu berlangsung selama sepuluh detik.


Woshhh!!!


Hembusan angin diciptakan oleh Tempest Wolf yang telah lalu melakukan proses Awakening. Menyeringai Ryuha melihat sosoknya kini, Wajahnya semakin garang, matanya semakin menyala biru, corak-corak silver semakin banyak dan jelas terlihat di tubuhnya, cakar-cakarannya yang keluar berubah warna menjadi cyan berkilauan bak kristal, ekornya yang berwarna sama pun semakin bertambah panjang.


Lolongan panjang, itu benar-benar membuat bulu kuduk Ryuha berdiri. Eraman sang Boss Dungeon semakin jelas terdengar, nampak sekali makhluk itu sangat kesal. Tubuh Tempest Wolf memudar dengan cepat menjadi benang-benang aura berwarna cyan, yang dengan cepat menyelimuti sekujur tubuh Ryuha. Kembali menyeringai, satu jurus baru yang dimiliki oleh mereka berdua digunakan.


Tubuh sang Boss Dungeon dikuatkan, sekuat tenaga sampai hancur cincin-cincin itu. Makhluk itu langsung bangkit kembali menerkam tanpa memikirkan hal lain.


Berlari laki-laki itu menghampiri terkaman. Diselimuti oleh benang-benang itu, Ryuha mengambil ancang-ancang untuk mengadu terkaman itu dengan pukulannya.


Booomm!!! **Woshhh**!!!

__ADS_1


Tekanan kuat meruntuhkan bebatuan kecil yang ada di langit-langit tempat itu. Sang Boss Dungeon terpental ke belakang, makhluk itu mengguling-gulingkan tubuhnya dan jatuh dengan mantap, sementara Ryuha dengan penampilan barunya, Matanya berubah menjadi mata milik Tempest Wolf, telinganya pun berubah menjadi telinga serigala, corak-corak perak ada di sekujur tubuh termasuk wajah, ujung jari tangan dan kakinya tajam berwarna cyan seperti cakar milik Tempest Wolf, di atas bokongnya tumbuh ekor yang ujungnya berwarna cyan, bahkan rambutnya berubah menjadi putih. Terlihat gigi taringnya saat dia menyeringai.


Sang Boss Dungeon hanya mengeram memandangi sosoknya itu.


Laki-laki itu hentakkan kakinya, sang Boss Dungeon pun melakukan hal yang sama, bersamaan mereka berdua melesat, cakar mereka dibuka lebar-lebar.


Booomm!!! Woshhh!!!


Tekanan angin kuat kembali menjatuhkan bebatuan kecil, bahkan itu membuat sekitar medan pertarungan mereka sedikit bergetar tanahnya. Dua cakar itu saling beradu, cepat Ryuha layangkan lagi pukulannya. Kecepatan pukulannya itu bahkan tak mampu di sadari oleh si Boss Dungeon. Pukulan tepat mendarat ke perutnya, membuatnya terhempas, terhempas dengan perut yang terbuka lebar, Ryuha kembali hentakkan kakinya untuk melesat bersamaan dengan tangannya yang mengambil ancang-ancang untuk memukul.


Kecepatan itu, sang Boss Dungeon yang masih melayang di udara hanya bisa pasrah menerima pukulan itu.


***Bukkk!!!


Woshhh***!!!


Semakin cepat tubuhnya terhempas hingga berhenti setelah memporak-porandakan permukaan dinding, tubuhnya sampai terjepit dalam, bercucuran darahnya dari setiap lubang di tubuhnya.


Tatapan Ryuha tajam melihat binatang itu, tenaganya dia pusatkan di tangan kanan, sembari mengambil ancang-ancang untuk memberikan pukulan kembali.


Kobaran api muncul menyelimuti seluruh lengannya, kobaran api yang sangat membara, layaknya api yang tak dapat padam yang tertiup oleh hembusan angin kencang.


"Fiery, Blow!!!"


Kobaran api seperti meteor melesat cepat ke arah sang Boss Dungeon.


Booommm!!!


Semakin terporak-prandakan tempat itu, tubuh sang Boss Dungeon terbakar hangus tak tersisa. Dada Ryuha terasa berat, dirinya jatuh terlutut bersamaan dengan benang-benang aura cyan yang keluar dari tubuhnya hingga membentuk wujud Tempest Wolf.


Duduk terlutut mengatur ulang nafas, dirinya beranjak bangkit setelah nafasnya teratur kembali.


"Fiuhh..., Akhirnya selesai juga?!" Hembusan nafas lega terlantun. Urusannya telah selesai, tak ada lagi barang berharga atau apapun yang ada di tempat itu, bahkan Essence pun sudah tak ada lagi. Dirinya pun beranjak pergi setelah mengambil pedang dan belatinya yang terlihat hampir rusak.


Cahaya mentari mulai redup, Ryuha beristirahat di bawah sebuah pohon sembari menambahkan asupan gizi kepada tubuhnya.


"Monster yang ada di dalam Dungeon telah musnah seluruhnya, lalu bagaimana tempat itu nantinya? Apakah Monster-monster baru akan mengisinya dan membuat kawanannya sendiri?!" Ujar Ryuha.


"Kau benar. Tapi itu membutuhkan waktu yang lama agar tempat itu bisa disebut Dungeon kembali. Karena membutuhkan waktu lama agar Essence dapat terbentuk secara sempurna. Begitupun dengan Wreckage Dungeon, walaupun harta karun yang sebenarnya telah diambil, namun tetap masih ada mineral-mineral yang terus tumbuh di dalam." Jawab Baal.


Ryuha hanya mengangguk-angguk sambil terus menyantap daging bakarnya.


"Ehh, Baal, kenapa sekarang kau jarang menampakkan wujud?" Tanyanya lagi. Tak ada jawaban dari dalam dan hanya terdengar suara dengkuran. Ryuha hanya mengeryitkan kening mendapati hal itu.


Hari silih berganti, Ryuha yang terus berjalan akhirnya sampai di kota kediamannya sekarang, Skull City. Dirinya terus berjalan menuju Guild tempat dia tinggal.


Dari luar tempat itu terlihat sangat ricuh, segera Ryuha mempercepat langkahnya untuk melihat ada apa sebenarnya.


Seorang laki-laki yang sangat tampan, dengan muka dinginnya nampak tengah mencekik Raka. Sesuatu terdengar seperti tengah membicarakannya, juga sebuah jari yang menunjuk dirinya. Segera laki-laki itu mengalihkan pandangan ke arahnya, setelah menatap sinisnya, dia berkata dengan dingin.


"Ohh, jadi kau yang namanya Ryu?! Aku dengar kau sangat hebat?! Jika kau memang benar laki-laki, ikutlah dalam Tournament Guild dan bertaruh denganku!"


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2