
Sebuah bangunan seperti kuil persembahan, itu tidak terlalu kecil juga tidak terlalu besar, terdapat patung ular naga yang tengah membuka mulutnya lebar-lebar di atas pintu masuk bangunan itu, juga sebuah batu nisan besar yang bertuliskan 'Makam Kaisar Naga.' Sebuah tangga yang terbuat dari susunan batu bata nampak tersusun menuju ruangan bawah tanah tepat di balik dua saka yang ada di belakang pintu masuk ke dalam kuil.
Menelan ludah Ryuha melihat kegelapan yang seakan tak berujung, juga suasana kuno yang seakan terasa membuatnya pengap. Segera dia beranjak mengikuti anak tangga.
Segera setelah pijakkan kaki di anak tangga yang pertama, obor-obor yang tertempel di dinding batu bata itu menyala dengan sendirinya, memungkinkan Ryuha untuk melihat keadaan sekitar.
Seperti kelihatannya, anak tangga itu benar-benar tak berujung, serasa Ryuha telah berjalan ratusan meter, hingga pada akhirnya dia melihat pancaran cahaya terang di ujung anak tangga. Dipercepat langkah kakinya sembari tetap berhati-hati.
Suara eraman-eraman buas samar-samar terdengar hingga semakin lama semakin jelas, di balik jalan masuk berbentuk persegi panjang yang berdiri tanpa adanya pintu, Ryuha sedikit mengintip keadaan yang ada di depannya.
Sedikit terbelalak matanya saat melihat lima peti harta karun yang melompat-lompat ke sana kemari, satu di antara mereka memiliki ukuran yang sangat besar, tiga kali lipat lebih besar daripada yang lainnya.
Salah satu peti harta karun melompat, menampakkan wajahnya jelas kepada Ryuha. Semakin serius wajah Ryuha saat melihat pemandangan itu, gigi tajam di setiap mulut peti, lidahnya yang menjulur hampir menyentuh tanah, nampak makhluk itu tak memiliki mata.
"Monster bintang dua, Mimic. Tak memiliki penglihatan dan menggunakan indera perasa untuk mendeteksi keadaan sekitar dan itu benar-benar sangat peka." Penjelasan singkat dari Baal membuat Ryuha mengangguk kecil.
Untuk Berjaga-jaga, Ryuha menyuruh Tempest Wolf untuk bersemayam di dalam bayangan dan keluar jika dia mengalami masa kritis.
Sesaat memikirkan cara, Ryuha lalu membuka telapak tangannya dan mengeluarkan api yang menyelimuti seluruhnya, seperti dirinya yang tengah memegang api yang membara. Dia lalu menggenggamnya, mengambil ancang-ancang dan melayangkannya.
"Fiery Blow!"
Booomm!!!
Ledakan keras mengacaukan keadaan ruangan berbentuk kubus dengan lebar sepuluh kali sepuluh. Segera Ryuha berlari maju setelah asap coklat tebal tercipta, menyadari jika Mimic yang dibakarnya dengan Fiery Blow belum musnah, dirinya mengambil pedangnya, melompat dan menebas kuatnya.
Tinggg!!!
Terdengar bunyi yang sangat nyaring, cangkang Mimic itu ternyata sangat kuat seperti dugaannya.
Mimic itu sendiri tak ingin tinggal diam, menggunakan lidahnya makhluk itu hendak melilit Ryuha, mulutnya pun juga dibuka lebarnya. Melihat itu, Ryuha segera menebaskan pedangnya dua kali secara horizontal dan sedikit nyerong sehingga lidah panjang yang menjulur hendak melilitnya itu berhasil terpotong menjadi tiga bagian yang membuat Mimic itu terus mengeram histeris. Segera Ryuha melompat ke belakang, menjaga jarak antara mereka karena Mimic-mimic yang lain mulai berdatangan menghampiri mereka.
Melihat potongan lidah yang terjatuh di tanah membuat Ryuha tertegun sesaat, tanah yang terkena cipratan air liurnya itu langsung mengeluarkan asap putih setelahnya, seakan air liurnya itu sangat panas sampai dapat membakar sesuatu yang disentuhnya.
"Air liurnya mengandung cairan asam?!" Pikir Ryuha. Dan dia yakin setelah Baal mengiyakan apa yang dikatakan olehnya.
"Baal!" Ucap serius Ryuha meminta sedikit penjelasan dari Baal seperti biasanya.
"Cara mengalahkan makhluk itu adalah... " Suara serak halus itu pun mulai menjelaskan kepada Ryuha.
Yang pertama dengan menghancurkan cangkangnya, namun itu jelas tidak bisa dilakukan Ryuha kecuali dia menggunakan Blood Curse Sword atau teknik sihir tingkat tinggi, akan tetapi setelahnya dia tidak akan bisa bertahan karena kehabisan tenaga karena kemampuannya yang belum memadai. Lalu yang kedua, dengan menghancurkan jantungnya, sebuah kristal seukuran sekepal tangan yang ada di dalam peti itu.
__ADS_1
Telah mencoba cara yang pertama dan gagal, laki-laki tak berputus asa dan hendak mencoba cara yang kedua walaupun kedengarannya sangat sulit.
"Memberikan retakan kecil ke cangkangnya saja sangat sulit, bagaimana caraku membukanya?! Terlebih, lidahnya seperti jarum dan air liurnya dapat memberikan luka bakar." Batinnya.
Para Mimic serentak berdatangan, melompat-lompat menjulurkan lidah hendak menusuknya dengan ujung lidah yang tajam.
Sekaligus tiga jarum tajam berkedok lidah menjulur ke arahnya dari tiga arah, depan, kanan, dan kiri. Laki-laki itu hentakkan kakinya lalu melompat tinggi di udara, terhindar dari tiga serangan lidah, namun dirinya disambut oleh satu lidah raksasa yang lebih cepat dari sebelumnya.
Laki-laki itu terkejut, segera setelah kertakkan giginya, Emptiness Step aktif sehingga dirinya berpindah di belakang Mimic-mimic kecil itu, tak berhenti dengan itu dia terus meledakkan sekitar tempat dia berada dengan memukulkan Fiery Blow ke tanah sehingga keempat Mimic di sampingnya terhempas oleh tekanan angin kuat.
Keempat Mimic itu terus terhempas hingga berhenti setelah menghantam dinding batu bata, terus menggelinding sesaat setelah memberikan retakan ke dinding yang mereka tabrak.
"Ring Of Fire!" Dengan mantap laki-laki itu berteriak, memunculkan lima buas kobaran api membentuk cincin. Tatapan Ryuha tajam melihat makhluk-makhluk itu.
"Lock!" Kelima cincin itu melayang berputar-putar, mengikuti alur pergerakan kedua tangannya, secepat kilat melesat menuju target masing-masing, dan langsung mengunci mereka, termasuk Mimic raksasa di belakangnya. Jari jemarinya segera dicengkeramnya kuat-kuat tepat setelah kelima cincin api itu berhasil melingkari target, yang menyebabkan kelima cincin itu mengunci pergerakan mereka.
Keempat Mimic kecil dengan mudah berhasil dikunci pergerakannya, sehingga mereka hanya menggeliat melompat-lompat berusaha membebaskan diri dari kekangan itu.
Menyadari Mimic raksasa yang tak mudah untuk dikunci, Ryuha segera membalikkan badan, bersiaga untuk segera melanjutkan pertarungan antara mereka.
Mimic raksasa itu terus menggeliat, sampai tepat tiga detik, cincin yang mengekangnya segera hancur menjadi serpihan kobaran-kobaran api kecil yang terus memudar.
Tak ingin menunggu lama, makhluk itu kembali menjulurkan lidahnya ke arah Ryuha. Laki-laki itu yang sudah bersiaga, segera mengacungkan senapannya lalu memberikan dua kali tembakan sekaligus.
Duarr, Duarr!!!
Mulut makhluk itu terus terbuka sebab tak kuasa menahan dingin di lidahnya yang membuatnya risih. Mendapati adanya kesempatan, Ryuha segera hentakkan kakinya di tanah, melompat tinggi sedikit lebih tinggi dari mulut makhluk itu yang terbuka.
Senapan diacungkannya tepat ke mulut yang terbuka lebar itu.
Duarr, Duarr!!!
Sekaligus dua tembakan dilayangkan olehnya, yang membekukan area sekitar mulut dan cairan asam yang ada di dalamnya.
Dirinya melakukan rolling depan, menjatuhkan tubuhnya mantap di permukaan lidah, terus berlari memasuki bagian tubuhnya.
Tak mempedulikan kondisinya yang gelap, dengan api membara di lengan kanan yang membuat kegelapan di dalam mulut itu memudar, dirinya melihat sebongkah batu kristal sekepal tangan yang menempel dengan sesuatu seperti organ dalam yang tidak ikut membeku. Menggunakan tangan kanannya yang diselimuti oleh kobaran api, dia memaksa mengambil kristal itu tanpa mempedulikan cairan asam yang ada dan meremasnya kuat-kuat sampai menghancurkannya menjadi serpihan-serpihan kecil.
Makhluk raksasa itu hanya memberikan raungan histeris yang membuat kedua telinga Ryuha berdengung sebelum akhirnya Mimic raksasa itu tewas dengan mulut yang terbuka.
Cairan asam pekat beserta apinya yang menyebabkan es cepat mencair, laki-laki segera melompat keluar dari dalam tubuh monster peti mati raksasa.
__ADS_1
Tepat setelah dia pijakkan kakinya di tanah, cincin api yang melilit ke empat Mimic memudar dengan sendirinya.
Tangan kanannya masih diselimuti oleh api yang membara, segera dia mengambil ancang-ancang untuk memberikan pukulan dan berteriak tegas.
"Fiery Blow!"
Kobaran api yang menyelimuti tangannya segera melayang, melesat sampai meledakkan area sekitar para Mimic.
Kembali dia hentakkan kakinya, terus melesat menuju Mimic yang berada di paling kiri. Sekuat tenaga, dia melayangkan rentetan pukulan yang membuat Mimic itu hanya merauh tanpa bisa berbuat apapun.
Belasan pukulan, retakan mulai terlihat di cangkang makhluk itu, juga bercak darah yang keluar dari tangan kanannya. Sungguh penyiksaan brutal yang dilakukan Ryuha saat ini.
Pyarrr!!!
Pecah rahang atas makhluk itu, Ryuha segera mengambil pedang dari cincinnya, tak menunggu lama dia lalu menusuk sebongkah batu kristal hingga membuatnya hancur berkeping-keping.
Dari belakang dia merasakan sesuatu yang melesat, sedikit melirik ke arah itu, dirinya segera menggulingkan tubuhnya ke depan, terus bangkit dan menebaskan pedangnya, memotong dua lidah yang hampir menusuknya, yang membuat kedua makhluk itu meraung histeris.
Satu peti harta karun sudah berada di depannya, itu adalah dia yang pertama kali dipotong lidahnya oleh Ryuha. Makhluk itu hendak memakannya hidup-hidup, mulutnya telah terbuka lebar tepat lima jengkal di atas kepala laki-laki itu.
Itu sama sekali tidak membuatnya panik, lagi laki-laki itu hentakkan kakinya, menggunakan teknik pedang, 'Seven Deadly Slashes.' Mimic itu sama sekali tak bisa berkutik di hadapan teknik itu.
Krakkk!!!
Suara retakan terdengar tepat di tebasan ke enam, dalam tebasan pedangnya yang ke tujuh dan yang merupakan tebasan terakhir teknik itu, seperti yang diajarkan Baal, dia meluapkan energi berlebih sebelum menebaskannya.
Slashhh!!!
Terhempas ke atas sampai menghantam langit-langit goa, serpihan-serpihan cangkang kerasnya berjatuhan di sekitar Ryuha, termasuk kristal yang terus diraih dan diremasnya kuat-kuat sampai hancur.
Tak mempedulikan nafasnya yang terengah-engah, Ryuha hentakkan kakinya dan kembali melesat, menuju dua Mimic yang tersisa sembari mengambil ancang-ancang untuk memberikan pukulan kuat dengan Fiery Blow.
Booomm!!!
Lagi-lagi terhempas menghantam dinding kedua makhluk itu, dengan tatapan tajamnya, Ryuha menghampiri mereka yang terbaring di atas tanah dan langsung menghancurkan kristal yang merupakan jantung mereka.
Hembusan nafas lega akhirnya dapat dilakukan oleh laki-laki itu, segera dia duduk bersila untuk mengatur ulang nafas dan mengembalikan staminanya.
Merasa sudah pulih, laki-laki tak ingin menunggu lama dan beranjak melanjutkan perjalannya, menuju perut Dungeon dimana harta karun dan Boss Monster berada.
Tepat di ujung lorong, dia melihat sebuah pintu batu raksasa yang tertutup rapat, dari balik pintu dihadapannya terasakan hawa dingin yang menyengat.
__ADS_1
Menarik panjang nafasnya, merilekskan sekujur tubuh, tangan laki-laki itu bersiap untuk mendorong pintu batu raksasa itu.
Bersambung ...