( Re ) Legendary Summoner

( Re ) Legendary Summoner
Desa Yang Asri Namun Seram


__ADS_3

Ryuha menggertakkan gigi, mengatakan serius kepada Louise. "Ingat! Jangan sampai lengah saat pertarungan!"


Louise mengangguk, dengan keringat dingin yang mulai mencucur. Dia tahu, walaupun Goblin dibilang monster lemah, namun jumlah mereka yang ada ratusan itu tak memustahilkan bagi mereka kehilangan nyawa. Selain itu, walaupun dia tahu Ryuha cukup berpengalaman, namun bertarung sambil melindunginya akan membuat Ryuha mudah kewalahan. Dengan semangat membara tidak ingin menjadi beban dalam pertempuran mereka.


Tiga Goblin maju bersamaan dengan golok yang dihunuskan. Serangannya yang lambat dapat dihindari Ryuha, dia juga menusukkan tombak tulang ke perut Goblin itu.


Sementara di sisi Louise, satu tebasan asal-asalan dilayangkannya. Susah baginya untuk mengenai tubuh Goblin itu tanpa adanya pengalaman bertarung.


Merasa kesal, diiringi teriakan dia menghunuskan mata pedang ke perut Goblin itu.


Crasshh!!!


Darah memuncrat seperti air mancur. Goblin itu tergeletak tak berdaya di tanah.


Dari arah belakang, seekor Goblin berlari menghunuskan pedangnya ke punggung Louise. Laki-laki itu menggertakkan gigi, berusaha kuat mencabut pedang yang tersangkut di perut Goblin yang baru saja dilumpuhkannya.


Tidak berhasil mencabut, menghindar pun tidak sempat. Tubuhnya gemetaran, melihat bilah pedang yang hendak menebasnya, matanya terpejam di tutup tangannya, pasrah dengan keadaannya saat ini.


"Kyak, kyak, kyak!" Tawa sang Goblin seakan terdengar jelas di telinganya, saat bilah pedang berjarak puluhan centimeter dari tubuhnya. Dirinya semakin tak kuasa melihat keadaan sekitar.


****Crasshhh****


Terasa bercak darah memuncrat ke tubuhnya. Sontak kedua matanya terbuka lebar, ternganga dirinya mendapati tak ada satupun luka dan rasa sakit yang dia rasakan. Sampai setelah dia mendengar satu erangan buas, pandangannya teralih ke arah itu.


Sosok serigala kecil yang tengah memangsa ganas makhluk yang hampir menjadi malaikat mautnya, membuatnya bergidik ngeri. Ingin rasanya dia berlari jika Ryuha tidak segera memberitahunya jika itu monster miliknya.


"Sudah kubilang untuk fokus dalam pertarungan!" Teriak Ryuha sembari terus melumpuhkan para Goblin. Melihat cara bertarung Ryuha membuat Louise tertegun. "Bagaimana dia bisa bertarung tanpa merasakan takut?" Batinnya. Sementara dirinya terus gemetaran, kembali berusaha mencabut pedangnya.


"Lupakan pedangnya! Gunakan saja sabit itu!" Teriak Ryuha lagi. Terdiam sesaat sebelum menuruti perintahnya. Louise meraih sabit panjang di punggungnya dan terus berlari menebas-nebaskan sabitnya secara brutal.


"Hyaaaaaaaaa!!!" Matanya terpelotot tajam, mulutnya tak berhenti berteriak. Walaupun tebasan yang dia lakukan acak-acakan, namun cukup untuk melumpuhkan beberapa Goblin. Ryuha tersenyum melihat itu, "Nampaknya dia lebih cocok dengan sabitnya?!" Batinnya.


Crassh, crassh, crassh, crassh!!!


Tebasan demi tebasan dilakukan oleh mereka yang ada di sana. Tak sedikit dari mereka yang sudah mulai kehabisan tenaga, dan mundur sejenak mengatur ulang nafas, termasuk Louise.


Melihat Louise yang mulai sempoyongan berdirinya, Ryuha melompat menghampirinya.

__ADS_1


"Beristirahatlah! Aku akan melindungimu!" Segera Louise menekuk lutut, mengambil nafas sebisa mungkin.


Di sisi para Goblin, pasukan mereka mulai surut. Intuisi mereka mengatakan jika tak bisa melanjutkan pertarungan, dan mulai berlari pergi. Beberapa orang ingin mengejarnya termasuk Louise, namun Ryuha segera berteriak menghentikan mereka.


"Kenapa kau menghentikanku?!" Kesal Louise mendapatinya. Ryuha membuang kasar nafasnya, dia lalu menyuruh Louise untuk menenangkan diri sejenak.


"Lihatlah, persiapan kita belum memadai! Kita belajar dulu dari masalah sebelumnya, mereka yang pernah mendahului kita datang kemari pasti bertemu dengan makhluk yang sangat mengerikan di sana. Jadi kita tidak perlu terburu-buru!" Louise menghela nafas kasar. Mendapati ucapan Ryuha ada benarnya, diapun mulai menenangkan diri dan mengatur ulang nafasnya yang mulai terengah-engah.


Ingin beranjak pergi dari tempat itu, tiba-tiba seorang lelaki tua berjalan dengan tongkat menghampiri mereka.


"Tunggu! Kalian bilang dari Slayer Guild, kenapa ingin cepat-cepat pergi? Bukankah ini semua belum selesai?"


Alis Louise langsung terkerut mendengarnya. "Apa-apaan itu? Bukankah tadi kalian yang menyuruh kami pergi?"


Sang kakek mengangguk kecil sebelum menjawab. "Aku akui itu kesalahanku karena tidak bisa memberikan contoh yang benar kepada seseorang!" Ucapnya sedikit melirik lelaki paruh baya yang mengusir mereka berdua.


Si paruh baya itupun terdiam malu, mendapati tak ada satupun korban jiwa di pihak mereka. Seandainya saja tak ada bantuan dari dua orang itu, pasti sudah banyak lagi warga yang sudah menyusul anak istrinya.


"Itu urusanmu! Kenapa aku harus mempedulikannya?" Jawab Louise. Cukup kesal dengan tingkah Louise, Ryuha pun menyuruhnya untuk diam sejenak dan mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh tua itu.


"Tidak nyaman membicarakan hal ini di luar. Bagaimana jika kita membicarakan ini sambil minum teh di dalam?!" Ucap pak tua itu. Segera setelah satu anggukan, pak tua itu beranjak masuk ke dalam desa menuntun Ryuha, tepatnya di tempat dia singgah, diikuti para warga juga Louise.


"Pertama-tama aku akan memperkenalkan diri. Aku adalah Kepala Desa Ciyin ini, Illiam."


Ryuha tersenyum mengatakan namanya. Mendapati Louise yang hanya terdiam, dia segera menepuk bahunya.


"Lo, Louise!" Menjawab dengan terpaksa, itu membuat Illiam tersenyum kecil. Mereka, memulai pembahasan dan mengatur strategi.


"Sebenarnya aku masih penasaran, apa yang membuat mereka sampai terkena gangguan mental?!" Ucap Ryuha. Illiam termenung sesaat, mengingat kembali apa yang mereka lakukan di masa lalu.


"Hmm, aku juga tidak tahu pasti. Waktu itu mereka mengikuti para Goblin setelah terjadi gelombang serangan dan tiba-tiba keluar dengan kondisi seperti itu?!" Ujar Illiam. Ryuha termenung memikirkan hal itu."Mungkinkah mereka memiliki seorang yang bisa menggunakan ilusi?!" Batinnya.


"Tepat sekali!" Terdengar suara Baal di pikiran Ryuha. Segera dia menjelaskan hal yang paling memungkinkan dari peristiwa tersebut.


"Goblin berbeda dari monster lain. Walaupun mereka lemah, namun mereka memiliki kemampuan otak yang lebih jeli daripada monster-monster bintang rendah lainnya. Hal itu memungkinkan mereka untuk mempelajari sesuatu yang pernah mereka lihat, seperti meningkatkan kemampuan fisik, melatih sihir dan lain sebagainya. Dalam kasus ini, kemungkinan mereka memiliki sesosok yang dapat mengendalikan sihir ilusi seperti yang kau bilang. Goblin itu sering disebut dengan, Shaman Goblin."


Shaman Goblin, adalah sosok Goblin yang sangat handal menggunakan Kekuatan Magis. Kemampuan mereka pun sangat bervariasi, tergantung sihir apa yang pernah mereka lihat, dan itu tidak terbatas.

__ADS_1


"Haish, jika dibiarkan, dia akan menjadi semakin kuat!" Baal menepuk kening.


Melihat Ryuha yang terus termenung sejak tadi, Illiam melihat keseriusan Ryuha dalam menyelesaikan misi ini. Dia menjadi semakin percaya jika anak itu akan berhasil menaklukkan makhluk yang telah mengganggu mereka selama bertahun-tahun.


"Tuan Illiam, kemungkinan memang ada makhluk kuat lain di belakang mereka. Jadi, mungkin membutuhkan beberapa hari lagi agar bisa menuntaskan semuanya?!" Illiam mengangguk, begitupun Louise.


Hari sudah larut, mereka memutuskan untuk memperistirahaktkan diri, sembari bergantian berjaga malam.


Hari-hari seperti biasanya, serangan Goblin hanya terjadi dari saat munculnya mega merah langit sore sampai warna itu berubah menjadi gelap. Sampai fajar menjemput, tak ada satupun keributan yang disebabkan oleh makhluk itu.


Suasana asri dalam desa dirasakan Ryuha juga Louise. Ketenangan itu serasa tak ingin membiarkan mereka beranjak dari tempat itu. Akan tetapi, dibalik keasrian itu terdapat satu ancaman besar yang tengah mengintai, dan bisa datang kapan saja. Desa yang asri di pagi hari itu seperti tengah di awasi oleh sesosok malaikat maut yang siap mencabut nyawa kapan saja.


Memulai pagi dengan membantu penduduk desa, dari mengantar barang dari satu tempat ke tempat lain, mengangsu air, sampai mengembalakan beberapa hewan peternakan.


"Fiuh, akhirnya selesai juga." Helaan nafas lega dilantunkan Louise setelah selesai mencangkul tanah untuk dijadikan lahan pertanian. Melihat Ryuha yang tak kunjung istirahat, alisnya terkernyit setelah terpikirkan sesuatu.


"Hei Ryu, sebenarnya apa tujuan kita kemari? Haish, bisa-bisanya kita melakukan hal seperti ini?" Tersenyum Ryuha. Dia mengelap keringat yang ada di wajahnya.


"Selama masih ada waktu senggang, kita sebisa mungkin membantu mereka mengembalikan kondisi desa seperti semula!" Ujarnya sambil kembali mencangkul. "Lalu bagaimana jika Goblin tiba-tiba menyerang?"


Ryuha menghela nafasnya dan menjawab. "Bukankah sudah kau dengar selama puluhan tahun para Goblin hanya menyerang di waktu petang? Selain itu, ada pengawas yang masih berjaga di menara, sedangkan kita sekarang berada di dalam desa. Tidak akan terlambat bagi kita untuk memasang pertahanan jika saja para Goblin menyerang!" Louise hanya terdiam dengan alis terkernyit. Dia membuang kasar nafasnya lalu kembali melanjutkan mencangkul tanah.


Waktu berlalu dengan cepat, di hari yang menjelang petang, mereka para lelaki mulai bersiap untuk menghadapi serangan para Goblin.


Sembari duduk bersila, Ryuha memejamkan mata menenangkan hati dan pikirannya.


"Kyak, kyak, kyak!" Suara terdengar serentak dari kejauhan terdengar di pendengaran tajam Ryuha. Dirinya menghela nafas lalu berkata. "Mereka datang!" Ucapnya lirih tanpa membuka matanya.


Duang..., duang..., duang...!!!


Tiga kali lonceng dibunyikan, menandakan para Goblin telah datang menyerang. Para warga mulai memasang kuda-kuda, walaupun kaki mereka gemetaran. Begitupun Ryuha yang perlahan mulai membuka mata dan bangkit dari duduk bersilanya.


"Louise, kali ini jangan biarkan aku terus bertempur sambil mengawasimu!"


Senyum percaya diri terukir di wajah Louise. Kali ini dia sama sekali tak merasa takut, setelah terakhir kali menghadapi para Goblin.


"Cihh, kali ini akan kutunjukkan seberapa hebat kemampuan Louise ini!"

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2