( Re ) Legendary Summoner

( Re ) Legendary Summoner
Sarang Laba-laba #2


__ADS_3

Rin mendapati Ryuha seperti mengecek sesuatu. Segera dia menghampirinya.


"Apa yang kau lakukan?"


Belum sempat menjawab, dari atas sesuatu yang sangat besar jatuh, itu disadari oleh Ryuha. Laki-laki itu langsung melompat ke arah Rin, memeluknya dan menggelindingkan tubuh mereka yang terjatuh.


Booomm!!!


Asap tebal menutupi pandangan mereka dari titik jatuh benda itu. Menyadari jika itu kenalannya, Ryuha segera berlari menarik tangan Rin.


Obor yang belum padam di depan mereka disaut Ryuha. Mereka tak menghentikan langkah menuju perut Dungeon.


"Ada apa ini kenapa kita lari?" Rin yang kebingungan sontak bertanya.


Ryuha segera menjelaskan makhluk apa itu. Dan tentu itu membuat mata Rin sedikit terbelalak. Terlebih saat Lightning Spider mulai mengejar mereka dari belakang.


Tlirap!!!


Satu sambaran melesat ke arah mereka. Segera Ryuha menarik Rin ke belakangnya lalu menahan petir itu menggunakan tombak tulang miliknya.


"Cihh, aku tidak bisa fokus jika ada Rin di sini." Batinnya.


"Ryu, beri aku sepuluh detik! Aku akan membekukannya!" Ucap Rin tiba-tiba.


Segera setelah anggukan kecil, Ryuha bersiaga untuk menahan segala sambaran petir yang datang ke arah mereka.


Tlirap!!! Duarr!!!


Satu kilatan cahaya yang membuat lorong yang gelap itu terang sesaat. Ryuha sedikit mengkerutkan kening karena tak melihat luka di bagian mata laba-laba itu.


Itu membuatnya sedikit kehilangan konsentrasi saat memikirkan jika ada makhluk lain yang ada di dalam Dungeon.


"Ryu!!!"


Panggilan keras dari Rin terdengar jelas di telinga, Ryuha segera melompat ke belakang Rin.


"Freezing!"


Dimulai dari kakinya, laba-laba itu membeku dan tak bergerak sama sekali. Namun sebelum membeku makhluk itu telah menyambarkan satu petirnya. Ryuha sontak ingin melindungi Rin, namun tindakannya dihentikan karena Rin juga sudah memiliki persiapan.


"Ice Shield!"


Simbol salju raksasa yang sekilas terlihat terbuat dari kristal es tercipta tepat di depan Rin yang menahan sambaran itu.


Ryuha pun menghembuskan nafas leganya, begitu juga dengan Rin. Namun ada satu hal yang membuat alis Ryuha kembali terkerut. Segera dia melontarkan sebuah pertanyaan.


"Apakah es itu bisa menahannya?"


Rin menggeleng-gelengkan kepala dan menjawab. "Dilihat dari kondisinya, itu tidak akan bertahan lama. Tapi setidaknya itu cukup untuk memberi kita waktu. Ayo kita cari Edward dan Raka!"


Segera setelah satu anggukan Ryuha, mereka berlari menuju perut Dungeon. Berharap Edward dan Raka tak mengalami hal serupa.


Dari depan mulai terlihat cahaya terang. Mereka mempercepat langkah untuk melihat kondisi di dalam sana. Dan sungguh itu membuat Ryuha tercengang seketika.


"Sepuluh tahun menjadi penambang, baru kali ini aku melihat surga mineral?!" Sontak dia berlari untuk melihat-lihat bebatuan yang memancarkan cahaya lebih terang daripada lampu rumah itu.


Dapat dirasakan jelas energi yang dipancarkan mereka belum tersentuh oleh manusia dan masih sangat murni.


"Pantas saja Lightning Spider bersarang di sini?!" Batin laki-laki itu.

__ADS_1


Diantara bebatuan yang bersinar itu, Ryuha melihat satu buah benda yang membuat pandangannya tak dapat teralihkan. Segera dia mendekati benda itu. Rin yang tidak terlalu paham hanya berjalan mengikuti Ryuha.


Terlihat jelas tiga buah batu yang menyerupai telur. "Mungkinkah ini telur Lightning Spider?"


Rin tak memikirkan itu. Namun alisnya juga terkerut. Dia celingak-celinguk dan sama sekali tidak melihat rekan mereka di sana.


Booomm!!!


Satu ledakan yang memunculkan asap coklat tebal disadari oleh mereka berdua. Itu berasal dari arah yang sama dengan mereka, namun letaknya berbeda.


Dari dalam asap, dua orang laki-laki berlari dengan raut wajah panik mereka. Rin yang menyadari jika itu adalah Edward dan Raka segera berlari menghampiri mereka bersama Ryuha.


"Apa yang terjadi?" Tanya Rin.


Mereka segera menjelaskan, jika mereka bertemu dengan Lightning Spider di dalam lorong. Itu membuat Rin terkejut, namun tidak dengan Ryuha.


Rin sontak berlari ke arah mulut lorong yang dilewati oleh Edward dan Raka. Ryuha yang melihat itu segera berlari mengikutinya.


"Kalian berdua beristirahatlah!" Teriak Ryuha.


Memanggil-manggil nama Rin dari belakang, Ryuha ingin mengingatkannya untuk tidak berbuat seenaknya karena itu bisa membahayakan nyawa mereka.


Namun itu diacuhkan Rin. Gadis itu tetap masuk ke dalam lorong hendak membekukan makhluk itu.


Ryuha menggertakan gigi. Dia segera berteriak sebelum Rin masuk ke dalam lorong. "Rin awas!!"


"Fiery Blow!!!"


Disadari oleh Rin, sebuah benda menyerupai bola api melesat ke arahnya. Lebih tepatnya, itu mengarah ke langit-langit mulut goa lalu menghancurkannya, membuat bongkahan-bongkahan tanah menutupi jalan.


"Cepat bekukan itu!" Teriak Ryuha.


"Kau ini, jangan lakukan hal sembarangan seperti itu!" Ucap Ryuha penuh kekhawatiran.


Memang merasa aneh hati Rin. Namun ketulusan Ryuha dapat tersampaikan melalui kata-katanya. Dan itu membuatnya merasakan perasaan familiar seperti saat kakaknya menasehatinya dulu disaat dia melakukan kesalahan.


Gadis itu yang semula ingin menyangkalnya pun terdiam. Mereka lalu menghampiri kedua temannya yang masih memulihkan diri.


"Bagaimana keadaan kalian?" Tanya Rin.


Edward menggelengkan kepala karena tidak mendapatkan luka serius. Hanya saja, Raka masih meringis menahan efek Paralyze yang belum sepenuhnya menghilang di tubuhnya.


Rin segera mengeluarkan sebotol Healing Potion lalu memberikannya kepada Raka.


"Ini Potion tingkat rendah, tapi setidaknya ini bisa menetralisir efek Paralyze di tubuhmu." Ucapnya lembut.


Benar yang dikatakan Rin, efek yang membuat tubuhnya lumpuh sepenuhnya menghilang setelah Raka meminumnya. Mereka segera pergi ke dekat pintu batu yang ada di ujung jalan.


"Kota istirahat sejenak!" Ucap Rin. Mereka pun duduk menyandarkan diri sembari memulihkan tenaga masing-masing.


"Dengan kekuatanku, seharusnya bisa menahan mereka selama tiga jam?!" Ucap Rin menghilangkan keheningan.


Langsung terkerut alis Raka dan Edward. Dari ucapan Rin, mereka menyadari satu hal, ternyata Rin dan Ryuha juga bertemu dengan Lightning Spider.


Ryuha menghela nafas dan berkata, "Tidak hanya itu, sepertinya tempat ini adalah sarang mereka?! Jika sampai telur-telur mereka menetas, itu akan lebih merepotkan!"


Namun itu membuat kedua laki-laki itu menghembuskan nafas lega, karena berkat adanya Rin mereka bisa menjarah Dungeon ini.


"Sebelumnya, terimakasih banyak atas bantuanmu, Rin. Jika tidak ada kau, mungkin kami sudah mati saat ini." Ucap Edward, yang dibalas dengan senyum manis Rin.

__ADS_1


"Untung saja aku membiarkan mereka berjaga di luar, jika tidak, pasti sudah ada beberapa nyawa yang melayang. Aku harap tidak ada sesuatu di luar sana sampai kita kembali." Tambahnya.


Raka melihat sekeliling tempat itu. Banyak sekali mineral yang masih murni di sana.


"Bagaimana? Apa kita akan mengambilnya?" Ucapnya sambil menunjuk ke arah itu.


"Kita kesampingkan dulu soal pembagian harta, lebih baik sekarang kita lanjutkan penjarahan sebelum makhluk-makhluk itu datang!" Ucap Rin layaknya seorang pemimpin tim. Segera mereka bangkit setelah mendengar kalimat itu.


Cukup membuat mereka menelan ludah, saat memandangi pintu masuk Inti Dungeon yang pastinya di dalam ruangan itu terdapat Boss Dungeon yang lebih kuat dari Lightning Spider.


Namun itu tidak dengan Ryuha, karena Baal telah memberitahunya jika dia tidak merasakan apapun di dalamnya selain satu energi yang tidak memancarkan hawa membunuh. Namun Baal tetap menyuruhnya bersiaga, karena beberapa makhluk kuat bisa menyembunyikan aura mereka.


"Kalian siap?" Tanya Rin kepada Ryuha dan Raka yang tengah bersiap untuk mendorong pintu itu. Juga Edward yang tengah menjaga Rin.


Segera setelah mengangguk, kedua laki-laki itu mulai mengerahkan tenaga mereka membuka pintu masuk ke dalam ruangan gelap gulita, yang di dalamnya terdapat suatu harta karun juga makhluk yang lebih mengerikan dari sebelumnya.


Cahaya mulai memasuki ruangan dengan kecepatannya. Dalam ruangan yang juga terdapat beberapa obor di dingin terus menyala dengan sendirinya. Membuat kedua mata mereka langsung terbelalak saat melihat apa yang ada di dalam ruangan yang cukup kecil itu.


"Rune, terlebih itu tingkat Raja!" Ucap Rin terkagum.


Bahaya tak kunjung datang, aura jahat pun tak terasakan. Mereka segera berlari memasukinya begitupun Ryuha yang tidak tahu menahu tentang Rune itu.


Sebuah batu, berbentuk lempengan tak rata, berukuran sekepal tangan dengan ukiran sihir berwarna ungu di permukaannya, melayang di atas Magic Circle kecil, dibaluti oleh medan pelindung yang terlihat cukup kuat.


Alis Rin terkerut, setelah mendapati jika ruangan Boss Dungeon sama sekali tidak memiliki penjaga kuat.


Disamping itu, Ryuha yang kebingungan sontak melontarkan pertanyaan kepada Baal. Namun dengan sigap Baal berkata, "Tidak perlu banyak bertanya, cepat ambil kedua benda itu!"


Menggunakan Emptiness Step, Ryuha melesat mengambil Rune di depannya tanpa membuat mereka bertiga menyadari gerakannya.


Sampai pada saat mereka melihat sosok Ryuha yang seolah-olah adalah penghianat di dalam kelompok mereka. Tatapan mengejeknya, senyumannya, mereka bertiga langsung menggertakkan gigi, menatapnya dengan tatapan kesal.


Disisi lain, Rin hanya terdiam mematung, menundukkan kepalanya, mencari liontin miliknya yang sudah tak tergantung di lehernya.


"Mencari ini?" Ucapan Ryuha yang seakan melontarkan kalimat ejekan mengalihkan pandangan Rin. Gadis itu langsung menggertakkan gigi. Tangannya terus terkepal erat karena emosinya sudah sampai di ubun-ubun.


Sedikit menghela nafas sebelum berbicara. Mengingat kondisi di dalam Dungeon dia tak ingin mendapatkan masalah yang lebih besar.


"Ryu, jika kau masih ingin kuanggap sebagai teman, tolong kembalikan liontin dan Rune itu baik-baik, jika tidak... "


Tawa jahat Ryuha memotong ucapan Rin, yang membuat gadis itu semakin kesal.


"Jika tidak, apa? Kau akan membunuhku? Hahahaha, aku bahkan tidak yakin kau bisa menyentuhku?!"


Mendengar ejekan itu, tangan Rin semakin terkepal erat sampai darahnya mulai mencucur. Tatapannya itu benar-benar sangat dingin sampai dua laki-laki yang ada di sampingnya bisa merasakan niat membunuh yang sangat kuat walau sama sekali tidak menatapnya.


"Kau..., Jika seperti itu maumu, baiklah!"


Secepat kilat Rin melesat ke arah Ryuha. Dua laki-laki yang ada di sampingnya itu bahkan tidak bisa melihat kecepatan itu.


Namun tidak dengan Ryuha, menggunakan Emptiness Step dia menghindar ke belakang, sambil tertawa.


Memang mereka berdua cukup terkejut karena Ryuha yang kelihatan lemah ternyata bisa mengimbangi kecepatan Rin, bahkan itu lebih cepat. Namun itu tidak terlalu mengejutkan Rin karena ini bukan pertama kali baginya.


Hendak melakukan serangan kembali, tubuh mereka tiba-tiba bergoyang karena tanah di sekitar terguncang kuat.


Ryuha tersenyum, mengejek mereka. "Oops, sepertinya ada tamu yang datang?! Bagaimana, masih mau dilanjutkan?"


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2