( Re ) Legendary Summoner

( Re ) Legendary Summoner
Misi Pertama


__ADS_3

Louise menyadari kebingungan Ryuha. Menyela penempaan, dia lalu mengambilkan sebuah buku dan diberikan kepadanya. Itu benar-benar sangat tebal, Ryuha tak bisa berkata-kata mendapatinya.


Halaman pertama dibukanya, dia melihat jelas gambar sebuah pedang, dengan penjelasan panjang yang tertulis di bawahnya.


"Buka halaman dua ratus tujuh." Setelah mendengar ucapan Louise, Ryuha pun membalik-balikkan lembaran hingga sampai ke halaman yang ia tuju. Di situ tertulis dan tergambar jelas, sebuah senapan dengan dua Barrel, Double Barrel Shotgun.


Senjata sihir tingkat menengah, yang mampu menembakkan berbagai macam peluru sihir tergantung model peluru yang digunakan. Efek yang diberikan oleh peluru pun akan ditingkatkan sebesar dua sampai lima persen tergantung akurasinya.


"Baal, apa kau bisa mengajariku cara menggunakan senapan?" Batin Ryuha. Tentu itu bukan masalah bagi Baal. Hendak beranjak latihan, Ryuha teringat akan sesuatu. "Louise, apa kau mau ikut denganku menjalankan misi?"


Tangan itu berhenti terayun seketika. Wajahnya menatap Ryuha dengan serius, itu menampakkan rasa ketidak sabaran dirinya.


"Kau tidak bercanda kan?" Ucapnya sedikit tak percaya. Ryuha segera mengangguk, akan tetapi dia meminta satu syarat. Penempaan senjatanya tidak akan dipungut biaya.


Louise seperti mendengar sebuah lelucon dan tertawa lepas. Hanya syarat kecil seperti itu, dia benar-benar merasa sangat diuntungkan. Itu membuat Ryuha mengernyitkan dahi dan membatin. "Sekarang aku paham jika orang ini adalah orang aneh."


Ryuha sebenarnya masih penasaran dengan tingkah Louise sejak pertama bertemu, terutama darimana dia berasal. Namun dia tak ingin terlarut dalam rasa penasaran itu, dan memilih untuk berlatih menembak, menggunakan senapan bobrok yang ada di tempat itu.


Lima hari telah berlalu. Bersamaan dengan kemampuan menembak Ryuha yang semakin meningkat, Louise telah menyelesaikan pembuatan Double Barrel Shotgun dengan dua puluh peluru.


"Persiapan telah selesai, sekarang waktunya... " Ucapnya terhenti ketika melihat sosok Louise dengan penampilan aneh saat berjalan keluar dari tempat tinggalnya. Satu alisnya segera terangkat. "Apa-apaan itu?"


Sosok Louise dengan full armor, juga beberapa senjata tajam yang dicantolkan di punggung dan pinggang tersenyum kecil, "Pertamakali berpetualang, tentu saja harus membawa perlengkapan yang memadai. Kau sendiri, apa kau yakin tidak menggunakan Armor? Katanya dunia luar itu menyeramkan?"


Ryuha membuang kasar nafasnya. Dirinya pun mulai beranjak pergi meninggalkan kota. Tidak lupa juga telah memberikan laporan keberangkatannya kepada Ellisa.


Berjalan di tengah hutan melewati jalan tanah yang agak becek, Ryuha terus memandangi kertas misi yang dipegangnya. Di situ tertulis, 'Penyelamatan Desa Dari Serangan Goblin.', 'Hadiah, tiga ratus Bronze.'


Desa tujuannya, Desa Ciyin, berjarak tiga hari perjalanan dari Skull City. Sebenarnya dia bisa pergi dengan cepat, namun karena adanya Louise di sampingnya, mau tak mau dia harus berjalan biasa, itung-itung sembari mempersiapkan mental.


Hari demi hari mereka lalui. Keberuntungan mereka karena tidak didatangi oleh kesialan pada saat perjalanan, sehingga mereka tiba di Desa Ciyin dalam waktu yang ditentukan. Setelah tiga hari dua malam berjalan, tibalah mereka di gapura yang memiliki ukiran 'Desa Ciyin' di permukaannya.

__ADS_1


Salah seorang dari dua laki-laki yang tengah berjaga di pintu gerbang menghampiri mereka. Wajahnya benar-benar memelas, seakan memohon untuk diberikan berkah, walaupun dia sama sekali tak tahu untuk apa kedatangan Ryuha dan Louise ke tempat yang terlihat suram ini.


Melihat penampilan dua orang asing itu, lelaki paruh baya itu menyadari jika mereka adalah seorang petualang.


"Tuan-tuan, mohon menyita waktu anda sebentar. Kepala desa kami ingin bertemu dengan setiap petualang yang hendak mampir ke desa ini." Ucap memelas itu membuat mereka berdua tak kuasa untuk memandang. Terlebih Louise yang mungkin baru pertamakali mendapati peristiwa seperti ini.


"Tentu. Kedatangan kami kemari memang untuk membantu desa ini." Jawab Ryuha sembari menyerahkan kertas misi kepada lelaki berbaju rombeng itu. Melihat kertas misinya sudah usang, lelaki itu sontak menghela nafas berat.


Dia tak lagi bisa percaya, Slayer Guild yang sudah dua kali mengirim anggotanya untuk membantu desa ini telah gagal. Dan sekarang yang ada di depan mereka adalah dua orang yang levelnya tidak sampai lima belas. Mungkin jika kedua orang itu adalah petualang lepas, dia masih bisa percaya. Namun dengan reputasi Slayer Guild di mata mereka, rasa itu tak bisa muncul sama sekali. Yang ada hanya rasa iba, dengan kekuatan mereka, mereka hanya seperti tengah menjemput ajal.


"Tuan-tuan, aku tahu maksud kalian baik. Tapi mohon maaf, sepertinya kami tidak bisa menerima niat baik kalian." Ucapnya mengembalikan kertas misi.


Tingkah yang tiba-tiba saja aneh, sontak mata mereka berdua terbelalak. Louise terus menggertakkan gigi menerima penghinaan itu. Bisa-bisanya, dia yang semula meminta pertolongan tanpa sebab dan akibat tiba-tiba mengusir mereka berdua.


Dirinya terus menggonggong, sebisa mungkin Ryuha menghentikannya. Dia lalu membisikkan sesuatu, "Itu pasti karena kostum anehmu itu?!"


"Apa kau bilang?" Rasa kesalnya mendadak pindah kepada Ryuha. Benar-benar menyusahkan membawa peliharaan, itu yang ada di dalam pikiran Ryuha saat ini. Melihat tingkah aneh mereka, lelaki paruh baya itu tak ingin ikut campur hendak beranjak menjauhi mereka.


"Nak, aku tidak bercanda! Terakhir kali tiga orang terkena gangguan mental dan keluarganya meminta pertanggung jawaban kepada kami. Mereka bilang Slayer Guild tidak mau bertanggung jawab. Kami tidak ingin hal itu terjadi lagi." Jawabannya benar-benar terdengar serius. Lelaki itu kembali berjaga bersama satu rekannya di depan pintu gerbang.


Disisi lain, Ryuha tak menyangka jika urusannya menjadi ruwet seperti ini. Padahal dia penasaran, seperti apa wujud goblin itu, dan seberapa kuat mereka sampai kelompok yang berisi tiga orang berlevel lima belas terkena gangguan mental.


"Cihh, itu hanya karena mereka lemah dan manja. Melihat wajah buruk rupa goblin kecil saja sudah terkena gangguan mental." Baal mulai merasa kesal. Seandainya jika dia bisa menampakkan diri dengan bebas, tanpa berbasa-basi dia akan langsung membasmi makhluk yang dianggapnya menjijikkan itu.


Merenung Ryuha sesaat, memikirkan suatu strategi sembari menyembunyikan diri dari wilayah desa itu. Susahnya dia karena harus terus menarik Louise yang tak berhenti menggonggong.


"Cihh, berisik sekali! Lebih baik berurusan dengan Goblin daripada dengannya." Ucap lelaki kerempeng yang sedari tadi berjaga.


Samar-samar cahaya oranye terlihat di langit barat. Ucapannya yang baru beberapa menit itu seakan terdengar oleh sang dewa, dan dikabulkan. Gerombolan Goblin berlainan menyerbu tempat itu. Segera seorang penjaga membunyikan lonceng raksasa yang ada di menara pengawas.


Dari jarak kisaran satu kilometer, suara itu terdengar jelas di telinga Ryuha dan Louise, suara nyaring berpaduan dengan jeritan yang histeris, juga teriakan yang memberitahu jika Goblin telah datang menyerbu. Sontak Ryuha bangkit hendak menyelamatkan warga desa dari serangan itu.

__ADS_1


Namun itu segera dihentikan oleh Louise. Tangannya meraih bahu Ryuha menghentikan langkahnya."Kau masih ingin menyelamatkan mereka yang sudah mempermainkanmu?"


Tidak ada waktu untuk berdebat, Ryuha segera menjawabnya dengan tegas, itu terlihat dari sorot matanya.


"Aku, tidak ingin menyia-nyiakan tiga ratus Bronze." Langsung membuat alis Louise terkernyit, ternyata rekannya itu adalah seorang mata duitan. Tangannya tak lagi bisa menahan Ryuha. Alhasil, dia ikut berlari di belakang Ryuha.


Raut wajah yang serius Ryuha hendak menyelamatkan mereka, matanya melihat ke arah utara tempat Pasukan Goblin berasal. Tangannya meraih tombak tulang miliknya, dengan Telekinesis, dia melesatkan tombaknya menusuk perut para Goblin yang berada di jalur lintasnya.


Kedatangannya membuat para warga yang tengah mati-matian melawan serangan goblin itu tertegun. Sementara di belakang Ryuha, Louise tengah kesusahan mencabut pedang dari sarungnya.


Seekor Goblin mendekatinya hendak memberikan tebasan dengan pedang pendek. Raut wajahnya mulai panik, pedangnya sama sekali belum bergerak.


Itu disadari oleh Ryuha, laki-laki itu segera menghentakkan kaki dan melesat. Tangan kanannya sudah siap untuk memukul, sampai aura panas menyelimutinya.


"Fiery Blow!"


Diiringi teriakan keras, pukulannya mendarat tepat ke perut sang Goblin, yang membuat kulit perutnya terbakar sekaligus terpental hingga menumbangkan spesies sama yang ada di belakangnya.


"Kau ini, apa yang kau lakukan?" Terkernyit alisnya melihat Louise yang bahkan tak bisa menarik pedang dari sarungnya.


"I, itu, sepertinya sarung pedang ini terlalu kecil? Aku-," Tak menunggu Jawa lengkap Louise, Ryuha merebut pedang itu lalu memperlihatkan kepadanya cara menarik pedang dari dalam sarung. Itu membuat Louise menelan ludahnya, pasalnya pedang itu benar-benar bisa tertarik dengan mulus.


"Sekarang bukan waktunya untuk kagum!" Ucap Ryuha. Sedikit memalingkan wajah, Louise menerima pedang sepanjang satu meter itu.


"A, aku mengerti!" Jawabannya terbata. Raungan para Goblin terdengar serentak, mengalihkan pandangan mereka berdua ke arah itu. Segera mereka memasang kuda-kuda, bersiap untuk menyerang.


Bersambung ...


......................


Ya maap pilek gua🤧

__ADS_1


__ADS_2