
Puluhan jarum melesat kencang, Vella menatapnya remeh. Wanita itu tebaskan pedangnya cepat menghancurkan jarum-jarum yang berusaha melubangi tubuhnya, hingga tak lagi tersisa benda lonjong nan tajam itu.
Serangan tak berhenti, dengan ekor raksasanya Gorgon melayangkan sebuah tamparan keras. Tak menghindar, tepat saat ekor itu menyentuhnya, tubuhnya berubah menjadi gumpalan asap hitam yang mengeluarkan beberapa kelelawar.
Ryuha yang melihat teknik perpindahan itu hanya diam tercengang.
"Shadow Bat! Itu adalah nama tekniknya." Ucap Ellisa memberitahu. Ryuha tak memberikan jawaban selain anggukan kecil, matanya terus melototi pertarungan antara mereka yang masih terus berlanjut.
Cakar tajam dihunuskan kepada Vella, kedua tangan Vella erat menggenggam gagang pedang, segera ditebarkannya pedang miliknya.
Dua cahaya ungu yang saling berhantaman, hembusan angin kuat beserta kilatan bilah-bilah tipis ungu pekat sedikit menyakitkan mata. Kurang lebih lima detik mereka beradu kekuatan, keduanya terpental ke belakang. Vella segera hentakkan kakinya di udara saat terpental, memutar-mutar tubuhnya untuk jatuh di samping Ellisa.
"Benar-benar makhluk yang menjengkelkan! Persiapkan diri kalian!" Ucapnya yang ternyata sudah menyadari jika dua orang itu siap untuk ikut bertempur.
"Efek peningkatan makhluk itu tidak permanen, jika kita bisa mengulur waktu sampai tubuhnya kembali seperti semula, kesempatan kita untuk menang akan menjadi sembilan puluh persen!" Ujar Ellisa yang ternyata mengetahui tentang makhluk itu, memberitahu kedua orang yang bersiap tuk bertempur di sebelahnya. Keduanya yang paham segera anggukan kepala mereka.
Walaupun tak menyangka jika pengetahuan kakaknya ternyata seluas itu sampai bisa mengetahui sang Gorgon yang telah berubah wujud, namun Ryuha tak ingin memikirkannya lebih dalam sebab pertarungan mereka akan segera dimulai.
Kuda-kuda terpasang di ketiga orang itu. Kali ini terlihat wajah yang serius dan tak memiliki rasa takut dari Ryuha, tidak seperti sebelumnya, saat ini dia yakin jika mereka akan kembali membawa harta karun yang mereka ingin dapatkan.
Melihat ketiganya, Gorgon meneriakkan suara histeris yang menggema di dalam ruangan. Tak ingin membiarkannya begitu saja, menahan perasaan seperti telinganya di tertusuk jarum, Ryuha memunculkan lima buah cincin api. Seketika hal itu membuat dua wanita di sampingnya tercengang, tak menyangka jika Ryuha ternyata menguasai teknik api padahal yang menyatu dengannya adalah Tempest Wolf yang beratribut angin.
Namun hal itu membuat Ellisa tersenyum kecil, dia merasa jika baru saja menemukan harta karun yang sebenarnya, juga sebuah Kartu As yang bisa mereka gunakan saat Tournament.
Tatapan Ryuha tajam menatap wanita itu, tangannya segera meliuk-liuk, mengendalikan kelima cincin apinya.
Kertakkan giginya laki-laki itu, mengunci targetnya yang berusaha untuk menghindar.
"Lock!!!"
Terkunci, cepat kelima cincin itu mengikatnya bersama kedua telapak tangan Ryuha yang disatukan.
Tak menunggu lama, dengan senyum dinginnya dua wanita itu melesat hunuskan senjata mereka masing-masing dari dua arah yang berlawanan.
Crashhh, Crashhh, Crashhh!!!
Tiga tebasan beruntun dari keduanya, sebelum kelima cincin itu hancur memudar, Gorgon yang kesal segera cabikkan cakarnya brutal kepada dua wanita yang ada di sampingnya.
Sangat anggun Vella dan Ellisa yang melompat-lompat menghindari setiap cabikkan, Ryuha cukup tertegun melihat kekompakan kedua wanita itu. Semakin geram Gorgon dibuat mereka, teriak histeris kembali terlantun menggema di ruangan, sebelum jarum-jarum kembali menampakkan wujud di sekitar tubuhnya. Wanita itu yang telah menyadari keberadaan Ryuha menatapnya tajam lalu kerahkan jarum-jarumnya.
Melihat itu tak membuat Ryuha gentar, dengan pedangnya yang sudah diambilnya menggunakan Telekinesis, dia menebas setiap jarum yang hendak melukainya, sembari melompat-lompat menghindari jarum yang tak dapat dia tebas.
"Lu, luar biasa, bocah itu mampu mengimbanginya?!" Batin Ellisa yang lagi-lagi dibuat terkejut oleh kemampuan Ryuha itu. Bahkan jika itu dia, di masa lalu sangatlah mustahil baginya melakukan hal itu.
__ADS_1
Namun sekarang bukanlah hal yang tepat untuk terlelap dalam rasa kagum, mendapati jika Vella hendak melesatkan serangan, dirinya pun segera memasang kuda-kuda tuk ikut menyerang.
Vella hentakkan kakinya, melesat hunuskan pedangnya. Jarum-jarum yang melesat segera berhenti saat sang Gorgon menyadari serangan dari arah kanan. Benang-benang aura cepat berkumpul menyelimuti lima cakar kanannya yang hendak dia hunuskan.
Tepat sebelum itu, Ellisa yang menyadari jika keberadaanya dilupakan oleh Gorgon itu segera melempar cakramnya, segera cakram itu terpisah menjadi dua, berputar-putar dan dengan cepat mengunci tubuh sang Gorgon seperti saat cincin Ryuha menguncinya.
Gorgon yang panik segera berteriak keras sebab dirinya tak bisa berbuat apapun saat serangan datang kepadanya.
Pedang memancarkan cahaya ungu, Vella tak menahan diri untuk menyayat tubuh sang Gorgon secara horizontal, dirinya tak berhenti, terus hentakkan kakinya di udara untuk melompat kembali dan lagi menyayat tubuh sang Gorgon. Hal yang sama terjadi sebanyak lima kali sampai pada serangan terakhir, Vella hentakkan kakinya kembali melompat, sampai berada tepat di atas kepala wanita raksasa itu.
Cakram terpisah menjadi dua dan kembali ke tangan Ellisa. Kembali Gorgon berteriak histeris setelah tubuhnya terbebas dari ikatan. Walaupun sudah terbebas namun itu tak mengubah jalan pikir Vella, dengan pedangnya yang sudah sangat terang memancarkan cahaya keunguan, dia menjatuhkan dirinya dan pedang itu, bersama teriakan kerasnya dia memberikan tebasan sekuat tenaganya.
Sang Gorgon yang sudah terbebas tak ingin diam begitu saja, dia segera angkat kedua tangannya tuk menahan pedang ungu yang hendak membelahnya menjadi dua. Dengan kedua tangannya, dia menyatukannya menjadi satu, menghimpit pedang itu sehingga keduanya saling beradu kekuatan.
Teriakan dari keduanya tak berhenti terdengar, tanah yang menahan sang Gorgon bahkan sampai mendapatkan retakan. Sang Gorgon semakin merasa geram, di mulutnya benang-benang aura hitam keunguan berkumpul menjadi satu, segera dia menembakkannya kepada Vella.
Mendapati hal itu, secepat mungkin Vella menarik pedangnya yang terhimpit oleh dua tangan raksasa dan segera menebaskan pedangnya di udara sehingga memunculkan bilah cahaya berwarna ungu yang terus melesat beradu dengan laser berwarna sama.
Booomm!!!
Ledakan kuat terjadi, angin kencang berhembus memporak-porandakan sekitaran tempat itu. Seluruh ruangan kini dipenuhi oleh asap yang cukup tebal.
Vella yang terhempas berputar-putar di udara, jatuhkan dirinya mantap di dekat Ryuha, bersama dengan Ellisa yang juga kembali ke sisi Ryuha setelah ledakan terjadi.
"Sial, makhluk itu benar-benar sangat kuat!" Gerutu Vella.
Terlihat kedua telapak tangan Gorgon yang terkepal erat, lagi makhluk itu berteriak. Magic Circle ungu gelap muncul dan bersinar tepat di bawahnya, seketika asap hitam nan tebal keluar dari dalamnya memenuhi ruangan dengan cepat. Sontak ketiga orang itu menutup segala indera pernafasan mereka.
"Asap ini tidak beracun! Tidak ada efek lain juga selain-,"
Belum selesai Ellisa menjelaskannya, ekor raksasa datang hendak menimpa mereka. Sontak ketiga orang itu melompat ke arah yang berbeda satu sama lain.
Ryuha yang melompat ke belakang, dirinya tak bisa melihat sekitar sehingga tak sengaja menabrak dinding ruangan itu.
Gorgon yang dapat jelas melihat di dalam kabut tebal itu tak ingin memberi waktu Ryuha untuk mengatur kesiagaan, membuat laki-laki itu terkejut sebab cakar raksasa nan tajam tiba-tiba berada di depannya. Itu sebenarnya dapat dilihat oleh Vella yang memiliki kemampuan penglihatan malam, walau hanya samar-samar saja sebab ketebalan asap hitam itu hampir diluar kemampuannya. Hendak menolongnya, namun dia dapat melihat sosok Ryuha yang tiba-tiba berpindah, bahkan itu lebih cepat dari teknik perpindahannya, 'Shadow Bat.' yang membuatnya terdiam sesaat.
Terdengar suara ledakan seperti bebatuan yang hancur berkeping-keping, membuat Ellisa sedikit panik sebab tak melihat apa yang tengah terjadi.
Ryuha sendiri, dia menggunakan Emptiness Step tuk berpindah ke belakang sang Gorgon. Intuisinya yang tajam dalam mode penyatuan itu membuatnya dapat mengetahui letak keberadaan sang Gorgon setelah serangan itu. Segera dia mengambil ancang-ancang untuk tangannya.
"Fiery Blow!"
Diiringi teriakan keras, bara api itu melesat sampai menghantam tubuh raksasa Gorgon.
__ADS_1
Booomm!!!
Lagi-lagi terdengar ledakan keras, Ellisa semakin dibuat panik sampai-sampai setetes keringat dingin mencucur di pipinya. Namun setelah melihat cahaya yang menyala saat ledakan juga teriakan dari Gorgon yang terdengar, dia teringat akan kejadian yang sama waktu melawan Ghoul.
"Tidak salah lagi, yang barusan itu serangan milik Ryu!" Batinnya. Tatapannya masih serius melihat ke arah itu.
Merasakan sesuatu yang datang ke arahnya dengan cepat, segera dia bersiap untuk bertarung. Walaupun tak dapat melihat namun instusi Moon Wolfnya bisa dengan jelas memberitahukan informasi kepadanya.
Gumpalan asap terlihat bergerak, cakar raksasa yang terselimuti oleh benang-benang aura itu terlihat di matanya hendak mencabiknya. Segera dengan pedang kembarnya, dia menangkis cabikan itu.
Cabikan terus dilayangkan oleh Gorgon tanpa henti. Ellisa yang ahli dalam serangan jarak dekat tak ingin mengalah dan terus menangkisnya, sesekali dia juga melayangkan serangan.
Ryuha dapat mendengar ritme pertarungan mereka, namun dia tak tahu siapa yang tengah bertarung, dirinya memutuskan untuk tetap bersiaga di tempatnya.
Di sampingnya, kumpulan asap tebal juga kelelawar-kelelawar kecil muncul, yang terus membentuk wujud dari Vella.
"Tujuan kita datang ke tempat ini adalah untuk mencari Shadow Cloak. Selagi kakakmu mengurus makhluk itu, secepatnya kita cari mantel hitam itu!" Ucap Vella cepat dan jelas terdengar di telinga Ryuha. Tanpa basa-basi mereka segera menyusuri seluruh ruangan, mencari 'Shadow Cloak.' mantel hitam yang dikatakan oleh Vella.
"Baal, apa kau bisa melacak lokasi mantel itu?!" Ryuha bertanya. "Ha, kau berbicara denganku?"
Dalam tengah-tengah kebingungan malah Baal bercanda, membuat Ryuha sedikit geram. Namun entah kenapa Ryuha merasa jika itu bukanlah candaan, seperti seseorang yang tengah melamunkan sesuatu dan terkejut karena dipanggil namanya.
"Haaaahhhh, mungkin kau bisa membuka peti mati itu?!" Ucap Baal lagi. Mengesampingkan hal lain, Ryuha segera berlari menuju makam itu. Nampaknya Vella berpikiran sama, mereka berdua kini berada di tempat yang sama, berdiri bersebelahan di samping batu nisan. Tak menyangka jika benda yang terlihat seperti nisan makam itu sebenarnya adalah peti mati, tak mempedulikan hal lain, segera setelah saling berbalas anggukan kecil mereka berdua bersama-sama membuka pintu peti mati.
Benar-benar dugaan mereka tak melesat, harta karun Dungeon ini sungguh berada di dalam peti mati bersama dengan kerangka yang tertidur pulas di atasnya. Kelihatannya memang mudah, hanya mengambil benda yang tertindih oleh kerangka itu, namun saat mengangkat satu potongan tulangnya saja rasanya sudah seperti tengah mengangkat batu yang berat. Dengan bantuan Ryuha, mereka berdua mulai mengangkat tulang belulang itu.
Nampaknya itu di sadari oleh Gorgon, di tengah-tengah pertarungannya dengan Ellisa, makhluk itu hendak pergi meninggalkan medan perangnya begitu saja. Itu membuat Ellisa curiga, lagi-lagi intuisi memberitahu jika itu karena Vella dan adiknya tengah melakukan sesuatu yang tak diinginkannya sehingga Gorgon hendak mencegah mereka berdua melakukannya. Namun segera, Ellisa menghalaunya sebelum makhluk itu lenyap lagi dimakan asap hitam.
Itu benar-benar membuat Gorgon kesal dan langsung meraung keras, dengan penuh amarah dia kembali mencabik-cabikkan cakarnya lebih buas daripada sebelumnya.
Setiap hantaman kedua senjata itu memunculkan tekanan-tekanan kuat yang membuat tanah sekitar medan perang mereka bergetar kecil, Ellisa benar-benar dibuat hampir tak mampu untuk menahannya lagi.
Cabikan buas yang dipenuhi dengan hawa membunuh pekat melayang hendak menggores tubuhnya, Ellisa segera silangkan pedang kembarnya tuk menahan serangan itu.
Dua senjata yang dialiri penuh oleh kekuatan magis yang saling berhantaman itu membuat Ellisa terpental jauh, tubuhnya tak kuasa dia kendalikan saat melayang. Tak sengaja bahu kanannya menghantam pilar, yang membuat tubuhnya terguling-guling bahkan setelah dia menyentuh permukaan tanah. Rasa sakit itu ditambah matanya yang kehilangan sosok sang Gorgon, Ellisa berusaha untuk duduk bersandar lutut sambil kertakkan giginya.
Gorgon melayang cepat, menuju ke arah Ryuha dan Vella yang tengah sekuat tenaga membuka pintu peti mati.
Shadow Cloak berhasil didapatkan, tak menunggu lama Vella segera mengambil dan memakai mantel yang luarnya berwarna hitam dan dalamnya berwarna merah itu. Sontak kemampuan Penglihatan Malamnya semakin jernih, terlihat jelas sosok Gorgon yang meleset hunuskan cakarnya ke arah mereka.
Vella tersenyum dingin, "Kali ini kau tidak akan mudah menyergapku! Hyak!!!"
Bersambung ...
__ADS_1