( Re ) Legendary Summoner

( Re ) Legendary Summoner
Serangan Goblin


__ADS_3

Sosok makhluk setinggi setengah orang dewasa, berkulit hijau, buruk rupa dan bertaring mulai menampakkan diri dari dalam hutan.


"Semuanya! Walaupun hanya bertahan selama lima menit, Terimalah berkah dari dewa ini!" Teriak Illiam. Satu hentakan tongkat kayu dilakukan. Hembusan angin yang terlihat seperti benang-benang hijau yang terjundat namun rapi dengan cepat seperti membaluti tubuh mereka semua kuat-kuat, dan memudar tak terlihat lagi, seakan menyatu dengan tubuh.


Serentak mereka berteriak, namun tidak dengan dua laki-laki dari Skull City itu, mereka kebingungan memandangi sekujur tubuh mereka, yang seakan terasa tak memiliki berat sama sekali.


"Teknik peningkatan massal! Walau hanya tingkat rendah, tapi tak kusangka si tua itu ternyata sanggup melakukan hal ini?" Baal berkata di dalam pikiran Ryuha. Sontak Ryuha tersenyum. Tanpa memikirkan hal itu, dirinya terus maju memerangi kawanan Goblin, diikuti Louise di belakangnya bersama dengan seluruh warga.


Tiga Goblin serentak menebaskan golok mereka kepada Ryuha, sosok laki-laki itu dengan lincah melekuk-lekukkan tubuhnya menghindari tebasan itu. Tidak hanya itu, dirinya juga menusukkan tombak tulangnya ke titik vital Goblin-goblin itu, hingga membuat mereka terkapar dalam sekali serang.


Dari belakang seekor Goblin berlari menghunuskan pedangnya. Menyadari hal itu, Tempest Wolf dengan segera meloncat dari dalam bayangan lalu menerkam kejam makhluk itu.


"Tidak kusangka teknik ini juga berpengaruh terhadap Tempest Wolf?!" Batin Ryuha sedikit melirik dia ke arah Tempest Wolf yang terus menerkam kawanan Goblin dengan sangat buas. Efek Rune ditambah peningkatan yang diberikan oleh Illiam, membuat sosok serigala kecil itu terlihat seperti monster bintang tinggi.


Satu tusukan tombak dilayangkannya ke perut Goblin yang ada di depan mata, makhluk itu segera lemas dan tergeletak di tanah setelah Ryuha menendang kuatnya. Kembali melirikkan mata, dia melihat sosok Louise yang masih sengit bertarung dengan Goblin-goblin di sekitarnya. Memang sangat payah menggunakan pedang, namun dengan sabit itu, sosoknya sudah seperti pemburu Goblin yang sesungguhnya. Rasa khawatir di hatinya pun sepenuhnya memudar, dirinya kembali memerangi para Goblin yang terus berdatangan.


Entah itu puluhan atau sudah ratusan, para Goblin yang muncul tak ada habisnya. Efek peningkatan yang diberikan oleh Illiam pun mulai terasa memudar, si tua yang menyadari itu hanya menggertakkan gigi, sebab skillnya masih berada dalam jeda. Hembusan nafas berat terengah-engah mulai membisingi medan perang itu. Louise pun mulai terlihat sempoyongan. Ryuha menggertakkan giginya.


"Sial! Kenapa makhluk ini tak kunjung habis?! Jika terus seperti ini, semuanya bisa runyam!" Kesal dirinya. Louise benar-benar tak kuasa menahan tubuhnya, dirinya bertekuk lutut berpegangan dengan gagang sabit yang masih tegak. Salah seekor Goblin menyadari dan terus berlari ke arahnya dengan pedang yang terhunus.


Sementara itu, disaat bersamaan di sisi yang lain seorang warga terjatuh dan mengalami hal yang sama. Benar-benar memaksa Ryuha untuk kehilangan kesabaran. Laki-laki itu menggertakkan gigi, bersamaan dengan Tempest Wolf, mereka menghentakkan kaki dan melesat ke dua arah itu. Sebelum terdapat korban jiwa, Ryuha dan Tempest Wolf memberikan satu serangan fatal kepada Goblin-goblin itu.


Crassh!!!


Bersamaan, kedua makhluk hijau itu tumbang sebelum berhasil menghilangkan satu nyawa. Serangan mereka tak selesai hanya dengan itu, menggunakan otak mereka yang saling terhubung satu sama lain, menggunakan Emptiness Step, melesat-lesat, dengan sangat kejam mencabik-cabik, menebaskan tombak, memisahkan anggota tubuh makhluk-makhluk hijau itu. Walau tanpa adanya efek peningkatan, sosok mereka sungguh tak bisa dilihat oleh mata orang-orang yang ada di sana, dan hanya membuat mereka ternganga di tempat.

__ADS_1


Goblin-goblin yang berdatangan dengan cepat tumbang, walaupun beberapa dari mereka belum keluar dari wilayah hutan. Makhluk-makhluk hijau yang masih di dalam hutan yang melihat teknik menyeramkan itu sontak berpikir dua kali untuk bergerak maju.


Serangan Ryuha dan Tempest Wolf terhenti setelah tak lagi ada Goblin yang berani datang dan hanya menatap mereka berdua dari kejauhan. Di mata mereka para Goblin, sosok kedua makhluk itu seperti malaikat maut yang hendak membinasakan mereka, bahkan mereka seakan melihat aura-aura gelap yang menyelimuti sekujur tubuh Ryuha dan Tempest Wolf. Makhluk-makhluk hijau itu pun hanya menggertakkan gigi, dan beranjak meninggalkan tempat itu karena intuisi mereka.


Mendapati hal itu, sosok Ryuha segera terlutut lemas. Mengatur ulang nafasnya, dia mengelap keringat-keringat yang membasahi wajah.


Para warga sontak bersorak-sorai kegirangan, setelah serangan para Goblin berhenti tanpa adanya korban jiwa diantara mereka.


"Ryu, kau tidak apa-apa?" Louise berlari menghampiri Ryuha. Memberikan jawaban dengan menggelengkan kepala, Ryuha kembali bangkit setelah kembali merasa seperti semula.


"Ayo kita kembali!" Ucapnya terus beranjak setelah satu anggukan dari Louise. Mendapati sesuatu terhadap Tempest Wolf, seperti dia melihat kaki-kaki hewan kecil itu gemetaran kecil. Namun dia tak memikirkannya lagi setelah makhluk itu lenyap di makan bayangannya sendiri.


Melihat sosok Ryuha yang beranjak kembali, para warga pun turut berjalan mengiringi langkahnya. Illiam menyambutnya dengan senyum puas, "Terimakasih nak Ryu. Kedepannya harus merepotkanmu lagi." Ryuha tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Goblin datang lagi! Goblin menyerang lagi!" Duang, duang, duang!!!


Tiga bunyi lonceng dan suara teriakan keras terdengar di telinga mereka semua. Itu membuat indera pendengaran dan perasa Ryuha berfungsi seutuhnya. Terbelalak mata itu saat orang-orang di sekitarnya berbalas gumam kebingungan, matanya langsung teralih ke arah hutan. Terasakan hawa membunuh pekat yang dipancarkan, itu seakan menusuk-nusuk hati dan jantung hingga membuatnya sesak.


"Ada apa ini Ryu?" Tanya Louise. Getaran tanah terasa tepat setelah ucapan itu selesai dilantunkan. Ryuha hanya terdiam, terus memandangi hutan itu. Bagiamana dia bisa menjawab, menjelaskan yang dia rasakan pun tidak bisa.


Baal yang berada di dalam tubuh Ryuha menepuk kening menyadari mara bahaya yang tengah mendekati mereka. Menghela kasar nafasnya. "Ryuha, sepertinya kau harus bertarung serius kali ini?!"


Tak tahu menahu apa yang dikatakan Baal. Dirinya sama sekali tak mengalihkan pandangan dari hutan, menghadapi rasa penasaran dan sedikit takut akan hal yang akan dia lihat. Sampai saat dia melihat pepohonan yang terus tumbang seiring langkah kaki itu jelas terasa. Sosok Goblin raksasa, tingginya hampir tiga meter, sedikit lebih tinggi dari pepohonan yang ada di sana. Seluruh badannya sangat kekar, bahkan dia bisa melihat jelas urat-urat raksasanya. Makhluk itu memegang kayu seperti pemukul, terlihat besar dan sangat keras.


"Ma, makhluk apa itu?" Tanya Ryuha terbata. "Goblin yang melatih tubuhnya dan berhasil mencapai tingkat yang lebih tinggi! Orc." Ujar Baal di dalam tubuh Ryuha. Laki-laki itu sontak menggertakkan gigi.

__ADS_1


"I, itu makhluk yang menghancurkan desa tiga tahun yang lalu! Semuanya cepat lari!" Salah seorang warga berteriak dan langsung berlari, bersamaan dengan warga yang lain. Illiam dengan tubuh gemetaran, tak ingin terlihat pengecut dan terus berdiri di samping Ryuha.


"Kakek Illiam, ini bukan sesuatu yang bisa dihadapi dengan mudah! Aku tidak bermaksud menjadi pahlawan, tapi, sebaiknya kau pergi berlindung saja bersama yang lain!"


Si tua itu menghembuskan nafas berat. "Tiga tahun lalu, setelah mereka dari Slayer Guild keluar dengan keadaan seperti itu, makhluk ini muncul dan mengobrak-abrik desa. Waktu itu aku sangat takut dan lari meninggalkan desa ini. Aku benar-benar tidak layak menjadi kepala desa. Diriku sangat pengecut, dan aku akan membayar hutang itu kali ini. Jadi, walaupun nyawa taruhannya, ijinkan aku ikut bertarung denganmu!"


Ucapan panjang lebar itu membuat Ryuha sedikit tercengang. Dia lalu tersenyum kecil. "Baiklah! Lalu Louise. Jika kau ingin berlari, larilah sebelum terlambat!"


"Cihh, kau pikir aku sama dengan pak tua itu waktu dulu? Aku tidak akan lari walaupun nyawa taruhannya!" Jawabannya serius. Sontak Ryuha tertawa mendapati hal itu, membuat alis Louise terkerut.


"Kau yakin? Lihatlah tubuhmu, itu bergetar hebat?!" Ujar Ryuha. Dan memang benar, sekujur tubuh Louise memang bergetar hebat, dirinya bahkan menahan kencing yang sudah berada di ujung. Namun sudah berkata seperti itu, dia tak ingin hidup dikatai pengecut oleh orang-orang.


Mega merah tak lagi terlihat, matahari sudah benar-benar lenyap. Ryuha tersenyum pahit mendapati keteguhan hati rekannya itu. Memasang kuda-kuda dan bersiap untuk bertempur dengan pasukan Goblin.


"Tiga melawan ratusan, ayo kita buktikan jika kita manusia tidak bisa ditindas seenaknya oleh mereka!" Teriak Ryuha. Serentak mereka berdua berteriak dan terus berlari di belakang Ryuha.


Bersambung ...


...----------------...


Akhirnya mendingan nih ingus🤧


Makasih semuanya yang udah baca. Salam lgi dari author😘


🤧.

__ADS_1


__ADS_2