( Re ) Legendary Summoner

( Re ) Legendary Summoner
Paviliun Lelang


__ADS_3

Bir, entah sudah berapa lama Ryuha tak lagi mendengar kata itu. Tegukan terakhirnya yaitu saat dia masih menjadi budak penambang, itupun baru beberapa kali dan memang dia mengakui itu adalah suatu kenikmatan. Dan sekarang seseorang mengajaknya, bagaimana mungkin dia menolak hal itu.


Bersamaan mereka berdua melangkahkan kaki, dituntun oleh wanita pelayan pribadi Jigan Mavros.


Pemandangan lantai pertama. Mereka menyediakan material-material umum, baik untuk membuat senjata maupun obat-obatan.


Lantai kedua dibagi menjadi dua bagian. Sisi kanan digunakan sebagai tempat promosi dan sisi kiri digunakan sebagai kamar lelang. Itu terdapat esensi dan material Awakening lain. Juga ada Rune-rune yang ada di dalam lemari kaca.


Yang terakhir lantai ketiga, tempat pribadi sang direktur. Lantai seluas tiga puluh kali lima puluh meter persegi itu juga digunakan sebagai gudang untuk menyimpan barang-barang langka. Pemandangan-pemandangan itu cukup membuat Ryuha tertegun. Terlebih saat melihat ruangan pribadi Jigan Mavros.


Itu benar-benar sangat mewah. Baru pertama kali laki-laki berbaju biru itu melihat dinding yang sangat berkilau bak permata.


"Silahkan duduk." Keduanya pun duduk di bangku yang sudah berada di dalam sana setelah Jigan mempersilahkan.


"Sebelumnya aku akan memperkenalkan diri, namaku Jigan Mavros, aku adalah direktur di Paviliun Lelang." Sesuai tebakan Ryuha, laki-laki paruh baya itu memiliki kasta yang tinggi di tempat ini. Seorang direktur yang membungkuk meminta maaf mewakili bawahannya, memikirkan hal itu saja membuatnya tambah grogi.


"Namaku Ryu." Itu saja jawaban dari Ryuha.


Pintu ruangan terbuka, sosok pelayan wanita dengan beberapa botol bir yang dibawanya menggunakan nampan berjalan ke arah Ryuha. Segera dia menuangkan ke sebuah cawan dan mempersilahkan Ryuha untuk menikmatinya. Begitu juga kepada atasannya.


Perasaan itu benar-benar, seketika rasa grogi di hati Ryuha memudar, seperti membuat sesuatu yang mengganjal di kerongkongannya menghilang. Jigan sontak tersenyum mendapati wajah Ryuha yang terlihat puas.


"Aku pikir tuan Jigan ada maksud lain sampai bersedia menjamuku yang hanya orang biasa?!" Bibir yang tersenyum semakin terlihat. Segera Jigan menjawab ucapan itu.


"Seperti yang anda katakan. Aku tidak suka berbasa-basi. Jadi, langsung saja. Apakah tuan muda Ryu tertarik menjadi bawahanku? Dengan kemampuanmu, aku dengan senang hati akan memberimu posisi tertinggi. Tentu itu lebih tinggi dari asistenku Vella."


Baru sampai di kota itu dan dia sudah dilirik oleh salah satu petinggi. Dirinya terdiam sesaat, merenung, berdiskusi dengan Baal. Begitu juga dengan asistennya, Vella yang merupakan wanita pelayan di sampingnya. Dia tak percaya jika atasannya itu mengatakan hal seperti itu, menandakan jika laki-laki asing itu memiliki bakat luar biasa walaupun masih bisa dibilang orang awam.


Ruangan itu hening seketika sebab ketiga orang itu terdiam di tempat. Sampai saat helaan nafas berat yang dilakukan Ryuha.


"Bagaimana, apakah anda tertarik?"


Ryuha bangkit dari tempat duduknya lalu berkata, "Tawaran itu sungguh menarik hati. Aku yang hanya orang bawah tidak pantas untuk menerimanya."

__ADS_1


Berhenti sesaat detak jantung mereka berdua. Bagaimana mungkin tawaran yang hanya diberikan oleh satu dari seribu orang itu ditolak mentah-mentah. Jigan berdiri dengan hembusan nafas berat.


"Sayang sekali tawaran itu tidak bisa menarik hati tuan muda." Sangat kecewa, namun tidak ingin berdebat. Karena jika sudah di tolak, kemungkinan yang menyebabkannya adalah suasana di tempat itu. Dan tentu sangat sulit untuk terus membujuknya. Namun dalam hati tetap Jigan tidak ingin melepaskannya begitu saja.


"Aku ingat tuan muda ingin menjual beberapa mineral. Jika berkenan, aku akan mengutus Vella untuk melayani tuan muda."


Setelah satu anggukan Ryuha, dia dan Vella meranjakkan kaki menuju tempat penukaran, ruangan kecil yang ada di lantai paling bawah.


Seperti halnya sebuah kasir, Ryuha menunggu di sofa yang ada di ruangan itu.


"Enam puluh lima Gold, semuanya tersimpan di cincin penyimpanan ini." Ucap Vella memberikan sebuah cincin kepada Ryuha. Teringat akan hal lain, dia menyerahkan kertas yang berisi catatan kepada perempuan yang cukup dingin itu.


"Apakah di sini menjual barang-barang ini?" Tanya Ryuha. Mengamati dengan seksama, Vella mengangguk kecil mendapati semua yang tertulis ada di gudang Paviliun.


"Kami memiliki semua yang anda butuhkan. Tolong tunggu sebentar, aku akan mengambilnya untuk anda!" Ingin beranjak, namun berhenti karena Ryuha hendak berkata.


"Sekalian, apakah nona Vella tahu di mana Slayer Guild?"


"Aku akan bertanya kepada direktur terlebih dahulu tentang hal ini. Anda tunggu saja di sini, aku akan kembali secepat mungkin."


Setelah satu anggukan, Vella meranjakkan kaki meninggalkan ruangan itu. Keheningan melanda setelah pintu itu tertutup rapat.


"Baal, apa tidak apa menolaknya? Bukankah itu tawaran yang sangat menarik?" Ucap Ryuha. Tentu saja akan sangat menguntungkan bagi Ryuha jika dia menerima tawaran itu. Namun berada di bawah kendali seseorang bukanlah hal yang menyenangkan. Karena kebebasannya akan berkurang, dan tentu petualangannya bisa terhenti di tempat ini.


Menghela nafas, Ryuha menyandarkan tubuhnya di sofa itu, menunggu kedatangan dari Vella dan barang-barang yang dia pesan.


Sementara itu di ruangan pribadi Jigan. Laki-laki itu tersenyum puas setelah Vella melaporkan semuanya. Slayer Guild, masih berada di dalam kendalinya. Mendapati bocah itu yang malah hendak mendaftarkan diri di sana, dia langsung menuliskan surat rekomendasi.


"Vella, berikan harga nol untuk barang-barang itu." Suara serak itu membuat Vella mengangguk kecil. Segera dia kembali ke ruangan penukaran setelah surat rekomendasi selesai dibuat.


Klakk!!!


Pintu terbuka, sosok Vella menghampiri Ryuha dengan membawakan barang-barang pesanannya yang disimpan di dalam beberapa kotak yang terlihat cukup mewah.

__ADS_1


Memberikan cincin penyimpanannya, Ryuha menyuruh Vella untuk memotongnya dengan uang yang baru didapatnya. Namun Vella menggeleng-gelengkan kepalanya, menyuruh Ryuha untuk menyimpan uangnya.


"Direktur memberikan ini secara gratis, anggap saja sebagai kompensasi. Lalu, ini adalah surat rekomendasi darinya."


Sepucuk surat berstempel Paviliun Lelang diberikannya kepada Ryuha. Tak bisa berkata-kata Ryuha, mendapatkan barang-barang secara gratis sekaligus mendapatkan surat rekomendasi. Dia menyadari ada suatu kejanggalan di sini. Namun dia belum mengetahui hal itu.


Tak mau berpikir panjang, dia menerimanya dengan senang hati lalu beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Sesuai yang dikatakan oleh Vella, dia berjalan ke arah timur, menuju satu bangunan tinggi yang terlihat bercat merah gelap. Bendera merah dengan gambar pedang dan tombak yang membentuk huruf X juga terlihat berkibar di atasnya.


Sebuah bangunan yang cukup megah, namun kondisi di sekitar tempat itu tidak terlalu ramai.


"Apakah ada yang bisa saya bantu?" Suara lembut seorang wanita terdengar dari arah belakang, yang membuat Ryuha segera membalikkan badannya.


Sosok wanita cantik jelita, wajahnya ramping, kulitnya putih mulus, rambutnya hitam lurus menutupi punggung, matanya besar, pakaian jaz hitam menutup tubuh langsing, juga celana hitam panjang yang menutup kaki jenjangnya.


"Aku baru pertamakali melihat anda, apakah ada sesuatu yang anda butuhkan di sini?" Suara lembut itu membuat hati Ryuha nyaman mendengarnya.


Membalas jawaban itu dengan lembut, Ryuha lalu menyerahkan surat rekomendasi kepada wanita itu.


"Aku kemari karena ingin menjadi anggota Slayer Guild."


Membuka isi surat itu, wanita itu tahu jika itu adalah sebuah surat rekomendasi. Namun yang membuatnya terdiam dengan wajah serius adalah stempel dan tanda tangan dari Leader Guild.


"Ikut saya masuk ke dalam."


Sosok yang lembut itu seketika berubah menjadi serius setelah membaca isi surat. Entah ada perihal apa, Ryuha juga tak tahu menahu dan terus mengikutinya dari belakang.


Suasana di dalam sana seperti sebuah bar. Kebanyakan adalah laki-laki berwajah seram. Beberapa wanita juga duduk di kelompok masing-masing dan tampang mereka seperti preman.


Tapi satu hal yang membuat alis Ryuha terkerut, juga seorang laki-laki yang memasang ekspresi sama dengannya.


"Kau ...?!"


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2