
Bertarung tanpa dapat melihat sosok musuh yang dihadapi, jika saja terdapat seseorang yang melihatnya, mereka pasti sudah mengatakan jika orang-orang itu sudah gila. Akan tetapi, permasalahannya tidaklah sesederhana yang terlihat. Jika saja mereka bisa kabur, mereka juga tak ingin membuang-buang waktu melawan monster itu.
Tanpa membuang kata-kata, Vella genggam erat pedangnya lalu berlari kencang ke arah Gorgon. Gorgon itu melihatnya, segera jarum-jarum tajam dia kerahkan tuk menyerang wanita itu.
Cahaya yang dipancarkan oleh jarum terlihat di mata Ellisa. Wanita itu yang menyadarinya sontak layangkan cakramnya untuk menangkis jarum-jarum itu. Terus berputar-putar melayang di udaranya, menghancurkan jarum-jarum yang menghantamnya.
Tanpa merubah pose Vella terus berlari mendekati Gorgon, tak mempedulikan jarum-jarum itu karena cakram milik Ellisa terus berada di atasnya melindungi dirinya. Hingga setelah tak lagi tersisa jarum-jarum yang melesat, cakram itu kembali pada pemiliknya.
Tepat berada di depan pilar, Vella hentakkan kakinya, dia melompat tinggi sambil hunuskan pedang ungunya. Dengan diiringi teriakan keras, benang-benang aura ungu datang menyelimuti mata pedang yang terhunus ke perut makhluk itu.
Bersamaan dengan Vella yang melompat, Gorgon yang melihat jelas pergerakan wanita itu terus pusatkan benang-benang aura ungu di sekitar telapak tangan kanannya yang terbuka lebar sampai membentuk sebuah jarum raksasa, yang langsung dia layangkan kepada Vella bersama raungan kerasnya.
Kedua teriakan keras dari kubu yang berbeda saling tercampur aduk di dalam ruangan saat dua mata benda tajam itu bersentuhan satu sama lain yang menyebabkan hembusan tekanan kuat muncul di sekitar mereka.
Ryuha dan Ellisa sesekali melihat bilah-bilah cahaya tipis berwarna ungu yang menyebar di langit-langit, juga dapat sedikit merasakan getaran-getaran tanah di sekitar tempat mereka.
Peraduan kekuatan yang berlangsung kurang lebih selama lima detik, hembusan tekanan kuat tiba-tiba saja keluar berpusat di tempat dua mata benda tajam itu bertemu. Vella terpental ke belakang, dia memutar-mutar tubuhnya saat terhempas di udara. Tepat saat pijakkan kakinya di permukaan pilar, dia langsung menghentakkannya dan kembali melesat cepat ke arah Gorgon.
Sang Gorgon kepakkan sayapnya, dia terbang hunuskan cakarnya kepada Vella. Tepat di tengah-tengah antara kedua pilar, kedua wanita itu saling beradu kekuatan satu sama lain memunculkan kembali bilah-bilah cahaya ungu dan hembusan tekanan. Kali ini berlangsung lebih singkat, keduanya terhempas sedikit ke belakang. Gorgon langsung meraung keras dan cabikkan cakar kedua cakarnya cepat bergantian.
Vella yang melihatnya jelas tak ingin tinggal diam. Menggunakan Shadow Bat dia berpindah tepat di belakang sang Gorgon. Tanpa selang waktu, dia tebaskan pedangnya brutal ke punggung makhluk itu.
Sadar akan hal itu, tangan kanannya dia kerahkan hendak menghalau namun tak sempat sebab Vella menebaskan pedangnya dengan kecepatan penuh.
Sayatan demi sayatan di punggung lebar dan kasar juga keras itu, sang Gorgon hanya terus meraung keras menerimanya tanpa bisa berbuat apa-apa. Sampai pada satu tebasan terakhir, bilah cahaya ungu kental secara vertikal menghembuskan tubuh raksasa Gorgon itu sampai menghantam pilar.
Di dekatnya sudah bersiap dua orang yang sedari tadi menunggu kesempatan itu. Ellisa segera hentakkan kakinya, tangannya meliuk-liuk mengendalikan cakram saat melayangkannya. Terpecah menjadi dua cakram itu saat melesat di udara, terus berputar-putar dan langsung mengunci tubuh Gorgon yang terbaring di tanah.
"Ryu!"
Ryuha sontak hentakkan kakinya dan langsung melompat tinggi, di tangan kanannya telah membara kobaran api. Laki-laki itu memukulkannya kuat-kuat di udara lepas untuk menembakkan kobaran api bak meteor jatuh.
Diiringi dengan teriak kerasnya, kobaran api melesat cepat ke arah Gorgon yang terbaring dengan tubuh yang hanya bisa menggeliat.
Boomm!!!
Sebuah ledakan keras yang sedikit memudarkan asap tebal yang ada di sekitar sana. Ryuha jatuh dengan mantap, bersamaan dengan dua pedang bilah melengkung yang langsung menyatu menjadi cakram setelah jatuh ke tangan pemiliknya.
Di balik asap coklat nan tebal, ekor ular raksasa menggabit kuat ke arah Ellisa dan Ryuha. Mereka berdua sadar, Ellisa sontak silangkan kedua tangannya tepat di depan kening dan langsung membuat medan penghalang.
__ADS_1
Serangan yang mendadak itu membuat wanita itu tak sempat menyempurnakan cahaya emas transparan itu sehingga dirinya terpental. Hampir menghantam Ryuha, laki-laki itu terus menggunakan Emptiness Step tuk berpindah bersama kakaknya itu. Entah kemana dia berpindah, dia tak mempedulikan hal itu, tanpa selang waktu dia gunakan skill, 'Ring Of Fire.' sehingga lima cincin api muncul di belakangnya.
Ryuha lalu pejamkan kedua mata tuk rasakan di mana keberadaan Gorgon.
"Lock!"
Sontak kelima cincin api itu melesat ke arah Gorgon dan langsung mengikatnya tanpa memberikan kesempatan bagi Gorgon untuk mengelak.
Vella yang sudah bersiap sejak lama segera hentakkan kakinya, dia melayang di udara dan langsung tebaskan pedangnya dua kali secara vertikal dan horizontal. Bilah cahaya ungu melesat dan langsung menghantam tubuh Gorgon sehingga makhluk itu berteriak histeris.
Berkat ledakan-ledakan yang terjadi juga hembusan-hembusan tekanan, kabut ungu tebal kian memudar. Walau tidak banyak namun kedua mata Ellisa dan Ryuha bisa lebih jelas melihat keadaan sekitar.
Sang Gorgon yang terus menggeliat kuat menghancurkan kelima cincin api yang mengunci tubuhnya. Sesuai dengan perkiraan, tepat setelah Vella pijakkan kaki di tanah, tangan kirinya yang terkepal erat diangkatnya setinggi kepala.
"Shadow Thorns!"
Tanpa selang waktu setelah teriakan itu, jarum-jarum hitam segera muncul di sekitar sang Gorgon dan menembus beberapa bagian tubuhnya. Kembali teriak histeris menggema di dalam ruangan.
"Sekarang, Elli!" Teriak Vella memberikan aba-aba kepada Ellisa.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Ellisa hentakkan kakinya dan melompat tinggi, dirinya melayang di udara dengan cakramnya yang berputar mengelilinginya searah jarum jam, kloningan cakram muncul disetiap jalur lintasnya. Tatapannya tajam menatap sang Gorgon yang terlihat berusaha untuk melepaskan diri dari puluhan jarum-jarum yang membuatnya sulit untuk bergerak.
"Moonlight Anger" Teriaknya kuat. Tanpa selang waktu puluhan bilah cakram yang bersinar emas melesat ke arah Gorgon.
Asap hitam muncul di sampingnya diikuti kemunculan sosok Vella yang terlihat masih menatap tajam ke arah sang Gorgon. Ryuha melihat tangannya yang masih menggenggam erat gagang pedang.
"Apa sudah berakhir?!" Rintih Ellisa lemas.
"Tidak, ini, belum berakhir!" Tidak hanya suaranya saja yang gemetaran, namun juga tubuhnya. Ryuha bisa melihat kaki Vella yang mulai gemetaran itu sebelum dia memasang lagi kuda-kudanya.
Asap tebal yang menyelimuti tubuh Gorgon memudar saat tubuh raksasa itu bangkit dan menampakkan dirinya. Dia lalu meraung keras, perasaan seperti ditindas dirasakan oleh ketiga orang itu.
Ryuha kertakkan giginya mendapati jika sang Gorgon masih bisa bertahan setelah menerima semua serangan yang mereka miliki.
Pikirannya menjadi semakin tak karuan, tangannya hendak meraih Blood Curse Sword sebelum semuanya terlambat. Namun itu dihentikan oleh Baal.
"Jangan gegabah! Ini sudah berakhir!" Ucap Baal.
Kabut tebal yang memenuhi ruangan itu kian memudar seakan tertelan oleh cahaya. Kondisi itu sontak membuat kedua mata tiga orang itu terbelalak hebat.
__ADS_1
Raungan makhluk itu terdengar sangat keras yang langsung membuat telinga mereka berdengung. Tubuhnya perlahan mengecil, dengan cepat kembali seperti semula. Ternyata benar yang dikatakan Baal, semuanya telah berakhir. Sontak makhluk itu jatuh tersungkur.
Menyadari makhluk itu hendak kabur, Ryuha segera menggunakan Emptiness Step dan langsung menebas lehernya.
Darah memuncrat tak berhenti dari tubuhnya yang tak lagi memiliki kepala. Vella juga Ellisa pun terduduk lemas kehabisan tenaga.
"Semua kemampuan Gorgon akan terkunci sementara setelah kembali ke wujud aslinya. Hahhh, sepertinya dewa tidak ingin kita mati di sini?!" Ucap Ellisa.
Di dalam ruangan itu, ketiga orang itu memulihkan tenaga mereka sebelum meninggalkan Dungeon juga Hutan Seribu Makam. Dengan Vella yang telah mendapatkan apa yang dia inginkan, Shadow Cloak yang memberikan efek penglihatan malam kepada pemakainya, perjalanan mereka di dalam kabut sama sekali tak dihambat oleh apapun.
Malam pertama perjalanan pulang mereka, ketiga orang itu beristirahat di bawah pohon besar di dalam lebatnya hutan.
"Setelah ini, waktunya kita untuk mempersiapkan diri mengikuti Guild Tournament. Aku yakin kali ini kita bisa mengembalikan hinaan yang kita terima selama bertahun-tahun!" Ucap Vella.
Ellisa anggukkan kepala menyetujui apa yang dikatakan oleh Vella. Ingatan beberapa waktu yang lalu tiba-tiba saja terbersit di benaknya, segera dia mengutarakannya.
"Adik, waktu itu kau bilang jika sebenarnya kau memang berniat tidak ingin tinggal terlalu lama di Slayer Guild, apa maksud ucapanmu itu?"
"Ah itu, sebenarnya... "
Ryuha akhirnya menceritakan detail kejadian yang dialaminya di masa lampau, tentang pertaruhannya dengan seseorang dari sebuah serikat, Listh Carnal.
"Ah, Turnamen itu, aku tahu itu. Itu adalah Turnamen yang diadakan rutin setahun sekali setiap menjelang akhir tahun di ibukota Kekaisaran Naga Biru. Hadiahnya juga bukan hanya barang biasa karena yang mengadakannya adalah kaisar sendiri." Ucap Ellisa yang ternyata mengetahui hal itu.
"Jika tidak salah hanya seseorang yang berada di bawah level empat puluh yang boleh mengikutinya?!" Ucap Vella.
Ellisa anggukkan kepalanya. "Untuk mengikutinya pun dibutuhkan Lencana Guild. Tapi, aku tidak menyangka jika kau bahkan berani menerima tawaran itu, bukankah itu sangat merugikanmu?"
Ryuha gelengkan kepalanya. "Sebenarnya ada satu hal yang aku inginkan. Kebetulan taruhan yang aku buat tidak melenceng dari rencana perjalanan hidupku. Jadi, karena aku diberikan kesempatan, kenapa aku harus menolaknya? Selain itu, ada sesuatu yang menyangkut hidup dan matiku. Dengan adanya bantuan dari faksi besar, aku yakin semua rencanaku akan berjalan lancar."
Ucap panjang lebar yang secara tidak langsung mengatakan tentang kutukan yang dimilikinya.
"Vella, tentang Listh Carnal, apakah kau merasa pernah mendengar nama itu?!" Tanya Ellisa. Itu membuat Vella merenung sejenak.
"Jika tidak salah, dia salah satu tetua dari Serikat Heavenly Dragon yang terletak beberapa belas kilometer dari kota Kekaisaran Shenlong?!" Jawab Vella.
"Heavenly Dragon?!" Batin Ryuha.
"Haisshh, sepertinya masa depanmu akan ada banyak rintangan. Adik, ingat baik-baik! Kau adalah adikku aku adalah kakakmu, jika di masa depan membutuhkan bantuan, tidak perlu sungkan untuk datang kepadaku, kau mengerti!" Ujar Ellisa. Mendengar itu, tentu Ryuha langsung anggukan kepala. Bagaimana mungkin dia menolak penawaran seperti itu.
__ADS_1
"Yoshh, karena sebentar lagi kita akan bertarung mempertaruhkan harga diri, lebih baik kita pikirkan apa yang ada di depan kita terlebih dahulu!" Ucap Ellisa dipenuhi semangat.
Vella juga Ryuha bersamaan anggukan kepala mereka. Mereka beranjak beristirahat setelah obrolan mereka selesai pada tengah malam.