( Re ) Legendary Summoner

( Re ) Legendary Summoner
Kerata City


__ADS_3

Dalam lebatnya hutan, hujan nan lebat menyertai perjalanan mereka. Sebab waktu mereka yang tidak banyak, tak ada waktu untuk mereka beristirahat, dengan mantel hitam mereka cepat langkahkan kaki menerjang hujan dan angin kencang.


Sesekali gemuruh petir terdengar di telinga bahkan terlihat di mata. Namun itu tak membuat mereka gentar dan tak menghentikan langkahnya. Hingga akhirnya mereka tiba di depan sepasang pilar yang saling terhubung.


Dua pilar raksasa yang terbuat dari granit dan dihiasi oleh batu marmer itu merupakan jalur transportasi untuk memasuki sebuah kota yang terlihat lebih maju ketimbang Skull City. Di sana terdapat sebuah pos, dimana tiga orang penjaga tengah bertugas untuk menjaga keamanan dan mengecek setiap pendatang yang hendak memasuki ke dalam kota.


"Tolong perlihatkan identitas anda!" Ucap sopan dari salah seorang laki-laki yang di tubuhnya tertempel penuh zirah baja diterima baik oleh Vella. Wanita itu telah dititipkan token milik Jigan Mavros. Segera setelah melepas kerah yang menutupi kepalanya, dia memberikan token itu kepada sang penjaga untuk di cek keasliannya.


"Kalian dari Slayer Guild, datang untuk mengikuti Guild Tournament. Apakah saya bisa berbicara dengan Tuan Jigan Mavros?" Tanyanya.


Vella gelengkan kepala, sebab memang Jigan Mavros tidak bersama dengan mereka. "Maaf tapi direktur berpesan agar kami pergi terlebih dahulu sebab dia ada urusan."


Sepucuk surat yang telah dititipkan kepadanya langsung dia berikan kepada sang penjaga. Sang penjaga pun mengangguk kecil membacanya. Entah mencari apa, lelaki itu terlihat menggagapi laci meja. Selembar kertas yang entah bertuliskan apa yang langsung di steples dengan sepucuk surat yang diberikan oleh Vella kepadanya. Dia lalu memberikannya kepada Vella.


"Berikan ini kepada panitia di tempat pendaftaran seperti biasa. Tentu kalian sudah tahu jika ini untuk verifikasi pendaftaran bukan? Jadi, saya tidak perlu menjelaskannya panjang lebar."


Vella anggukan kepalanya setelah menerima lembaran itu. Lelaki itu pun tepukkan tangannya, memberikan kode kepada dua rekannya yang menjaga jalan agar membiarkan lewat ketujuh orang dari Slayer Guild itu.


Tepat di balik pilar, jalanan yang semula hanya tanah becek kini berubah menjadi susunan beton yang tertata rapi. Jarak antara pilar itu dan pusat kota kisaran lima ratus meter jauhnya. Di pinggir kota terlihat dinding pembatas yang tinggi dan megah, seluruh terbuat dari susunan beton sehingga bangunan itu terlihat berdiri kokoh. Di kedua mata mereka terlihat dua penjaga pintu gerbang yang tengah menjaga ketertiban lalu lintas sebab terlihat jelas keramaian orang-orang yang tengah berjalan memasuki kota. Kebanyakan dari mereka terlihat membawa kereta kuda yang berisikan penuh barang-barang, mereka adalah para pedagang yang datang untuk menjual barang-barang mereka. Selain itu, di dekat pintu masuk terlihat jelas batu raksasa yang memiliki ukiran bertuliskan, 'Kerata City.'


"Kota ini lebih luas daripada kelihatannya." Gumam Ryuha setelah memasuki wilayah kota.


Saat berjalan, tiba-tiba Vella hentikan langkahnya, yang membuat rekan-rekannya pun ikut berhenti di tempat.


"Raka, kau ikut aku untuk menyerahkan dokumen ini!" Ucapnya. Raka pun mengikuti apa yang dikatakan oleh seniornya itu. Mereka pun beranjak pergi, berjalan terpisah setelah menentukan di mana mereka akan menginap, yakni di tempat biasa mereka menginap jika datang ke kota itu.


Lagi-lagi saat mereka berjalan, tiba-tiba Ellisa hentikan langkahnya. Dia lalu berkata. "Adik, kau temani aku sebentar! Ada sebuah tempat yang ingin aku kunjungi!" Ryuha hanya mengangguk bingung menanggapinya.


"Kalian semua pergilah terlebih dahulu untuk beristirahat! Aku akan mengajak Ryu berkeliling sebentar!" Tambahnya.


Drian yang tidak peduli hanya menanggapinya dengan malas. "Hehh, lakukan saja sesukamu!" Lelaki itupun melanjutkan langkah menuju penginapan bersama dua juniornya, meninggalkan Ellisa juga Ryuha di tempat itu.


"Ayo, adik! Aku akan mengajarkanmu sesuatu!" Ucap Ellisa. Ryuha pun anggukan kepalanya. "Kebetulan ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu!" Ellisa hanya tersenyum, dan mulai melangkahkan kakinya, memandu Ryuha tuk pergi ke suatu tempat.


Hujan yang tersisa hanyalah gerimisnya saja, namun beberapa kilatan petir masih juga terlihat. Walau seperti itu, pemandangan kota itu tetap tak terlalu nampak jelas di mata Ryuha. Mereka berdua tak menghentikan langkahnya hingga sampai di sebuah bar.


"Kau tahu apa fungsi dari tempat ini?" Tanya Ellisa sebelum memasuki bar itu. Pertanyaan itu sejenak membuat otak Ryuha berputar-putar, sampai dirinya mendengar beberapa potong kalimat. "kudengar seseorang... "


Sontak Ryuha pun memberikan senyuman kepada kakaknya itu. Dia lalu berkata dengan puas. "Aku sungguh berterimakasih atas hal ini."


Mendapati Ryuha yang sudah paham tanpa penjelasan panjang lebar, Ellisa pun mulai meranjakkan kaki memasuki tempat itu diikuti sang adik di belakangnya. Di sana terlihat satu meja yang masih kosong, tempatnya berada tidak jauh dari meja kasir.


Melihat seorang kenalan yang tak ingin dia temui, saat Ellisa melihat Ryuha yang hendak melepas kerah mantel yang menutup kepala, dia segera menghentikannya, dan berkata lirih kepadanya.


"Jangan sembarang memperlihatkan wajahmu!"

__ADS_1


Mendengar ucapan serius itu, Ryuha hanya mengangguk pelan menanggapinya. Mereka pun duduk di meja terakhir yang ada di sana, dan langsung memesan segelas bir seperti pada umumnya.


"Nah, apa yang ingin kau katakan?" Tanya Ellisa. Ryuha pun teringat semua yang ingin dia tanyakan kepada kakaknya. Tanpa basa-basi dia pun mulai melontarkannya satu persatu.


"Jadi, ada sesuatu yang tidak bisa aku katakan, tidak, mungkin belum bisa."


Ellisa terus menyimak apa yang tengah dikatakan oleh adiknya itu.


"Tentang identitasku! Maksudku, identitasku yang sesungguhnya. Aku ingin bertanya, apakah guild besar seperti Heavenly Dragon berpartisipasi dalam Turnamen ini?"


Entah apa yang disembunyikan oleh adiknya, Ellisa tidak ingin mengungkitnya. Dia pun menjelaskan apa yang ingin diketahui oleh adiknya itu.


"Sebelumnya aku akan menjelaskan kepadamu. Heavenly Dragon bukanlah guild, melainkan serikat. Serikat adalah faksi besar dimana anggotanya terdiri dari beberapa guild! Dan tentang yang kau tanyakan, jawabannya, tidak!" Jawab Ellisa.


Ryuha sedikit terbelalak saat mendengarnya, ternyata selama ini pemahamannya salah yang mengira jika serikat adalah sebutan lain dari guild besar. Namun dia juga merasa lega sebab dia tidak akan bertemu dengan Rin di tempat ini. Namun tidak menutup kemungkinan jika Rin akan menonton pertandingan ini.


"Apa hanya itu yang ingin kau katakan?" Tanya Ellisa. Ryuha sedikit tersenyum saat anggukan kepalanya.


Baru saja meneguk bir, gelak tawa memenuhi ruangan yang membuat semua pandangan teralih ke arah itu. Tawa bahak seorang lelaki yang terus menyombongkan dirinya, laki-laki itu adalah dia kenalan yang tidak ingin ditemui oleh Ellisa. Dia berdiri, satu kakinya dia pijakkan di meja, tangannya yang memegang gelas bir diangkatnya tinggi-tinggi.


"Bwahhh, aku berani bertaruh jika kali ini guildku Divine Crack akan memenangkan turnamen untuk yang ketiga kalinya! Jika tidak, aku akan berjalan telanjang mengelilingi kota!" Ucapnya setelah meneguk bir diikuti tawa jahatnya.


Itu terdengar sangat menggelikan di telinga Ryuha. Dia ingin beranjak tuk beradu mulut dengannya, namun Ellisa cepat menghentikannya, dan berkata dengan lirih. "Tidak perlu ditanggapi! Ingat tugas kita di sini!"


"Bellerophon. Dia adalah ketua tim mereka." Ucapnya lagi.


Mereka yang dimaksud oleh Ellisa, yakni keenam orang yang duduk dalam kelompok meja mereka, Ryuha mengetahui itu.


Bellerophon tak berhenti melantunkan ucapan sombong, namun tak ada dari mereka yang ada di sana yang berani melawan ucapannya. Mereka hanya terdiam sambil bergumam entah apa yang mereka katakan.


Bellerophon tersenyum dingin, di wajahnya terpampang ekspresi yang mengerikan. "Lihat! Kalian hanya bisa diam di tempat sambil mengutukku diam-diam! Benar-benar sekumpulan sampah!" Gelak tawa memenuhi seluruh ruangan itu. Sang pemilik bar yang mengetahui identitasnya, tentu tak berani menghentikan perbuatan yang sebenarnya sangat membuatnya kesal itu.


Bellerophon melirik ke sebelah. Lirikan itu dia lakukan sebab aroma wangi yang tak sengaja masuk ke lubang hidungnya. Di matanya terlihat seorang yang tubuhnya tertutup penuh oleh jubah hitam. Menyadari jika itu adalah perempuan, dia pun mendekatinya. Di wajahnya senyum jahat masih terpampang.


"Yo, nona, apa kau tahu siapa aku? Aku adalah orang yang akan memenangkan Guild Tournament kali ini! Bagaimana? Apa kau mau menemaniku malam ini?" Kenalpun tidak, tapi dia berani dengan sangat percaya diri menggoda orang itu yang tidak lain adalah Ellisa, bahkan dia tidak mempedulikan Ryuha yang duduk di seberangnya. Sontak Ellisa langsung berdiri setelah meninggalkan beberapa koin di meja dan berkata tanpa mempedulikan ucapan Bellerophon. "Ayo kembali, adik!"


Mereka berdua yang tak menanggapinya benar-benar membuatnya kesal. Dia kertakan gigi dan angkat tangannya. Dengan cepat muncul benang-benang aura seperti debu yang langsung membentuk sebuah pedang berbilah besar itu. Dirinya langsung hentakkan kakinya dan melesat hendak menebas punggung mereka berdua yang hampir melewati pintu.


Itu disadari oleh Ellisa, segera dia keluarkan cakramnya dan langsung menangkis tebasan itu.


Cakram yang tidak asing lagi bagi Bellerophon. Sedikit terbelalak matanya sebelum dia melompat ke belakang.


"Yo, aku kira siapa ternyata kau, Nona Elli?!" Senyum dingin kembali terpampang di wajahnya.


Ellisa pun membuka kerahnya, menampakkan wajahnya yang cantik berseri.

__ADS_1


"Aku tidak ingin mencari keributan di sini! Lebih baik kau simpan pedangmu dan-, " Belum selesai wanita itu berbicara, Bellerophon tiba-tiba memotong ucapnya. "Dan aku akan mempermalukan guildmu saat Guild Tournament, baiklah, itu tidak buruk juga!"


Rekan-rekannya sontak tertawa, menertawai Ellisa juga guildnya yang telah mereka permalukan tahun lalu. Ellisa yang mengingat kejadian dimana Jigan Mavros sampai turun ke dalam arena langsung kertakkan giginya. Kedua tangannya juga terkepal erat menahan emosinya yang sudah di ubun-ubun. Dalam kondisi itu, Ryuha yang masih menyembunyikan identitasnya pun maju beberapa langkah di depan Ellisa.


"Aku tidak peduli dengan apa yang kau ucapkan! Tapi ingat baik-baik apa yang sudah kau pertaruhkan saat kalian tidak bisa memenangkan Guild Tournament kali ini!"


Hembusan tekanan kecil keluar setelah Ryuha selesai berbicara. Walaupun sedikit terkejut, namun Bellerophon tahu jika itu hanyalah gertakan saja.


"Hei bocah! Sepertinya kau belum mengetahui siapa diriku?! Aku Bellerophon, tidak pernah menelan ucapanku! Lagipula, bagaimana cara kalian untuk mengalahkan kami?" Lagi-lagi dia tertawa gelak setelah menyelesaikan ucapannya.


Tanpa mempedulikan hal-hal lain, dia menggandeng tangan kakaknya yang tengah berdiri mematung untuk beranjak pergi meninggalkan tempat itu, walaupun tawa dan ejekan membuat hati mereka seperti tertusuk duri.


Hujan telah sepenuhnya reda, awan pun hampir memudar seluruhnya, menampakkan gemerlap bintang yang tanpa disertai oleh rembulan. Ryuha benar-benar kesal dengan tingkah sombongnya, namun dia tahu bahwa perasaan itu tidak lebih kuat dirasakan dibandingkan wanita di sampingnya.


"Em..., kakak?" Sedikit ucapan yang menghilangkan keheningan di antara mereka. Ellisa hela nafasnya pelan, menghilangkan segala perasaan buruk di benaknya.


"Aku tidak apa-apa. Maafkan aku, aku yang menyuruhmu untuk menahan emosi malah aku sendiri yang tidak bisa menahannya." Ucapnya. Ryuha tersenyum sembari gelengkan kepala menanggapinya. Dia lalu berkata, "Jika tidak ada kakak, aku pasti sudah bertarung habis-habisan dengannya. Kali ini kakak telah memberiku banyak pelajaran, sungguh aku tidak tahu harus membalasnya bagaimana. Selain itu, jika saja kakak terus diam tadi, bukankah tubuh kita pasti sudah terpotong menjadi dua bagian?"


Ucapan itu membuat hati Ellisa menjadi semakin lega, bahkan dia sempat tertawa kecil.


"Apa ada hal lain yang aku harapkan selain kesuksesan dari adikku?"


Ucapan itu sontak membuat Ryuha hanya tersenyum aneh sebab tak bisa membalasnya dengan ucapan apapun.


"Huhhh, benar-benar hanya bisa menunggu saat kita di atas arena." Rintihnya. Ryuha pun mengangguk dan berkata dengan sangat yakin. "Besok, kita akan mempermalukannya di depan umum!"


Ellisa anggukkan kepala dengan sangat yakin. Langkah kaki mereka pun dipercepat menuju penginapan, untuk beristirahat sembari menunggu hari esok tiba.


Mentari perlahan menampakkan sosoknya, mengusir kabut-kabut sejuk yang membuat begigilan tubuh seseorang.


Bersamaan tim Slayer Guild berjalan menuju arena. Dalam perjalanan mereka berpisah, masing-masing kelompok menuju keberadaan acaranya masing-masing.


Sesuai dengan kelompoknya, Vella memimpin dua anggotanya tuk pergi menuju arena pertandingan High Team yang letaknya tidak jauh dari Balai Kota. Sedangkan Ryuha masih berjalan mengikuti tiga rekannya tuk pergi ke arena pertandingan Low Team yang ada di Alun-alun Kota.


Benar-benar sangat ramai, bahkan di hari yang masih sepagi itu, jika saja dia bukan peserta turnamen, Ryuha pasti tidak akan mendapatkan tempat duduk di sana.


Saat berjalan memasuki wilayah arena, dalam pikiran Ryuha kembali terbesit beberapa kalimat yang dikatakan oleh Vella saat bermusyawarah semalam.


"Pertandingan pertama Low Team besok adalah kalian, dan lawannya, adalah Divine Crack Guild! Ingat untuk tidak memaksakan diri karena kita hanya perlu mencari empat poin kemenangan dalam lima pertandingan pertama! Sela akan menjadi cadangan tim dan bergantian dengan Ryu setelah dua pertandingan!"


Mengingat kejadian saat di bar, jantungnya semakin berdegup kencang sebab tak sabar untuk menunjukkan kepada mereka siapa dirinya, terlebih saat dirinya naik ke atas panggung untuk melakukan beberapa sambutan kepada para penonton dan dewan serta juri yang ada.


"Bocah jelek, aku tidak akan membantumu jika kau sampai kewalahan melawan keroco-keroco itu!" Ucap Baal.


Tentu Ryuha sendiri pun tak berniat untuk meminta pertolongan Baal sama sekali. Bahkan jika timnya dalam kondisi terdesak, dia tak akan dan sudah bertekad untuk sama sekali tak menyentuh pedang yang terbalut kain hitam di punggungnya.

__ADS_1


__ADS_2