
Salam sambutan telah selesai, bangku penonton pun telah diisi penuh oleh mereka para penonton.
Para panitia mulai merapalkan mantra sihir. Selang beberapa saat, belasan Magic Circle dengan warna yang berbeda-beda muncul dan menyala terang di sekitar alun-alun kota. Tanah tiba-tiba saja bergetar, bangku para penonton serta tempat para panitia bersinggah seperti terpisah, mereka terangkat, melayang di udara. Bongkahan-bongkahan tanah keluar dari dalam tanah yang langsung membangun arena wilayah Alun-alun Kota menjadi arena pertandingan yang megah.
Arena berbentuk lingkaran, dengan lebar diameter mencapai sepuluh meter, seolah tanpa batas, namun mereka yang ada di dalam arena dapat melihat garis pembatas yang ada di sana, juga medan pelindung yang terlihat transparan dari luar. Dengan adanya hal itu, mereka tak lagi berpikir dua kali jika ingin mengamuk dalam arena.
"Tim yang akan bertanding kali ini adalah Low Team Divine Crack Guild melawan Low Team Slayer Guild! Untuk kedua tim dipersilahkan untuk bersiap di kubu masing-masing dilanjut dengan memperkenalkan diri!" Teriak sang wasit.
Terdapat dua kubu, merah dan biru yang ada di ujung arena. Ryuha beranjak pergi mengikuti dua rekannya, Hidrix dan Raka yang berjalan menuju kubu merah di ujung arena.
Kedua tim saling bertatap satu sama lain di kubu masing-masing. Dimulai dari Low Team Divine Crack Guild di kubu biru yang memulai memperkenalkan diri.
" Yarta, Level tiga puluh!" Dia yang berdiri di tengah berucap. Dia adalah laki-laki sebaya dengan Hidrix, tubuhnya ideal, rambutnya hitam agak pirang seperti terbakar, cocok dengan bajunya yang hitam dengan motif merah gelap.
"Mila, Level dua puluh tujuh!" Kemudian dilanjut dengan rekan di samping kanannya. Dia adalah wanita dengan rambut biru muda yang panjang, yang berwarna sama dengan pakaian yang dia kenakan.
"Teo, Level dua puluh lima!" Terakhir adalah dia yang berdiri di posisi paling kiri. Seorang laki-laki, terlihat paling muda diantara mereka, rambut hitam gelapnya, serta mata emasnya yang dipadukan dengan mantel hitam dengan corak emasnya membuatnya terlihat sedikit ngeri.
"Raka, Level dua puluh enam!"
"Hidrix, Level dua puluh lima!"
Ryuha melirik dua rekannya yang telah memperkenalkan. Terpampang jelas keringat yang menetes melalui wajah serius mereka yang tak teralihkan dari tim musuh mereka.
"Ryu, Level delapan belas!" Dengan santai Ryuha memperkenalkan dirinya.
Mereka yang ada di sana dibuat tertegun sejenak sebelum akhirnya bergelak. Tak habis pikir mereka, bisa-bisanya Slayer Guild mengirim seorang bocah yang bahkan belum mencapai level dua puluh.
"Cihh, sepertinya mereka tidak berniat untuk memenangkan pertandingan kali ini?! Sungguh mengecewakan!" Ucap Yarta. Dirinya pun tersenyum, mengejek tim lawan yang dikiranya tak ada semangat untuk bertanding.
Ryuha bisa melihat jelas senyuman itu, benar-benar membuat jantungnya berdegup kencang tak sabar untuk mengalahkannya. Dia berkata dalam hatinya. "Apakah harus aku harus mengeluarkan semuanya di sini?! Tidak-tidak, sepertinya itu tidak perlu?!"
"Pertandingan akan dimulai setelah satu menit persiapan! Silahkan kedua tim untuk menyusun rencana sebaik-baiknya dalam waktu yang diberikan!" Teriak wasit.
"Tugas kita kali ini hanya menahan mereka sampai kekuatan mereka sampai terkuras! Tidak perlu mengincar kemenangan! Ingat apa yang dikatakan oleh Nona Vella!" Ucap Raka sebagai ketua tim. Mendengar itu, Ryuha buang kasar nafasnya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu jurus-jurus yang kalian miliki seperti apa. Tapi, akan aku katakan, aku bisa mengunci pergerakan mereka selama lebih dari tujuh detik! Jika kita bisa bekerja sama, kita bisa mendapatkan kemenangan cepat dalam pertandingan ini!" Ucapnya.
"Bocah! Apa kau tahu kemampuan apa yang mereka miliki? Aku tidak setuju untuk mempermalukan tim, lebih baik kita ikuti apa yang diperintahkan oleh Nona Vella!" Ucap Hidrix menyangkalnya. Raka pun mengangguk mengiyakan ucapan itu. "Jika kau menganggap dirimu hebat dan bisa mendapatkan kemenangan, lakukan saja itu sendiri! Kami akan tetap mengikuti perintah Nona Vella!" Ucapnya tegas.
Ryuha pun kembali buang kasar nafasnya sembari alihkan pandangan dari mereka dan berkata lirih. "Kalian benar-benar tidak memiliki semangat bertarung."
"Kedua tim bersiap untuk bertarung!" Teriak wasit. Keduanya pun mulai memasang kuda-kuda, bersiap tuk bertarung. Ryuha bisa melihat keringat dari dua rekannya yang semakin bercucuran, juga kaki mereka yang sedikit bergetar. Dia hanya bisa menghela nafasnya sebab seperti akan bertarung satu melawan tiga.
"Pertandingan..., Dimulai!!!" Teriakkan keras kembali terlantun dari mulut sang wasit.
"Ring Of Fire! Lock!" Ryuha hentakkan kakinya, layangkan kelima cincin api ke arah mereka bertiga yang ada di depannya.
Sungguh kecepatan dari kelima cincin api membuat mereka terkejut. Walaupun mereka telah menyelesaikan Teknik Penyatuan, namun mereka tak sempat untuk menghindari kelima cincin api yang melesat ke arah mereka. Tiga cincin api mengunci tubuh Yarta, dan dua lainnya mengunci tubuh Mila dan Teo, yang membuat mereka hanya menggertakkan gigi saat berusaha untuk melepas ikatan.
Sekuat tenaga mereka melepaskan ikatan itu, hingga akhirnya, setelah tiga detik cincin api yang mengikat Teo yang telah menyatu dengan monster bintang limanya, Mystical Typhon Lion hancur menjadi serpihan-serpihan kecil yang langsung memudar. Namun itulah yang ditunggu oleh Ryuha, saat dalam fase ini, dia tahu jika staminanya akan terkuras setelah melawan ikatan dari Ring Of Fire. Dirinya kini telah berada tepat di depannya dengan pedangnya yang telah siap untuk ditebaskan.
Slash, Slash, Slash, Slash, Slash, Slash, Slashhh!!!
'Seven Deadly Slashes' Tujuh tebasan beruntun yang memberikan sayatan-sayatan di tubuhnya lalu menghempaskannya sampai keluar arena setelah tebasan terakhir.
Seperti piring pecah, cincin yang mengunci tubuh Mila hancur tepat setelahnya, seusai dengan prediksi.
Sontak, dirinya langsung berpindah menggunakan Emptiness Step, hingga dirinya berada tepat di belakang gadis itu. Kecepatan itu benar-benar membuatnya terkejut. Tangannya dia kepalkan untuk memberikan pukulan kepada Ryuha. Akan tetapi, dirinya yang bertugas sebagai pendukung atau yang biasa disebut dengan Support, tak mampu menandingi kecepatan Ryuha.
Slash, Slash, Slash, Slash, Slash, Slash, Slash, Slash, Slash, Slash, Slash, Slash, Slash!!!
'Blood Blade Dance' Hanya dengan tiga belas rentetan tebasan, tubuh Mila yang telah menyatu dengan monster bintang empatnya, Dryad, ambruk terkapar tak dapat bangkit sebab mendapatkan banyak luka. Namun mulutnya masih bisa merapal, dia segera merapalkan beberapa mantra tuk memulai penyembuhan diri.
Menyadari hal itu, Ryuha ingin segera menghentikannya. Namun sayang, tepat setelah tujuh detik sesuai prediksinya, ketiga cincin api berhasil dihancurkan oleh Yarta dengan tubuhnya yang telah menyatu dengan monsternya, Flame Phoenix. Sosok monster legendaris, monster bintang lima yang sangat sulit untuk ditemui dimanapun itu.
Apinya yang membara memunculkan tekanan yang memaksa Ryuha untuk terhempas ke belakang. Dirinya terus memutar-mutar tubuhnya saat di udara sehingga dapat jatuh dengan kondisi siap sempurna.
Dalam kondisi itu, Yarta tak ingin memberikan Ryuha waktu. Dengan busurnya yang membara, dia menembakkan rentetan anak panah kepada laki-laki itu.
Sungguh yang dilihat Ryuha seperti kawanan Phoenix yang hendak menerkamnya dengan buas. Dia langsung angkat pedangnya, menebas ke setiap anak panah yang datang kepadanya. Banyaknya anak panah serta ledakan yang terjadi setelah hantaman kedua senjata membuatnya sedikit kewalahan. Salah satu anak panah lepas dari jangkauan pedangnya. Dirinya sedikit terkejut dan langsung miringkan tubuhnya. Alhasil, dengan kecepatan anak panah itu Ryuha berhasil menghindar tepat waktu sebelum wajahnya tertembus olehnya. Namun tetap saja, pipinya berhasil mendapatkan sedikit goresan, sehingga terasakan jelas oleh tubuhnya, seperti bara api membakarnya dari dalam. Itu terasa beberapa saat. Namun dia tetap memaksakan tubuhnya untuk menangkis setiap anak panah yang terus berusaha untuk menusuknya.
__ADS_1
Hingga anak panah terakhir, Ryuha dapat menghalaunya dengan mudah. Sampai terlihat jelas kedua mata Yarta yang terbelalak melihat sosoknya, Ryuha tersenyum dingin mendapati hal itu. Dia lalu hentakkan kakinya, berlari kencang mendekati Yarta.
Yarta kertakkan giginya. Dia tak ingin membiarkannya begitu saja dan kembali tembakkan anak panahnya.
Setiap anak panah dapat terlihat jelas di kedua mata Ryuha. Dengan mudahnya dia mengelak, berlari sambil meliuk-liukkan tubuhnya, sesekali dia juga melompat. Sampai saat jarak diantara mereka hanya terpaut beberapa meter, Ryuha kembali hentakkan kakinya dan langsung melesat.
Slashhh!!!
Memberikan satu tebasan yang hanya membuat Yarta mematung di tempat. Namun itu belum selesai.
Slash, Slash, Slash, Slash, Slash, Slash, Slashhh!!!
'Seven Deadly Slashes' Dengan teknik itu dia lumpuhkan Yarta. Tubuhnya bahkan terhempas tak berdaya sampa keluar arena.
Sosoknya berdiri di tempat, mengacungkan pedangnya kepada Mila yang telah kembali berdiri hendak menusuk Ryuha dengan belati dari belakang. Sontak Mila hanya mematung tanpa bisa menahan keringat yang mencucur di wajahnya.
Sampai wanita itu menjatuhkan belati dan angkat kedua tangannya dan berkata dengan pasrah. "A, aku menyerah!"
Semua orang yang ada di sana hanya tertegun sesaat ketika melihat pembantaian yang dilakukan Ryuha, bahkan para panitia serta juri yang tak dapat berkata apa-apa, sampai saat wasit berteriak dengan lantang bahwa pertandingan telah selesai dan dimenangkan oleh Slayer Guild. Sorak sorai serta siulan para penonton memenuhi seluruh panggung arena.
Ryuha simpan kembali pedangnya, berjalan meninggalkan dua rekannya yang hanya terdiam mematung dengan tubuh mereka yang masih gemetaran tanpa mengatakan sepatah katapun. Tidak hanya mereka, bahkan Sela yang duduk di bangku penonton pun agak kesulitan untuk menggerakkan tubuhnya akibat rasa terkejut yang berlebihan.
"Pe, pertandingan berikutnya antara tim... "
Pertandingan terus berlanjut setelah evakuasi dari anggota tim yang mengalami luka selesai. Ryuha yang mengetahui jadwal pertandingan terakhirnya hari ini ada pada jam terakhir di sore hari memutuskan untuk pergi ke Arena High Team, yang letaknya berada beberapa puluh meter dari Alun-alun Kota, sementara rekan-rekannya menonton pertandingan untuk mengevaluasi setiap Skill yang dimiliki oleh lawan yang tidak mereka ketahui, sampai jam istirahat pada tengah hari dan berkumpul untuk mendiskusikan pertandingan berikutnya.
Dari wilayah Alun-alun Ryuha sudah bisa melihat lokasi pasti dari Arena High Team.
"Hahhh, sepertinya aku terlalu berlebihan kali ini?!" Gumamnya saat teringat pertandingannya barusan.
Baal yang mendengarnya sontak tertawa gelak di dalam tubuh laki-laki itu. "Bagus sekali! Aku bahkan tidak bisa membayangkan raut wajah mereka setelah memperlihatkan senyum ejekan kepada kita."
Ryuha tertawa kecil mendengar ucapan itu. "Aku penasaran bagaimana pertarungan antara High Team?! Aku harap bisa menonton pertandingan tim kakak Ellisa walau hanya sebentar!" Laki-laki itupun mempercepat langkah kakinya, hingga dirinya sampai di suatu tempat. Sebuah bangunan berbentuk oval, yang dikelilingi oleh pilar-pilar yang sangat tinggi.
"Jadi seperti ini, bentuk dari Colloseum?!"
__ADS_1
Laki-laki itu pun segera langkahkan kakinya sebab dia tak sabar untuk menonton pertandingan yang ada di dalam.