( Re ) Legendary Summoner

( Re ) Legendary Summoner
Teknik Kecil Yang Merubah Alur Pertarungan


__ADS_3

Cukup membuat kinerja otaknya melambat, Tempest Wolf sendiri pun tidak ingin menampakkan wujud sama sekali. Selain itu, hanya dengan satu botol Potion tidak akan bisa menangkal efek samping untuk menggunakan kekuatan Baal atau Blood Curse Sword. Benar-benar hanya bisa mengandalkan dirinya dan perlengkapan seadanya.


"Jangan biarkan konsentrasi memudar saat bertarung! Berikan aku lima belas detik untuk mengendalikan tubuhmu, akan aku ajari kau satu teknik kecil." Baal yang sedari tadi terdiam mulai angkat bicara.


Tanpa menunggu lama Ryuha menyerahkan kendali atas tubuhnya kepada Baal. Sama seperti waktu itu, hanya matanya yang berubah menjadi mata milik Baal.


Menghela nafas dan berbicara lirih, "Lima belas detik adalah batas maksimal, seharusnya itu sudah cukup?!"


Sama seperti Ryuha, dia tidak bisa merasakan keberadaan tangan kanannya. Mengangkat tangan kiri, Baal menarik belati Ryuha yang terjatuh di dekat batu besar itu.


Tepat saat sambaran kuat hendak menyambarnya, dia segera melempar belati yang sudah di genggamnya sehingga petir itu tertahan oleh belati yang berputar-putar di tengah-tengah jarak antara mereka.


Petir-petir kecil mulai muncul di sekitar Lightning Spider. Tiga sambaran baru segera melesat ke arahnya. Sontak Baal mengendalikan tombak tulangnya dan langsung memutar-mutarnya bak baling-baling pesawat.


Bummm!!!


Ledakan terjadi saat ketiga petir itu menghantam baling-baling tulang yang ada di depan Baal. Sampai pada saat belatinya hancur, satu lagi petir membantu rekan-rekannya.


Baal yang terus menahannya sampai tergeser kebelakang beberapa centimeter.


Itu berlangsung selama lima detik dan pas dengan durasi pengendalian tubuh Ryuha yang dilakukan Baal. Segera kembali seperti semula mata itu.


Dia mendapatkan satu teknik baru yang bernama, Telekinesis. Suatu teknik yang memungkinkannya menggerakkan benda dari kejauhan menggunakan Kekuatan Magis. Dan sepatah ingatan yang seakan menyayat hati.


Sosok Ryuha meraih tombaknya dengan tangan kiri. Wajahnya serius, tatapannya juga tajam, sangat tajam sampai-sampai aura membunuhnya dirasakan oleh Lightning Spider.


Selang dua detik, sambaran kembali dilakukan oleh laba-laba itu. Ryuha segera melakukan hal yang sama dengan Baal, menjadikan tombaknya baling-baling untuk menahan petir itu.


Berlangsung selama tiga detik. Ryuha segera berlari sambil menggenggam erat tombak di tangan kirinya, memperkecil jarak diantara mereka.


Kembali serangan petir dilayangkan dan itu sudah diketahui jelas oleh Ryuha. Dia mengambil ancang-ancang untuk tangan kirinya lalu melempar tombaknya sekuat tenaga.


Tlirap, Duarrr, Duarrr!!!


Petir yang terbelah menjadi dua menyambar pohon di kanan dan tanah di bagian kiri. Tombak itu terus melesat, memberikan jalan kepada Ryuha. Sampai pada saat keduanya berjarak lima meter, serangan itu berhenti. Ryuha segera menarik tombaknya lalu melompat, menghunuskan mata tombak, mengincar mata makhluk itu.


Crashhh!!!

__ADS_1


Darah berwarna biru memuncrat dari salah satu mata dari empat mata makhluk itu.


Segera meraung keras merasakan rasa sakitnya. Ryuha menjatuhkan dirinya tidak jauh dari kepala monster itu dan hendak memukulnya.


Akan tetapi sebelum mendaratkan pukulan, tiba-tiba saja satu tekanan kuat menghempaskannya ke arah yang sama dengan tombaknya. Menumbangkan beberapa pohon yang menghalangi jalur lesatnya.


"Uhuk, ughhh, ughh!!" Bau anyir darah tercium melalui hidung setelah dia memuntahkan seteguk darah merah segar.


Laba-laba yang kesakitan itu terus meraung dan berlari meninggalkan Ryuha. Mendapatinya, Ryuha segera duduk dan menyandarkan tubuhnya di pohon yang ada di dekatnya.


Mengelap darah yang tersisa di mulutnya, laki-laki itu memejamkan matanya sejenak untuk menikmati rasa sakit hampir di sekujur tubuh lalu mengambil Potion terakhir miliknya.


"Aghh, uhuk-uhuk!!!" Perlahan terasa regenerasi di tubuhnya. Tinggal beristirahat sejenak sampai nafas dan detak jantungnya kembali seperti semula. Sosok Baal pun menampakkan wujudnya.


"Karena kau terlihat memahami teknik yang aku berikan tadi, sepertinya aku tidak lagi perlu menjelaskannya secara detail?!"


Ryuha mengangguk kecil. Nafas dan staminanya telah kembali pulih. Dirinya langsung melontarkan satu kalimat pertanyaan karena dadanya benar-benar terasa sesak saat teringat.


"Dia..., kekasihmu?"


"Aku..., tidak ingin membahasnya saat ini!" Ucapnya lirih.


"Hahhh..., jika tidak mendapatkan ingatan ini aku pasti tidak akan tahu jika kau ternyata bisa mencintai seseorang?! Terlebih, seleramu benar-benar diluar nalar. Rafael, salah satu malaikat bersayap delapan dengan julukan, Pengantar Pesan Keramat. Tidak ada yang bisa hidup setelah bertatap mata dengannya. Dan itu sama sekali tidak berlaku untukmu. Kau bahkan masih hidup setelah memberikan sebuah ciuman kepadanya." Ucap Ryuha sedikit bercanda.


Baal hanya termenung di atas sana. Sama sekali tidak ingin memperlihatkan wajah. Bukan karena merasa sesak karena teringat kisah cinta masa lalu, tapi karena wajahnya memerah menahan rasa malu.


Dirinya menepuk keningnya seraya bergumam, "Haish, seharusnya aku tidak merasukinya."


Memikirkan Baal yang terlihat sedih sampai terdiam menundukkan kepala, Ryuha tersenyum kecil dan berkata.


"Pantas saja kau terlihat malas sejak tadi. Rupanya kau memprediksi hal dengan tepat. Tapi tenang saja, aku pasti akan membantumu suatu hari nanti, aku janji!"


Biasanya Baal yang menenangkan Ryuha dan sekarang sebaliknya. Dan dari ucapan itu, Baal yang mengira Ryuha akan meledeknya langsung bertingkah aneh karena ternyata Ryuha merasa iba padanya.


"Ya, yaaa, tentu. Aku akan selalu di sampingmu untuk mengingatkan hal ini." Ucapnya dengan senyum aneh. Namun di balik senyumannya, ada satu kepribadian lain di dalam tubuhnya yang tengah berkata sambil mengelus-elus dada.


"Fiuhhh..., selamat..., selamat..., hampir saja aku mati karena malu."

__ADS_1


Dan tentu saja dia tahu, jika yang baru saja diucapkan Ryuha bukanlah bualan sahaja. Melalui sorotan matanya dia bisa melihat keteguhan hati di dalam tubuh Ryuha.


Semuanya telah usai, mereka segera bergegas untuk mencari buruan kecil sambil berjalan pulang. Menuju waktu perburuan, sosok serigala kecil tiba-tiba meloncat dengan penuh percaya diri dari dalam bayangan dan langsung berjalan memimpin mereka berdua seperti seorang bos mafia.


Satu alis kedua laki-laki itu langsung terangkat, menampakkan ekspresi yang sama.


"Hei Ryuha, bagaimana jika kita membuat serigala panggang?" Ujar Baal.


"Aku memikirkan hal yang sama." Jawab Ryuha.


Merasakan hawa membunuh pekat dari arah belakang, Tempest Wolf segera berlari tanpa memperdulikan apapun.


"Binatang sialan. Jangan lari kau ya!!"


Segera Ryuha mengejarnya. Dan yang saling bermain kejar-kejaran sekarang bukanlah seorang pemburu dan mangsanya, namun majikan dan peliharanya.


...


Di sebuah kota yang sangat besar. Kota itu terlihat modern dengan bangunan-bangunan tinggi dan beberapa pusat perbelanjaan. Di bagian ujung kota itu ada satu tempat yang sangat megah, sebuah kastil dengan dinding merah gelap.


Kota Kekaisaran Shenlong, tempat berdirinya empat serikat besar kekaisaran, yang masing-masing dari mereka memberikan pendidikan khusus sesuai aliran.


Di sebuah tempat yang terlihat seperti akademi juga markas militer, yang berada di wilayah tenggara kota itu, salah satu dari empat serikat besar di sana, Serikat Guardian, Light Scales.


Ruangan ketua serikat, seorang laki-laki paruh baya berbaju putih dengan mantel hitam dan rambut putih menyerahkan sepucuk surat kepada bawahan yang tengah berdiri di hadapannya.


"Antarkan ini kepada Nona Carnal!" Suara serak halusnya dipenuhi dengan kewibawaan.


Segera laki-laki berbadan kekar dengan full armor beranjak dari tempat itu setelah satu anggukan. Menuju tempat kediaman Listh Carnal yang merupakan guru sekaligus pengasuh Rin. Yang tinggal di sebuah serikat besar yang letaknya beberapa belas kilometer dari kota kekaisaran.


Laki-laki paruh baya yang tengah duduk menyilangkan kaki itu bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju kaca yang merupakan dinding ruangan. Melihat penampakan langit malam sembari menyalakan sepuntung rokok.


Satu hembusan nafas berasap yang cukup menghilangkan penat di hati. Laki-laki itu berkata lirih di depan kaca.


"Take Ryuha. Potensi apa yang kau miliki sampai nenek sihir itu mengakuimu?!"


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2