( Re ) Legendary Summoner

( Re ) Legendary Summoner
Wind Element Dungeon


__ADS_3

Terus berjalan meninggalkan kediaman si wanita tua. Di bawah langit berwarna oranye itu, langkah kakinya tertuju ke kediaman teman barunya, sebuah bengkel pandai besi yang didalamnya terpenuhi oleh hawa panas menyengat.


Di dalam tempat itu, tepatnya di ruang bawah tanah, nampak Louise dengan wajah seriusnya yang tengah memukuli bilah besi dengan palunya, seakan dunia ini hanya ada dia dan besi yang dia tempa, laki-laki itu sama sekali tak mengalihkan pandangan walau menyadari jika Ryuha datang menghampiri.


Tentu Ryuha tidak kesal, tidak salah seseorang bersikap serius dengan apa yang tengah mereka lakukan, toh mereka juga sudah mengikat tali pertemanan. Louise sendiri, walaupun tak mengalihkan pandangan tapi dirinya tetap menyahut sapaan yang dilantunkan Ryuha, hanya saja suaranya terdengar berat ketika menjawab.


"Ini yang kita dapatkan, tiga ratus Bronze, kita bagi secara adil." Uang pun tidak berhasil membuatnya bersilih pandangan, hanya deheman yang keluar dari mulutnya. "Kuletakkan ini di meja! Sekalian, aku membutuhkan beberapa peluru dan pedang panjang, tidak perlu terlalu berkwalitas, pedang biasa kelas menengah saja sudah cukup!"


"Aku akan membuatnya setelah pesanan yang lain selesai. Mungkin akan selesai dalam waktu lima hari?! Eh Ryu, kau tinggalkan dulu Double Barrel Shotgun di sini, aku ingin sedikit memodifikasinya. Sebagai gantinya, kau ambil saja pedang atau apa yang kau inginkan di rak!" Ujar Louise tanpa mengalihkan pandangan. Tak mempermasalahkan hal itu, Ryuha pun beranjak pergi meninggalkan tempat itu dan pergi ke Guild, setelah mengambil satu pedang panjang dan belati. Keduanya bukanlah Magic Weapon melainkan senjata biasa.


"Bahkan dia berani memodifikasi sebuah Magic Weapon, sepertinya kemampuan menempanya sangat tinggi?!" Ujar Baal. Ryuha juga memikirkan hal yang sama, melihat pedang panjang itu, dia sungguh dibuat kagum karena walaupun hanya pedang biasa namun terasa seperti Magic Weapon tingkat rendah. Dia merasa beruntung telah mengenalnya bahkan berteman dengannya.


Terlihat dari kejauhan, bangunan yang biasa digunakannya sebagai tempat tinggal sementara.


Suasana hari senja di dalam Guild, cukup ramai namun terasa asri bagi mereka, mereka yang sedang senggang menyempatkan diri untuk bersantai menghabiskan waktu sembari meneguk segelas bir. Memasuki wilayah itu, Ryuha melihat kakaknya yang tengah bertugas layaknya pelayan bar, membuatnya teringat akan kenangan masa lalu, rasanya seperti duri-duri kecil menusuki hatinya.


Namun entah kenapa, rasa hatinya seakan memberitahu sesuatu, rasanya suatu saat dia akan bertemu kembali dengan kakaknya Rosa, juga sahabatnya Fan Fan, itu sungguh terasa sakit.


Tanpa melirik ke arah lain laki-laki itu terus melangkahkan kaki menghampiri sang kakak, mengganti hal utama di hati dan pikirannya dengan sesuatu yang akan dilakukannya di waktu dekat.


Di sambut dengan senyum hangat, Ryuha duduk di bangku depan resepsionis, segelas bir yang sudah disiapkan oleh Ellisa segera disajikannya di meja panjang itu. Perhatian kecil dari sang kakak dibalasnya dengan senyuman, laki-laki itu pun langsung meneguk birnya.


Mengelap sisa air yang ada di bibir, laki-laki bermata merah itu melantunkan sebuah kalimat kepada kakaknya.


"Urusan dengan nenek Christina sudah beres, aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan. Lalu, sekarang aku membutuhkan lagi informasi."


"Katakan saja tidak perlu sungkan." Ujar wanita itu tersenyum sembari mengelap gelas kaca.


Memang Ryuha telah melihat sosok sejati Ellisa, namun melihat mimik wajah wanita itu sekarang, itu sungguh membuatnya kagum dengan kemahirannya dalam menampilkan ekspresi yang membuat mata enggan untuk berpaling, karena dibalik ekspresi itu terdapat satu sisi yang akan membuat bulu kuduk seseorang berdiri seutuhnya.


Ryuha tersenyum lalu menjawab. "Aku ingin meng-Awaken monsterku, apakah kakak Elli tahu di mana Wind Element Dungeon?"


Terkerut alis wanita itu mengingat-ingat letak keberadaan Dungeon-dungeon yang tidak jauh dari wilayah Skull City.


"Hmm, kalau tidak salah ada satu di daerah pegunungan timur tapi, itu hanya tingkat rendah?! Eh, bukankah lebih praktis jika kau membeli saja? Di Paviliun Lelang banyak menyediakan berbagai macam Essence. Apa kau mau aku membelikannya?" Bergeleng kepala Ryuha. "Walaupun bisa membeli, tapi aku lebih suka mendapatkannya menggunakan usaha sendiri. Lagipula, aku sudah cukup banyak merepotkan kakak Elli, entah bagaimana aku harus membalasnya?!"


Tertawa kecil Ellisa mendengarnya. "Kenapa pusing-pusing memikirkan itu, aku sama sekali tidak berpikir untuk menerima balasan darimu."


Jujur dari lubuk hati, awalnya dia bersikap baik dan memberikan perlakuan khusus kepada Ryuha karena surat rekomendasi dari Leader Guild, seorang yang berhati dingin sampai membuatkan surat rekomendasi, seberapa besar potensi dari bocah itu. Namun setelah berbincang canda tawa dengannya, wanita itu merasakan sedikit perasaan berbeda, seperti benar-benar bocah itu menganggapnya sebagai kakak kandungnya sendiri.


Hembusan nafas kasar dilakukan Ryuha sebelum berkata. Mendengar hal itu memang membuatnya sedikit lebih lega, tapi tetap saja dia tidak berniat untuk membiarkannya begitu saja, tekadnya sudah bulat suatu saat nanti dirinya akan membalas semuanya, karena dia tidak suka berhutang budi.


Malam penuh bintang, satu persatu orang-orang mulai beranjak meninggalkan Guild, tapi tidak dengan Ryuha, seperti biasa laki-laki itu tidur di sofa panjang yang ada di pojok ruangan itu.


Terasa cepat berlalu ketika sepasang mata itu telah terlelap ke dalam dunia fantasi yang disebut mimpi. Matahari hanya masih menampakkan sinarnya, setelah melakukan peregangan otot-otot tubuh, laki-laki itu segera berangkat memulai ekspedisi, setelah dia berpamitan dengan sang kakak.


Perasaan nyaman di dalam hutan kembali dia rasakan, dan itu membuat perjalanannya terasa tak melelahkan.


Terus melangkahkan kakinya ke arah timur laut, mengikuti jalan tanah yang entah siapa yang membuatnya.

__ADS_1


Perasaan asri sungguh membuatnya lupa waktu, sampai-sampai dirinya dengan tak sadar telah berada di wilayah pegunungan setelah dua hari satu malam perjalanan. Mengingat kembali ucapan sang kakak, dimana letak pasti tempat yang dia tuju.


Wind Element Dungeon, samar-samar terlihat jelas di matanya, berada di puncak tepatnya di sebuah tebing di bukit seberang. Dari jarak kisaran dua kilometer itu, Ryuha bisa merasakan tekanan udara dan hawa yang mulai berbeda, semakin sejuk, semakin menenangkan hati ketika dirinya semakin mendekatinya.


Laki-laki itu berjalan secara mengendap-endap, itu karena di mulut Dungeon yang berupa goa dengan beberapa bongkahan-bongkahan bangunan kuno itu terdapat sosok monster yang menjaga.


Sosok yang berwujud hampir sama dengan sosok monster miliknya, itu adalah Tempest Wolf dan jumlahnya ada lima ekor.


Perbedaan wujudnya semakin terlihat jelas setelah dia semakin dekat dengan wilayah Dungeon.


"Itu adalah Awakening Tempest Wolf. Dilihat dari kondisinya yang sudah seluruhnya Awakening, sepertinya Dungeon ini tidak dijamah sama sekali?!" Ujar Baal.


Lima ekor Awakening Tempest Wolf, Ryuha tak merasa gentar sama sekali, malahan dirinya tersenyum. Tanpa basa-basi, bersama dengan Tempest Wolf dia melompat menampakan dirinya.


Tentu itu disadari oleh kelima serigala yang masih terjaga, kelimanya langsung bangkit menghalang Ryuha dengan tatapan tajam penuh nafsu membunuh.


Itu hanyalah gertakan umum dari serigala, dirinya yang sudah sangat faham dengan serigala bagaimana mungkin tidak mengetahuinya.


Cepat si serigala menerkam Ryuha secara bergantian, terkaman beruntun itu sungguh terlihat rapi. Ryuha terus meliuk-liuk tubuhnya seperti seorang penari, namun tidak dengan Tempest Wolf, makhluk itu terus menerkam serigala pertama yang menerkam mereka setelah jejakkan kakinya kembali.


Satu berhasil ditumbangkan oleh Tempest Wolf, Ryuha sebagai majikan tak mau kalah dirinya meraih pedang panjangnya, tepat pada saat serigala terakhir menerkamnya, dia mengadu pedangnya dengan gigitan ganas sang serigala. Benda itu digigitnya erat-erat, namun yang digigitnya adalah bilah pedang, membuat Ryuha menyeringai. Sekuat tenaga dia menggerakkan pedangnya sehingga tersayatlah tubuh sang serigala, terbelah menjadi dua.


Kini tersisa tiga serigala saja, yang membentuk pola lingkaran berjalan dengan buas mengitari mereka. Kembali menerkam mereka, kali ini secara bersamaan. Tersenyum dingin Ryuha, bukannya merasa terancam karena diterkam monster ganas dirinya malah merasa senang, seakan dia telah memprediksi gerakan yang akan dilakukan ketiga Tempest Wolf.


Belati diambilnya di pinggang, dia lalu melemparnya ke kanan, tepat menancap di perut serigala yang baru saja melompat itu. Di arah kanan, Ryuha yang bisa jelas melihat pergerakan mereka walaupun lebih cepat dari serigala biasa menunggu jarak antara mereka lebih dekat, tangannya yang gatal untuk memukul segera mengambil ancang-ancang.


Terkaman versus pukulan berapi, serigala itu terhempas jauh dengan tulang leher yang sepenuhnya patah karena tidak kuat menahan pukulan yang dilayangkan Ryuha.


Bersamaan dengan itu, Tempest Wolf yang melompat sesaat setelah serigala di depannya melompat menerkamnya, mengadu kekuatan terkaman mereka.


Namun terkaman dari Tempest Wolf milik Ryuha tidaklah sederhana, dirinya yang jauh lebih cepat melesat sambil mencabikkan cakarnya, tiga kali dia melakukan hal yang sama menerkam mencabikkan cakarnya, sehingga penjaga terakhir mulut goa tumbang dengan jasadnya yang penuh koyakan.


Seringai puas dari keduanya memperlihatkan jika ekspedisi kali ini akan selesai dengan cepat. Setelah mengambil belati yang tertancap itu, bersamaan mereka berdua melangkahkan kaki memasuki lorong goa.


Sudah masuk cukup dalam, tanpa diberi penerangan suasana di sana masih terlihat jelas. Selain itu, mereka sama sekali belum bertemu dengan makhluk penghuni Dungeon yang lainnya.


Dalam ruangan gelap nan sunyi, semuanya terdengar menggema, termasuk eraman-eraman para serigala yang entah berada di sebelah mana. Mata laki-laki terpejam saat berjalan, telinganya sesekali bergerak ketika gema eraman terdengar di lorongnya.


Tempest Wolf yang berjalan di sampingnya menghentikan langkah, ikut mengeram begitupun Ryuha yang sama menghentikan langkahnya. Katup mata itu perlahan memperlihatkan manik mata merah yang berkilau.


Dua kali gelengkan kepala untuk meregangkan otot-otot leher, laki-laki itu sontak meraih pedang panjang dan menggenggamnya erat-erat. Karena dari arah depan, seekor Awakening Tempest Wolf seperti tengah menunggu kehadiran mereka.


Tersenyum Ryuha mengejek binatang itu, memuji keberaniannya yang dengan gagah menunggu ajal dengan penuh rasa percaya diri.


Segera setelah satu lolongan panjang, dinding-dinding yang gelap itu seperti terpenuhi oleh kunang-kunang bercahaya biru dengan ukuran jumbo yang seluruhnya terlihat berpasang-pasangan dan tidak berkedip. Dari balik kegelapan, sosok Awakening Tempest Wolf menampakkan wujud mereka.


"Lima belas, enam belas, tujuh belas..., Yah itu jumlah keseluruhan mereka." Ucap Baal di dalam tubuh Ryuha.


Gagang pedang tergenggam semakin erat, wajah Ryuha yang mengejek makhluk itu kini berubah ekspresinya menjadi ketidak percayaan. Bahkan dirinya sampai menelan ludah.

__ADS_1


"Pantas saja aku tak berhenti mendengar eraman?!" Sedari tadi ternyata mereka berdua sudah diawasi. Selain itu, dinding goa yang terlihat kecil itu ternyata tiga kali lebih luas dari kelihatannya.


Cepat dan brutal, kawanan Tempest Wolf menyerbu mereka tanpa mempedulikan apapun. Mereka berdua hentakkan kaki di tanah, sang Tempest Wolf terus melesat membalas terkaman dengan terkaman sambil mencabik-cabik mereka yang berpapasan dengannya, begitu juga dengan Ryuha yang melesat lalu menari-nari di tengah pertarungan dengan pedangnya.


Enam belas tebasan, tujuh belas tebasan, delapan belas tebasan, cepat semuanya dilayangkan tanpa memotong gerakan, dua puluh lima tebasan, dua puluh tujuh tebasan, kakinya dia hentakkan kembali.


Slaashhh!!!


Satu kelebetan cahaya lurus yang seakan menghentikan waktu, laki-laki itu telah berpindah posisi berada di luar kepungan Tempest Wolf, yang menyebabkan lautan darah tercipta setelah sebelas ekor serigala terbaring di tanah.


"Tidak menggunakan si keparat Blood Curse Sword, rasanya sedikit aneh saat menggunakan teknik ini?!" Nafasnya yang terengah-engah dia pulihkan sembari menonton binatang peliharaannya saling mengadu terkam.


Lima belas ekor serigala telah berhasil ditumbangkan oleh Tempest Wolf, kini hanya tinggal dua spesies sama yang saling pandang memandang. Ritme pernafasan binatang peliharaannya sudah terdengar tak beraturan, namun Ryuha tetap tak ingin membantunya dan memilih untuk menunggu. Itu karena dia ingin melihat sudah seberapa tangguh binatang peliharaannya saat ini.


Melihat perbandingan antara kedua belah pihak, jika saja tidak terpasang Rune di sisi Tempest Wolf miliknya, Ryuha khawatir jika kecepatan mereka akan seimbang. Itu terlihat jelas saat mereka saling adu terkam, kecepatan peliharaannya sedikit lebih unggul, mungkin itu karena kelelahan. Akan tetapi dalam hal kekuatan dan kekebalan tubuh, pihak musuh lebih domain daripada peliharaannya.


Kaki kedua binatang itu dihentakkan, bersamaan mereka berdua melesat mengadu terkam. Sama-sama membuka lebar cakarnya saat melesat.


Crashhh!!!


Luka berhasil diberikan oleh pihak musuh. Lagi mereka melesat bersamaan.


Crashhh!!!


Balas Tempest Wolf memberikan luka, namun dirinya juga sama. Lagi melesat bersamaan.


Crashhh!!!


Tiga goresan di punggung pihak musuh, dan tiga goresan di bahu kanannya sendiri. Tiga kali beradu terkam secara cepat tanpa adanya selang waktu. Geram sang Tempest Wolf, makhluk itu mendarat di dinding goa, makhluk itu kembali hentakkan kaki dan melesat, kali ini memaksa diri untuk semakin cepat, jauh lebih cepat dari Awakening Tempest Wolf yang juga sudah melesat.


Crashhh!!!


Bercak darah mencucur, memuncrat dari leher Awakening Tempest Wolf yang terlihat kerongkongannya, sosok Tempest Wolf dengan gagah pijakkan kakinya sambil mengunyah daging yang ada di mulutnya.


Sosoknya terlihat seperti penguasa baru wilayah ini, namun dirinya yang terluka cukup banyak terpaksa harus bersemedi dalam bayangan pemiliknya.


Tenaganya terasa terisi kembali begitupun nafasnya yang kembali beraturan, Ryuha kembali melangkahkan kaki menuju tempat utama Dungeon itu, Perut Dungeon.


Baru berjalan beberapa meter, dirinya dikejutkan dengan kemunculan sosok Tempest Wolf, namun itu dari dalam bayangannya sendiri yang membuatnya tidak panik. Terkerut alisnya karena binatang itu terlihat pulih staminanya, tidak hanya itu luka goresnya pun terlihat sudah mengering. Baru beberapa menit, mustahil tanpa adanya suatu penyebab luka itu mengering dengan sangat cepat.


Akhirnya dia menyadari jika itu karena Tempest Wolf bisa mengkonsumsi udara murni untuk memulihkan tubuhnya, karena hanya itu hal yang paling mungkin.


Dinding goa semakin menciut, terlihat seperti ukiran-ukiran entah apa ada di permukaannya, termasuk tanah yang dia pijak, yang semakin lama semakin terlihat jika itu adalah batu yang tertimbun tanah.


Samar dari kejauhan, di balik lorong yang terlihat berbelok itu terdapat pancaran cahaya, seperti cahaya obor. Pelan-pelan mengintip apa yang ada di dalam sana.


Betapa lebarnya mata itu terbuka setelah melihat pemandangan yang ada di dalam sana.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2