
Wajah yang sangat familiar saling menampakkan ekspresi yang sama terkejut. Salah satu alis laki-laki di depan Ryuha sontak terangkat mendapati ingatan kebencian waktu mereka pertama kali bertemu di dalam Dungeon.
Tangannya itu ingin mencekik leher Ryuha yang tertutup oleh syal merah, namun itu dihentikan oleh wanita di belakangnya.
Melihat tatapan dingin sang wanita, laki-laki itu sontak menciut. Kebingungan dirinya, seperti halnya wanita itu adalah perisai yang ada di depan Ryuha.
"Raka, sudah berapa banyak masalah yang kau berikan? Apa kau ingin menambah masalah lagi?" Ucapan dingin itu segera membuat tubuh Raka gemetaran. Sampai saat setelah wanita itu mengajak Ryuha untuk masuk ke dalam ruangan, matanya yang memandangi punggung Ryuha menyipit, menatapnya dengan tajam.
"Hoi, Raka, apa kau mengenal laki-laki itu?" Seorang laki-laki bar-bar menepuk bahunya dari belakang. Itu membuat Raka terkejut, setelah satu tarikan nafas, mereka duduk ke bangku tempat kelompok mereka bersinggah. Membicarakan tentang laki-laki yang dibawa oleh penanggung jawab Guild mereka.
Sementara di dalam ruangan, Ryuha kembali dibuat terkagum oleh pemandangan yang baru dilihatnya itu. Terutama dalam hal kerapian. Dengan banyaknya barang-barang yang ada di dalam ruangan seluas sepuluh kali lima meter persegi itu, tak ada satupun yang membuat mata jijik untuk memandang.
Wanita itu duduk di bangku yang merupakan satu-satunya bangku yang ada di sana. Mengotak-atik sesuatu serta menulis dokumen-dokumen yang tidak dimengerti sama sekali oleh Ryuha.
"Tulis nama lengkapmu di sini!"
Cukup untuk membuat Ryuha terdiam sesaat. Menuliskan nama lengkap, setelah jerih payah menyembunyikan identitas, itu terbongkar saat dia hendak memulai awal yang baru. Wanita itu tersenyum menyadari apa yang dipikirkan oleh Ryuha.
"Tenang saja! Semuanya bersifat rahasia. Hanya aku, dan Leader Guild saja yang akan mengetahui indentitas aslimu. Selain itu, sebagai peyakinan kita akan membuat perjanjian kontrak, dimana kau sendiri yang memutuskan hukuman apa yang akan diberikan jika kami melanggar kontrak itu."
Rasa yakin tinggal di hati Ryuha setelah mendengar perkataan itu. Di sebuah Magic Circle yang dibuat oleh wanita itu, dia menuliskan namanya, sementara wanita itu juga menuliskan namanya sekaligus Leader Guild.
Bisa melihatnya dengan jelas kedua nama yang dituliskan oleh wanita itu. Yang pertama adalah namanya sendiri, Ellisa dan yang terakhir adalah Jigan Mavros. Itu benar-benar membuat Ryuha terkejut, Jigan Mavros, ternyata semuanya karena ini. Tidak mendapatkan dirinya sebagai bawahannya, namun mendapatkan dirinya sebagai anggota Guildnya. Kedua alis Ryuha hampir menyatu mendapati hal itu.
"Dasar pak tua sialan itu... " Gerutunya. Baal tertawa lepas di dalam tubuhnya. "Sungguh nasibmu kawan. Tapi tenang saja, hanya menjadi anggotanya kebebasanmu tetap terjaga."
Ellisa, memberikan sebuah pena kepada Ryuha. Dari bentuknya sudah terlihat jelas jika pena hitam itu bukanlah benda biasa.
"Ini adalah Magic Pen, menggunakan darahmu sendiri sebagai tinta untuk menulis. Tuliskan namamu di dua batu ini!"
Dua buah batu bulat tak rata tergeletak di atas meja kayu Ellisa. Sesuai yang diperintahkan, Ryuha menuliskan namanya di permukaan batu itu. Tinta merah menyala di setiap jalur lintas pena itu, sampai tertulis nama Ryuha Take di permukaan batu.
__ADS_1
Satu batu diberikan kepada Ryuha, sisanya dia meletakkannya ke sebuah tempat yang khusus untuk menyimpan batu itu.
"Ini adalah batu identitas. Jika terjadi sesuatu kepadamu, tulisan di batu ini akan menyala. Dan jika kau kehilangan nyawa saat masih menjadi anggota Guild ini, kedua batu ini akan hancur. Batu yang ada di dalam sini akan menuntun ke tempat kau kehilangan nyawa, sehingga kami bisa segera mengevakuasi jasadmu."
Benda aneh yang baru pertamakali dilihat olehnya. Tak menyangka jika Guild juga menyediakan hal seperti itu.
"Oh iya, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Ellisa, kau sudah melihatnya bukan?! Aku adalah penanggung jawab Guild sekaligus resepsionis di sini." Ucapnya sembari duduk di bangkunya.
Ryuha mengangguk kecil lalu menjawab, "Kakak Ellisa sudah mengetahui namaku, jadi aku tidak perlu memperkenalkan diri. Selain itu, bisakah kakak tidak memanggil nama asliku? Sebagai gantinya, kakak bisa memanggilku Ryu saja."
Mendengarnya membuat Ellisa tertawa kecil. "Orang-orang memanggilku nona Elli. Tapi karena kau menganggapku sebagai kakak perempuan, jadi, apa boleh buat aku akan memanggilmu adik Ryu." Itu terdengar sedikit dingin di telinga Ryuha. Terlebih saat melihat matanya yang sedikit menyipit saat berucap.
"Sialan, sepertinya aku baru saja salah ucap?!" Batinnya. Semuanya sudah selesai, mereka berdua keluar dari ruangan itu. Ellisa menjelaskan detail-detail ruangan yang ada di Slayer Guild mereka, akan tetapi hanya lantai pertama dari tiga lantai. Karena lantai kedua dan ketiga hanya dikhususkan oleh anggota peringkat S di Guild itu.
Semuanya yang ada di sana terus memandangi Ryuha dengan sinis. Itu karena mereka telah mendengar cerita dari Raka. Itu disadari Ryuha, namun dia tak mempedulikannya.
Mereka berada tepat di depan papan misi, Ellisa menjelaskan detail tata cara pengambilan misi. Itu didengarkan seksama oleh Ryuha. Bahkan dirinya sangat jarang berkedip saking fokusnya memperhatikan.
"Karena kau baru mendaftar, jadi peringkatmu masih berada di paling bawah, yaitu E. Dan kau hanya bisa mengambil kertas misi sesuai dengan peringkatmu. Tapi beda halnya jika kau membuat tim. Timmu bisa mengambil kertas misi sesuai dengan peringkat paling tinggi yang ada di dalam timmu."
Ellisa menghela nafasnya, terlihat berat baginya untuk menjelaskan.
"Tanda X itu menandakan jika misi itu sudah dua kali gagal. Aku juga tidak tahu kenapa misi tingkat E bisa sampai gagal dua kali. Lalu, jika sampai satu kali lagi gagal, itu akan menjadi misi tingkat D atau mungkin C. Dan itu akan memberikan kerugian kepada Guild."
Sudah dua kali gagal. Ryuha tak paham mengapa, apakah misi ini terlalu berat atau apa. Namun hatinya merasa penasaran. Dia mengambil kertas misi itu hendak menjalankan misinya. Itu cukup membuat Ellisa terkejut.
"Apa kau yakin? Levelmu sekarang masih tiga belas. Terakhir kali itu diambil oleh kelompok berisi tiga orang berlevel lima belas. Dan mereka tak bisa menyelesaikannya, malahan mereka mendapatkan gangguan mental."
Ryuha mengangguk yakin. Tekadnya sudah bulat mengambil misi itu. Ellisa yang melihat keteguhan hatinya pun menghela nafas berat.
"Baiklah. Tapi aku sarankan agar kau membuat kelompok, karena itu akan memudahknmu. Aku lihat kau cukup akrab dengan Raka?!"
__ADS_1
Ryuha mengkerutkan alis mendengarnya. Dari mana terlihat akrab saat Raka hendak mencekik lehernya waktu pertama kali bertemu. Dia lalu melihat sekeliling, dan tatapan semua orang sama sinis menatapnya. Dia lalu membuang kasar nafasnya.
"Dasar Raka. Dia pasti mengutukku dari belakang?!" Batinnya. Ryuha mengalihkan pandangan ke Ellisa sembari mengangkat kedua bahu dengan sedikit menggelengkan kepala.
Ellisa akhirnya menyadari itu setelah melirik ke arah anggota Guild yang terus memandangi mereka. Anehnya, mereka semua langsung memalingkan pandangan setelah mendapati Ellisa yang menatap mereka. Melihat tingkah aneh mereka, Ryuha menyadari jika kasta Ellisa tinggi di tempat ini.
"Adik, jika kau mengalami kesulitan di sini, katakan saja kepadaku." Sengaja Ellisa mengatakan itu dengan keras dan jelas, sehingga mereka semua bisa mendengar jelas. Itu membuat mereka yang menyembunyikan wajah menggertakkan gigi menahan kesal. Bisa-bisanya seorang penghianat mendapatkan perilaku spesial dari wanita pujaan mereka.
"Cihh, memelihara seorang penghianat, aku khawatir Guild ini akan runtuh dalam waktu dekat?!" Seorang laki-laki dua puluh tahunan tiba-tiba berbicara. Ellisa tak tahu apa yang dia katakan. Namun hatinya benar-benar marah karena tahu dia mengatai adiknya, Ryuha.
Ingin segera menghajarnya, namun Ryuha menghentikannya. Dia tersenyum kecil.
"Terserah kau ingin mengataiku apa. Toh aku juga hanya akan tinggal beberapa waktu di sini."
Ucapan itu sontak membuat semuanya terkejut, terlebih Ellisa. "Hanya sebentar? Apa maksudmu?"
"Aku akan menjelaskannya nanti. Kakak Ellisa, apakah aku bisa menjalankan misi dengan seseorang yang bukan dari Guild?" Itu membuat Ellisa semakin penasaran. Dan karena tidak ada larangan terhadap hal itu, wanita itu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu. Tapi sebelum itu, apakah aku bisa mempersiapkan diri terlebih dahulu? Mungkin akan membutuhkan waktu lama, tapi ini tidak akan lebih dari satu minggu."
Satu hembusan nafas kasar dilakukan Ellisa. "Karena jika misi ini gagal, tingkat kesulitan misinya akan dinaikkan. Jadi, persiapkan saja dirimu matang-matang. Ini tidak memiliki batasan waktu lagi."
Ryuha mengangguk serius lalu dia pun beranjak dari tempat itu. Dirinya berjalan menuju tempat dimana Louise bersinggah.
Pandai Besi Louise, tempat yang sunyi dan sumpek. Setelah beberapa penjelasan, Ryuha menyerahkan barang-barang yang tertulis di dalam kertas, yang sudah sepenuhnya dia dapatkan. Tidak hanya itu, dia juga memberikan Obsidian Charcoal kepadanya.
Dengan senyum puas, Louise beranjak ke tungku api dan mulai menempa.
"Apa sebenarnya yang ingin kau buat?"
"Double Barrel Shotgun!" Wajah Louise benar-benar terlihat bahagia saat menjelaskan. Alis Ryuha sontak terkerut merenungkan senjata yang tengah dibuat oleh Louise itu.
__ADS_1
"Double Barrel Shotgun?!"
Bersambung ...