
Lebatnya hutan tlah mereka lewati kembali. Kini nampak pintu gerbang Skull City di kedua mata mereka.
Dalam perjalanan itu mereka tak jua menjumpai kejadian-kejadian yang menghambat waktu sehingga mereka dapat sampai tujuan dengan mulus, bahkan itu lebih cepat dari yang mereka bayangkan. Langkah kaki mereka seiras menuju tempat yang sama.
Sementara itu di dalam kediaman Slayer Guild.
Semua orang tengah duduk menikmati waktu senggang masing-masing sembari mengobrolkan hal-hal yang ada di pikiran mereka. Raka, Drian, dan satu temannya lagi dengan badannya yang kekar, Hidrix, tengah duduk dalam kalangan yang sama.
"Tiga hari lagi Guild Tournament akan dimulai dan mereka belum ada kabar, bagaimana ini?!" Ucap Raka. Sontak Drian pukulkan tangannya di meja dengan keras, giginya dia kertakan. Raut wajahnya menjadi seram setelah teringat akan mereka bertiga.
Bisa-bisanya dua wanita itu malah mendukung si Ryuha yang bahkan belum mencapai level dua puluh, benar-benar hanya amarah yang ada di lubuk hatinya.
"Ini semua gara-gara bocah itu. Jika saja aku yang ada di sana, kemungkinan untuk menang pastilah seratus persen!" Ucapnya kesal.
Raka hela nafasnya melihat Drian yang tak ada hentinya mengomel.
"Kakak senior, apa kau pikir mereka akan kembali?! Dengan kemampuan Nona Elli dan Nona Vella seharusnya tidak akan ada kendala dalam Raid ini kan?!"
Mendengarnya Drian buang kasar nafas untuk sedikit menghilangkan rasa kesal di hatinya. "Tentu saja. Mereka benar-benar bodoh karena membawa bocah itu juga melupakan Guild Tournament."
"Cihh, yang lebih aku takutkan adalah jika Ryu pergi setelah mendapatkan benda yang mereka cari?!" Ucap Raka.
"Aku juga berpikir sama. Jika sampai benda yang ingin didapatkannya dibawa pergi oleh bocah itu, biarpun Nona Vella dan Nona Elli kembali, dalam Turnamen ini kita... " Hidrix yang sedari tadi diam pun mulai angkat bicara. Kedua tangannya terkepal di atas meja menahan amarahnya yang sudah memuncak saat memikirkan hal itu.
Namun tepat setelahnya, sepatah suara terdengar dari arah luar pintu masuk Guild. Suara seorang wanita yang sangat familiar dan tentu saja mereka hormati.
"Apa yang kalian bicarakan saat aku sedang tidak ada di sini?!" Ucap Ellisa sambil langkahkan kakinya ke meja dimana Raka dan yang lainnya berada.
Di bawah lirikan tajam mata Ellisa, Raka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum aneh tanpa mengatakan apa yang tengah mereka diskusikan sedari tadi.
Tak lama kemudian, dua orang lainnya datang memasuki Guild dan langsung menghampiri Ellisa yang terlihat masih beradu mulut dengan Drian.
"Hentikan itu! Pendaftaran akan dibuka tiga hari lagi. Daripada beradu mulut, lebih baik kita mendiskusikan yang lebih penting sekarang!" Ucap Vella yang tegas sontak membuat keduanya pun terdiam.
Terutama Raka dan Hidrix yang mengira jika Ryuha akan pergi setelah mendapatkan barang jarahan mereka. Namun tetap saja hatinya masih diselimuti oleh rasa kesal yang mendalam. Dia kertakan giginya dan berkata dengan geram.
"Kau, ternyata kau masih berani kembali?! Kenapa kau tidak kabur lagi? Apa Nona Vella dan Nona Elli membuatmu tak memiliki kesempatan untuk kabur?"
Mendengar itu, Ryuha hela nafasnya tanpa membalas sedikitpun ucapannya.
__ADS_1
"Cihh, aku bahkan tidak bisa membayangkan dirinya saat bertemu monster bintang empat. Bagaimana mungkin dia bisa kabur membawa barang jarahan jika ada Nona Vella dan Nona Elli?!" Sahut Hidrix sambil memalingkan wajahnya.
Dalam tubuh Ryuha, Baal gelak tertawa saat mendengar itu. Seseorang yang tanpa mengetahui identitas dan apa yang telah dilalui sejauh ini berani mengatainya seperti itu sungguh membuatnya tak dapat berhenti tertawa.
Ryuha sendiri bisa menahan emosi jika hanya seseorang mengatainya, namun amarah Ellisa telah mencapai puncak saat mendengar ucapan yang menghina adiknya. Tangannya yang terkepal erat itu dia pukulkan ke meja. Dia berkata dengan marah. "Sebaiknya jaga mulutmu! Apa kah tahu makhluk apa yang harus kami kalahkan untuk mendapatkan Shadow Cloak?!"
Hidrix sedikit melirik ke arah Ellisa sebab wanita itu hendak mengeluarkan sesuatu. Dan benar saja, kedua mata semua member Guild yang ada di sana langsung terbelalak saat melihat benda di atas meja itu yang tidak lain adalah kepala Gorgon. Drian sontak berdiri tak mempercayai kenyataan. Mulutnya hanya bergerak-gerak tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun.
"Adik, perlihatkan tokenmu!"
Mendengar perintah dari Ellisa, Ryuha segera mengambil token miliknya dari dalam cincin penyimpanan. Tanpa basa-basi di langsung mengangkatnya, memperlihatkan pada semua orang.
Benang-benang aura merah mulai mendatangi tangan Ryuha, lalu berkumpul di satu titik yakni di token yang dia pegang. Segera, huruf E yang menyala merah itu memudar, dan akhirnya membentuk wujud huruf C yang juga memancarkan aura sama.
"Hahhh, apa masih ada yang ingin berdebat lagi?!" Ucap Vella. Tak ada satupun suara yang berani menyahut perkataannya. Drian hanya menggertakkan giginya, kesal dia sebab yang dialami oleh mereka diluar dugaan.
"Baiklah karena tidak ada, jadi, kita akan segera mendiskusikan tentang Guild Tournament!" Vella mulai beranjak meninggalkan tempat itu menuju lantai atas, tempat dimana mereka akan mendistribusikan semuanya diikuti beberapa orang lainnya.
Ruangan satu petak dengan ukuran kisaran empat kali empat meter persegi itu terlihat sangat rapi. Terdapat beberapa sofa dan meja yang terbuat dari marmer, juga ada beberapa hiasan seperti bunga, tempelan kaligrafi dan lain sebagainya. Mereka yang ada di sana, Vella, Drian, Ellisa, Hidrix, Raka, Ryuha, dan satu orang gadis sepantaran dengan Raka. Gadis itulah yang mengikuti Guild Tournament tahun-tahun lepas.
"Adik, kuberi satu menit untuk kalian berkenalan." Ucap Ellisa.
Perkenalan diri yang sangat singkat, Ryuha tahu jika tak ada satupun dari mereka yang berminat tuk mendengarnya, selain itu, identitas aslinya tidak boleh dia ungkapkan sebab kondisi sekarang yang belum mumpuni. Tepat setelah itu, sang gadis pun berdiri untuk bergantian memperkenalkan diri.
"Namaku Sela, dua puluh tahun, level dua lima." Ucap gadis berambut merah cerah berbaju biru itu. Dirinya pun terus duduk sebab tak ingin mengungkapkan lebih identitasnya, selain itu, semuanya kecuali Ryuha telah mengetahui siapa dirinya.
"Baiklah, karena semuanya sudah saling mengenal, pembahasan akan kita mulai sekarang!" Ucap Ellisa.
Dimulai dari peraturan. Sebab Ryuha belum mengetahuinya, Ellisa terlebih dulu menjelaskan secara detail kepadanya.
Yang pertama mestinya peraturan. Pertandingan babak penyisihan akan dibagi menjadi dua grup, High Tim dan Low Tim. Sesuai namanya, High Tim adalah pertandingan yang akan dilakukan oleh dua tim berisi tiga orang dengan level tinggi yang ada dalam Guild, sedangkan Low Tim sebaliknya.
"Semua jenis senjata boleh untuk digunakan, tidak boleh membunuh dengan sengaja sebab akan dieliminasi, tim yang menyerah akan dieliminasi dan tim yang menang akan maju ke babak selanjutnya, yakni tm yang telah mendapatkan empat poin kemenangan!"
Ryuha anggukan kepalanya beberapa kali. "Lalu babak selanjutnya?!"
Babak Eliminasi. Dimana Guild akan mengajukan tim yang berisi tiga orang secara bebas. Peraturannya masih sama, bedanya hanyalah pada total poin kemenangan yang harus didapatkan untuk maju ke babak selanjutnya yakni dua kali kemenangan. Sehingga dapat masuk ke babak final, dimana tim yang akan bertanding adalah lima orang.
Peraturan telah dijelaskan mendetail, Ryuha sendiri telah memahaminya secara garis besar. Dan sekarang mereka akan membahas lebih lanjut tentang hal itu.
__ADS_1
Untuk peserta, mereka yang ada di sana yang akan mengikuti Turnamen dengan Sela yang akan menjadi anggota cadangan pada Babak Penyisihan setelah dua kali pertandingan. Dan dirinya akan bergantian sesuai dengan keadaan nanti.
Pembahasan mereka terus berlanjut, sampai tak terasa langit pun mulai memerah. Hari telah berubah senja. Pembahasan mereka akhirnya telah selesai sepenuhnya. Semua orang yang ada di sana pun beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Ryuha sendiri, dia pergi keluar Guild tuk menemui Louise setelah Vella memberikannya imbalan. Seratus keping koin emas yang dibagi dua dengan Ellisa. Total lima puluh keping koin emas kini telah masuk ke dalam tabungan Ryuha.
Berjalan menyusuri kota di bawah langit senja, seperti biasa Ryuha melihat toko milik Louise yang sepi pengunjungnya. Dalam ruangannya pun sama, hanya ada Louise seorang yang dilihat oleh Ryuha.
"Yo, bagaimana Raidmu?" Tanya Louise.
Ryuha hanya gelengkan kepalanya sembari buang kasar nafasnya.
"Sangat sulit saat bertarung mempertaruhkan nyawa dengan seseorang selain dirimu. Aku tidak ingin menceritakannya!" Balasnya. "Apa kau masih memiliki Middle Essence? Peluru Double Barrel Shotgun sudah aku habiskan!"
"Haaa, kau serius? Aku tidak menyangka jika kau ini adalah seorang pemboros?!" Sahutnya. Louise yang masih memiliki satu buah Essence segera mengambilnya dan memberikannya kepada Ryuha.
"Ini Essence yang sama dengan yang sebelumnya. Tidak perlu kau bayar! Aku memang sengaja menyiapkannya untukmu!"
"Hahaha, kau benar-benar teman baikku!" Ryuha tertawa gelak. Dia lalu memasukannya kedalam wadah peluru Double Barrel Shotgun. "Setelah ini aku akan pergi ke Kerata City untuk mengikuti Guild Tournament! Selain itu... "
Ryuha lalu mengeluarkan apa yang didapatnya dalam Raid, tulang lengan kiri Azure Dragon. Dia meminta Louise tuk membuatkannya sebuah pelindung lengan dari benda itu, dia juga memberikannya lima belas Gold sebagi modal, sisanya sebagai imbalan.
Sungguh saat itu Louise hanya terdiam, terutama tepat setelah Ryuha mengatakan jika itu adalah tulang milik Azure Dragon.
"Tanpa imbalanpun aku akan membuatkannya untukmu!" Ucapnya kegirangan. Dirinya pun langsung membuka buku untuk melihat bahan-bahan apa saja yang dia butuhkan.
Ryuha telah selesai dengan urusannya di sana. Setelah menukar pedang panjangnya, dia pun kembali ke Guild untuk beristirahat.
Hari silih berganti, mentari pagi hampir setinggi kepala menampakkan sosoknya.
Di depan pintu gerbang Skull City mereka berkumpul.
"Di mana Leader Jigan?" Tanya Ellisa.
"Dia sedang ada urusan mendadak. Katanya tidak perlu menunggu karena dia akan menyusul." Balas Vella.
"Hahh, kalau begitu, karena semuanya sudah datang, ayo kita berangkat!" Ujar Ellisa.
Mereka pun mulai melangkahkan kaki, serentak menuju Kerata City, tempat Guild Tournament diselenggarakan.
Perasaan Ryuha tak sabar juga sedikit gelisah sebab dia tak tahu apakah Rin akan hadir atau tidak.
__ADS_1