
"Dengarkan baik-baik! Karena cerita ini akan membantumu di masa depan!"
Ceritapun dimulai, saat suara serak basah itu mulai melantunkan kata-kata. Juga kobaran api yang seakan memperlihatkan apa yang diujarkannya. Bukan hanya mendengar cerita, Ryuha seperti tengah menonton pertunjukan.
"Ribuan tahun yang lalu ... "
Di sebuah benua yang berada di tengah-tengah dunia. Benua yang tidak pernah mendapatkan cahaya matahari secara langsung. Yang dikelilingi oleh empat benua besar.
Tempat bersinggahnya para iblis. Tak ada satupun makhluk yang bisa keluar masuk wilayah itu dengan aman selain para iblis. Karena kabut tebal tak pernah lelah mengelilingi tempat itu.
Terdapat tujuh pilar, yang juga bisa disebut dengan Kerajaan Iblis.
Pilar pertama. Tempat yang juga dijuluki dengan Kekaisaran Iblis itu dipimpin oleh seorang raja bernama, Asmodeus. Sang iblis terkuat yang memimpin tujuh pilar. Terletak di tengah-tengah benua.
Pilar kedua. Tempat yang menjaga wilayah barat daya itu dipimpin oleh sang malaikat bersayap hitam atau malaikat jatuh. Yang sering dipanggil dengan, Lucifer. Juga satu-satunya iblis kepercayaan Baal.
Pilar ketiga adalah tempat Baal singgah. Terletak di bagian timur laut benua iblis. Tidak seperti pilar yang lain, tempat yang memiliki luas sebesar kerajaan itu hanya dihuni oleh Baal dan beberapa peliharanya.
Pilar keempat yang menjaga wilayah selatan, dijaga oleh iblis pengendali angin bernama, Mephisto. Tempat itu berada di tengah-tengah tornado kencang, yang akan menghembuskan tamu tidak diundang.
Pilar kelima terletak di benua bagian barat laut. Merupakan tempat yang memiliki suhu paling rendah. Saking rendahnya, makhluk yang masuk ke wilayah itu akan langsung dibekukan oleh suhu itu sendiri. Dijaga oleh pengendali es bernama, Belial.
Pilar keenam. Tempat itu ditugaskan untuk menjaga laut tenggara. Dijaga oleh iblis yang memiliki tubuh seperti chimera, yang memiliki nama, Behemoth.
Pilar ketujuh dan yang terakhir. Dijaga oleh iblis yang sangat genius. Baik dalam teori maupun praktek, terutama dalam bidang menempa. Iblis itu bernama, Abaddon. Yang juga merupakan tangan kanan dari Asmodeus.
Jika dihubungkan menggunakan garis lurus, itu akan membentuk sebuah bintang segi enam. Di mana itu adalah simbol iblis yang terkenal di seluruh benua.
Ryuha yang mendengarnya dengan seksama sampai menelan ludah. Alisnya sedikit terkerut saat terpikirkan sesuatu.
"Jika tujuh raja iblis telah tersegel, lalu untuk apa tujuanku datang ke sana? Jangan bilang hanya untuk mengantarmu pulang ke kampung halaman?!"
Kesepakatan yang dibuat antara mereka, Baal menyuruh Ryuha untuk pergi ke Benua Iblis. Tapi dia tidak menjelaskan detailnya.
"Itu salah satunya. Tapi ada hal lain yang sangat penting yang harus kau lakukan di tempat suram itu!"
Di sana terdapat sebuah benda, di mana benda itu bisa digunakan Ryuha untuk membantunya menggapai tujuannya merubah dunia.
"Lalu bagaimana caraku mendapatkan benda itu? Membangkitkan lalu melawan para Raja Iblis yang sudah berusia puluhan ribu tahun? Bagaimana bisa aku mengalahkan mereka?"
Satu helaan nafas sebelum Baal kembali menjelaskan. "Aku pernah bilang jika ketujuh Raja Iblis telah tersegel ke dalam kartu. Jika kau beruntung, kau bisa mendapatkan benda itu tanpa melawan mereka!"
"Tidak-tidak. Kau bilang waktu itu ritualnya gagal dan malah menyegel para malaikat!"
Ritual itu tidak gagal. Hanya karena persembahan mereka jauh dari kata cukup, ritual itu tidak hanya menyegel ketujuh Raja Iblis. Tapi juga delapan Malaikat Agung yang melakukan ritual itu.
Alis Ryuha semakin terkerut. Tujuh Raja Iblis yang entah bagaimana keadaannya sekarang, ditambah delapan Malaikat Agung yang baru pertamakali dia dengar. Hatinya merasa pesimis saat memikirkan makhluk-makhluk yang tersegel itu bangkit.
"Tidak perlu khawatir! Aku tidak pernah menyuruhmu untuk melakukannya secepat mungkin! Pelan-pelan tapi pasti. Aku yakin kau bisa melakukannya di masa mendatang. Selain itu, aku berharap aku bisa melihatnya dengan kedua mataku sendiri."
__ADS_1
Mendengarnya membuat rasa itu semakin memudar. Rasa sedih di hatinya kian ikut memudar setelah mendengar cerita dari Baal.
"Nah sekarang giliranmu!"
Ryuha menggelengkan kepalanya. "Masih ada satu hal lagi yang ingin aku dengar."
Tahu persis apa yang dimaksud Ryuha. Yaitu cerita tentang delapan Malaikat Agung. Baal menghela nafas dan berkata dengan pasrah. "Baiklah-baiklah. Tapi setelah ini ceritakan tentang dirimu!"
Ceritapun dimulai, setelah satu anggukan kecil dari Ryuha.
Kekaisaran Sky Wings, tempat dimana para malaikat bersinggah. Tempat yang melayang, seperti halnya pulau apung.
Tempat itu hanya dihuni oleh para manusia bersayap putih, atau yang biasa disebut dengan Malaikat.
Tidak seperti bangsa iblis yang menentukan kekuatan dan kekuasaan dari umur, Malaikat menentukan kekuatan dan kekuasaan mereka dari banyaknya sayap yang dimiliki.
Semakin banyak sayap yang tumbuh di punggung mereka, semakin diagungkan pula malaikat tersebut. Dan itu berlaku bagi semua malaikat, termasuk bayi yang baru dilahirkan.
Pemimpin Malaikat saat itu bernama, Seraphim. Satu-satunya malaikat yang memiliki enam pasang sayap.
Dan tujuh Malaikat Agung yang lain.
Velajhuel, Gabriel, Selafiel, Eladriel, Uriel, Rafael, dan Ariel.
Masing-masing dari mereka memiliki empat pasang sayap.
Kekaisaran Sky Wings, dijaga oleh dua makhluk legendaris, Freya dan Uranus. Makhluk buatan malaikat yang memiliki setiap pecahan kekuatan delapan Malaikat Agung.
"Tentu ada caranya!"
"Bagaimana itu?"
"Dengan menjadi dewa itu sendiri!"
Tertawa saat mendengarnya. Bocah ingusan sepertinya menjadi dewa, berapa banyak waktu yang harus dia habiskan.
Terlebih jika dirinya tak berhasil menjadi dewa dan monster-monster itu berhasil dibangkitkan, apa yang harus dilakukannya.
Akan tetapi hal itu terus disangkal oleh Baal. Dirinya yakin, benar-benar yakin hal itu akan diwujudkan oleh laki-laki yang ada di depannya itu. Hal itu karena dia bisa melihat kedalam hati Ryuha. Keyakinan dan keteguhan hatinya sudah melampaui batas. Seolah-olah dia melihat sosok lain yang ada di dalamnya, selain dirinya sendiri.
Namun saat melihat tingkah Ryuha, dia merasa bingung. Apakah Ryuha hanya berpura-pura, atau laki-laki itu tidak menyadari apa yang ada di lubuk hatinya.
Hal itu membuatnya semakin penasaran dengan yang dialami Ryuha sebelum menjadi budak. Apakah ada hal lain, yang membuatnya tidak mengetahui asal mula kelahirannya atau memang orang tuanya yang menutupinya dengan sempurna.
Karena jika tebakannya benar, Ryuha bukanlah makhluk yang hanya disebut dengan manusia.
Satu helaan nafas berat saat Ryuha hendak bercerita. "Kisahku sama sekali tidak menarik. Kenapa kau sebegitu seriusnya ingin mendengarnya?"
"Hei-hei, apa yang kau katakan? Bukankah bukan hal aneh jika temanmu ingin mendengar kisah hidupmu? Atau kau tidak menganggapku teman?!"
__ADS_1
"Baiklah-baiklah!"
Cerita Ryuha dimulai setelah satu helaan nafas.
Kota tempat tinggal Ryuha. Di sebuah panti asuhan bernama Panti Asuhan Take, sepasang suami istri mendatangi tempat itu dengan satu keranjang bayi. Yang berisikan seorang bayi laki-laki yang masih tertidur lelap.
Pasangan suami istri itu menyerahkannya kepada pemilik panti asuhan. Dengan beberapa pesan yang mereka tinggalkan. Juga sebuah kalung dengan batu permata sebagai gantungannya.
Bayi laki-laki itu tumbuh menjadi seorang yang periang, baik hati, dan suka menolong. Dengan menyandang nama Take di depannya. Dan nama Ryuha seperti yang dikatakan oleh orang tua bocah itu.
Sampai saat umurnya mencapai sembilan tahun. Terjadi perang besar yang menghancurkan seluruh tempat itu.
Bersama adik angkat perempuan yang juga menyandang nama keluarga Take, Take Rin. Mereka pergi mencari tempat perlindungan.
Sampai mereka dipisahkan oleh seseorang dari Kuil Cahaya. Dirinya di culik dan dijadikan budak. Sedangkan adiknya, dia sama sekali tidak mengetahui keberadaannya.
"Kelanjutannya kau sudah mengetahuinya bukan?"
Baal terdiam memikirkan tebakannya yang tidak meleset. Sampai panggilan keras yang memanggil namanya terdengar di kedua telinga membuatnya tersadar.
"Ryuha. Apa kau tahu identitas orang tuamu?"
Hanya menggelengkan kepala. Pemilik panti asuhan selalu mengalihkan pembicaraan saat Ryuha menanyakan hal itu.
Baal berkata dalam hati, "Sepertinya mereka tidak ingin Ryuha mengetahuinya. Tapi ... "
Dalam kondisinya sekarang, cepat atau lambat Ryuha pasti akan mengetahui tentang indentitasnya yang sesungguhnya, walaupun Baal tidak memberitahunya.
"Ryuha. Tentang identitasmu, sebenarnya aku tahu beberapa hal tapi, memberitahumu sekarang hanya akan menganggu kultivasimu. Jadi aku harap kau fokus dalam latihan terlebih dahulu, sampai hari dimana kau siap mengetahuinya datang!"
Ryuha yang mendengarnya tersenyum lalu menganggukkan kepala. Dirinya sepenuhnya percaya dengan yang dikatakan Baal. Lagipula, dia sudah tidak memikirkannya selama menjadi budak di Kuil Cahaya.
"Nahh Ryuha. Bagaimana jika kau mengabulkan satu permintaan kecilku?"
"Apa itu?"
Baal sangat ingin melihat Ryuha sebagai seorang yang periang dan penuh canda tawa. Oleh karena itu, dia menyuruh Ryuha untuk membuang jauh-jauh sifat dingin dan pendiamnya.
Ryuha sendiri pun tidak tahu mengapa. Saat dirinya pertama kali bertemu Baal, hatinya seakan tak merasakan kesedihan sama sekali. Seperti api milik Baal melelehkan hatinya yang membeku. Hal itulah yang membuatnya tidak pernah bersikap dingin saat bersama dengan Baal.
"Oke. Tapi aku ingin kau berjanji padaku satu hal."
"Apa itu?" Ujar Baal yang dipenuhi rasa penasaran.
Dengan senyum kecil yang terukir di wajahnya, Ryuha berkata dengan seksama. "Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku sendirian."
Tertawa terbahak-bahak saat mendengarnya. "Bagaimana caraku meninggalkanmu?"
"Heeehhh. Bisa saja kau berubah pikiran dan membunuhku?!"
__ADS_1
Bercanda tawa sepanjang malam. Menanti kedatangan sang mentari yang akan menjadi awal mula perjalanan baru mereka.
Bersambung ...