( Re ) Legendary Summoner

( Re ) Legendary Summoner
Harta Karun Tersembunyi


__ADS_3

"Hyakkk!!!"


Teriak keras Vella dan raungan keras Gorgon menggema memenuhi ruangan. Cabikan buas dan tusukan pedang yang saling beradu, segera menyebabkan tekanan kuat. Ryuha dan Ellisa segera silangkan kedua tangannya depan kepala menahan hembusan nan kuat itu.


Asap tebal yang memenuhi ruangan lebih pekat dari perkiraan, itu bahkan tidak terhempaskan oleh hembusan itu.


Ting, Ting, Ting, Ting, Ting, Ting, Ting, Ting, Ting, Ting, Ting!!!


Hanya suara itu yang terdengar di dalam kabut tanpa terlihat hal lain selain kilatan-kilatan cahaya yang sesekali muncul.


"Ryuha, lihat di dalam peti!" Ucap Baal tiba-tiba menghancurkan konsentrasi Ryuha. Entah apa maksud lain dari ucapannya, Ryuha segera memeriksa peti mati itu sesuai apa yang dikatakan oleh Baal.


"Apa, tidak ada apapun selain... " Ucapannya segera terhenti karena mulutnya ternganga setelah melihat apa yang dia temukan. Di dinding peti mati, terdapat ukiran ular naga, sesuatu terlihat melekat di sana yang segera diambilnya.


Itu adalah sebuah tulang, tulang lengan kiri yang sekilas terlihat sesaat mengeluarkan benang-benang aura kecil berwarna azure. Bentuknya tidak seperti tulang manusia, itu lebih lurus seperti ceker ayam namun lebih besar. Yang membuat Ryuha ternganga adalah aura yang dikeluarkannya, yang terasa seakan menyengat hati dengan setruman listrik kecil.


"Ini adalah tulang lengan kiri milik Azure Dragon!" Ujar Baal.


Azure Dragon, itu adalah nama dari salah satu naga legendaris yang sering diceritakan oleh Rose di masa lalu dalam dongeng pengantar tidurnya. Tak menyangka Ryuha jika dia berhasil menemukan salah satu potongan tubuhnya.


Walaupun hanya sebatas tulang lengan kirinya saja, namun kekuatan yang ada di dalamnya terasa meluap-luap. Jika itu ditempa, tulang lengan Azure Dragon dapat dijadikan Armor Lengan yang bahkan dapat digunakan untuk menahan sepuluh ribu pedang.


Di tengah-tengah kesulitannya, lagi-lagi dia menemukan sebuah harta karun, harta karun yang tersembunyi. Segera Ryuha menyimpan benda itu di dalam cincinnya.


Di tengah-tengah medan pertarungan antara Vella dan Gorgon.


Jarum-jarum tajam muncul di sekitar tubuh raksasa wanita itu, yang terus melesat seiring tangannya disorongkan kuat. Tak berhenti benda tajam itu melesat menuju ke arah Vella yang dapat melihat jelas benda itu dengan penglihatan malamnya.


Tangannya menggenggam erat gagang pedangnya, tepat saat jarum berada di depannya, Vella menebas-nebaskan pedangnya cepat, menghancurkan puluhan jarum itu. Sampai habis jarum yang hendak menusuknya, tangan kiri Vella langsung dikepalkan erat-erat, benang-benang ungu pekat muncul di sekitarnya berpusat di kepalan tangannya.


Tanah di sekitar Gorgon dengan cepat berganti teksturnya, itu segera menghitam seperti diselimuti oleh bayangan nan besar. Sang Gorgon sedikit celingak-celinguk ke bawah, cepat makhluk itu menyadari apa yang akan terjadi setelahnya dan segera terbang meninggalkan tempat itu.


“Shadow Thorns!” Teriak Vella. Segera muncul duri-duri tajam nan panjang, seperti seseorang menusukkannya dari dalam bayangan.


Walaupun kecepatan terbang sang Gorgon cepat, namun kecepatan duri-duri itu jauh lebih cepat, tubuh ular wanita itu berhasil tertusuk, yang membuat makhluk itu berteriak histeris. Tak mempedulikan rasa sakitnya, sang Gorgon terus menarik tubuhnya yang tertusuk oleh duri hitam itu. Cepat melata melilit pilar dan berpapah di sana, menatap lawannya dengan tatapan kesal yang tajam.


Langsung setelah satu raungan, wanita itu memusatkan benang-benang aura hitam di tengah-tengah mulutnya yang terbuka, tidak sampai dua detik, dia segera menembakkan laser hitam kepada Vella.


Booomm!!!

__ADS_1


Asap tebal di sekitarnya segera memudar berganti dengan asap coklat yang memedihkan mata, kumpulan asap hitam beserta kelelawar-kelelawar kecil muncul di samping Ryuha yang segera memunculkan sosok Vella. Terdengar jelas nafasnya yang terengah-engah seperti sudah kehabisan tenaga.


"Makhluk itu, tak kusangka tubuhnya tak kunjung kembali ke wujud aslinya?!" Ucap Vella.


Ryuha tak menatapnya, tatapannya masih tertuju ke arah yang sama dengan Vella, tepat ke arah ledakan itu berasal.


Rupanya serangan itu belum berakhir, Vella menyadari Gorgon yang mengarahkan mulutnya ke arah mereka. Sesaat terbelalak matanya sebelum menarik tangan Ryuha untuk pergi menjauh dari tempat itu.


Kilatan cahaya terlihat jelas di dalam kabut sebelum suara ledakan keras terdengar, akibat hembusan tekanan kuat mereka berdua jatuh tersungkur sebab tak dapat menahannya, tak dapat mereka mendengar suara nyaring pecahan-pecahan nisan yang terus berjatuhan.


Kedua orang itu berusaha tuk duduk berlutut tuk melihat kondisi sekitar. Ryuha kertakkan giginya, "Sial! Kenapa makhluk itu semakin lama semakin kuat?!" Gumamnya.


Baal di dalam tubuhnya menjawab pertanyaan itu. "Kejadian seperti itu sebenarnya sering terjadi saat kekuatan hendak mencapai monster. Kau akan sering menjumpainya di masa depan!"


Ryuha lap bibirnya yang ternyata sedikit berdarah tergores benda tajam yang entah benda apa itu. "Yahh, itu akan terjadi jika aku berhasil keluar hidup-hidup dari tempat ini!?"


"Hei-hei, kenapa pesimis sekali kau?! Ke mana hilangnya rasa percaya dirimu yang biasanya?!" Pertanyaan Baal, membuat Ryuha hela nafasnya. "Apa aku terlihat pesimis sekarang?!" Jawabnya seraya sedikit menyeringai sembari menatap tajam ke arah titik pusat datangnya serangan.


Vella melihat jelas hal itu, namun dia tak paham perihal bocah itu yang tak jelas tingkahnya. Tak sempat bertanya, Gorgon telah mengarahkan kembali mulutnya ke arah mereka. Sungguh diluar nalar, setelah dua serangan beruntun yang sangat kuat itu, makhluk itu ternyata dapat melayangkan lagi serangan yang sama.


Teknik perpindahan masih dalam waktu jeda dan kakinya yang terkilir membuatnya tak bisa berlari menghindar. Dirinya segera berdiri, bersama dengan Ryuha di sampingnya, sama-sama keduanya menggenggam erat pedang mereka. Keringat dingin mulai tercucur di pipi Vella.


Cahaya ungu itu mulai terlihat, walau Ryuha tak dapat melihat detail serangannya, namu dia dapat merasakan.


Vella dengan mata terpejam dan tubuhnya yang bergetar, itu tak merasakan apapun dan mendengar jelas suara ledakan keras beserta puing-puing tangan yang berjatuhan. Perlahan matanya terbuka, segera terbelalak kedua matanya sebab mereka dirinya masih hidup terlebih posisinya dengan Gorgon jauh berbeda dari sebelumnya, cepat wajah itu menatap Ryuha. Terlihat senyum lebar Ryuha yang terasa seperti telah mengerjainya.


Sedikit terkekeh Vella. "Kau ini, ternyata kita masih bisa hidup walau mungkin hanya tinggal beberapa saat lagi?!" Ucapnya setelah teringat akan teknik perpindahan milik Ryuha.


"Kenapa kau sangat pesimis? Apakah itu yang dicontohkan senior kepada juniornya?!" Ucap Ryuha, sontak itu membuat Vella sesaat terbelalak. Wanita itupun segera memasang senyuman bersamaan dengan kuda-kudanya. Tatapannya sontak beralih ke arah Gorgon yang terlihat di matanya. Rasa sakit karena terkilir bahkan tak lagi dirasakan olehnya.


"Kakak Vella, apakah kau bisa melihat di mana kakak Ellisa berada?!" Tanya Ryuha. Itu langsung dijawab oleh Vella yang bisa jelas melihat di mana Ellisa saat ini.


"Dia sedang duduk bersandar di pilar yang bersebelahan dengan pilar Gorgon itu. Sepertinya tubuhnya terluka parah?!"


"Kakak, apa kau masih memiliki Potion?" Tanya Ryuha lagi.


"Sangat sulit mendapatkan Potion, aku hanya memiliki satu yang masih tersisa." Jawab Vella.


"Apa kakak masih bisa bertarung?" Sesaat tertawa lepas Vella mendengar ucapan itu. "Setelah kau mengataiku? Tentu saja aku masih bisa! Bagaimana mungkin aku bersikap lemah di depan juniorku?!"

__ADS_1


Segera tersenyum Ryuha. "Tanpa ahli strategi kita tidak akan bisa melawannya."


Keduanya nampak berpikiran sama, segera setelah satu anggukan kecil, bersamaan mereka berlari menghampiri Ellisa.


Cahaya ungu kembali terlihat, kabut itu seketika bergerak cepat seperti tertiup angin. Lesatan sinar laser segera menembus asap itu, mengarah ke arah mereka. Sebuah momen yang ditunggu oleh Vella, tangannya segera meraih bahu Ryuha, dengan cepat tubuh mereka seperti memudar menjadi gumpalan asap hitam dan kelelawar-kelelawar kecil.


Sinar laser terus melesat hingga terdengar suara ledakan saat cahaya ungu itu memporak-porandakan area sekitar akhir lesatannya.


Sosok Vella dan Ryuha kini sudah berada tepat di depan Ellisa yang terlihat sangat lemas. Matanya terpejam, tapi dirinya masih tersadar belum sepenuhnya pingsan.


"Uhukuhuk, kalian, sepertinya kalian baik-baik saja?!" Ucapnya lemas. "Diamlah! Jangan banyak bicara jika tidak kita semua akan mati bersamaan di tempat ini!" Segera Vella meminumkan ramuan terakhirnya kepada Ellisa.


"Elli memang kuat. Tapi saat di dalam kabut seperti ini, aku yakin kau bahkan bisa mengalahkannya dengan satu jurus!" Ucap Vella tiba-tiba. Itu sedikit membuat Ryuha kebingungan, sebab Moon Wolf bukanlah serigala yang lemah saat berada dalam kabut. Ingin menanyakan kepastiannya, namun pikirannya dialihkan oleh cahaya ungu yang kembali bersinar di depan atas, yang membuat laki-laki itu terus kertakkan giginya.


Vella kembali berdiri, dirinya bersama Ryuha pun mulai memasang kuda-kuda, berdiri di depan pilar membelakangi Ellisa tuk menahan serangan itu sebab tak lagi memiliki teknik perpindahan. Ellisa sendiri, tubuhnya perlahan membaik tapi membutuhkan waktu lama bagi mentalnya untuk benar-benar siap.


Terlihat jelas laser yang melesat di mata Vella, langsung dia memberitahu Ryuha untuk segera bersiap-siap. Seluruh kekuatan magis mereka telah dialirkan penuh ke dalam pedang masing-masing. Bersama dengan teriakan keras, mereka mengambil ancang-ancang bagi pedangnya yang akan digunakan mereka untuk menahan laser itu.


Terlihat seperti tepat di depan mata mereka cahaya ungu terang itu, segera mereka berdua menebaskan pedangnya. Namun pergerakan mereka tiba-tiba saja terhenti.


Sebuah cahaya kuning keputihan, itu menyala terang di bawah mereka yang terus memunculkan medan penghalang kuat, sehingga laser itu tertahan oleh benda yang terlihat sedikit tembus pandang itu.


Sontak tatapan Vella segera teralih ke belakang. diikuti dengan Ryuha. Senyuman lega segera terukir di wajah kedua orang itu sebab sosok penting yang ada di dalam tim mereka telah bangkit seperti sedia kala.


Ryuha pun terus duduk terlutut menghirup nafas panjang sejenak untuk sedikit memulihkan staminanya.


Vella yang semula sangat tegang kini mulai meregangkan otot dan urat-urat tubuhnya.


"Tidak perlu menatapku seperti itu. Bagaimana mungkin aku bisa memperlihatkan wajahku setelah ini jika aku bergantung kepada adikku?!" Ucap Ellisa. Itu langsung membuat Vella tertawa terbahak-bahak.


"Baguslah. Dengan ini tim kita telah menjadi tim yang utuh seperti semula." Ucapnya sambil melihat ke arah Ryuha yang juga tengah menatapnya.


Segera Ryuha bangkit setelah merasa lebih baik. "Memang sangat tidak kompak, tapi aku yakin ini akan menjadi awal yang baik bagi tim kita ini." Ucapnya serius. Kedua wanita itupun mengangguk, wajah mereka juga serius. Namun sesaat setelahnya, ketiga orang itu malah tertawa lepas, seakan tak ada beban yang mereka miliki sama sekali.


Berkat medan pelindung yang dibuat oleh Ellisa, nyawa ketiga orang itu berhasil terselamatkan. Namun pertarungan belum usai, sesaat setelah Ellisa mengatakan jelas strategi yang akan mereka gunakan, kuda-kuda ketiga orang itu segera terpasang, tatapan mereka tak teralihkan dari arah Gorgon berpapah, walau hanya Vella saja yang dapat melihatnya.


Sang Gorgon sendiri yang melihat ketiga orang itu dengan jelas tak ingin mengalah sedikitpun. Dia kembali meraung keras.


Setiap kali mendengar teriakkan histeris yang menggema membuat telinga mereka nyut-nyutan, benar-benar membuat mereka kesal.

__ADS_1


Pertarungan ronde kedua antara keduanya pun segera dimulai, di tempat yang sama dengan kondisi berbeda.


Bersambung ...


__ADS_2