( Re ) Legendary Summoner

( Re ) Legendary Summoner
Keberuntungan Saat Tersesat


__ADS_3

Memang kerangka raksasa seperti itu pernah dia lumpuhkan, namun itu karena bantuan dari Baal serta pedang terkutuknya.


Sebuah gada besi raksasa berduri yang tergenggam erat di tangan makhluk itu di pukulkannya kepada Ryuha. Menahan tentu tidak akan bisa, Ryuha sontak kembali melompat ke belakang, dirinya melupakan Skeleton Warrior yang mengepung mereka dari segala arah.


Tangan kirinya tertangkap oleh salah satu Skeleton Warrior, yang membuatnya teringat akan siapa saja musuh yang harus dihadapi mereka. Laki-laki itu menggertakan gigi, menarik lengan kirinya lalu menendang kuat-kuat makhluk itu, tak hanya itu dia juga memukul tengkoraknya dengan sikunya sehingga membuatnya hancur berkeping-keping.


"Adik!!!" Ellisa berteriak, dirinya ingin membantu Ryuha namun kuda yang ditunggangi oleh sang ksatria telah bangkit kembali, benar-benar seperti sesosok mayat hidup.


Vella kembali hentakkan kakinya dan melesat ke arah Skeleton General setelah berkata. "Aku serahkan Cavalier Ghoul kepadamu!"


Pertarungan sengit diantara ketiganya, entah kenapa semakin lama jarak antara ketiga orang itu semakin terpaut satu sama lain. Walaupun menyadarinya, namun sangat sulit bagi mereka untuk berkomunikasi, terlebih kepada Ryuha dan Vella yang melawan tentara kerangka yang tak ada habisnya, walaupun Vella telah menghancurkan kristal hitam itu, sosok Skeleton General kembali muncul dari dalam tanah, terkadang itu muncul dua sosok secara bersamaan.


Puluhan Skeleton Warrior mengerumuni Ryuha, tidak sedikit dari mereka yang membawa senjata berupa pedang dan menebas-nebaskannya. Laki-laki itu hanya terus menghindar, sembari melayangkan serangan-serangan yang langsung menumbangkan mereka saat mendapatkan kesempatan.


Tempest Wolf, melompat dari dalam bayangan laki-laki itu dan segera melesat-lesat menerkam pasukan kerangka manusia yang ada di depannya.


Pasukan kerangka hidup yang terus bermunculan semakin menyudutkan Ryuha ke titik dimana dia dan Tempest Wolf hanya bisa bertarung dengan punggung mereka yang saling berhadapan.


Dengan pikiran mereka yang saling terikat, Tempest Wolf melesat-lesat menerkam puluhan kerangka yang ada di depannya, membukakan jalan lurus kepada Ryuha. Segera laki-laki itu berlari melewati jalan itu, sebelum tertutup kembali oleh pasukan kerangka yang terus bermunculan dari dari dalam tanah, tak luput dia terus berlari sambil menebas-nebaskan pedangnya.


Semakin jauh dari Ghoul Cavalier, semakin sedikit pula Skeleton Warrior yang bermunculan, cepat Ryuha menyadari itu.


Dirinya terus berlari menjauh menuju titik dimana tak ada lagi Skeleton Warrior yang bermunculan. Namun Skeleton Warrior tak ingin membiarkannya lolos begitu saja, mereka yang sudah menampakkan diri terus mengejarnya dari belakang.


Itu tidak membuatnya gentar sama sekali, dirinya malah terlihat tersenyum kecil. "Aku harap kalian tidak berhenti mengejarku, agar aku bisa dengan leluasa mencoba kemampuan baru senjata milikku?!" Batinnya.


Jarak antara pasukan itu dan Ryuha hanyalah belasan jengkal, mendapati satu momen yang telah dia tunggu-tunggu, dimana sudah tak ada lagi kerangka hidup yang bermunculan, dirinya sontak membalikkan badan, Double Barrel Shotgun telah tergenggam di tangan kirinya, yang dia acungkan ke arah pasukan itu.


Duarr!!!

__ADS_1


Percikan peluru menyebar ke segala arah ke depan setelah pelatuk senapan ditariknya. Berbeda dari sebelumnya, percikan peluru itu nampak memancarkan cahaya biru salju.


Dan seperti yang dikatakan oleh Louise, pergerakan pasukan kerangka hidup yang terkena oleh percikan itu segera melambat, terlihat di beberapa bagian tubuhnya yang hanya berupa tulang-tulang yang menyatu itu mulai mengkristal, menyebabkan mereka yang ada di belakangnya berjatuhan karena menabraknya.


Fenomena tulang yang diselimuti oleh kristal-kristal es seperti salju itu, membuat Ryuha yang melihatnya merasakan tulang linu. Namun dia tak memusingkan hal itu karena ajal akan menjemputnya jika dia terus diam memikirkan hal yang sama sekali tidak penting.


Duarr!!!


Sekali lagi peluru ditembakkan laki-laki itu, sosok kerangka dengan tubuhnya yang sudah diselimuti oleh kristal-kristal es segera membeku di tempat. Mereka yang berlari kencang tak bisa menghentikan langkah terus berlari dan menabrak patung es kerangka manusia dan langsung menghancurkannya menjadi kepingan-kepingan es.


Tak ingin memperpanjang durasi pertarungan mereka, secara beruntun Ryuha terus menembakkan peluru-peluru es yang merubah pasukan kerangka menjadi patung es.


Tempest Wolf, segera melesat untuk menghancurkan mereka yang sudah mengkristal seluruhnya, agar lebih mudah dan menghemat tenaga.


Memang sudah tak ada lagi kerangka hidup yang muncul di sekitar wilayahnya, namun tetap saja mereka terus berdatangan. Setelah ratusan Skeleton Warrior diubah mereka menjadi kepingan kristal-kristal es, Ryuha akhirnya menyadari jika sosok mereka semakin sedikit yang berdatangan, segera menyuruh Tempest Wolf kembali untuk menghemat tenaga, binatang itu terus melompat kembali ke sisi Ryuha dan mengatur ulang nafasnya.


Tenaganya terpusat di sekujur lengan kanan, dengan tidak mengubah tatapannya, dia mengambil ancang-ancang bagi lengan kanannya yang sudah terselimuti oleh kobaran api.


"Fiery Blow!!!"


Diiringi teriakan keras, laki-laki itu melontarkan sebuah kobaran api yang melesat lalu meledak saat benda itu menghantam pasukan kerangka hidup.


Booomm!!!


Ledakan keras itu bahkan samar-samar terdengar suaranya oleh dua wanita yang masih bertarung melawan musuhnya masing-masing.


"Itu, apakah perbuatan adikku?!" Batin Ellisa sedikit melirik ke arah itu. Namun sang Cavalier Ghoul bersama pasukan berkudanya tak ingin memberikan waktu bagi Ellisa untuk memikirkan itu, sehingga Ellisa harus terpaksa memfokuskan diri kepada mereka.


Di sisi Ryuha, laki-laki itu menghembuskan nafas lega lalu duduk bersandar dengan batang pohon mati yang tumbang di dekat tempatnya berdiri, karena tak lagi merasakan adanya hawa keberadaan selain mereka. Mengatur ulang nafasnya yang sedikit terengah-engah setelah menembakkan kurang lebih empat puluh empat peluru sihir dan satu kali Fiery Blow, sebelum mengamati kondisi sekitar.

__ADS_1


Sedikit mengkerutkan kening laki-laki itu karena kabut di sekitarnya terlihat lebih tebal daripada sebelumnya.


"Mungkinkah aku sudah masuk ke Inti Dungeon?!" Batinnya.


"Aku rasa Dungeonnya tidak sesederhana ini?!" Sahut Baal. Ryuha juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dikatakan oleh Baal. Tapi setelah kembali melihat ketebalan kabut asap di sekitarnya, sontak dirinya teringat dengan siapa saja dia datang kemari, sontak dirinya langsung berdiri dan berlari menuju arah datangnya Skeleton Warrior, Tempest Wolf ikut di belakangnya.


"Gawat, gawat, gawat! Bagaimana caraku kembali?!" Ucapnya saat mengorek-ngorek tanah mencari jejak pasukan kerangka hidup. Dengan kondisi tanah yang kasar dan sangat tandus juga kabut yang menutupi pandangan, jejak itu sama sekali tak ditemukannya.


Bahkan dengan penciuman tajam milik Tempest Wolf, bau yang tertinggal di tempat itu, sama sekali tidak bisa binatang itu membedakannya, bahkan bau jejak Ryuha pun sama sekali tak tercium di hidungnya.


"Cihh, sialan! Berapa jauh aku berlari tadi?!" Ucapnya kesal.


"Kurang lebih dua sampai tiga kilometer?!" Jawab Baal. Itu membuat satu alis milik Ryuha terangkat. Dengan jarak sejauh itu, dan kondisi kabut di sekitar sana yang lebih tebal dari sebelumnya, bagaimana caranya agar tidak tersesat saat berjalan kembali, apakah menunggu kedua seniornya datang menjemput, itu tidak mungkin karena mereka tidak melihat ke mana dia berlari.


"Baiklah, daripada berdiam diri di tempat ini, lebih baik kita gunakan insting kita, Tempest Wolf!" Serius Ryuha berkata.


Berdiri di tengah-tengah tanah yang hancur akibat ledakan keras yang dibuatnya, Ryuha mulai menentukan ke mana mereka akan melangkahkan kaki.


"Dari segi arahnya, aku yakin lewat sini!" Sangat yakin dirinya setelah mengamati kondisi medan perangnya, terutama dari arah dia melayangkan Fiery Blow.


Rasa percaya dirinya masih tetap tidak memudar, meski sesaat dia melihat sesuatu yang tidak dilihatnya saat berlari sebelumnya, di pikirannya hanya ada kata 'Pasti aku yang tidak menyadarinya.' Hingga pada suatu ketika, kabut asap perlahan menipis, seringai Ryuha tak menghilang saat dirinya terus menambah kecepatan lari.


Kabut asap menjadi sangat tipis, namun bedanya tepat di depan Ryuha saat ini dipenuhi pohon-pohon mati yang berhimpitan, bahkan itu membuatnya kesulitan untuk melewatinya.


Setelah bersusah payah, Ryuha akhirnya bisa melihat pemandangan yang benar-benar tak di duga, itu adalah tempat yang bukan merupakan tempat tujuannya saat ini, melainkan tempat tujuan utamanya melakukan Raid kali ini.


"Mu, mungkinkah ini, Inti Dungeon?!"


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2