
"Ada apa ini ribut-ribut?" Ucap Ellisa. Dirinya yang entah darimana datang menghampiri keributan itu. Melihat adiknya yang telah kembali setelah beberapa hari segera membuatnya tersenyum lebar.
"Adik, kau sudah kembali?! Bagaimana, apa kau berhasil?!" Ucapnya tanpa mempedulikan apapun, yang dibalas dengan acungan jempol.
Terkerutkan alis laki-laki tampan itu melihat sikap Ellisa kepada bocah di depannya, dirinya tak menyangka jika apa yang didengarnya itu adalah suatu kebenaran.
"Hei kau, jangan buat aku menunggu! Cepat jawab pertanyaanku!" Tegas laki-laki itu berucap. Itu membuat alis Ellisa terkerut, teringat kembali perkataan yang samar-samar terdengarnya.
"Drian, apa maksudmu kau menyuruhnya untuk mengikuti Guild Tournament?!" Tanyanya. Laki-laki yang ternyata bernama Drian itu sontak tersenyum dingin. "Tentu saja, jika dia adalah laki-laki, tentu tidak akan menolak ajakanku itu." Jawabnya sembari menatap sinis Ryuha.
"Itu memang akan bagus jika Ryu bisa mengikuti Guild Tournament. Tapi sayangnya hanya anggota Rangking C ke atas saja yang bisa mengikutinya?!" Ujar Ellisa. Yang dikatakannya adalah suatu kebenaran, dan itu malah membuat Drian tertawa lepas. "Apakah itu sebuah alasan?! Waktu untuk menaikkan rangking masih ada, selain itu, bukankah kau juga punya koneksi dengan Leader Jigan?!"
Bisikan demi bisikan mulai membisingi ruangan itu. Yang terdengar samar-samar hanyalah ucapan dengan makna yang sama, terutama mereka yang baru mengetahui jika Ryuha mendapatkan surat rekomendasi langsung dari Leader Guild mereka.
Wajahnya itu membuat Ellisa geram, dirinya menggertakkan gigi, tangannya terkepal erat, walaupun sama-sama rangking S, namun Drian lebih kuat darinya. Ingin terus membela namun dirinya tidak akan bisa menahan emosi jika hanya dengan beradu mulut.
"Apa yang kalian ributkan?!" Tiba-tiba terdengar suara wanita dari arah belakang, yang seketika mengheningkan tempat itu. Suara yang sangat berwibawa, Ryuha membalikkan badannya, terlihat sosok wanita yang familiar berjalan dari pintu masuk.
Wanita itu terus berjalan menghampiri kerumunan itu, wajahnya yang terlihat dingin namun menawan sontak membuat Drian segera mengubah sikap, laki-laki itu ingin terlihat keren dihadapannya.
"No, nona Vella, apa ada yang kau perlukan sampai repot-repot datang kemari?!" Ucap Drian. Itu sama sekali tak dihiraukan oleh wanita itu, dan dirinya malah menyapa junior barunya, Ryuha. Drian yang melihat wanita pujaannya menghiraukan dan malah menyapa bocah yang dibencinya sontak menggertakan gigi.
"Vella, apa ada sesuatu?" Tanya Ellisa. Vella menggeleng. Dia pun berkata, "Aku hanya ingin menyampaikan pesan dari Leader Jigan. Untuk Tournament kali ini, dia ingin setidaknya masuk ke peringkat lima besar. Dia juga berpesan untuk mengerahkan segalanya yang kita miliki untuk mendapatkannya, tidak peduli sesulit apapun itu, kali ini kita harus masuk ke lima teratas agar bisa menghapus penghinaan yang kita dapat!
"Itu benar, penghinaan yang kita terima, kita tidak boleh membiarkannya! Kau dengar itu, Drian?!" Ucap Ellisa.
"Tentu aku tahu itu. Bagaimana mungkin aku bisa menerima penghinaan yang diberikan kepada kita selama ini?" Jawab Drian.
"Jika kau menyadarinya, lalu kenapa kau memaksa Ryu untuk mengikuti Tournament?!" Tanya Ellisa kesal. Ryuha hanya terdiam, belum ingin mencampuri perdebatan mereka karena dirinya masih belum jelas.
Di belakang, Vella yang telah jelas mendengarkan perdebatan mereka tersenyum. "Jika masalahnya hanyalah rangking, itu akan sangat mudah! Ellisa, kau tidak perlu membuang tenaga untuk marah."
Mendengar itu membuat Ellisa berbalik menatap Vella dengan alis yang terkerut. "Apa kau bilang? Apa kau juga setuju jika adikku mengikuti Tournament ini?!" Satu anggukan serius dilakukan oleh Vella, itu benar-benar membuatnya semakin kesal.
"Apa kau gila?! Tournament ini sangat berbahaya! Apa kau ingat, tahun lalu jika Leader Jigan tidak masuk ke arena dan menyelamatkanku, aku pasti sudah mati?! Lihat Ryu sekarang, seberapa tinggi levelnya saat ini?! Sebaiknya kau pikirkan baik-baik!"
__ADS_1
Melihat sosok Ellisa, pikiran Ryuha tak luput dari mendiang sang kakak. Perasaan sesak kembali terasa di dadanya, Ellisa ternyata sungguh mengkhawatirkan dirinya sampai-sampai terus mewakilinya menjawab setiap kata-kata yang harusnya itu dijawabnya sendiri. Segera dia meraih bahu itu.
"Kakak Elli, aku tidak tahu menahu tentang Tournament itu, juga seberapa bahayanya di atas arena sana. Aku berterima kasih karena telah mengkhawatirkanku, tapi maaf, aku membuat usaha pembelaanmu terhadapku menjadi sia-sia. Tujuanku adalah bertambah kuat, jika mengikuti Tournament bisa memberiku banyak pengalaman, aku tidak akan pernah melewatkannya begitu saja, walaupun nyawaku dipertaruhkan." Ucapan panjang lebar yang terdengar oleh Ellisa, sontak membuatnya hanya terdiam dengan mulut sedikit terbuka dan alis yang terkerut. Tak habis pikir dirinya kepada Ryuha yang dengan mudahnya mengatakan itu.
Tangan yang memegang bahunya digenggamnya erat-erat. "Itu, itu yang kau inginkan. Baiklah, kalau begitu. Aku tidak akan mempermasalahkannya lagi, lakukan apa yang ingin kau lakukan."
Langkah kaki padat berisi terdengar sampai wanita itu masuk ke ruangannya dan menutup pintunya rapat-rapat. Ryuha kini tak tahu harus berkata apa jika bertemu nanti, dia tak bermaksud untuk menyakiti hatinya, tapi dia juga tak bisa melewatkan sesuatu yang dapat mempercepat kultivasinya.
"Tidak perlu dipikirkan, aku yang akan berbicara dengan Ellisa. Bersiap-siaplah untuk besok!" Ucap Vella. Ryuha tak sepenuhnya paham dengan apa yang dikatakan Vella dan hanya memperlihatkan alisnya yang terkerut.
Vella yang menyadari kebingungan Ryuha sontak tersenyum. "Untuk mengikuti Tournament ini setidaknya harus berada di rangking C. Besok aku dan Vella akan melakukan Raid, Raid level A. Kau ikutlah dengan kami, jika kita berhasil, kau bisa langsung dipromosikan ke peringkat C."
Kesempatan apa lagi ini, tentu saja Ryuha menyetujuinya, tapi dirinya cukup ragu dan masih merasa bersalah kepada kakaknya.
"Sudah kubilang untuk tenang saja, Ellisa adalah sahabatku, aku berjanji akan meyakinkannya!" Ucap Vella. Mendengar itu, Ryuha menjadi lebih tenang, dirinya pun beranjak pergi setelah mengangguk kecil.
Tanpa mempedulikan orang-orang yang ada di sana, Vella terus berjalan menuju ruangan pribadi resepsionis.
Benar-benar dihiraukan, Drian hanya menggertakkan gigi dan mengepalkan erat tangannya. Dirinya beranjak pergi setelah memukul meja dengan keras, hingga meja itu sedikit retak, menaiki tangga ke lantai atas.
Di dalam ruangan pribadi Ellisa.
"Elli, apa kau ingin tahu kenapa, aku menyetujuinya untuk ikut Tournament?!" Ucapnya. Senyum Ellisa menjadi lebih jelas setelah mendengar itu. Dia berkata setelah satu helaan nafas.
"Aku tahu, aku sudah memikirkannya. Aku yang terlalu egois dan tidak memikirkannya. Selain itu, Leader Jigan sendiri yang memberikan surat rekomendasi, bukankah itu berarti anak itu diakui kemampuannya makhluk berhati dingin itu?! Sebaiknya aku tidak meremehkannya." Jawaban panjang yang terlantun dari mulut Ellisa, Vella yang mendengarnya segera tersenyum.
"Ohh iya, apa kau sudah mempersiapkan semua keperluanmu?!" Tanya Vella. Ellisa mengangguk. "Semuanya sudah lama aku siapkan, lalu, sepertinya adikku juga tengah mempersiapkan diri?!"
Ellisa yang ternyata sudah menduganya membuat hati Vella merasa lega, karena urusannya di sana sudah selesai, wanita itupun beranjak pergi meninggalkan Guild.
Di bawah terik matahari, Ryuha terus berjalan hendak pergi ke tempat Louise.
Ketika tengah berjalan santai, dirinya teringat kembali akan Guild Tournament itu, lebih tepatnya dengan kata 'Guild.'
"Itu adalah pertandingan antar Guild. Lalu, apakah Guild milik wanita itu juga akan ikut? Jika iya, pasti aku akan bertemu dengan Rin dan semuanya pasti akan runyam?!" Gumamnya. Wanita itu, yang tengah ada di pikiran Ryuha saat ini adalah Listh Carnal. Dan jika dia bertemu dengan Rin, pasti akan terjadi keributan di sana.
__ADS_1
"Ah, lebih baik aku tanyakan nanti."
Di percepatannya langkah kakinya, dirinya yang belum terlalu mahir menggunakan senapan miliknya, ingin sejenak berlatih sembari menguji kemampuan baru dari senapan yang dimodifikasi oleh Louise.
Pandai Besi Louise, Ryuha terus masuk seperti biasa. Susana di dalam yang tidak berubah, seperti biasa Louise tengah menempa peralatan-peralatan yang entah itu adalah pesanan atau dirinya yang tengah berlatih.
Menyadari Ryuha yang datang, Louise segera menghentikan ayunan palu. Dirinya lalu memberikan senapan milik Ryuha yang sudah dimodifikasinya, juga pedang panjang pesanan Ryuha.
Menerima pedang itu, Ryuha langsung mengayunkannya, itu membuat senyum puas tertera di wajahnya.
"Ini benar-benar sangat cocok! Oh iya, pedang yang aku pinjam kemarin sudah aku letakkan di sana, tapi itu sedikit rusak." Ucapnya sambil menunjuk ke arah rak.
Louise menggeleng-gelengkan kepalanya. "Itu hanya pedang biasa, tidak terlalu berharga. Double Barrel Shotgun, aku memodifikasinya agar dapat menembakkan berbagai macam peluru sihir."
Peluru sihir, itu sontak membuat alis Ryuha terkerut. Louise yang paham akan kebingungan Ryuha segera menjelaskannya.
Double Barrel Shotgun, Louise telah memodifikasinya sesempurna mungkin. Dengan sedikit melakukan penempaan ulang dan menambahkan material-material baru, kini terdapat satu tempat di mana itu digunakan untuk wadah sebuah Essence dengan Medium Level, dan kini dia memasukan Medium Ice Essence yang dia dapatkan dari pelelangan, sehingga Double Barrel Shotgun dapat menembakkan peluru dingin yang dapat memberikan Slow Effect, itu juga dapat membekukan tergantung kondisinya. Jika musuh yang terkena Slow Effect terkena percikan peluru itu, maka dia akan terbekukan.
Selain itu, sekarang Double Barrel Shotgunnya dapat menembak tanpa menggunakan peluru, melainkan menggunakan Kekuatan Magis. Juga, Essence yang ada di dalamnya tidak bersifat permanen melainkan akan semakin terkuras kekuatannya seiring Double Barrel Shotgun menembakkan peluru. Akan tetapi, itu lebih efektif daripada menggunakan peluru, karena Medium Magic Essence dapat memberikan kurang lebih lima puluh tembakan sebelum memudar habis energi di dalamnya.
"Kurang lebih itu menghabiskan sepuluh Gold, harga Medium Ice Essence tujuh Gold, dan penempaan tiga Gold sudah di diskon."
Ryuha hanya menatapnya dengan alis terkernyit, dan itu segera membuat Louise tertawa lepas. "Tenang-tenang, aku hanya bercanda!"
Louise yang ingin memodifikasinya dan dia menginginkan bayaran, jika saja tidak mendengar kata bercanda, keributan pasti sudah terjadi di tempat itu. Bagaimanapun juga, Gold saat ini adalah bagian dari nyawanya.
"Tapi, karena sudah tidak menggunakan peluru lagi, mulai sekarang kau harus rajin-rajin mencari Medium Essence agar bisa menggunakannya." Tambahnya. Itu memang cukup menyedihkan karena jika dia tak memiliki dan tidak dapat mencari Essence, tujuh Gold harus dia relakan agar tetap bisa menggunakan Double Barrel Shotgun. Dirinya pun hembuskan kasar nafasnya.
"Sudahlah, masalah belakangan tidak perlu dipikirkan rumit-rumit saat ini."
Sisa peluru di dalam cincinnya sudah tak berguna, dia pun memberikannya kepada Louise dan mulai pergi untuk latihan menembak.
Cepat hari berlalu, malam penuh bintang terasa seperti hilang saat mata berkedip. Disinari oleh cahaya mentari pagi, Ryuha berjalan menghampiri rekan-rekan partynya yang sudah menunggu di gerbang masuk Skull City.
"Perjalanan ini akan memakan waktu tujuh hari perjalanan. Tapi target kita sampai di sana dalam kurun waktu empat atau lima hari." Ucap Vella sebagai ketua tim.
__ADS_1
Setelah anggukan dari kedua rekannya, dirinya pun memimpin langkah kaki memasuki hutan yang sangat luas, terus berjalan ke utara menuju tempat tujuan mereka, dimana itu adalah sebuah wilayah hutan yang diselimuti oleh kabut yang dikatakan tidak bisa memudar, juga dipenuhi oleh makam-makam leluhur yang mati dalam perang besar, sebuah Wreckage Dungeon, Hutan Seribu Makam.
Bersambung ...