
Dibantu oleh penciuman Tempest Wolf yang tajam, jejak yang hampir memudar itu berhasil membimbing Ryuha ke sebuah kota yang bisa dibilang besar. Namun itu tak sebesar Neos City, tempat tinggal Ryuha dulu. Sebuah kota yang bernama Skull, atau Skull City.
Pintu masuk berupa gapura, yang sekilas terlihat seperti dua tulang telapak tangan. Di ujung kota itu terlihat sebuah batu raksasa bulat yang menyerupai tengkorak manusia.
Tak sedikit orang yang keluar masuk ke tempat itu dan kebanyakan dari mereka adalah pedagang yang berasal dari luar kota, yang mengendarai kereta kuda.
Memang lebih ramai daripada Neos City. Namun kondisi bebangunan di sini masih belum semegah Neos City. Suasana tradisional masih terasa erat di tempat laki-laki berbaju biru itu berada saat ini.
Melihat-lihat sekeliling, Ryuha mengamati apakah ada tempat yang mau membeli mineral-mineral yang dimilikinya. Sampai saat kepalanya terangkat setelah membuang nafas kasar.
"Kebanyakan toko hanya menjual dan tidak mau membeli! Baal, di mana aku harus menjual mineral-mineral ini?!"
Memberikan sedikit informasi kepada Ryuha, saat dia menyadari suatu tempat yang adalah sebuah pelelangan. Itu terletak tidak jauh dari batu raksasa di kota itu. Segera Ryuha berjalan menuju tempat itu.
"Tunggu-tunggu!" Sontak langkah kaki Ryuha terhenti saat mendengar ucapan Baal itu. Dari dalam tubuhnya, Baal memberitahukan kepada Ryuha jika dia merasakan satu tempat yang memiliki hawa cukup menarik. Segera dia menyuruh Ryuha untuk pergi ke tempat itu.
Berjalan dengan kebingungan, Ryuha melihat sebuah toko berbentuk persegi panjang dengan luas, lima kali tiga meter persegi, yang ada tidak jauh di depan di seberang jalan tanah yang dia lalui.
Sebuah toko yang sekilas terlihat seperti bengkel, banyak peralatan-peralatan yang tergantung dan tergeletak di sekitar tempat itu. Tepat di atas pintu kayu, Ryuha bisa melihat sebuah kata yang tersusun rapi bertuliskan, Pandai Besi Louise.
Langkah kakinya terhenti di depan pintu yang tertutup itu, jari telunjuknya menunjuk ke depan, tepatnya menunjuk tempat di depannya dengan tatapan sinis.
"Hei, hei..., siapa yang mengajarimu menilai dari luar?! Sudah-sudah, jangan seperti anak kecil dan cepatlah masuk!"
Setelah satu helaan nafas, Ryuha pun melangkahkan kakinya memasuki toko kecil itu, bersama dengan satu ucapan salam.
Benar-benar sunyi, sampai-sampai dia serasa mendengar teriakan dari hawa panas di tempat itu. Namun ada satu suara rapi yang membuat alisnya terkerut, suara yang sangat nyaring seperti saat dua bilah pedang bersentuhan. Segera dia menuju ke sumber suara, yang ada di dalam ruangan bawah tanah tempat itu.
Semakin dalam semakin panas, ruangan yang terlihat kecil itu ternyata memiliki ruang bawah tanah yang cukup besar. Semua yang ada di dalamnya terlihat sangat rapi, itu semakin membuat alis Ryuha terkerut keheranan, siapakah orang yang singgah di tempat sumpek seperti ini.
Sampai saat pandangannya menangkap sesuatu tepat di ujung ruangan. Seorang laki-laki dengan rambut merah pendek acak-acakan, hanya menggunakan celana panjang, laki-laki itu terus memukuli logam yang terlihat merah dan mengeluarkan asap.
"Permisi, Tuan Louise?!"
Tak ada jawaban sama sekali. Ryuha membuang nafas kasar lalu menghampiri laki-laki itu dan melihat apa yang tengah dia kerjakan.
Sontak mulutnya tercengang setelah melihat gerakan-gerakan yang mampu membuat mata tak ingin berpaling. Benar-benar teknik menempa yang sangat indah, para penempa di Kuil Cahaya sama sekali tak bisa dibandingkan dengan orang itu, terutama dengan keseriusan yang terukir di wajahnya.
Terlihat tua jika dilihat dari belakang, namun wajah itu memperlihatkan umurnya yang masih sepantaran dengan Ryuha.
__ADS_1
"Jika kau kemari hanya untuk melihat-lihat, lebih baik kau cepat-cepat pergi! Karena aku sedang sibuk sekarang!"
Suara itu tegas dan padat. Itu langsung menyadarkan Ryuha dari lamunan kecilnya. Ryuha pun menjelaskan perihal kedatangannya. Tentu dia menjelaskan tentang dirinya yang hendak menjual mineral-mineral miliknya.
Dan itu langsung ditolak oleh laki-laki itu. Bahkan dia sama sekali tak melirik Ryuha saat berbicara. Itu sedikit membuat Ryuha kesal. Sontak dirinya menyeringai, setelah mendapatkan satu pemberitahuan dari Baal. Dirinya tertawa kecil sebelum berbicara.
"Sepertinya kau tidak tertarik untuk membeli?! Tapi, aku pikir kau tidak akan bisa menolak setelah melihat ini?!"
Laki-laki berambut merah itu sebenarnya tidak peduli. Namun rasa penasaran kecil di hati menyuruhnya untuk sedikit melirik ke arah Ryuha. Dan benar yang dikatakan Ryuha, ayunan tangannya seketika terhenti setelah melihat benda di atas telapak tangan Ryuha.
Sebuah batu kristal berwarna hitam pekat, dengan garis-garis kecil seperti lahar yang membentuk wujud akar.
Kedua mata laki-laki itu pun bergetar, melihat satu buah material langka yang susah payah dicarinya. Kedua tangannya mulai ikut bergetar, namun dia menahannya dan langsung memalingkan wajah dari Ryuha.
"Ehem, kau mungkin beruntung karena aku berubah pikiran! Tapi aku hanya ingin membeli batu itu!"
Ryuha kembali menyeringai, kali ini dia juga menepuk keningnya.
"Sayang sekali tapi aku tidak ingin menjualnya." Dengan raut wajah dinginnya, dia mendekatkan bibirnya ke telinga laki-laki itu lalu membisikkan sesuatu.
" ... "
"Aku tidak menanggung biayanya!" Ucap laki-laki berambut merah yang terus melanjutkan pekerjaan sebelumnya.
Ryuha pun tersenyum dingin. Dia lalu meninggalkan tempat itu dan bergegas menuju pelelangan untuk menjual mineral-mineralnya.
"Hei Baal, kau ini memang benar-benar seperti Oracle ya?! Aku tidak habis pikir denganmu yang seakan mengetahui masa depan?!"
Tertawa Baal mendengar ucapan dari Ryuha itu. Memang itu berjalan sesuai rencananya walaupun sangat-sangat dadakan. Namun dirinya bukanlah Oracle yang dikatakan Ryuha, hanya instingnyalah yang membuatnya bisa terlihat seperti Oracle itu.
"Ngomong-ngomong, batu itu sangat banyak dijumpai di Kuil Cahaya. Tapi kenapa laki-laki itu seperti melihat barang langka? Ryuha, apa kau bisa menjelaskan?"
Terkejut Ryuha mendengar ucapan dari Baal. Baru kali ini dia mendengar pertanyaan yang ditujukan kepadanya dari Baal sendiri, melalui mulutnya sendiri.
Ryuha memang tidak terlalu mengerti tentang hal itu. Batu kristal hitam, Obsidian Charcoal. Memang itu lebih langka dan bagus kualitasnya dibandingkan dengan Batu Bara. Namun di Kuil Cahaya benda itu sangat mudah dijumpai. Tapi laki-laki berambut merah itu seperti melihat sebuah harta karun setelah melihatnya.
"Apa mungkin, dia seorang imigran dan di daerahnya sangat sulit untuk menemukan Obsidian Charcoal? Tidak-tidak, aku pikir di wilayah ini pun sangat sulit untuk menemukannya? Aku bahkan hanya menemukan satu potongan saja di surga mineral itu. Apa mungkin karena medannya?"
Di dalam tubuh Ryuha, Baal yang tengah duduk bersila mengangguk mendapati prediksi jawaban dari Ryuha.
__ADS_1
Yang paling jelas, yaitu prediksi Ryuha yang terakhir. Medan sangat berpengaruh terhadap kualitas dan kelangkaan suatu mineral. Namun kelangkaan sendiri bisa berbeda-beda di mata setiap orang.
Ryuha mengangguk kecil mendengarnya. Bertahun-tahun menjadi penambang, dia akhirnya mendapatkan ilmu baru yang entah itu berguna atau tidak buatnya. Namun itu tidak terlalu dia pikirkan karena tidak penting, karena yang terpenting sekarang adalah menjual mineral-mineral miliknya lalu mencari bahan-bahan yang tertulis di kertas usang yang diberikan oleh laki-laki berambut merah, Louise.
Langkah Ryuha terhenti sesaat, setelah dirinya tepat berada di depan gerbang sebuah bangunan megah bercat biru gelap mendekati hitam. Seluruh dinding luarnya sangat berkilauan bagai terbuat dari intan. Sejenak mengendalikan kaki tangannya yang gemetaran.
Melihat bangunan semegah itu, bagaimana mungkin mantan penambang sepertinya tidak gemetaran melihatnya. Dan sekarang dia akan memasukinya, itu benar-benar membuatnya grogi.
Melihat laki-laki bertingkah aneh di depan gapura kecil, seorang pelayan laki-laki tinggi kurus menghampirinya dengan raut wajah kesal.
Bersikap dengan sangat angkuh, laki-laki itu mulai melontarkan beberapa patah kalimat.
"Hei bocah! Jangan membuatku mengatakannya dua kali atau kakak ini akan marah! Cepat pergi sebelum pelanggan kami bepergian setelah melihat jelata sepertimu!" Ucapnya angkuh.
Itu seperti bahan bakar bagi Ryuha. Kaki dan tangannya yang gemetaran kecil kini kembali normal. Tidak hanya itu, rasa grogi di hatinya pun menghilang seketika. Dia yang merasa sedikit kesal tak membalas ucapan itu, dan langsung melangkahkan kaki memasuki pelelangan.
Itu langsung membuat pelayan laki-laki itu menggertakkan gigi, mengepalkan kedua tangan karena merasa marah kepada bocah yang mengacuhkannya itu.
Pelayan laki-laki itu lalu tersenyum dingin seraya berkata, "Kebetulan aku sedang tidak baik hati dan cukup bosan!"
Dari dalam cincin penyimpanannya, sebuah belati muncul, yang langsung digenggamnya erat-erat. Tanpa memikirkan hal-hal lain, sang pelayan menghentakkan kakinya lalu melesat, menghunuskan mata belati ke arah Ryuha.
Pergerakan lambat, disadari jelas oleh Ryuha. Menghindari serangan itu hanya cukup sedikit memiringkan badannya.
"Ooppp, apa itu? Apa itu cara baru menggunakan belati? Atau sebuah teknik rahasia?"
Ejekan dari Ryuha, sontak pelayan dengan jaz hitam itu kembali menggertakkan gigi karena terprovokasi.
"Cihh ini baru pemanasan!"
Hendak menyerang kembali, namun itu segera terhenti setelah Ryuha kembali berkata.
"Aku benar-benar tidak ingin bertengkar, takutnya ... "
Langsung menyeringai, bersamaan dengan jurus Emptiness Stepnya. Sosoknya seketika berada tepat di depan pelayan itu. Kedua matanya terbelalak seketika.
"Aku tidak bisa mengendalikan emosiku."
Bersambung ...
__ADS_1