
"Ini yang aku maksud tentang kemampuan khusus yang mereka miliki!" Ucap Baal.
Dengan memakan organ-organ yang dimiliki oleh makhluk lain, Gorgon dapat memperkuat seluruh kemampuannya, tubuh mereka pun juga akan ikut berubah.
Sosok yang ada di depan Ryuha, kini sudah bukan lagi wanita siluman ular, namun terlihat seperti Dewi Ular Naga, dengan sepasang tanduk seperti domba di kening, sepasang sayap seperti kelelawar, sisik-sisik yang semakin menguat, kulit tubuhnya yang ditumbuhi dengan beberapa sisik keras yang mengkilap, juga ujung persendian yang tumbuh tulang panjang nan tajam.
"Tapi tenang saja! Itu tidak bersifat permanen." Ucap Baal lagi.
Sosok itu berteriak histeris, suara yang nyaring itu sontak memenuhi seluruh ruangan, menggema di dalamnya sampai keluar lorong. Betapa sakitnya telinga Ryuha yang ada di dalam ruangan sumber suara sehingga dirinya dibuat duduk terlutut menutup kuat telinganya.
"Sialan! Kekuatannya sudah sekelas monster bintang enam?!" Gerutu Ryuha.
Cakar wanita itu yang lebih tajam lagi dari sebelumnya terbuka lebar, itu lalu diangkatnya sedikit lebih tinggi dari kepalanya.
Puluhan jarum-jarum tajam muncul di sekitarnya layaknya jarum yang menampakkan wujudnya separuh dari dalam air.
Bersamaan dengan cakarnya yang didorong maju, jarum-jarum itu melesat kencang ke arah Ryuha. Dengan kondisi Ryuha, laki-laki itu sekuat tenaga memfokuskan pikiran, segera melompat-lompat ke sana kemari, meliuk-liukkan tubuhnya menghindari puluhan jarum yang berusaha melubangi tubuhnya.
Retak bahkan hancur tanah-tanah yang dihantam jarum seukuran ibu jari itu, sosok Ryuha berdiri sigap, menatap wanita itu dengan tatapannya yang tajam. Laki-laki itu tak ingin tinggal diam, di tangannya telah berkobar api nan membara, segera sesuatu layaknya meteor melesat setelah tangan itu dipukulkannya ke udara.
Terlihat wanita itu hanya menatapnya sepele sebelum dia angkat tangan dan membuka telapaknya, memunculkan sesuatu seperti perisai yang terbuat dari kumpulan asap hitam tebal.
Booomm!!!
Asap tebal muncul setelah suara ledakan terdengar. Hempasan tangan wanita itu terus menghilangkan asap tebal itu, sedikit terbelalak matanya saat melihat lawannya yang tak nampak di pandangannya.
Tepat di belakangnya, mata pedang terhunus hendak menusuk punggung, teriakan keras juga terdengar menggema memenuhi ruangan.
Belum menyentuh sama sekali, refleks wanita itu membuat ekornya bergerak, langsung diangkat dan menampar Ryuha. Terpental jauh sampai ke ujung ruangan. Wanita itu terbang melesat hunuskan cakarnya.
Melihat itu, Ryuha tak mempedulikan rasa sakit yang dia rasakan, segera laki-laki itu hentakkan kaki, melompat ke samping sehingga cabikkan ganas wanita itu hanya berhasil meninggalkan bekas di dinding. Melihat Ryuha yang masih berada dalam jangkauan serangannya, tanpa selang waktu wanita itu cabikkan kembali cakarnya.
__ADS_1
Mudah Ryuha menghindari itu, dirinya hentakkan kakinya kuat-kuat untuk melompat menjauhi wanita siluman ular itu.
Baru saja pijakan kakinya, lagi-lagi puluhan jarum melesat ke arahnya. Dengan kecepatan itu, Ryuha hanya bertaruh dan menghindar meliuk-liukkan tubuhnya.
Crashhh!!!
Jarum menyayat lengan kanannya. Membuat pikirannya menjadi sedikit kacau.
Crashhh!!!
Lagi tersayat, kali ini di bagian paha yang membuat keseimbangannya memudar, tubuhnya goyah hendak terjatuh. Menghindar sudah menjadi sesuatu yang sulit baginya.
Tatapannya melihat ke depan, terlihat jarum-jarum itu di matanya, segera setelah mengeluarkan pedang, tanpa selang waktu dia langsung menebas-nebaskannya sampai tak ada satupun dari jarum-jarum itu yang dapat melukainya lagi.
Tak memberikan selang waktu, wanita itu segera terbang melesat hunuskan cakar tajamnya. Kali ini serangan wanita itu di sadari penuh oleh Ryuha.
Pedangnya dia lempar ke arah wanita itu, tanpa selang waktu dia menggunakan Emptiness Step, berpindah ke belakangnya, tangan kanannya yang sudah terancang-ancang telah membara kobaran api.
Itu benar-benar membuat Ryuha terkejut, betapa cerobohnya dirinya tak memikirkan hal itu saat bertarung, dan sekarang dia tak bisa menghindarinya.
Tergenggam tubuh Ryuha di tangan raksasa itu, yang terus tak berhenti didorong sampai menghantam tanah yang sangat keras sampai memberikan beberapa retakan di sekitarnya. Darah keluar saat laki-laki itu terbatuk. Pedang yang melesat pun tak berhenti sampai menancap di dinding ujung ruangan.
Wanita itu mengangkat Ryuha yang digenggamnya, menatapnya dengan tatapan membunuh yang kosong sebelum meneriakinya dengan teriakan histeris.
Sungguh Ryuha hanya bisa kertakkan giginya saat itu, merasakan tubuhnya yang digenggam erat, serasa tulang-tulangnya telah bergeser jauh di tempatnya, serta mendengar teriakkan histeris itu, darah mulai mengalir dari lubang telinganya. Tak puas dengan reaksi Ryuha setelah dia meneriakinya, wanita itu sontak semakin memperkuat genggamannya.
Kali ini tak lagi tertahan oleh Ryuha, laki-laki itu berteriak keras merasakan rasa sakit itu. Benar-benar jengkel sebab wanita itu serasa memiliki pikiran untuk menyiksanya terlebih dahulu sebelum membunuhnya.
Sebuah cakram melesat dari dalam lorong, terus tak berhenti sampai menghantam punggung wanita siluman ular itu.
Suara gesekan kedua benda itu yang saling berhantaman terdengar oleh Ryuha. Wanita itu yang terkejut oleh hal itu langsung melepaskan genggaman tangannya kepada Ryuha, yang membuat laki-laki itu terjatuh ke tanah.
__ADS_1
Diraihnya cakram itu dan segera dilemparnya ke arah datangnya benda itu. Dari dalam lorong muncul lagi benda yang aneh, lebih tepatnya itu adalah dua sosok makhluk, seperti lesatan cahaya hitam dan putih.
Lesatan cahaya hitam mengarah ke arahnya, wanita itu merasakan sesuatu seperti hawa membunuh yang sangat pekat. Pertarungan antar keduanya pun tak dapat terhindarkan.
Lemas sekali rasanya, Ryuha bahkan hanya bisa sedikit membuka matanya, samar-samar dia melihat sosok seperti dewi yang menjulurkan kedua tangan hendak menangkapnya.
Dia yang berpikir jika itu adalah imajinasinya sebelum pingsan, segera terbelalak saat mendapati jika itu terasa sangat nyata. Tangan halus yang menggenggam tangan dan mengusap rambutnya membuat matanya semakin terbuka.
"Maaf membuatmu menunggu, adik!" Suara melengking yang familiar, yang tidak lain dimiliki oleh Ellisa, dia mendengar jelas suara itu sebab Ellisa berbicara tepat di samping telinganya.
Dari cincin penyimpanan, Ellisa mengeluarkan sebuah Potion, Potion tingkat menengah dan segera meminumkannya kepada Ryuha.
Rasanya seperti dilahirkan kembali, Ryuha dapat merasakan tulang-tulangnya yang kembali ke posisinya, hanya saja rasa sakit seperti dinetralisir dari tubuhnya, staminanya pun perlahan ikut membaik.
Pelukan hangat nan erat, itu dapat dirasakan jelas oleh Ryuha, dia juga bahkan bisa merasakan apa yang ada di hati Ellisa, itu adalah sebuah rasa takut kehilangan seseorang yang dicintai, lebih tepatnya Ellisa tak ingin lagi kehilangan orang yang dicintainya.
Pelukan hangat yang tak berlangsung lama, Ellisa segera berkata, "Beristirahatlah di sini! Biar aku dan Vella yang mengurus sisanya!"
Ryuha duduk, dia langsung menggelengkan kepalanya yang membuat Ellisa merasa kebingungan.
"Aku tidak bisa tinggal diam saja melihat kalian bertarung mempertaruhkan nyawa!"
"Jangan keras kepala! Kau hampir mati, bisa-bisanya kau mengatakan itu dengan sangat tenang?!" Kesal Ellisa mendengarnya.
"Aku, ingin menjadi kuat! Jika kematian membuatku gentar untuk bergerak, maka impianku hanya akan menjadi mimpi yang akan terus menghantuiku!"
Melihat sosok Ryuha yang berbicara sambil berusaha untuk berdiri, bayangan adiknya di masa lalu tergambar di otaknya, bahkan kedua matanya juga sampai bisa melihat sosok mereka yang sepantaran.
Berdebat dengan orang yang keras kepala, ditambah dengan kondisi mereka, memang duduk berdiam adalah suatu hal yang sia-sia. Ellisa tertunduk sambil tertawa kecil.
"Kau ini memang tidak bisa dinasehati! Baiklah, jika itu keinginan adikku yang keras kepala! Kita bertiga, aku yakin makhluk menjijikan Itu akan berhasil kita tumbangkan!"
__ADS_1
Bersambung ...