
Medan perang antara Vella dan Ellisa yang bertempur melawan Cavalier Ghoul beserta pasukannya, setelah melewati pertarungan panjang akhirnya makhluk itu berhasil ditumbangkan oleh dua wanita itu.
"Adikku, kemana perginya dia tadi?!" Ucap Ellisa serius.
Meliuk-liukkan tangannya, Vella seperti tengah membuat suatu portal kecil yang terus mengeluarkan belasan kelelawar kecil dari dalamnya. Segera kelelawar itu diberikan titah, untuk mencari keberadaan Ryuha yang menghilang di tengah-tengah pertarungan.
Dari mata sang kelelawar yang memiliki kemampuan melihat dengan jelas di tempat yang gelap, jejak-jejak yang ditinggalkan oleh Ryuha pun tertemukan, mereka berdua segera bergegas tak mempedulikan hal lain selain keselamatan dari Ryuha.
...
Tepat di depan pintu masuk Perut Dungeon, laki-laki itu masih bersiap untuk membuka dua bongkah balok batu yang menempel menutupi jalan itu.
Tempest Wolf melompat dari dalam bayangan terus pijakkan kakinya di samping Ryuha.
Cahaya dari dalam ruangan perlahan terlihat saat pintu itu di dorong oleh laki-laki itu, yang semakin lama semakin memperlihatkan jelas bagaimana kondisinya di dalam sana.
Sebuah ruangan nan luas, ruangan itu terlihat seperti singgasana sana seorang pemimpin kerajaan, terdapat makam di depan singgasana yang ada di tengah-tengah karpet merah, juga empat pilar yang seperti menyangga ruangan itu.
Melihat kondisi itu dan tak melihat makhluk apapun di depan sana, Ryuha perlahan melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu, bersama Tempest Wolf di belakangnya.
Menoleh ke samping kanan dan kiri tanpa menghilangkan kesiagaan, laki-laki itu sama sekali tak mendapati apapun yang dapat membahayakan nyawanya. Namun hawa dingin membunuh tetap saja masih terasa menyengat hati.
"Dari atas!" Ucapan Baal sontak membuat Ryuha mengalihkan pandangannya ke atas.
Dua sosok wanita setengah ular menerkamnya hendak menusuknya dengan cakar tajam mereka. Sontak laki-laki itu menggertakkan gigi dan langsung menggunakan Emptiness Step untuk berpindah dekat makam, sedangkan Tempest Wolf juga melesat ke arah yang sama dengan Ryuha.
Kecepatan dan kemampuan menyembunyikan hawa keberadaan yang mereka miliki, membuat Ryuha tertegun sesaat memandangi wujud mereka.
Parasnya cantik, rambutnya lurus panjang, telinganya pun juga panjang, jika saja mereka adalah manusia seutuhnya, sudah pasti akan menjadi incaran oleh para lelaki. Namun sayang, hanya separuh dari penampilan mereka yang menarik perhatian, manik mata mereka persis seperti mata ular, tubuh bagian bawah kedua wanita itu adalah tubuh ular, dan kulit mereka walaupun putih mulus namun terdapat sisik-sisik ular di beberapa bagian.
"Gorgon, monster bintang lima! Memiliki kemampuan khusus untuk membuat tubuh mereka menjadi semakin kuat dengan suatu ritual!" Sedikit penjelasan yang dikatakan Baal. Walaupun kedua makhluk yang terlihat seperti wanita kembar itu tidak memiliki kemampuan spesial yang lain selain yang dikatakan Baal, namun tetap saja mereka adalah monster bintang lima yang sekelas dengan kakaknya Ellisa yang ada di level lima puluh empat.
Bersamaan dengan Tempest Wolf, Ryuha melesat bersiap untuk menyayatkan pedangnya ke bagian tubuh makhluk itu, begitupun dengan Tempest Wolf yang siap untuk mencabik dia yang ada di depannya.
Di saat yang sama, dua wanita siluman itu juga melesat menghampiri musuh mereka masing-masing yang ada di depan mereka.
Si kembar yang ada pada sisi kiri, Ryuha menebaskan pedangnya secara horizontal tepat ke perutnya saat mereka hampir berhantaman. Perut wanita itu benar-benar sangat fleksibel, saat mata pedang hampir memberikan goresan kepadanya, dia menekuk tulang punggungnya hingga hampir membentuk huruf U, sehingga tebasan Ryuha tak berhasil mengenainya. Tidak hanya itu, bersamaan dia juga mencabikkan jari-jari tangan kanannya yang tajam ujungnya ke wajah Ryuha.
Itu di sadari oleh Ryuha, pedangnya sama sekali tak memiliki penghalang di jalur lintasnya, sehingga dia tak menghentikan tebasannya, lalu sedikit memutar tubuh, menggerakkan pedangnya sampai bilah itu beradu dengan cabikkan wanita itu.
__ADS_1
Percikan-percikan api terlihat saat keduanya berhantaman, sebelum mereka berdua menarik kembali senjata mereka masing-masing.
Tanpa selang waktu Ryuha kembali menebaskan pedangnya secara horizontal, sasarannya masih sama. Cepat sekali refleks wanita itu, perutnya kembali ditekuk seperti sebelumnya, tidak hanya itu kali ini dia meraih bilah pedang milik Ryuha dengan tangan kirinya, genggamannya sangat kuat sampai membuat Ryuha tak kuasa untuk menariknya. Cakar tajam tangan kanannya kembali dia cabikkan ke arah Ryuha. Tak bisa menarik pedang, laki-laki kertakkan giginya, segera menggunakan Emptiness Step, alhasil cabikkan itu meleset menghancurkan tanah.
Dari arah atas, diiringi teriak keras Ryuha melayangkan pukulannya yang membara.
"Fiery Blow!"
Booomm!!!
Tepat mengenai kepala wanita itu, yang membuatnya tertunduk sampai menambah kehancuran tanah di bawahnya.
Pedang yang tergeletak di samping segera diambil, sekuat tenaga Ryuha menebaskannya secara vertikal, kuat dan cepat hingga mata biasa tak akan bisa melihat itu.
Setelah mendapatkan pukulan keras, ternyata wanita siluman ular itu tak mendapatkan luka fatal, makhluk itu yang menyadarinya sontak mengalihkan pandangan ke arah Ryuha lalu berteriak keras, menyebabkan pedang yang menebasnya berhenti di tempat, tidak hanya itu, Ryuha juga merasakan telinganya yang berdengung kuat, pandangannya pun kabur tak bisa melihat dengan jelas, membuatnya kebingungan di tempat.
Benang-benang aura ungu gelap cepat berkumpul di tangan kanannya, dengan kuat wanita itu melayangkan pukulan tepat ke perut Ryuha yang membuatnya terhempas menghantam, meretakkan salah satu pilar yang ada di dekat makam.
Lemas rasanya tubuh laki-laki itu yang berusaha untuk kembali berdiri namun hanya bisa untuk duduk terlutut, seteguk darah dimuntahkannya saat dia terbatuk, laki-laki itu mengelap darah yang tersisa di sekitar mulutnya sembari menatap tajam ke arah wanita siluman itu.
Di saat yang sama di sisi Tempest Wolf, terkaman beruntunnya terus dihindari oleh wanita itu seakan semua pergerakannya dapat dilihat di matanya.
Itu disadari oleh Tempest Wolf, segera binatang itu hentakkan kakinya untuk kembali menghindar. Akan tetapi, tubuhnya segera dihantam oleh ekor ular raksasa yang membuatnya terpental menghantam batu nisan.
Serasa tulang punggung binatang itu sedikit bergeser, segera Tempest Wolf bangkit tanpa mempedulikan lukanya.
Ryuha yang melihatnya hanya bisa kertakkan gigi ditempat dia tengah mengatur ulang pernafasan.
"Cihh, bahkan dengan kecepatan Tempest Wolf yang sudah memiliki Rune, pergerakannya masih dapat dilihat oleh makhluk itu?! Double Barrel Shotgun pun hanya bisa memberikan empat kali tembakan terakhir?! Jika menggunakan Blood Curse Sword... "
Segera bangkit Ryuha setelah membatin, berdiri di samping Tempest Wolf menatap dua wanita siluman yang juga berdiri bersampingan menatap mereka dengan buas.
"Masih ada satu jurus yang aku miliki! Tempest Wolf!"
Segera setelah lolongan panjang Tempest Wolf, tubuhnya memudar menjadi benang-benang aura yang dengan cepat menyatu dengan tubuh Ryuha, menampakkan wujud baru dari laki-laki itu.
Dengan wujudnya yang sudah berubah, di tangan kanannya tergenggam pedang panjang dan di tangan kirinya tergenggam Double Barrel Shotgun.
Melihat sosok Ryuha yang berubah, dua wanita siluman itu segera melata cepat hendak menerkam buas Ryuha. Walau cepat namun Ryuha masih bisa melihat pergerakan mereka dengan jelas, dirinya menatap tajam dia yang ada di sisi kiri sebelum menembakkan dua tembakan beruntun yang segera membuat makhluk yang melata di sisi kiri itu membeku di tempat. Rekannya yang membeku sama sekali tak dipedulikan oleh wanita siluman ular itu yang tak menghentikan pergerakannya dan malah menambah cepat lajunya.
__ADS_1
Sampai tepat berada beberapa jengkal di depan Ryuha, wanita itu mencabikkan cakarnya yang dikelilingi oleh benang-benang aura ungu gelap.
Tetap tenang laki-laki itu, sampai saat cakar itu hendak menyentuh wajahnya, dia berpindah menggunakan Emptiness Step, sosoknya yang menghilang dari hadapan wanita itu membuat cabikkannya tak berhenti sampai menghantam nisan makam.
Sosok Ryuha kini telah berada tepat di belakang wanita siluman yang membeku.
Es yang membekukan wanita itu tak mampu menahannya lama, jelas terdengar suara retakan saat Ryuha mengambil ancang-ancang untuk memberikan tebasan. Dirinya yang menyadari itu menunggu saat-saat yang tepat, sampai esnya benar-benar mencair.
Krakkk, Pyaarrr!!!
Es itu pecah berkeping-keping, sang wanita siluman yang kembali bangkit menyadari Ryuha yang ada di belakangnya dan hendak melayangkan pukulan.
Namun untuk memukul perlu mengambil ancang-ancang bagi tangannya, dan di sana Ryuha telah bersiap sampai momen yang dia inginkan tiba-tiba.
Slash, Slash, Slash, Slash, Slash, Slash!!!
Enam kali tebasan beruntun nan sangat cepat, hingga pada tebasan terakhir. Slashhh!!!
Sampai terlihat gelombang tipis transparan berbentuk sabit setelah Ryuha menebaskan pedangnya sekuat tenaga, seperti itu yang mendorong wanita siluman itu saat tubuhnya terhempas melayang, hingga berhenti setelah menghantam saudara kembarnya yang ada tepat di samping batu nisan.
Melihat kesempatan emas saat dua tubuh itu terbaring, Ryuha segera hentakkan kakinya lalu melesat menghunuskan pedangnya.
Cepat wanita itu bangkit, namun sayang sekali dia yang ada di sisi kanan tak bisa menghindar saat mata pedang terhunus sampai menembus perutnya. Sempoyongan tubuh wanita yang di tusuk Ryuha, sampai pada akhirnya dia kembali berteriak histeris yang membuat kedua telinga Ryuha berdengung, segera dia cabut pedangnya dan melompat ke belakang menjaga jarak dengan mereka.
Pendengarannya yang semakin tajam saat dalam mode penyatuan membuat efek dari teriakan itu semakin kuat, rasanya gendang telinganya hampir pecah saat itu juga, dirinya sedikit tertunduk karena pandangannya pun cukup kabur.
Mengalihkan pandangan dari musuh bukanlah suatu hal sepele saat dalam pertarungan, wanita yang tertusuk perutnya itu sudah berada tepat di depan Ryuha bersamaan dengan tangannya yang terkepal erat, yang langsung dilayangkannya tepat ke perut Ryuha.
Pukulan yang sangat kuat, Ryuha terhempas jauh ke belakang sampai menghantam mulut pintu. Beruntung dalam mode penyatuan kekuatan fisiknya ikut meningkat sehingga luka yang di dapatnya tak terlalu fatal.
Menyadari makhluk itu masih dapat memukulnya dengan kuat, bahkan setelah menerima langsung Seven Deadly Slashes dan dengan kondisi perutnya yang terkoyak, membuat kepercayaan dirinya sedikit memudar. Namun dia belum ingin menyerah begitu saja. Kembali bangkit laki-laki itu setelah memuntahkan seteguk darah.
Terlihat jelas saat wanita siluman ular itu yang saling memangsa satu sama lain, entah Ryuha tak mengetahui apa sebabnya namun dia merasa beruntung, sebelum Baal melantunkan sebuah kalimat.
"Ini dia kemampuan khusus mereka yang aku maksud!"
Benar-benar sangat ganas wanita siluman ular yang perutnya terkoyak setelah memenangkan pertarungan antara mereka, wanita itu terus memakan tubuh saudarinya, tepatnya organ dalamnya, sampai menyisakan tubuh luarnya saja.
Sungguh Ryuha hanya bisa tercengang saat melihat sosoknya setelah melahap organ-organ dalam milik saudarinya itu.
__ADS_1
Bersambung ...