( Re ) Legendary Summoner

( Re ) Legendary Summoner
Shaman Goblin


__ADS_3

Mata merah menyala, armor dari aura hitam pekat, juga senjata yang sekilas terlihat seperti terbuat dari bayangan, penampilan pasukan Goblin itu terlihat jauh lebih kuat dan mengerikan dibandingkan sebelumnya.


Akan tetapi, ada satu lagi yang menggetarkan tubuh dan menciutkan nyali, itu adalah Orc yang bangkit dari kematian dengan penampilan barunya. Matanya merah menyala, kepalanya terpasang helm hitam dengan sepasang tanduk, tubuhnya dipenuhi dengan armor gelap, tak ada satupun dari mereka yang mampu menjenjangkan kaki. Setelah susah payah menumbangkan Orc menggunakan semua yang mereka miliki, kini raksasa beserta pasukannya kembali bangkit setelah kedatangan seekor Goblin yang baru pertamakali mereka lihat.


Ryuha tertawa aneh dan bergumam dengan enggan. "Benar juga, aku melupakan makhluk itu?!"


Shaman Goblin yang sedari tadi bersembunyi, ternyata menunggu saat seperti ini sebelum menampakkan sosoknya, sehingga dirinya memiliki kesempatan menang yang lebih tinggi karena lawannya telah kehabisan tenaga.


"Siallll! Berakhir sudah." Terlutut pasrah Louise. Mau bagaimana lagi, tak ada dari mereka yang masih bisa bertarung, dirinya walaupun bisa, itu hanya akan bertahan sebentar sebelum nyawanya melayang.


Beberapa saat tertunduk termenung, Illiam kembali bangkit. Setelah satu hentakan kecil dari tongkatnya, benang-benang hijau perlahan muncul di sekitarnya.


"Setelah ini, sampaikan pesanku kepada seluruh wargaku... "


Mendengar setiap pesan-pesan yang dikatakan Illiam, Ryuha hanya termenung memandangi wajah tua itu yang sangat serius. Walaupun sedikit sakit, namun sudah seperti ini, dirinya pun tidak akan bisa menghentikan apa yang hendak dilakukan oleh Illiam itu.


Satu hentakan tongkat kembali dilakukan, sontak Magic Circle raksasa menyala di atas tanah mengitari desa itu. Dengan cepat semua kerusakan di desa itu pulih seperti dibangun ulang oleh dewi angin, tidak hanya itu, semua luka yang ada, sakit yang dirasakan, termasuk stamina, pulih seakan mereka dilahirkan ulang ke dunia.


Magic Circle mengeluarkan medan penghalang kuat seperti kaca yang terbuat dari aura angin. Tubuh Illiam ambruk di depan Ryuha, laki-laki itu segera memapah lalu menyandarkannya.


"Aku, hanyalah pengecut, jika bukan karena kalian, aku pasti sudah lari sejak penyerangan para Goblin di mulai. Hanya mengorbankan nyawaku yang tidak berharga ini, aku menyerahkan semuanya kepada kalian... " Ucapnya lemas sebelum nafas terakhir dihembuskannya.


Louise yang semula sangat kesal terhadap mereka, kini meneteskan air mata setelah melihat pengorbanan sang pemimpin desa. Ryuha segera membuang kasar nafasnya setelah sedari tadi termenung, dirinya beranjak bangkit, bersamaan dengan Louise yang terus mengelap air matanya.


"Kakek Illiam, aku berjanji, pengorbananmu tidak akan menjadi sia-sia!" Peluru senapan kembali diisinya. Dengan mantap, bersamaan mereka berdua berlari menuju medan perang.


Duarr, duarr!!!


Dua tembakan sekaligus dilayangkan oleh Ryuha untuk mengetes seberapa besar kekuatan mereka setelah bangkit kembali. Dan itu terjelaskan setelah peluru mengenai perut mayat hidup yang tertutup zirah bayangan, walaupun tumbang tapi itu membutuhkan dua kali tembakan peluru, dan itu benar-benar sangat tidak efisien karena pelurunya sangatlah terbatas.


"Tempest Wolf!" Sedikit terkejut dirinya karena Tempest Wolf tak kunjung keluar setelah satu panggilannya. Namun setelah melihat kondisi tadi, dia tak menghiraukan hal itu.


Tekanan udara kuat dirasakan, sebuah balok kayu penuh duri hendak memendengkan mereka. Sebelum itu terjadi, dua orang itu segera melompat ke arah berlawanan.


Boommm!!!

__ADS_1


Asap coklat tebal muncul setelah balok kayu itu menghancurkan tanah.


Terus berlari, Ryuha mengambil salah satu pedang yang tertancap di medan perang, laki-laki itu menyimpan senapannya dan mulai menebas mayat-mayat hidup itu. Menyadari sang raksasa yang hendak melayangkan kembali serangannya, dirinya dengan cepat mengeluarkan tekniknya yang lain.


"Ring Of Fire!" Lima buah cincin api tercipta, berputar-putar di belakang laki-laki itu. Dia melekuk-lekukkan tangan, seluruh cincin dengan cepat melesat dan mengunci pergerakan sang Orc.


Ancaman dari raksasa berhasil tertunda untuk sesaat, dia kembali menebas Goblin-goblin itu. Mendapati mereka yang terus bangkit, hatinya melantunkan pertanyaan kepada Baal tentang hal itu.


"Itu adalah teknik pembangkitan. Sayang sekali tebakan kita yang mengira Shaman Goblin itu menguasai teknik ilusi salah, melainkan dia adalah Necromancer!" Jawab Baal.


Necromancer, itu adalah seorang penyihir yang mampu menguasai teknik terlarang yang berasal dari bangsa iblis. Cara paling mudah untuk menghadapinya adalah, membasmi seluruh pasukannya.


Pedang ditangannya hancur setelah ditebaskannya beberapa kali, dirinya segera memukul goblin itu dengan Fiery Blow, sehingga makhluk itu terhempas menumbangkan makhluk-makhluk di jalur lesatnya. Laki-laki itu menggertakkan gigi. "Apakah tidak ada cara lain untuk mengalahkannya?"


"Tentu saja ada!" Jawab Baal. Serius wajah Ryuha menunggu kelanjutan jawaban itu. Namun, alisnya langsung terkerut setelah mendengar kelanjutannya. Pasalnya, menghadapi Goblin-goblin itu sudah membuatnya geregetan, ditambah Orc yang entah bagaimana dia harus mengalahkannya, dan cara yang dikatakan Baal adalah mengalahkan langsung sang Necromancer yang dijaga ketat oleh pasukannya. Teknik serangan area tak dimilikinya, menggunakan Emptiness Step untuk berpindah ke tengah-tengah kerumunan itu sangat beresiko, bagiamana cara melakukan itu? otaknya benar-benar tak bisa berputar.


Ryuha menggertakkan giginya. "Baal, apakah harus menggunakan itu?" Dalam pikirannya hanya ada Blood Curse Sword. Baal menghela nafas dan berkata. "Yahh, tidak ada cara lain sihhh"


Langsung memejamkan matanya, manik merah itu berganti menjadi mata iblis milik Baal setelah katupnya terbuka. Menggunakan Emptiness Step, dia berpindah ke tempat Louise. Dengan senapannya dia langsung menembakkan satu peluru yang mementalkan Goblin-goblin di depannya.


"Dengar! Ini bukan masalah pengecut atau tidak! Aku membutuhkanmu untuk menolongku setelah semuanya selesai! Karena setelah menggunakan teknik ini, tubuhku akan langsung kehabisan tenaga!" Sedikit menampakkan matanya yang menakutkan, itu sontak membuat Louise bergidik ngeri.


Hancur cincin api yang melilit sang Orc, makhluk itu segera meraung keras sebab amarahnya sudah memuncak. Pandangan keduanya sontak beralih ke arah itu. Ryuha menggertakkan giginya.


"Magic Circle itu dapat memulihkan semuanya! Apa kau paham?" Ujar Ryuha lagi. Sedikit tertunduk laki-laki penuh armor besi itu. Dirinya yang paham dengan apa yang dikatakan Ryuha mengangguk kecil dan langsung beranjak meninggalkan medan perang. Sontak Ryuha tersenyum pahit.


"Baiklah, sekarang saatnya acara utama dimulai!" Mendengar itu Baal segera membuang kasar nafasnya. "Menarilah di atas panggung! Tapi jangan lupa untuk tidak mengaktifkan Blood Offering!"


Tak menghiraukan ucapan Baal, dua tembakan segera dilayangkan olehnya, membuat Goblin-goblin yang berdatangan langsung terpental kembali ke belakang.


Sang Orc yang masih dipenuhi oleh amarah kembali mengayunkan baloknya untuk memukul Ryuha, bersama teriakan ganasnya.


Di medan perang yang terbuka, Ryuha hentakkan kaki untuk melompat ke belakang. Sesaat setelah asap coklat muncul, Ryuha kembali melompat dan berlari di atas balok kayu.


Peristiwa yang sama dialaminya saat melewati jalan itu, dan semuanya sudah sesuai dengan rencana. Dirinya melompat tinggi sebelum tamparan itu mengenainya, beralih jalan ke lengan kiri sang Orc, terus berlari secepat mungkin menuju wajah buruk rupa itu.

__ADS_1


Diraihnya Blood Curse Sword di punggung. Balutan itu terbuka dengan sendirinya oleh tekanan angin kuat, memperlihatkan bilah merah semerah darah yang sedikit berkilauan. Segera dia menebas wajah itu.


Crassh!!!


Terbelah menjadi dua, memperlihatkan otak kenyal di tengkorak, mencucurkan cairan ungu kental berbau anyir. Serangan tak selesai dengan itu, diiringi teriakan keras Ryuha menebas-nebaskan Blood Curse Sword.


Slashh, slashh, slashh, slashh, slashh!!!


Lima kali tebasan beruntun yang semakin lama semakin ke bawah, sampai di kaki raksasa itu. Hingga pada tebasan terakhir, Slashh!!!


Angin berhembus kencang, berputar-putar di sekitar Ryuha. Tubuh raksasa yang tercincang terpental ke udara, beserta Goblin-goblin yang ada di sekitarnya, hingga berjatuhan di medan perang memendengkan puluhan Goblin berzirah hitam.


Itu juga bukanlah akhir dari serangan, laki-laki itu terus menebas-nebaskan Blood Curse Sword, seperti seorang penari pedang yang tengah berpentas di atas panggung.


Louise yang melihat itu dari kejauhan hanya bisa ternganga, terkagum menelan ludah tanpa bisa berkata apa-apa.


Dengan teriakan keras, pedang itu terus menebas puluhan bahkan ratusan Goblin. Sampai pada saat jeda Emptiness Step telah berakhir, tatapannya tajam menatap Goblin berjubah hitam di tengah-tengah kerumunan.


Slashh!!!


Kilatan cahaya merah terlihat lurus. Sosok Ryuha telah berada tepat di belakang Shaman Goblin. Dengan cepat, satu persatu Goblin berjatuhan dengan tubuh yang terbelah. Sedangkan mereka yang masih berdiri, hancur menjadi aura gelap setelah sosok Shaman Goblin jatuh dengan tubuhnya yang juga terbelah.


Kaki Ryuha langsung gemetaran, dia segera terlutut tak kuasa menahan tubuhnya. Louise yang menyadari itu segera berlari menghampirinya. Terus memapahnya memasuki Magic Circle sesuai yang diperintahkan Ryuha.


Dadanya yang sesak, matanya yang mengerikan, tubuhnya yang lemas, itu segera pulih setelah benang-benang angin meliliti tubuhnya.


"Uhukuhukuhuk!" Sedikit darah keluar saat dia batuk. Louise segera meminumkan air kepada Ryuha. "Ryu, bertahanlah!" Wajahnya itu benar-benar panik.


Ritme pernapasan Ryuha mulai kembali normal, bersamaan dengan cahaya Magic Circle yang memudar, dirinya duduk lalu menyandarkan dirinya ke tembok bangunan. Louise akhirnya bisa duduk bersandar menghembuskan nafas lega.


"Dasar monster! Kau benar-benar membuatku takut!" Kesal Louise. Mendapati reaksinya setelah melihat langsung dirinya saat menggunakan Blood Curse Sword, sontak Ryuha tertawa kecil.


"Hei, aku harap kau tidak mengatakan apa yang kau lihat!" Ujar Ryuha bercanda. Itu membuat Louise membuang kasar nafasnya.


"Kau pikir aku sudah bosan hidup?" Keduanya pun tertawa kecil, menghilangkan rasa stres yang ada di benak mereka.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2