
Sudah hampir seminggu sejak kejadian itu, Zura memilih bertugas keluar kota dan selalu kembali kerumahnya, Jiko masih berada di rumah nya sedang kan ayah dan ibu nya sudah kembali ke negara nya, pak Han menemui Jiko yang sedang duduk termenung di teras samping
"Jiko" panggil pak Han
"ayah "Jiko menoleh dengan sedih, pak Han tau bagaimana keadaan rumah tangga Zura dan Jiko saat ini, namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia juga tau bagaimana perasaan Zura saat ini,
"sudah ada kabar dari Zura hari ini?" tanya pak Han, Jiko Hanya menggeleng
"aku sudah mencoba menelpon nya namun Zura tidak merespon telpon ku, aku chat namun Zura juga tidak membalas" ucap Jiko sendu
"sabar lah Jiko, ayah tau bagaimana perasaan mu, tapi ayah juga tau bagaimana perasaan Zura saat ini, berikan Zura waktu untuk menenangkan hati nya , dia sangat terluka dengan semua ini"ucap pak Han menenangkan Jiko
"iya ayah, Jiko mengerti, Jiko akan menunggu sampai semua membaik,dan Jiko berharap suatu saat nanti Zura bisa memaafkan Jiko "ucap Jiko
__ADS_1
"tidak apa jika Zura tidak merespon telpon mu atau pun tidak merespon chat mu , tidak ada yang sia sia, ayah yakin suatu saat lagi Zura akan luluh dengan semua usaha dan perhatian mu" ucap pak Han membuat Jiko semangat
"iya ayah, terimakasih Jiko akan selalu bersabar "jawab Jiko
"ayo kita makan, hari sudah siang "ajak pak Han
sementara itu Zura sedang berada di kantor cabang saat orang kepercayaannya menelpon nya, awalnya Zura berpikir bahwa Jiko yang menelpon nya, Zura langsung mengangkat telpon begitu tau sang penelepon
"selamat siang nona Zura"terdengar suara dari sebrang
"baik lah , awasi semua aku akan segera datang"ucap Zura
"baik nona"ucap nya lalu menutup telpon, beberapa pesan masuk Zura dengan teliti mengawasi Vidio kiriman orang kepercayaannya tadi, lalu menelpon Amara
__ADS_1
"hallo"terdengar suara Amara diseberang
"temui aku di cafe tempat kita bertemu Minggu lalu 2 jam lagi"ucap Zura tegas , sebelum Amara mengiyakan Zura sudah menutup telpon nya membuat Amara kelabakan karena Amara tidak pernah berpikir bahwa Zura akan menemuinya secepat ini, Zura melangkah lebar memasuki cafe, terlihat Amara duduk dengan gelisah di meja nomor 18 menunggu kedatangan Zura, begitu sampai Zura langsung duduk dihadapan amara, lalu meletakkan sebuah amplop besar dihadapan Amara
"apa ini"tanya Amara
"buka lah"jawab Zura, dengan sedikit gemetar Amara meraih amplop itu dan membuka nya, wajah Amara terlihat pias setelah Melihat isi amplop itu
"apa ini, kamu merekayasa semua ini karena kamu tidak ingin melepaskan Jiko padaku" ucap Amara prustasi, bahkan suaranya kasar membuat beberapa pengunjung menatap nya, Zura hanya memandang nya Tampa expresi,lalu Zura mencondongkan Wajah nya kedekat Amara sambil berkata
"bukan kah aku pernah bilang,aku akan mencari tau tentang ini dan jika apa yang kamu katakan adalah sebuah kebohongan maka perhatikanlah langkah mu, kamu tidak mengenal ku Amara,tapi sebaliknya aku tau segala hal tentang mu" ucap Zura lalu kembali duduk seperti semula , Amara sampai berkeringat mendengar ucapan Zura
"semua orang yang berhutang dengan semua ini sudah ku aman kan termasuk pria ini"ucap Zura sambil meletakan sebuah Poto pria dihadapan Amara dan kali ini wajah Amara benar benar seputih kapas.
__ADS_1
Zura memasuki halaman rumah utama dengan wajah datar, walau Zura tau semua adalah rencana Amara namun Zura sangat kecewa karena Jiko memang melakukannya bersama Amara Malam itu, dan Zura makin kecewa karena Jiko tidak mengatakan apapun sebelum pernikahan.