
Malam itu Zura memanggil Jiko keruang kerja nya, entah mengapa perasaan Zura tidak nyaman, setelah lama tidak bicara pada Jiko,suara ketukan membuat Zura tersentak
"masuk"jawab Zura, Jiko melangkah ragu menghampiri Zura yang duduk di sofa "duduklah"ucap Zura lagi
"Zura"panggil Jiko masih ragu",ada apa kamu memangilku"tanya Jiko Ahir nya
"bukankah selama ini ada banyak yang ingin kamu katakan padaku,aku memanggil mu kemari agar kamu bisa mengatakan semua keinginan mu selama ini"jawab Zura membuat Jiko terdiam, memang benar selama ini Jiko sangat ingin bicara pada Zura tapi entah mengapa saat Zura dihadapan nya Jiko malah hanya bisa terdiam
"kamu tidak ingin bicara?" tanya Zura lagi
"Zura, maaf karena aku sudah menyakiti mu, sengaja atau tidak aku sudah melukai perasaan mu,tapi aku tidak bermaksud seperti itu" ucap Jiko akhirnya, sesaat Zura hanya diam
"aku butuh waktu Jiko, karena ini sangat sangat berat bagiku, aku harus bertarung dengan hatiku setiap waktu, aku tau apa yang terjadi tapi aku juga tau kamu melakukan nya dengan Amara, Jiko beri aku satu alasan untuk mempertahankan mu" ucap Zura
__ADS_1
"aku tidak punya alasan untuk bisa kamu pertahankan, karena aku tau semua telah terjadi walaupun diluar dari kesadaran ku"jelas Jiko dengan sedih
"aku tau Jiko tapi saat ini Amara sedang mengandung kita tidak tau anak itu anakmu atau bukan saat ini kita hanya bisa menunggu "ucap Zura ada pembicaraan yang panjang antara Zura dan Jiko malam itu, akhirnya mereka sepakat untuk tinggal terpisahkan hingga anak Amara lahir, dengan sedih Jiko kembali kekamar sedangkan Zura kembali ke rumah utama tidur terpisah membuat Jiko sangat tersiksa , ucapan Zura membuat Jiko mengerti betapa pentingnya sebuah kejujuran
"harusnya kamu mengatakan hal ini sebelum pernikahan,jika saja Kamu jujur mungkin semua tidak akan seperti ini"ucap Zura tadi membuat Jiko semakin merasa bersalah.
Ahir Ahir ini hubungan antara Jiko dan Zura semakin jauh Amara juga mulai sering menghubungi Jiko, kehamilan nya adalah senjata yang membuat Jiko juga Zura tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu.
pagi itu Zura dan pak Han ada dimeja makan saat Jiko kluar kamar
"Adryan, kenalkan ini Jiko suami ku, Jiko ini Adryan teman Pia"kenal Zura ,Jiko terlihat lega dan saling berjabat tangan. sudah lama mereka tidak makan bersama sarapan pagi itu terasa hangat setelah sarapan Pia dan Adryan pergi ke paviliun pak Han pergi kekantor sedangkan Zura ada diruang kerjanya Jiko memberanikan diri menemui Zura, ketukan pintu membuat Zura mendongak "masuk"ucap Zura, Jiko melangkah mendekat
"Zura"panggil Jiko membuat Zura menghentikan aktivitas nya dan menutup leptop nya
__ADS_1
"ada yang ingin kamu katakan padaku?" ucap Zura sesaat Jiko terdiam
"aku sangat merindukan mu Zura,"ucap Jiko lalu menunduk, mendengar itu Zura tersentak rasa sakit itu kembali Zura rasakan, sebenarnya jauh dari Jiko Zura juga merasakan rindu yang dalam namun hal ini Zura lakukan untuk mengantisipasi semua hal buruk yang mungkin saja terjadi, Zura bangkit menuju sopa dan duduk dengan tenang.
"maaf Jiko bukan aku tidak tau itu tapi bukankah kita sudah membicarakan ini sebelumnya"ucap Zura.
"Zura, bagaimana Jiko anak itu anakku, apakah kamu akan meninggalkan aku?"tanya Jiko sedih
"lalu bagaimana dengan mu apa yang akan kamu lakukan jika hal itu terjadi?"Zura balik bertanya
"apapun yang terjadi aku tidak ingin berpisah dengan mu, apakah kamu bisa menerima anak itu jika nantinya anak itu anakku?
Zura aku merasa sangat lelah, aku ingin hari saat ini bisa tidur dengan tenang, tolong ijinkan aku tidur sebentar disini "pinta Jiko dan ahirnya Zura setuju
__ADS_1
"tidur lah disini"ucap Zura sambil menepuk sofa kosong disebelahnya Jiko menurut dan tidur disebelah Zura tak lama Jiko sudah terlelap Zura mendekat dan meletakkan bantal juga menyelimuti nya ,sesaat Zura terdiam mendapatkan wajah Jiko yg terlihat kurus, lingkaran hitam diarea mata terlihat, jelas sekali Jiko tidak tidur dengan baik selama ini, dan membuat Zura merasa sangat bersalah.