"Pengkhianatan Yang Tak Di Sengaja"

"Pengkhianatan Yang Tak Di Sengaja"
"jatuh cinta! "


__ADS_3

Beberapa sa'at keharuan kabar yang di terimanya membuat Aldo semakin mengagumi dokter Lauren.


Dia tidak menyangka, ternyata selama ini ibunya selalu dekat dengan dirinya. Bahkan dia tau betul kasih sayang yang di berikan ibunya kepada Jesyca sangatlah tulus.


Bahkan dia sempet berpikir jika dirinya mempunyai ibu seperti Ibu Jeslyn.


Aldo terus menangis seperti seorang bayi kecil di pelukan dokter Lauren, sampai ia tertidur.


Dokter Lauren merasa kebingungan dengan keadaan Aldo, ingin sekali membangunkannya, tetapi rasa iba membuatnya memberikan pelukan tersebut sedikit lama.


Sampai dia sendiripun ikut tertidur menyender di sebuah sofa yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.


Beberapa orang di luar merasa kebingungan, dua orang yang di tunggu tunggu tidak kunjung keluar dari rungan tersebut.


Para pengunjung sudah mulai sepi, tertinggal dua orang bodyguard dokter Lauren dan satu orang pria yang selalu memperhatikan dokter Lauren tadi.


Satu orang Bodyguard dokter Lauren berbicara kepada salah satu pegawai di Cafe tersebut yang berada di dalam bartender, orang tersebut merupakan kaki tangan Aldo.


"Usir orang itu dari Cafe ini sekarang! " bilang Cafe ini akan tutup! " bisiknya.


"tapi tuan! "


"Kau tau siapa dia? " ujar salah satu bodyguard itu.


pegawai itu geleng kepala.


"dia adalah mata-mata yang di kirim oleh Alexandre! " bisiknya lagi.


Sontak orang kepercayaan dan kaki tangan Aldo pun langsung memicingkan matanya tajam ke arah satu pria tadi.


"akan ku hajar dia! " pekiknya.


"jangan lakukan hal bodoh, biarkan dia pergi jangan menghajarnya! " ujar bodyguard itu.


satu orang kepercayaan Aldo pun menatap heran bodyguard itu.


"tuan mu dan nona ku sedang berdiskusi di dalam, jangan sampai mengacaukan mereka, tunggu mereka keluar jika kau ingin menghajarnya! " ucap Bodyguard itu.


Akhirnya satu orang kepercayaan Aldo pun mengangguk pelan, tanda mengerti apa yang di ucapkan oleh pria di hadapannya.


Dia pun berjalan menghampiri pria yang duduk di table no 13 yang sejak tadi tidak beranjak kemana-mana.


"maafkan kami tuan, Cafe kami sudah akan tutup, silahkan datang lagi lain waktu. " ucap pegawai itu.


"sial! " dia sengaja mengusir ku! " bagaimana ini, aku tidak mendapat informasi apa-apa kali ini, pasti tuan besar akan sangat marah dengan ini! " batinnya.


Dengan terpaksa dia berdiri sambil matanya masih tetap menatap ke arah pintu kecil yang berada di dalam bartender.


"Silahkan! " ucap orang kepercayaan Aldo sambil mengulurkan satu tangannya ke arah pintu keluar.


Orang tersebut mau tidak mau keluar.


Sesaat setelah orang itu pergi, orang kepercayaan Aldo pun menyuruh para pegawai lainnya menutup Cafe tersebut.


Dua orang bodyguard nya dokter Lauren pun keluar dari Cafe tersebut, dia menuju parkiran yang tidak jauh dari Cafe itu sambil menunggu nonanya keluar.

__ADS_1


Sebelum mereka pergi salah satu dari mereka pun memberi pesan kepada orang kepercayaan Aldo untuk jangan menganggu tuan mereka.


Dengan patuh, orang kepercayaan Aldo pun menganggukkan kepalanya.


Di dalam, Aldo yang sudah terbangun mengintip dengan ekor matanya ke arah wajah dokter Lauren yang tertidur lelap.


Perlahan Aldo mengangkat kepalanya dari bahu dokter Lauren.


Wajahnya menyunggingkan senyuman bahagia.


Ada rasa aneh dalam dada Aldo, seketika itu pun dia melupakan gadis yang selama ini dia sukai yaitu Jesyca.


"Dug dug! jatung Aldo berdetak sangat kencang, sesaat setelah tangan dokter Lauren memegang tangan Aldo dengan kencang.


Sesaat itu pula mata dokter Lauren perlahan menatap Aldo yang sedang menatap dirinya.


Di antara sadar dan tidak sadar, dokter Lauren merasa di perhatian seseorang, setelah dia membuka matanya ternyata memang betul, Aldo sedang menatapnya.


"Aahhh, kau sudah bangun? " ucapnya sambil membuang tatapannya ke berbagai arah.


Aldo dengan gelagapan dia mengangguk, sedangkan tangan dokter Lauren masih berada di atas tangan Aldo, memegangnya dengan erat.


"marry, aku hanya bermimpi! " batin dokter Lauren sambil menarik napas panjang.


Aldo masih tetap menatap dokter cantik itu dengan penuh pertanyaan.


Karena genggaman tangannya tidak juga di lepaskan.


"aahh, sorry, ku pikir aku menggenggam tangan Merry. " ucap dokter Lauren dengan cepat dia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Aldo.


"Merry? " apa dia, Merey yang di~


"Iyah, dia adalah adik ku! " potong dokter Lauren.


"tunggu, bukannya dia adalah seorang budak di keluarga Achille? "


"heemmm, " wajah dokter Lauren seketika menjadi sayu.


"Ceritanya panjang, kenapa adik ku bisa merelakan dirinya untuk menjadi budak di keluarga itu! " jelas dokter Lauren, membuat hati Aldo penasaran.


"pantas saja wajahnya sangat mirip, ternyata mereka bersaudari! " batin Aldo.


Dia yang tidak mengetahui hal tersebut merasa salut dengan Merry dan dokter cantik di hadapannya.


"Ya sudah, jangan bahas adik ku dulu, besok kamu datanglah ke alamat ini, ibumu ingin bertemu, jika kalian bertemu di sini, akan sangat berbahaya untuk ibumu. " ujar dokter Lauren.


Aldo menganggukkan kepalanya.


"Dok, terimakasih untuk semua yang telah kamu lakukan dengan ibuku. " ujar Aldo.


Dokter Lauren pun tersenyum manis kepada Aldo, dia menganggukan kepalanya sambil memegang bahu Aldo.


"jangan sungkan, jika kamu butuh apa-apa, datanglah ke alamat ini. " dokter Lauren pun memberikan sebuah kertas kecil yang memang sudah ia sediakan dari sebelumnya.


"tapi ingat, jangan pernah membawa siapapun ke alamat ini dengan menanyakan namaku! " di situ ada kode yang hanya di ketahui oleh orang-orang ku, dan sekarang aku akan memberikan kode tersebut. "

__ADS_1


"apa kodenya? " potong Aldo.


Dokter Lauren pun tersenyum.


Membuat Aldo semakin gemas dengan tingkah dokter cantik itu, perbedaan usia di antara keduanya memang terbilang sedikit jauh. dokter Lauren sedikit lebih dewasa di banding usia Aldo.


Tetapi perasaan itu, Tiba-tiba tumbuh di hati Al.


"Kodenya adalah, Resep obat 112." bisik dokter Lauren di telinga Aldo.


Sontak membuat jantung Aldo kembali berdetak tidak karuan, kertas yang di pegang nya terjatuh ke lantai seketika.


Hembusan napas dokter Lauren yang berbisik di telinga Aldo membuat Aldo terpaku, mengacaukan kesadaran nya.


Sesaat dokter Lauren membelakangi Aldo bermaksud ingin keluar dari ruangan tersebut, tetapi tangan Aldo tiba-tiba menahan pergelangan tangan dari dokter Lauren.


"Set! " Gep! "


Aldo yang sudah tidak bisa menahan perasaan nya kepada dokter cantik itu, tiba-tiba menarik badan dokter Lauren dan memeluknya.


Tarikan tangan Aldo membuat dokter Lauren terkejut, sesaat badannya sudah menempel di dada bidaknya Aldo.


Tanpa sepatah katapun Aldo mendekap tubuh dokter Lauren.


"Dug, dug, dug! " jantung keduanya berdetak dengan begitu kencangnya.


Anehnya dokter Lauren merasa begitu nyaman dengan perlakuan Al tersebut, ada rasa yang tidak bisa menolaknya.


Keadaan menjadi hening, hanya detak jantung keduanya yang berirama.


Aldo yang mendapat respon pun tidak membuang kesempatan, perlahan dia memegang wajah dokter Lauren dengan kedua tangannya, menengadahkan wajah itu ke bawah wajahnya.


"cup! " bibir keduanya pun beradu dengan lembut, membuat mata dokter Lauren membulat sempurna.


Tapi sesaat dia menikmatinya.


Cukup lama mereka menikmati bibir satu sama lain, terasa sangat manis di rasakan keduanya.


Keduanya larut dalam perasaan masing-masing.


Aldo melepaskan ciumannya dengan lembut dan masih tetap memegang wajah dokter Lauren, dia menatapnya penuh cinta.


Aldo sudah benar-benar melupakan cintanya kepada Jesyca yang bertepuk sebelah tangan, dan dia sudah benar-benar jatuh cinta dengan wanita di hadapannya.


Dokter Lauren hanya terdiam merasa berdosa, seharusnya dia tidak melakukan hal memalukan tersebut. pikirnya.


Dia pun bergegas melepaskan pelukan dari tubuh Aldo, tetapi tangan Aldo menahan tangannya.


"jangan pergi! " bisik Al. sambil memeluk tubuh dokter Lauren dari belakang.


"tidak seharusnya kita melakukan ini! " jawab dokter Lauren, dengan wajah memerahnya.


Aldo perlahan melepaskan pelukannya.


Dokter Lauren pun bergegas keluar dari ruangan tersebut tanpa menoleh, Aldo menatapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


"kau juga menikmati nya, aku tau itu! " batin Al, sambil tersenyum bahagia.


__ADS_2