
Malam bergulir dengan cepat, waktu menunjukkan pukul 5 pagi, semua penghuni sedang terlelap, di sebuah kediaman Alex Michel dan Merry sedang bercakap begitu serius.
Michel menjelaskan rencananya kepada Merry, dengan senang hati Merry memeluk Michel.
Setelah sekian lama dia mempunyai kesempatan untuk bebas dari keluarga Achille.
"Semua ini berkat kakak mu yang selalu berbuat baik kepada semua orang. " walaupun dia dulu berada di bawah perintah Alex, tetapi dia tidak kehilangan rasa kemanusiaan nya. " orang yang berbuat baik, akan mendapat karma yang baik! " ujar Michel sambil memeluk Merry.
Merry pun seperti pendapat seorang ibu baru.
Matanya sembab, air matanya berkali-kali membasahi pipinya.
"Jadilah wanita kuat seperti kakak mu! " bisik Michel di telinga Merry sambil mengelus punggung gadis malang itu.
Merry menganggukkan kepalanya sambil mengeratkan pelukannya.
"sudahlah, jangan menangis lagi, kembalilah ke kamar mu, nanti yang lain curiga. "
"Baiklah Bu. " terimakasih. "ucap Merry sambil melepaskan pelukannya.
Michel membelai rambut Merry menyelipkannya ke belakang telinga.
" aku tidak sabar ingin bertemu dengan putraku, dan ingin memeluk Jesyca walaupun aku tau dia bukan putriku, tetapi dia sudah ku anggap sebagai putri ku. " batin Michel.
Merry pun keluar dari kamar Michel, dia mengendap ngendap supaya orang-orang Alex tidak melihatnya.
waktu bergulir, pagi harinya di kediaman Achille seperti biasa Alex berangkat ke kantor pagi-pagi sekali, karena hari itu dia mempunya pekerjaan penting dengan perusahaan Grup Shinoda.
Sedangkan Jeslyn palsu sedang memerintahkan para pelayannya untuk menyiapkan sarapan para tamunya.
Syam yang masih berada di kamar tamunya menyusun rencana. Dia harus bisa membawa wanita itu keluar dari kediaman Achille.
"Syam, jangan berbuat bodoh! ingat rencana kita dari awal. Buatlah aku menjadi pegawai di keluarga ini! " pesan singkat dari Michel pun mengurung kan niat Syam.
"target kita bukanlah wanita itu, tetapi Alex! "
Syam pun mempunyai rencana lain.
"Baiklah, kalo begitu aku akan membuat Jeslyn palsu itu percaya bahwa aku ada di pihak mereka. "
Balasan pesan dari Syam kepada Michel.
"teruskan rencana awal kita! ingatlah biarkan mereka menganggap kita memusuhi keluarga Shinoda. " pesan yang di baca Syam.
Syam pun keluar dari kamarnya, dia mencari keberadaan Jeslyn palsu.
Syam mengintip dari lantai 3 ke lantai bawah, terlihat oleh Syam Jeslyn sedang memerintahkan para pelayan di lantai dasar.
_____________________________________________
Di kediaman Shinoda, Novak sedang berbicara di dalam telepon. Dia yang sudah menyusun rencana untuk bekerja sama dengan perusahaan Achille memerintahkan Ken sendiri yang mengurus semuanya.
Sedangkan Ken yang sudah tiba di apartemen nya Nicolas dari semalem, dia memberikan misi penting kepada Will dan Nicolas.
__ADS_1
Mereka bertiga pun menyusun rencana untuk membuat Alexandre Achille masuk dalam perangkap mereka.
Sedangkan di tempat lain, Aldo yang sudah mengetahui ibu kandungnya dan akan bertemu hari ini begitu sangat antusias sekaligus merasa sangat sedih, karena bayangan masa lalu.
"maafkan aku bu! " batin Al sambil menghela napas panjang.
"tuan apa di Sana akan bertemu dokter Lauren? " pertanyaan orang kepercayaan nya membangunkan lamunan Al.
Wajahnya seketika berubah menjadi hangat, membuat salah seorang orang kepercayaannya bertanya-tanya.
"ada apa dengan tuan Al hari ini?, dan dari semalem dia terus saja senyum-senyum sendiri! " batin Erick orang kepercayaannya Aldo.
"Rick! "
" Iyah tuan! " jawab Erick, panggilan dari tuannya membuyarkan pikiran Erick.
"apa pakaianku sudah sesuai? " Tanya Al sambil membetulkan kancing lengan baju kemejanya, seketika dia lupa dengan bayangan suram masa lalunya, setelah mendengan nama dokter Lauren di sebut nya.
"Heemmm! seperti nya warna ini terlalu mencolok tuan! " cobalah pakai warna hitam! " atau warna yang sedikit gelap! " saran Erick membuat Aldo membuka lagi kemejanya.
" coba kau pilihkan, bantu aku! " perintah Al.
Dengan sigap Erick mencari beberapa kemeja di lemari tuan nya.
"ini tuan! " cobalah yang ini. " ujar Erick sambil memberikan kemeja biru dongker kepada Al.
Aldo menatap wajah Erick dengan seksama sambil mengambil kemeja yang di sodorkan olehnya.
Dia pun menarik napas panjang sambil memasukan lengannya ke lengan kemeja.
"Tuan! apa anda sudah tidak menginginkan Erick lagi? " jawab Erick, terlihat sedih di raut wajah Erick. Karena dia pikir tuannya sudah tidak menginginkan nya lagi.
Sekali lagi Aldo menarik napas panjang.
"Jika kamu terus ikut aku, kau akan menjadi susah nantinya! " ujar Aldo menatap wajah Erick.
"Saya tidak perduli! " tuan bukan saja ku anggap sebagai tuan, tetapi sudah ku anggap sebagai penolong ku! " tuan ingat, sewaktu aku hidup di jalanan tuan lah yang selalu membantu ku dalam segala hal!" jawab Erick membuat Aldo sedih, teringat kembali sewaktu hidupnya di jalanan dulu.
"Sudahlah Rick, jangan ungkit masa itu! "
"saya tidak akan kemana-mana! matipun saya akan mengikuti tuan! " tegas Erick.
"hahahah, kau ini! baiklah jika itu pilihanmu, ingatlah jangan menyesal nantinya! " Al tertawa sambil menunjuk ke arah wajah Erick.
Erick tersenyum sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatel.
"masalah tuan adalah masalahku! jika aku harus mati bersama tuan melawan ayah angkat mu, aku tidak akan menyesal! " batin Erick sambil menatap wajah Aldo.
Dia yang sudah mengetahui masalah tuannya, semalem Aldo menceritakan semuanya kepada orang kepercayaan nya itu.
Erick di angkat menjadi orang terdekatnya Aldo, di kala Alex menyuruh dirinya mengerjakan pekerjaan pekerjaan kotor dulu.
"Rick, ayo kita berangkat! " ujar Aldo sambil merapikan rambutnya.
__ADS_1
Mereka pun berangkat ke tempat alamat yang di berikan dokter Lauren kemarin.
Butuh waktu 1jam untuk sampai di alamat yang di tuju, Aldo yang sudah berada di parkiran alamat tersebut pun menatap gedung di hadapannya.
"apa betul tempatnya ini Rick? " tanya Aldo.
Alamat nya sudah betul tuan.
"Baiklah aku akan masuk, kau tunggu saja di sini! " ujar Al.
"siap tuan. " jawab Erick.
Setelah Aldo keluar, Erick pun mengawasi sekitar, takut-takut ada seseorang yang memata matai mereka seperti di Cafe kemarin.
Sedangkan Al, dia melihat tulisan di samping pintu kaca di gedung tersebut tertulis, KLINIK KECANTIKAN.
Di dalam Michel sedang menunggu dengan gelisah, matanya terus menatap ke arah pintu rahasia yang berada di dalam ruangan tersebut.
Sedangkan Syam berada di sampingnya sambil sesekali memegang tangan sahabatnya itu.
Waktu terasa begitu lamban yang di rasakan Michel.
Sedangkan di luar, Al memberikan kode kepada salah satu resepsionis yang bekerja di Klinik tersebut.
Setelah Aldo memberikan kertas yang bertulis, Resep Obat 112. Wanita di hadapannya membawa Aldo memasuki sebuah kamar yang bertulisan ruang dokter.
Setelah sampai di dalam ruangan tersebut, Aldo melihat ada beberapa lemari buku dan lemari obat-obatan yang berjejer.
Wanita tadi membuka sebuah laci yang berada di dalam laci besar.
"jegrek! " suara knop pintu terdengar terbuka.
Michal berdiri di dalam dengan menatap ke arah pintu, Aldo pun memejamkan mata sambil meremas kedua telapak tangannya sendiri.
"kriieeettt! " pintu terbuka dua arah ke arah samping kiri dan kanan.
Aldo menatap seorang wanita yang sudah berdiri dengan tegang di dalam sana.
"puuutraaku! " ucap Michel terbata.
Aldo berjalan dengan kaki yang terasa berat, karena perasaan yang campur aduk, dia melihat wajah ibunya begitu berbeda dengan sebelumnya.
Dan bayangan sewaktu Alex menghianati ibunya, Aldo tentu tau semua hal yang membuat ibunya terluka yang sengaja di lakukan Alex. Karena sebagian pekerjaan itu Alex serahkan kepada dirinya.
"ibu! " maafin Al! " hampir semua penderitaan ibu Al yang lakukan bu, karena Al tidak tau kalo ibu itu adalah ibuku! "
Terlintas oleh Al, ketika dia menabrak kendaraan yang di kendaraan oleh ibunya sehingga ibunya terpental keluar dari dalam kendaraannya.
Darah dari sekujur tubuh ibunya sudah membasahi jalanan, guyuran air hujan kala itu membasahi jalanan bercampur darah ibunya.
Aldo benar-benar merasa berdosa, kedua lututnya tidak bisa menompang tubuhnya lagi, dia terkulai lemas.
Michel dengan cekatan berlari dan memeluk tubuh putranya.
__ADS_1
"maaf Bu. " maafkan Al. " hanya itu kata yang bisa Al ucapkan di hadapan ibunya.