"Pengkhianatan Yang Tak Di Sengaja"

"Pengkhianatan Yang Tak Di Sengaja"
"dia tidak aneh! "


__ADS_3

di negara berbeda, Jesyca dan Nicholas sedang duduk di halaman rumah yang sudah siap untuk memanggang berbagai hidangan yang di persiapkan oleh pelayan di rumah tersebut.


sedangkan Alex belum kunjung kembali juga dari kota, dia mengirimi pesan kepada Aldo beberapa waktu lalu untuk memulai acara barbeque tanpa dirinya.


dan menyuruh Aldo untuk pergi ke suatu tempat malam nanti, dan membiarkan Nicolas dan Jesy berdua di rumah itu.


sebuah rencana besar sedang di persiapkan oleh Alexandre.


hati kecil Jesyca merasa bingung saat itu, tetapi ada rasa senang juga karena terbebas dari pengawasan ayahnya.


hanya satu gangguan kecil atas kebebasannya yaitu Aldo.


"sebenarnya aku merasa senang ayah tak di sini! " tetapi aku merasa aneh, kenapa ayah bersikap seperti tidak biasanya! " batin Jesyca.


"Nicole, titip putri paman, sepertinya malam ini paman tidak bisa kembali kesitu, ada pekerjaan mendadak. " kalian bersenang-senang lah tanpa paman. anggaplah itu rumah mu, jangan bilang bilang pada Jesy kalo paman tidak bisa kembali, nanti dia akan kecewa. " kalian mulai saja barbeque nya. " pesan dari dari Alex kepada Nicolas.


Nicolas yang mendapat kepercayaan itu dari Alex merasa tersanjung, dia tersenyum dalam hatinya karena bangga.


sedangankan Aldo sibuk menyiapkan tenda, dan seorang pelayan perempuan di rumah itu sibuk pula dengan menyiapkan hidangan laut daging pilihan dan sayuran segar di napan di atas meja di luar rumah.


mereka akan memulai meng grill semua hidangan itu.


Nicolas mendekati Aldo, walau dia tau sikap Aldo begitu dingin, tetapi dia percaya orang itu bisa menjadi teman yang baik.


"heyy, bolehkah aku membantumu? " tanya Nicolas.


Aldo yang saat itu sedang sibuk dengan alat tendanya berhenti menatap Nicolas dengan tatapan dingin, seolah membatasi kedekatan di antara mereka.


tetapi dia mengingat ucapan Alex, awasi mereka berdua, biarkan mereka menjadi dekat, tetapi jagan izinkan mereka berpacaran! "


sesaat Aldo menyerahkan bebrapa bahan tenda kepada Nicolas tanpa berkata sepatah katapun.


sementara itu, Nicolas tersenyum senang.


"aku tau di balik sikapmu yang dingin, tetapi kamu orang yang baik! " batin Nicolas.


dia seolah memahami perasaan yang di alami Aldo.


sambil sibuk memasang tenda keduanya hanya saling melirik tanpa berkata apapun.


kecangungan antara keduanya di perhatikan oleh Jesy.


Jesy yang sedang membantu pelayan menyiapkan pembakaran dengan alat grill di atas meja, menanyakan tentang pelayan tersebut.


"ibu sudah lama bekerja dengan ayahku? " tanya Jesyca, sambil matanya sesekali melihat dua pria yang memasang tenda tanpa saling berkata.


"Iyah non, saya sudah sejak dulu mengikuti tuan Alex. ketika dia masih sendiri. " jawab Ibu pelayan itu.

__ADS_1


"ooow begitu. ibu, siapa nama mu? " apa seharusnya aku memanggilmu? "


"sebut saja nama ibu Biana. itu panggilan dari tuan Alex untuk ku! " jawab Ibu itu. wajahnya walau sudah terlihat berumur, tetapi paras dari kecantikannya semasa muda masih terlihat.


"baiklah Bu Biana. " aku akan memanggil mu Bu Bian. " ujar Jesyca sambil tersenyum manis di hadapan pelayan itu.


"Bu Bian, kata ibu, ibu bekerja dengan ayahku sudah cukup lama, kenapa aku baru melihat Bu Biana di sini sekarang? " Jesyca yang penasaran selama ini ibu itu, ikut dengan ayah nya di mana?


karena selama ini di kediamannya dia tidak pernah melihat pelayan tersebut.


terlihat jelas rasa gugup di wajah Biana kala Jesyca menanyakan hal itu.


"ibu, ibu, mengikuti Tuan Alex semenjak di apartement non. " nah setelah tuan Alex menikah ibu kembali ke kediamannya Achille. "


"ooowh, jadi ibu Bian mengikuti kakek! "


"bee-etul non. " jawab Biana sambil memalingkan wajah dari tatapan Jesyca.


dia seolah sibuk dengan persiapan alat barbeque nya.


"Jesy! " teriak Nicolas yang tiba-tiba memanggil Jesyca. menghentikan obrolan mereka berdua.


pelayan itu menarik napas lega.


Jesyca pun melirik ke arah Nicolas, ternyata kedua pria itu sedang duduk di atas bangku taman. yang posisinya tidak jauh dari nya.


Nicolas meminta minuman dengan menggunakan tangannya yang seolah memagang gelas dan memasukannya ke mulut.


"baiklah, tunggu! " Jesyca pun membawa minuman kaleng yang sudah tertata rapih di atas meja.


Jesyca membawa dua kaleng minuman, yang akan di serahkan kepada Nicole dan Aldo.


"apa tujuanmu mendekati nona kami? " tanya Aldo, sekarang setelah sekian lama mereka mendirikan tenda, baru kali itu Aldo membuka suara di hadoan Nicolas.


Nicolas menatap Aldo sambil mengatur napasnya yang masih kelelahan atas pemasangan tenda tadi.


"entahlah, aku merasa gadis itu begitu berbeda dengan gadis pada umumnya. " dia pun langsung menjadi dekat dengan ibuku setelah mereka bertemu. " jawab Nicolas.


"apa kau menyukainya? " tanya Aldo penuh selidik.


"heemmm bukan suka sebagai apa? tetapi aku lebih menyukai nya seperti adik perempuan kali yah! " jawab Nicolas lagi.


Aldo tersenyum dalam hatinya lega, ternyata Aldo diam-diam menyukai gadis itu kelihatannya.


"Al, bisakah kita menjadi teman? " ujar Nicolas dengan tulus dia ingin berteman dengan Aldo.


"apa kau tidak keberatan juga, aku memanggilmu dengan sebutan tadi? " tanya Nicolas lagi.

__ADS_1


Aldo langsung terdiam, matanya menatap mata Nicolas dengan penuh keharuan, tetapi rasa itu dia berusaha menutupinya.


selama ini, dia tidak pernah berteman dengan siapapun, dan tidak ada juga orang yang ingin berteman dengan dirinya.


hidup pemuda itu penuh dengan misterius, dia jalani hidupnya sesuai dengan kemauan ayah angkatnya, batinnya selalu dingin, merasa selalu kesepian.


"jangan berteman dengan orang sepertiku! " jawab Aldo sambil beranjak meninggalkan Nicolas, dan meraih minuman yang di bawa Jesyca yang kebetulan baru saja sampai di sana.


"terimakasih! " ucapnya kepada Jesyca sambil mengambil mengangkat minuman di hadapan Jesyca. dan berlalu begitu saja.


"sikapnya selalu saja dingin, dasar Kutub! " gerutu Jesyca.


Nicolas tersenyum senang, walau Aldo berkata seperti itu, tapi dari sikapnya yang dingin dia tau pria itu tidak bisa menolak untuk menjadi temannya.


"terimakasih Al! " teriak Nicolas.


betul saja, Aldo melambaikan tangannya sebelah tanpa menoleh dan berkata apa-apa.


itu tandanya dia setuju untuk menjadi teman Nicolas.


bibirnya menyunggingkan senyuman kecil.


Jesyca menatap wajah Nicolas dengan penuh pertanyaan.


"ada apa dengan kalian? " tanya Jesy.


"bukan apa-apa, ini urusan pria, kamu tidak harus tau! " jawab Nicolas sambil mengambil kaleng minuman di tangan Jesy yang di sodorkan ke arahnya.


"terimakasih untuk minumannya. "


"kalian, bisa akrab juga! " ku pikir pria aneh itu tidak akan pernah berbicara denganmu? " ujar Jesy.


"dia bukan pria aneh. " jawab Nicole.


"tidak aneh gimana, lihatlah sikapnya yang begitu dingin dengan orang lain. "


"heemmm, di balik sikapnya yang dingin tapi pria itu sangat amat kesepian, terlihat jelas di sorot matanya. " ujar Nicolas.


"kesepian? " kamu tidak salah! " aku malah melihatnya pria itu sangat dingin dan kejam. " seperti pembunuh berdarah dingin. " ucap Jesyca setengah berbisik.


"bersikaplah baik padanya! dia pria yang setia. aku rasa dia akan rela melukakan apapun demi rasa kesetiaannya. " jawab Nicolas mencoba mengingatkan sikap Jesy.


"sudahlah, kamu dan dia memang sama anehnya. " ayo kita mulai bakar ikan-ikan dan dangingnya, perutku sudah tidak tahan. " lapar! " ujar Jesyca sambil pergi meninggalkan Nicolas yang menenggak minuman kalengnya sambil menatap ke sekeliling tempat tersebut.


"ternyata malam lebih indah, apa lagi sinar bulan lagi terang. " batin Nicolas.


"Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2