
Niken tertatih keluar dari hotel tersebut, semua tenaganya seolah sudah habis terkuras.
dia keluar dari dalam lift menuju lobby parkiran dengan tatapan yang kosong dia berjalan, seorang security melihat wanita yang tadi memarkirkan mobilnya. dia pun bergegas mengambil kendaraan wanita itu.
Niken berjongkok di luar lobby sambil menundukkan kepalanya di antara sela lututnya.
satu orang security menghampirinya.
"Nyonya apa kau baik-baik saja? " tanyanya. dia melihat tamunya yang terlihat kurang sehat.
Niken hanya terdiam, seorang security yang membawa mobilnya sudah sampai di hadapannya dia turun dan menyerahkan kunci kendaraannya kepada Niken.
"Nyonya, silahkan! " ucapnya sambil menyodorkan kunci kontak kendaraannya.
Niken mendongak sambil meraih kunci kontak yang di serahkan security hotel tersebut.
"terimakasih! " ucapnya.
tanpa pikir panjang Niken menaiki kendaraannya dalam keadaan lesu. dia berpikir sa'at ini harus sesegera mungkin sampai di kediamannya dan menanyakan hal tersebut kepada suaminya.
hatinya begitu terluka, orang yang selama ini amat sangat dia percaya telah tega membohonginya sekian lama.
Niken menancap pedal gas mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, dua orang security saling tatap melihat kondisi tamunya akan membahayakan dirinya jika dia menyetir dalam keadaan seperti itu.
tetapi apalah daya mereka, mereka hanya security tidak bisa ikut campur dengan masalah tamunya itu.
di dalam kediaman Shinoda, Ken dan Novak yang baru saja sampai sudah di kejutkan oleh sebuah kiriman misterius, tidak di ketahui siapa pengirimnya.
terutama Novak dia begitu syok melihat benda tersebut.
dia menatap benda yang di pegangnya, giginya mengkeret karena menahan emosi, tangannya meremas benda yang di pegangnya.
Ken yang melihat itu dia ragu dan tidak percaya bahwa Niken sanggup melakukan hal seperti itu kepada suaminya.
tidak berapa lama, orang yang di tunggu pun sudah tiba, Novak menunggu istrinya di dalam kamar, sedangkan Ken seperti biasa duduk di ruangan kerjanya Novak sambil membereskan fail fail yang berserakan di atas meja, dia Novak tidak sabar untuk menanyakannya langsung kepada istrinya.
Niken memarkirkan kendaraannya, dia bergegas menaiki tangga yang menuju kamarnya.
sesampainya di dalam kamar, dia melihat suaminya sudah duduk di atas sofa samping tempat tidurnya, matanya menatap tajam ke arah Niken.
"kau sudah pulang? " dari mana kau pergi selarut ini? " siapa yang kau temui? " dia langsung memberondong pertanyaan kepada Niken.
yang membuat Niken semakin merasa sesak di dada seharusnya saat itu dia yang harus marah, pikirnya.
__ADS_1
dan dia bukannya menjawab malah hanya menatap suaminya dengan tatapan penuh pertanyaan! dia terbayang vidio yang tadi dia lihatnya. matanya sudah tidak bisa di kondisi kan lagi. air matanya memaksa merangsak keluar.
"jawab pertanyaan ku! " bentak Novak yang kesal karena Niken tidak menjawab semua pertanyaannya.
"kau! " ucap Niken serak. hatinya benar-benar sakit.
"kemana kau pergi malam-malam begini! " tanya Novak lagi.
"siapa yang perduli aku pergi kemana! " jawab Niken.
"siapa pria ini! " apa kau bermain di belakangku dengannya! " tanya Novak yang sudah tidak tahan dengan emosinya karena cemburu dia melempar sebuah poto ke wajah Niken.
Niken menatap poto yang di lemparkan suaminya, dia begitu terkejut dengan apa yang dia lihatnya, seorang pria yang seolah memeluk dirinya berada di dalam poto tersebut.
Niken yang seharusnya merasa marah pun saat itu menjadi bingung. menatap wajah Novak dengan penuh kekecewaan yang teramat dalam.
"maling teriak maling! " hanya itu kata-kata yang bisa Niken ucapkan.
Novak yang mendengar samar perkataan istrinya mengerinyitkan kedua alisnya.
Niken duduk di samping ranjang matanya menatap kosong. pikirannya melayang kemana-mana bayangan itu terlalu menyakitkan dirinya.
"apa dia bilang, maling teriak maling! " apa sebenarnya yang terjadi, apa dia sudah mengetahui masalahku dengan Jeslyn dulu!" batin Novak.
"kau! " teriak Novak.
dia menatap poto dirinya yang bersama pria tak di kenal itu.
"apa dia sengaja ingin mempitnahku sekarang, untuk menutupi semua kesalahannya? " batin Niken, dia yang tidak menyadari poto tersebut berpikir Novak lah yang telah sengaja mempitnah dirinya.
"siapa pria itu! " aku benar-benar tidak mengenalnya, kenapa ada poto seperti itu? "
"Nike, aku akan memaafkan mu, tinggalkan pria itu! " teriak Novak lagi.
"seharusnya aku yang marah denganmu, tapi kenapa kau malah menuduhku berhianat! " teriak Niken histeris.
"kamu yang sudah menghianatiku, kamu malah menuduhku menghianati mu! " aku yang seharusnya bertanya, sampai kapan kamu akan terus membodohiku, menutupi semua kesalahanmu! " aku sungguh tidak percaya lagi padamu! sekian lama aku hidup dengan kebohongan mu, aku benci dengan semua ini! ". " unek-unek itu budal sudah, tidak bisa di bendung lagi akhirnya dia berbicara panjang lebar dengan bibir bergetar penuh emosi.
Novak langsung terkejut dengan kata-kata yang Niken ucapkan.
"apa masalahnya? " tanyanya yang pura-pura bersikap tenang seolah belum mengerti atas kata-kata istrinya.
Niken terisak menangis memegang dadanya yang terasa sesak, dia dengan penuh kesakitan dalam batinnya.
__ADS_1
"masalahnya ada padamu, bukan padaku! " tanya sendiri pada hatimu, apa kesalahanmu! " teriak Niken.
"satu lagi, aku tidak mengenal pria ini! " ucap Niken sambil meraih poto yang di lemparkan oleh Novak tadi dan meremasnya lalu melemparkan balik ke hadapan suaminya.
"jika kamu percaya aku telah menghianati mu, itu bagus. " akan lebih mudah untuk ku meninggalkanmu! " ucap Niken.
Novak yang mendengar kata-kata Niken membuatnya semakin tidak memahami isterinya.
"apa kau berniat untuk pergi dariku? " tanya Novak.
Niken terdiam, matanya memejam badannya merasa lemah saat itu. emosi dan sakit hati membuatnya sangat lemah. dia terkulai lemas dan jatuh pingsan membuat Novak syok melihat kejadian itu.
"Nike! " teriak Novak sambil meraih tubuh istrinya dan menggendongnya ke atas ranjang.
dia pun panik, pertengkaran saat itu membuat Niken begitu emosional sampai-sampai jatuh pingsan.
diapun merasa bersalah, seharusnya dia menyelidiki poto tersebut terlebih dulu, bukan langsung menuduh istrinya dengan kejam seperti itu, terlebih dia juga sudah menghianati dan menutupi membohonginya selama bertahun-tahun.
"Ken, panggil dokter! " istriku pingsan. " titah Novak yang menghubungi Ken melalui telpon saluran khusus di rumah tersebut.
Ken pun sesegera mungkin memanggil dokter pribadi keluarga Shinoda.
Novak menatap wajah Niken yang sudah tidak berdaya terbaring di atas tempat tidur.
dia terngiang kata-kata Niken yang barusan di ucapkannya.
"apa sebenarnya yang ingin dia sampaikan tadi? " apa dia sudah tau maslah tersebut! " batin Novak.
Novak mencoba menelaah perkataan Niken tadi, matanya langsung membulat.
"apa semua ini ulah wanita itu! " batin Novak, di langsung berpikir Jeslyn lah yang telah membuat dirinya dan Niken bertengkar hebat seperti tadi.
"jika kamu percaya aku telah menghianati mu, itu bagus. aku akan lebih mudah meninggalkanmu! " ucapan Niken tadi terngiang di telinga Novak.
"kumohon jangan tinggalkan aku! " kamu tidak boleh meninggalkan ku. " batin Novak sambil memgang tangan istrinya dan menciuminya.
"jika kamu benar telah menghianati ku, itu bukan salahmu, semua ini adalah salahku, aku yang telah lebih dulu menghianti mu. mari kita lupakan semua masalah ini. jangan di bahas lagi." batinnya.
"sadarlah Nike, jangan seperti ini, jangan membuatku takut! " aku berjanji akan menceriatakan semuanya padamu, penghiantan itu bukan hal yang sengaja ingin aku lakukan. " teriak Novak, dia histeris berbicara dengan orang yang tidak sadarkan diri.
tidak berapa lama Ken datang membawa dokter.
Ken menatap Novak penuh pertanyaan.
__ADS_1
Bersambung....