
Nori duduk di samping Nancy di bangku taman di tempat biasa, mereka bertanya kabar satu sama lain, usia mereka memang sudah terbilang tidak muda lagi.
Tetapi Nori masih tetap melajang sampai sejauh ini, dia lebih memilih hidup sendiri.
Sedangkan Nancy, dia mencoba bertahan dalam situasi yang serba salah. Hidupnya setelah menikah berubah total.
Suaminya tidak mengijinkan Nancy bekerja lagi, dia mengingginkan Nancy terus berada di dalam rumah sebagai seorang istri.
" Katakan apa kau bahagia dengan pernikahan mu? " begitulah suamimu memperlakukan mu? " ujar Nori geram.
"Semua ini salah ku! aku yang tidak bisa memberikan nya keturunan. " jawab Nancy lirih.
Air matanya menetes kembali. Nori menatap Nancy dia pun memegang tangan Nancy.
"Jika dia benar mencintai mu, tidak seharusnya dia menuntut mu di luar kesanggupan mu. " ujar Nori.
Nancy yang tau batasan dia menarik tangannya dari tangan Nori. cukup sekali dia tadi menangis di pelukan pria yang dia cintainya dulu.
"Lalu siapa wanita tadi? " tanya Nori.
"dia! dia adalah wanita yang di bilangnya bisa memberi keturunan kepada suamiku! " jawab Nancy.
"apa! " ini benar-benar gila! tidak bisa di percaya! "
"apa kau rela suamimu tidur dengan wanita lain? "
Nancy bukannya menjawab, dia hanya tersenyum getir.
"Berpisah lah darinya, dan menikah lah dengan ku! " ujar Nori kembali.
Mata Nancy langsung membulat menatap wajah Nori.
"aku tidak bisa melakukan nya, jangan katakan itu lagi padaku. " sekarang jangan cari aku lagi, aku akan kembali kepada suami dan keluarga ku. " ucapan Nancy membuat hati Nori begitu sangat terluka.
Dia Nori hanya menatap wanita yang pernah dia cintai itu pergi berlalu meninggalkan dirinya sendiri terdiam di bangku taman.
Nancy tidak menoleh sedikitpun, dia terus berjalan sampai tak terlihat lagi.
Nori menarik napas panjang, dia tidak berdaya sa'at ini yang terbaik hanyalah membiarkan Nancy pergi.
"jika selama ini kamu tidak bahagia kenapa kamu tidak datang padaku Nan? " padahal aku selalu memikirkan dirimu, ku pikir kamu sudah bahagia dengan pernikahan mu, jika ku tau kamu menderita aku akan membawamu pergi jika kau mau! " batin Nori.
Dia benar-benar tidak tega melihat wanita yang di cintainya itu begitu sangat menderita terlihat jelas di matanya.
"hanya tidak bisa melahirkan seorang anak pria itu mencari wanita lain! benar-benar sangat keterlaluan, untuk apa dia menikahi Nancy jika dia tidak mencintai nya! " bren*k! "
Nori terus saja mengumpat pria tadi.
Dengan tanpa berpikir panjang, Nori pergi mengendarai kendaraannya menuju sebuah rumah di dekat perbatasan kota tersebut, lama dia mengawasi kediaman tersebut.
Dengan hati-hati dia melihat aktivitas di dalam rumah itu, rumah itu terlihat sepi tanpa penghuni seperti sudah lama di tinggalkan oleh pemiliknya.
Nori pun mengendap-endap memasuki rumah tersebut dengan memanjat pagar samping.
__ADS_1
Betapa terkejutnya dia setelah melihat ke dalam rumah tersebut melalui jendela, Nori melihat seorang wanita yang terkapar di tengah rumah dengan tangan terikat dan lakban di mulutnya.
"Nancy! " teriaknya.
Rumah tersebut ternyata merupakan rumah pemilik dari suami Nancy.
Nori melihat Nancy terikat di tengah rumah itu dengan tubuh di penuhi memar bekas pukulan benda tumpul, tangannya terikat kebelakang dan mulutnya terlakban.
"breng**" k! Baji***n itu mau mati! " Gerutu Nori.
Dengan sekuat tenaga dia mendobrak pintu kaca rumah tersebut, "bruk! praang! " pecahan kaca bertebaran kemana-mana.
Dia berlari menghampiri tubuh Nancy, membuka lakban dan ikatan lalu dia pun membopong tubuh wanita malang itu, membawanya keluar dari tempat tersebut.
"Nan, sadarlah! " tenanglah aku akan membawamu dari tempat ini! " ujar Nori, sambil berlari membawa tubuh Nancy ke arah kendaraan nya yang terparkir tidak jauh dari tempat tersebut.
"jangan! " jangan lakukan ini! " suara Nancy terbata membisikan kata itu.
"jangan banyak bicara, kamu tidak usah takut. " tenanglah. " jawab Nori.
Nori pun membaringkan tubuh Nancy di kursi penumpang, dia pun bergegas menuju kursi kemudi.
Sesaat sebelum dia menyalakan mesin kendaraan nya, suara tepuk tangan dari dalam rumah terdengar.
Orang tersebut tertawa dengan puas sambil menunjukkan layar ponselnya, terlihat samar oleh Nori gambar tersebut gambar dirinya yang membopong Nancy keluar dari rumah tersebut.
Nori menatap Nancy, " sudah ku bilang jangan lakukan, ini adalah jebakan! " ucap Nancy terbata.
Sesaat itu pula Nancy tidak sadarkan dirinya.
Dia menekan pedal gas, " cuiiiittt!" terdengar suara decitan dari ban mobilnya yang berbelot memutar arah ke jalan raya.
Di perjalanan dia melihat satu kendaraan yang mengejarnya, dan terdengar pula sirine dari mobil polisi yang tiba-tiba mengejarnya.
"Sial! " batinnya.
"pria licik, dia mau menimpakan kesalahan pada Nancy! " Teriak Nori, tetapi dia tidak takut akan pengejaran mobil polisi tersebut, dia lebih takut Nancy tidak bisa tertolong.
Nori merogok ponselnya menghubungi seseorang untuk meminta perlindungan dari kejadian tersebut.
"sabar Nan, sebenar lagi kita akan sampai di rumah sakit. " ujarnya lirih sambil tetap fokus menyetir.
Ternyata suami Nancy sudah menjebak dirinya dengan hal tersebut.
Tidak berapa lama, satu kendaraan kepolisian pun tiba-tiba muncul lagi di sana. mengikuti kendaraan polisi lainnya.
"syukurlah akhirnya kau sudah datang! " batin Nori.
Butuh beberapa saat untuk dia sampai di rumah sakit terdekat di daerah tersebut.
Nori memarkirkan kendaraan nya di lobby rumah sakit, dia bergegas memanggil petugas rumah sakit untuk membawa Nancy ke dalam untuk di berikan pertolongan.
"cepat bawa wanita ini untuk di periksa! " teriak Nori. "ini jaminan nya! "
__ADS_1
Beberapa orang petugas rumah sakit pun bergegas membawa Nancy ke dalam.
Dan Nori menyerahkan dompet kepada salah satu petugas medis untuk jaminan pembayaran atas perawatan Nancy, Dia pun bergegas menghampiri kendaraan polisi yang berhenti tidak jauh di belakang kendaraannya.
Satu orang petugas kepolisian menghampiri Nori, "Silahkan anda ikut saya tuan! " ujar salah seorang petugas kepolisian sambil ingin membrogol tangan Nori.
"Hentikan! " teriak salah satu petugas kepolisian yang baru saja sampai di sana.
Satu orang petugas kepolisian pun menghentikan maksudnya, sambil menatap petugas polisi yang baru saja sampai di sana.
"Serahkan kasus ini kepadaku! " ujarnya.
"komisaris Jun! " ucap polisi yang ingin membrogol Nori sambil membungkukkan badannya memberi hormat.
"tuan Jun! " syukurlah anda datang tepat waktu! " ujar Nori dengan akrab dia memanggil komisaris yang bernama Jun itu.
Sedangkan polisi tadi melirik ke arah Nori dan komisaris polisi tadi.
"Tapi Ndan, dia sudah!
" sudah ku bilang, serahkan kasus ini padaku! " kembalilah teruskan tugas mu yang lain! " perintah komisaris Jun kepada polisi yang ingin menahan Nori yang merupakan anggotanya.
"siap laksanakan komandan! " dengan terpaksa polisi tadi pun menuruti perkataan atasannya itu. Dia pun pergi tanpa memperpanjang masalah ini.
Nori menarik napas panjang," Terimakasih Jun. " kau sangat berjasa atas kejadian ini, sebenarnya aku tidak ingin melibatkan dirimu! " tetapi.
"sudah ku bilang, jika ada masalah jangan sungkan menghubungi ku! " ujar Jun komisaris polisi itu sambil memegang pundak Nori.
"Ceritakan permasalahan nya! " tanya Jun.
Nori duduk di sisi trotoar di parkiran rumah sakit itu sambil memegang kepalanya oleh kedua tangannya.
Dia pun menceritakan kejadian tadi siang, membeberkan panjang lebar kepada Jun.
Jun mendengarkan cerita yang di jelaskan oleh sahabat lamanya itu.
"baiklah, sekarang kamu tenang saja, serahkan semuanya padaku aku akan menutup kasusmu dengan rapat! " semua ini jebakan dari pria yang tidak bermoral itu! aku pastikan dia yang akan masuk penjara sebelum dia membawa kasusmu ke ranah hukum. " ujar Jun.
Nori akhirnya lega, dia pun berterimakasih kepada Jun.
"untuk saat ini, serahkan wanitamu padaku, jangan menemuinya sebelum kasus ini di tutup! " pinta komisaris Jun dengan memegang pundak Nori sekali lagi.
"baiklah, aku percayakan Nancy padamu! " ujar Nori.
"heemmm! baiklah, sekarang kamu pulanglah, tunggu kabar dariku! " titah Jun.
"Siap komandan! " jawab Nori sambil memberi hormat kehadapan Jun.
Jun pun tertawa melihat kelakuan sahabatnya itu.
Akhirnya dia sudah tenang, dan kembali ke dalam kendaraannya setelah dia mengambil dompetnya di salah satu petugas medis tadi.
Sedangkan Jun, dia mengurus semuanya mengambil alih pertanggung jawaban tentang perawatan Nancy.
__ADS_1
Bersambung...