
setelah selesai kerja, Nori memutuskan untuk menemui sahabat lamanya. siapa lagi kalo bukan Niken.
sedangkan kala itu, Niken yang tidak ada kegiatan, memutuskan untuk berkunjung kepada kedua orang tua angkatnya.
sebelumnya dia mendapat pesan dari Nori, jika dia ingin mengunjunginya, tetapi kala pesan itu masuk ke ponselnya, dia sudah berada di kediaman Simon, jadi mereka memutuskan untuk bertemu di sana.
sinar sang surya sudah tenggelam di upuk barat, lampu-lampu jalanan kota sudah mulai berkelip menerangi jalanan dan gedung-gedung pencakar langit di kota tersebut.
hiruk pikuk kesibukan dari orang-orang yang melintasi ujung waktu, akhir dari aktifitas mereka hari itu, sudah terlihat lelah di wajah mereka, tetapi segenggam harapan yang tersirat di raut wajah yang telah lelah, harapan yang baik untuk hari esok.
Niken yang sedang duduk termenung seperti biasa di teras balkon rumah kedua orang tuannya memandang jauh keluar.
dia mengingat sa'at sa'at bersama putri kecilnya, dia tersenyum getir setelah kenyataan pahit yang dia terimanya.
putri kecilnya diagnosa memiliki penyakit yang mematikan, dan dia harus merelakan kehilangan putri kecilnya itu. rasa depresi yang di alami Niken masih belum pulih sepenuhnya. rasa sakit itu dia berusaha tutupi dari semua orang termasuk suaminya.
Niken duduk ******* ***** jari tangannya sendiri, semua itu dia lakukan untuk mengurangi rasa depresi yang di alaminya.
di luar gerbang, seseorang berpakaian serba hitam, memakai jaket kulit hitam, topi dan penutup wajah, sedang memperhatikan dirinya.
orang tersebut lama sekali memperhatikan dirinya, dia Niken sadar bahwa dirinya sedang di perhatikan pun melirik, sekilas mereka bersitatap dengan pria yang berdiri di luar pagar itu. Niken tidak melihat pemilik wajah itu. hanya bola bening yang menatapnya yang dia lihat.
dia seolah mengenali sorot mata itu.
"ting tong! " ting tong! " suara bell dari luar gerbang pun terdengar, setelah pria itu menghilang di balik tembok pagar. Niken menatap keluar gerbang pagar, tetapi sayang sekali dia tidak melihat orang yang menekan bell tersebut.
diapun bergegas turun ke lantai dasar.
"Bu! " biar aku yang buka, mungkin itu Nori! " ujarnya kepada Merryssa Ibunya yang kala itu ingin bergegas ingin keluar, sedangkan dia berlari menuruni tangga.
ibu Merryssa pun mengangguk, dia menepuk pundak putrinya setelah sampai di bawah tangga. setelah itu dia pun kembali duduk di samping suaminya.
"pak, bukakan gerbangnya! " mungkin Nori dia sudah datang. " perintah Niken kepada satpam.
sesaat satpam itu membuka pintu gerbang, Niken berdiri di teras rumah menunggu siapa yang barusan menekan bell.
"tidak ada siapapun? " batin satpam yang membukakan pintu gerbang tadi. dia pun berusaha menengok kanan kiri, tidak ada mobil tidak ada orang di luar sana.
Niken pun di buat penasaran, jelas jelas tadi ada yang menekan bell di luar, tidak mungkin kan itu hanya kerjaan orang iseng? pikirnya.
__ADS_1
diapun bergegas keluar memghampiri satpam yang masih berdiri di luar mengawasi jalanan kiri kanan.
"pak! "
"non, tidak ada siapapun di sini! " jawab satpam itu.
"aneh," siapa orang tadi" batin Niken, "yah sudah pak, masuk lah kembali. " titah Niken.
"baik non. " satpam tersebut kembali ke dalam halaman kediaman Simon Cross.
Niken yang masih penasaran masih berdiri di antara samping tiang listrik yang berada tidak jauh dari samping gerbang rumah orang tuannya, yang hampir menyentuh tembok pembatas dari rumah tersebut.
Niken berbalik, sesaat matanya tertuju kepada sebuah benda yang tergantung di samping pagar tembok rumahnya.
Niken lama menatap benda tersebut, "TERUNTUK NIKEN PUTRI AMALIA CROSS! "
sebuah tulisan besar yang tertulis di permukaan botol yang di tempel kertas terlihat jelas di tulis oleh tinta warna merah.
sebuah kertas yang tergulung di dalam botol tersebut. kedua alis Niken mengerinyit karena heran.
"Nori! apa dia iseng menulis surat ini? " batin Niken.
"***jika kau ingin tau apa yang selama ini di sembunyikan suamimu padamu, datanglah ke hotel x no kamar xxx! " di sana kamu akan tau, apa yang selama ini dia coba tutupin dari kamu.
**** "ingatlah untuk datang sendiri***! "*******
begitulah tulisan yang ada dalam surat tersebut. Niken bengong, dia mencoba menerka apa yang sesungguhnya terjadi.
" hey! " tegur seseorang yang menepuk pundaknya membuat Niken terkejut setengah mati.
"kau! ujar Niken.
" kenapa bengong di jalanan? " tanya Nori. ternyata yang datang adalah Nori, Niken menatap tajam wajah dari sahabatnya itu, dia merasa curiga jangan-jangan surat itu darinya.
"Nike, apa kau baik-baik saja! " tanya Nori sekali lagi sambil melambaikan tangan di hadapan wajah Niken.
"Iyah!, ak-u, aku baik-baik saja. ngomong ngomong di mana mobil mu? " tanya Niken, dia yang melihat Nori tiba-tiba berada di belakangnya dan juga dia datang tidak membawa kendaraan.
"dan apa yang kau pakai ini? " tanya Niken lagi, yang melihat Nori memakai pakaian serba hitam, di tambah malam-malam begitu dia memakai topi segala.
__ADS_1
"aaah, sudahlah! , jangan perdulikan dandanan ku! ayo kita kedalam, aku sudah kangen sama kamu, sudah berapa lama kita tidak bertemu, semenjak kembalinya suamimu dulu! " ujar Nori. diapun menggandeng pundak Niken memasuki rumah tersebut.
Niken merasa Nori kala itu sangat mencurigakan, di tambah dia melihat pria berpakaian serba hitam tadi, sama perasis seperti yang sekarang Nori pakai.
bedanya tadi pria yang berdiri menatap nya memakai penutup wajah.
"Nor, sejak kapan kamu sampai di rumahku? " tanya nya.
"aku baru saja sampai, sedangkan kau, ngapain berduri di luar pagar? " kamu menunggu seseorang? " jawab Nori. dia menjawab begitu polos nya.
tidak tau, bahwa Niken memberi pertanyaan seperti itu untuk meyakinkan dirinya, bahwa pria tadi adalah Nori.
"Nor, aku mau tanya! sebenarnya kamu selama ini kemana? kenapa kamu tidak pernah mengunjungi ku lagi? "
"ada banyak hal yang terjadi dalam hidup ku belakangan ini! " nanti kapan-kapan aku akn cerita padamu, sekarang aku lagi tidak semangat membahasnya. " bisa tidak,! tidak mempertanyakan hal itu dulu padaku. " aku ke sini ingin minum kopi bersamamu. " jawab Nori.
"dia ini! ada apa sebenarnya! " apa betul tadi itu bukan dia, dan surat ini bukan darinya? " batin niken.
"kau malah bengong lagi nike, apa karena paktor usia mu, kamu jadi seperti ini! "
"aah, iyah Iyah, aku temanin kamu minum kopi, ayo. " jawab Niken sedikit gugup.
dia yang penasaran dengan surat kaleng tadi pun terus kepikiran.
"iyah, ayooo. " jawab Nori sambil sekali lagi menggandeng pundak niken.
"rasanya aku rindu masa-masa itu nike, sekarang kau sudah bahagia dengan keluarga mu. " syukurlah. " aku turut senang. " ujar Nori sambil berjalan mensejajarkan dengan langkahnya niken.
kedua orang tua niken, sudah menyambutnya di ruang tamu setelah mereka berdua memasuki rumah tersebut.
semua hidangan di atas meja pun sudah tertata rapih.
"kebetulan sekali nak, sekarang waktunya makan malam, ayo kita makan bersama. " ujar Merryssa.
mereka pun makan malam bersama malam itu.
sebelum perbincangan berdua di atas balkon, niken memberi obat kepada ayahnya terlebih dahulu, Simon yang sudah berusia lanjut dan sakit-sakit terpaksa harus hidup dengan obat-obatan tersebut.
niken dan Nori pun berbincang banyak tentang kehidupan mereka saat ini.
__ADS_1
Bersambung....