
"benar Nike, banyak sekali hal yang terlewatkan sewaktu kita tidak saling bertemu. " dan kamu juga sudah pernah kehilangan putri kecil mu. "
sebenarnya banyak hal juga yang terjadi kepadaku juga, tetapi aku belum siap untuk menceritakan nya sekarang! " ujar Nori, dia yang mendengarkan masa-masa sulitnya Niken berjuang menyelamatkan putri kecilnya.
"Iyah, tidak apa-apa, aku sudah sangat senang sekali, kau mau mendengarkan keluh kesahku. "itu sudah cukup! " kau dari dulu memang selalu hanya mendengarkan masalahku, tidak pernah mau menceritakan masalahmu!" jawab Niken.
dia yang sedikit kesal dengan sikap Nori pun berbicara sedikit meninggikan volume suaranya.
"hey, lagian tidak ada yang menarik dengan kehidupanku? " jawab Nori, dia yang paham betul sahabatnya itu sedang marah.
tapi Niken malah mengerucutkan kedua bibirnya, layaknya anak kecil yang sedang ngambek.
Nori pun tertawa melihatnya.
di negara berbeda, Jesyca sedang asyik olahraga berkuda bersama ayahnya. mereka saling kejar mengejar dengan kuda mereka.
sudah satu tahun belakangan ini, Jesyca menyukai olahraga ini.
dari semenjak dia kehilangan ibunya, hanya olahraga ini yang di sukai dirinya, karena itu merupakan olahraga yang di sukai ibunya sewaktu mendiang ibunya masih ada.
kenangan manis itu tatkala bersama keluarga kecilnya, mereka selalu menghabiskan waktu weekend nya di tempat berkuda tersebut.
ayahnya selalu memberikan kasih sayang yang utuh kepada Jesyca dan ibunya.
Jesy kecil dulu selalu mendapat perhatian dari Alexandre. bahkan sebelum ibunya menikahi Alexandre.
"Jesy, tunggu ayah! " teriak Alex.
Jesyca tersenyum puas karena sekarang dia berhasil mengalahkan ayahnya dalam berkuda.
"ayah, biasanya kau selalu menang? " kenapa sekarang lemah sekali. " kejar aku Yah! " teriaknya sambil terus mengunus pecut ke arah kudanya.
"Jesy, kau sudah mulai meledek ayah yah! " lihat saja ayah akan menyusulmu! " teriaknya Alex lagi.
diapun bergegas mempercepat kudanya untuk menyusul Jesyca.
"pinish! " horee, aku menang! " teriak Jesy kegirangan, karena baru kali ini dia menang berkuda dari ayahnya.
"hahah, baiklah, sekarang kau menang dari ayah, itu artinya kau sudah lebih mahir dari ayah. " teriak Alex sambil menghentikan kudanya dan mengatur napasnya.
mereka berdua pun turun dari kuda mereka, dan berjalan menuju sebuah rumah yang terletak di tengah perkebunan anggur.
"Jesy, ingatlah tempat ini adalah tempat paforit ibumu. "
"Iyah Ayah, Jesy tau itu. " tapi sekarang ibu sudah lama meninggalkan kita. " tapi aku beruntung ayah masih ada bersama Jesy. " jawab Jesyca sambil memegang tangan ayahnya.
__ADS_1
"kau ingat dulu sewaktu musim dingin, ibumu selalu menginginkan tempat ini menjadi milik kita? "
"aku ingat itu. " dan pada sa'at itu pemilik tempat ini keberatan menjual tempat ini pada ayah. "
"heemmm, tapi sekarang tempat ini sudah menjadi milik kita! " jika saja ibumu ada bersama kita sekarang, dia pasti akan merasa bahagia. "
Jesyca pun terhenti dari langkahnya, karena dia terkejut bahwa tempat tersebut sudah menjadi milik ayahnya.
"bagaimana bisa Yah? " orang dari pemilik tempat ini bersikeras tidak akan menjualnya. kenapa sekarang berubah pikiran? " tanya Jesyca.
"itu semua berkat kerja keras ayah! " jawab Alex.
"jadi di mana pemilik tempat sebelumnya Yah? " mereka kan sudah tua, dan. "
"sudah kamu jangan banyak tanya, yang terpenting ini semua sudah menjadi milik kita! " kamu harus bisa menjaga tempat ini demi ibumu. " potong Alex.
Jesy hanya bisa menurut dengan kata-kata ayahnya, walau di benak nya banyak pertanyaan yang terlintas, jelas-jelas dulu pemilik tempat itu tidak akan menjualnya kepada siapapun sampai matipun mereka akan mempertahankan tempat tersebut. dan ibunya sudah lama meninggal.
Alex menarik napas panjang, "sial! " kenapa anak ini banyak pertanyaan! " batinnya.
seolah ada yang di sembunyikan dari perkataan nya tadi, Alex menghindari tatapan Jesyca.
dia pun bergegas memasuki rumah tersebut, meninggalkan Jesyca yang sedang mengamati area tersebut.
tidak ada banyak berubah dari tempat itu, sewaktu terakhir dulu dia dan ibunya mengunjungi tempat itu, tatanan di pekarangan rumah itu masih tetap sama.
kebetulan saat itu, pohon cery itu sedang berbunga lebat. mata Jesyca berbinar melihat bunga-bunga berjatuhan tertiup angin, dan menyebarkan kelopak bunga cery ke berbagai taman tersebut.
"indahnya, Bu, lihatlah pohon paforit ibu ini, dia sedang berbunga. " andai saja ibu sekarang bersama Jesy. " batin Jesy sambil berdiri di bawah pohon cery itu dan menegadahkan wajahnya ke atas langit, matanya terpejam kedua tangannya di angkat, mencoba menggapai beberapa kelopak bunga cery yang berjatuhan.
Alexandre menatap Jesyca dari jendela yang berada di lantai dua.
"maafkan aku sayang, aku terpaksa melakukan semua ini, untuk kebaikan kita. " jika kau suatu sa'at tersadar kembali, aku akan membawamu ke tempat ini. " batin Alex.
"tuan! " anda sudah datang? " sapa seseorang mengejutkan lamunan Alex.
"kau! " ujarnya.
"tuan, apa ada yang perlu saya siapkan? " tanya orang tersebut.
"heemmm, siapkan kamar tidur untuk putriku, kita akan menginap di sini malam ini! " titah Alex.
"siap tuan, ada lagi? "
"siapkan juga alat Barbeque untuk nanti malam, di taman itu," perintah nya lagi, sambil menunjuk ke sebuah taman yang berada tidak jauh dari tempat pohon cery berada.
__ADS_1
"baik tuan. "
jawab orang tersebut yang merupakan pelayan di rumah itu.
"oh Iyah di mana Aldo, suruh dia menemui ku di kamarku sekarang! " perintah Alexandre kepada seorang pelayan tadi.
"baik tuan, tuan Aldo sedang membersihkan kandang kuda, nanti saya akan suruh dia menemui tuan. " jawabnya.
"heemmm, baiklah, pergilah! "
pelayan tersebutpun berpamitan kepada Alex, dia bergegas menuju kandang kuda tempat Aldo berada.
setelah sampai di kandang kuda yang berada tepat di belakang rumah tersebut, pelayan tersebut memberi perintah kepada Aldo untuk menemui tuannya.
"tuan Aldo, sebaiknya anda menemui tuan Alex di kamarnya sekarang. " suruh pelayan tersebut yang sudah berdiri di belakang Aldo.
Aldo merupakan orang kepercayaan nya Alexandre Achille, dia di tugaskan untuk menjaga rumah dan tanah tersebut sekarang.
dia berbadan tinggi dan tegap, dia seorang anak muda yang tampan, tetapi dia mempunyai aora tatapan yang dingin.
seorang Aldo di pungut dari jalanan oleh Alex sewaktu umurnya mengijak 12 tahun.
dari sana hidupnya selalu mengikuti perintah dari Alexandre Achille.
walaupun tampangnya cukup tampan dan berwibawa, tetapi pemuda itu terlalu kejam dan pembunuh berdarah dingin. semua dia lakukan untuk bertahan hidup.
tanpa menjawab sepatah katapun dari pelayan tadi, Aldo bergegas meninggalkan tempatnya menuju kamar Alexandre di lantai atas.
sedangkan Jesy yang baru saja memasuki rumah tersebut berpapasan dengannya, sebelum Aldo menaiki tangga rumah itu.
"Hey! " sapa Jesy.
Aldo hanya melirik, tak menghiraukan keberadaan Jesy.
Jesy yang melihat tingkah Aldo yang kurang baik pun berkata.
"aku penyapamu? " apa kau tuli? " tanya Jesy dengan suara sedikit kesal.
Aldo berhenti, dia menatap tajam wajah gadis di hadapannya, tatapannya mampu membuat hati Jesy bergidik.
wajah mereka begitu dekat, sehingga Jesy bisa melihat dengan jelas retina mata Aldo yang bening kecoklatan, tetapi memancarkan aora yang dingin.
"Aldo! " teriakan Alex dari atas memanggil namanya, membuatnya memalingkan tatapan itu ke lantai atas.
Jesy menarik napas lega, karena terhindar dari tatapan yang membunuh itu.
__ADS_1
"siapa pria ini, kenapa tatapannya begitu menakutkan! " iiihhh! " batin Jesy dia pun bergidik memegang pundkknya yang terasa seluruh bulu kuduk nya berdiri.
"bersambung...