![[Revisi] Cinta Komedi Remaja](https://asset.asean.biz.id/-revisi--cinta-komedi-remaja.webp)
"heh!"
"apa?!"
"caelah, judes banget jadi cewek"
"apa? cepet, gua nggak mood ngomong"
"napa? udah kena tikung ya?"
"au ah, kalo nggak penting nggak usah ngomong sama gua"
"ini penting, Lo mau nyerah?"
"ya nggak lah! tapi gua harus ngatur strategi dulu biar bisa ngambil Adi lagi"
"oh.....gitu"
"Lo gimana? udah temenan ama Adi?"
"belom, baru proses, tapi kayaknya agak susah dah"
"kenapa?"
"orangnya dingin banget ama gua"
"ya udah, usaha dong!!"
"ya gua juga lagi usaha Chika!!!"
Yupz, yang lagi ngobrol adalah Chika dan.....Devan. Kalo kalian milir Devan baik, kalian salah. Kalo mikir Devan temen atau sahabatnya Rachel itu juga salah. Atau bahkan mikir Devan itu pengen jadi pacarnya Rachel tapi itu juga salah besar. Dia berteman sama Rachel dan lainnya cuma buat mata-matain hubungan Rachel dan Adi.
Kalian inget kan kalo Adi itu juga temen kecilnya Rachel? nah, Devan tau itu dan pengen misahin mereka apalagi sekarang mereka udah jadian. Tujuannya apa? apalagi kalo bukan buat adek tercinta, iya Chika itu adeknya Devan. Devan nggak pernah kasih tau siapapun tentang Chika, begitu juga sama Chika. Mereka nggak pernah ngomong ke orang-orang kalo mereka adek kakak.
"kak, emang Lo beneran mau bantuin gua buat ngerusak hubungan Adi ama Rachel?"
"iyalah, Lo pikir selama ini gua berteman ama mereka buat apa? buat Lo juga kali"
"tapi emang gua bisa milikin Adi?"
"tergantung"
"kok tergantung?"
"tergantung, Lo beneran mau usaha buat dapetin dia apa Lo nggak mau dia pergi dan nggak akan jadi milik Lo"
"tapi gua suka, cinta, sayang ama dia"
"ya makannya, semangat, baru juga kayak gini masa udah loyo?"
"ya gua ngerasa nggak ada harapan lagi"
"ada selagi Lo mau berusaha"
"makasih ya, gua kira Lo nggak mau bantuin gua"
"iya, Lo kan adek gua jadi gua akan bantuin Lo asal Lo seneng" Devan tersenyum
"Lo emang kakak terbaik gua, makasih ya"
"ya sama-sama, jangan nyerah gitu aja" mengelus rambut Chika
"iya"
"ya udah gua ke kelas lagi, ntar ada yang liat lagi"
"iya kak, hati-hati"
"Lo juga, ya udah gua balik, bye" Devan pun pergi
"bye kak" Chika tersenyum dan melambaikan tangan
"nggak nyangka, kalo kakak yang selama ini gua anggep berandalan ternyata sayang sama adeknya, contohnya Devan, dia baik dan mau bantuin gua, beruntung banget gua punya kakak yang baik kaya dia, walau tadinya gua nggak suka sama kelakuan dia" gumam Chika yang masih melihat punggung kakaknya itu sambil tersenyum
Di sisi lain, ada yang masih berduaan di kelas. Siapa lagi, ya Rachel sama Adi lah. Rachel lagi duduk sedangkan Adi lagi meluk Rachel dari samping, kaya Drakor gitu.
"Chel, biasanya jam segini kita udah ribut ya? sekarang kita malah pelukan gini"
"yee.....kamu aja yang meluk aku, aku nggak meluk kamu"
"ya gpp, intinya kamu aku peluk"
"Di, bisa lepas nggak? sebentar lagi anak-anak pasti masuk kelas"
"trus?"
"malu"
Adi pun melepas pelukan dan kaget akan perkataan Rachel barusan.
"malu, malu kenapa? kamu malu pacaran sama aku?"
"nggak, nggak kaya gitu, malu kalo ada yang liat kamu meluk aku kaya tadi" ucap Rachel sambil menundukkan kepalanya
"ah.......gitu...... nggak papa kali, biar semua orang tau kalo kamu punya aku" ucapnya memeluk Rachel lagi
__ADS_1
"dasar, aku kan malu"
"ih pemalu banget sih"
"kamu mah....."
"iya-iya"
Saat Rachel dan Adi sedang tertawa, tiba-tiba Devan datang sambil membawa tas dan memakai jaket kulitnya.
"sekarang kalian boleh ketawa, tapi liat aja, kalian nggak akan ketawa bareng lagi" batin Devan sinis
Devan pun mendudukkan dirinya di bangku paling belakang, sambil memandang Rachel dan Adi.
Setelah pulang sekolah, Devan menunggu Chika di dalam mobilnya.
"apa yang gua lakuin ini bener?" gumam Devan
Tiba-tiba Chika duduk di sebelahnya dan menatap bingung Devan yang masih melamun
"kak!" panggilnya menepuk Devan
"kak? kak!"
"eh-eh? kenapa? lah?! Lo udah disini aja"
"baru juga dateng, Lo kenapa bengong?"
"nggak, cuma ada masalah sedikit"
"butuh bantuan?"
"ah..... nggak, gua bisa sendiri"
"bagus deh, tapi kalo butuh bantuan bilang aja"
"iya tenang aja, nggak usah dipikirin"
Chika hanya menganggukkan kepalanya
"u-udah kan Chik?"
"udah, yuk jalan"
"apa gua harus pikir-pikir lagi? tapi apa mungkin?" batin Devan
Devan pun menjalankan mobilnya, suasana hening sampai akhirnya Devan berbicara
"Chik, mau makan dulu nggak?"
"hmm......boleh deh, Lo juga belum makan kan"
"iya"
...----------------...
Sekarang Devan dan Chika sudah sampai di kafe biasa
"udah, turun" suruh Devan sambil turun dari mobil
Di dalam kafe agak sepi, ntah kenapa. Apa ini masih jam kantor, jadi keadaannya sepi? entahlah
"Chik, Lo cari tempat duduknya gih, gua mau ke toilet dulu"
"oh gitu, ya udah jangan lama-lama"
"iya, gua nggak lama kok" jawab Devan mengelus rambut Chika
Sesampainya di toilet, Devan langsung menatap dirinya di pantulan cermin. Mukanya terlihat lelah
"gua capek begini terus" ucapnya frustasi sambil menyisir rambutnya kasar
"kenapa gua jadi lemah begini?!" tangannya pun memukul tembok dengan keras sampai tangannya memerah
Setelah berdebat sendiri dengan pikirannya, Devan kembali ke depan. Menghampiri Chika yang sudah duduk di bangku pojok dekat jendela, menikmati indahnya kota pada sore hari. Terlihat cantik, itulah pikirnya
"hei, ngalamun aja" tegur Devan saat ia sudah duduk di depan bangku Chika
"eh? lama banget, gua nggak ngalamun kali"
"trus? mikirin Adi?"
"ya gitu deh, masih bingung"
"daripada bingung, mending Lo mesen makan, laper nih gua"
"iya-iya, Lo mau apa?"
"spaghetti carbonara sama jus jeruk aja"
"Ok, mba!" panggil Chika pada pelayan
Salah satu pelayan pun mendekat dan memberi satu buku menu pada Chika.
Saat Chika sedang memilih menu, Devan hanya memperhatikan jalanan dan kembali berdebat dengan pikirannya lagi.
__ADS_1
"itu aja ya mba" ucap Chika sambil mengembalikan buku menunya
"baik mba, saya ulangi, jadi yang dipesan adalah spaghetti carbonara 1, seblak spesial 1, dan jus jeruk 2"
"iya mba, bener"
"sudah? itu saja?"
"hmm......iya mba, nanti saya pesan lagi kalo gitu"
"baik, tunggu sebentar ya mba"
"iya"
"permisi" pelayan pun tersenyum sebelum ia pergi
Mata Chika mendapat kakaknya yang sedang fokus pada jalanan dan terlihat lelah, mungkin?
"kak, Lo kenapa?"
"hah?! e-eh, nggak kok gua nggak papa"
"trus Lo kenapa kaya capek gitu? ada apa?"
"nggak, gua cuma seneng aja liat jalanan sore kaya gini, jarang-jarang gua liat kan biasanya gua sibuk sama tugas" setelahnya ia hanya menampilkan fake smile nya
"beneran?" wajah Chika sedikit berubah menjadi khawatir
"iya beneran......Lo nggak usah khawatir, gua cuma banyak tugas aja tadi, makannya kaya gini"
"oh......ya udah, bentar lagi kita pulang, trus Lo harus istirahat jangan kebanyakan nugas terus ntar Lo kecapekan lagi"
"iya, gua habis pulang pasti istirahat"
Pelayan pun datang sambil membawa nampan berisi pesanan mereka tadi
"ini pesanannya" pelayan menata makanan di atas meja dan terus menampilkan senyum ramahnya
"makasih mba"
"iya, kalo begitu saya permisi, selamat menikmati" pelayan pun pergi, Chika dan Devan langsung menyantapnya dalam diam
Hanya suara piring yang berdenting karna terkena sendok dan garpu. Sebenarnya Chika merasa ada yang aneh belakangan ini pada kakaknya, sempat ada pikiran jika kakaknya memiliki masalah dengan mantan pacarnya tapi dia tidak mau memikirkannya. Apalagi keadaannya seperti ini, terlihat canggung, jadi ia mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi. Toh pasti Devan hanya menjawab kalau dia capek karna banyaknya tugas sekolah.
Tapi lain dari jalan pikiran Devan, dia terus berfikir apakah jalan yang ia pilih benar atau tidak. Karna kenyataan dan imajinasinya berbeda.
Beberapa saat kemudian mereka telah menghabiskan makan siang yang hampir masuk jam sore dan berencana akan terus pulang karna hari terlihat mendung.
"Chik, kita langsung pulang ya? Lo nggak mau kemana-mana kan?" tanya Devan di depan kafe
"iya, gua juga udah capek seharian ini"
"ya udah, cepet masuk udah mau ujan ni"
"iya kak"
Setelah masuk dan memakai sabuk pengaman, Devan langsung menjalankan mobilnya dan keadaan kembali hening juga canggung.
Karna bosan akhirnya Chika melihat hpnya, sekedar melihat-lihat story' ig teman-temannya. Dengan tidak sengaja, Chika melihat story baru milik Adi. Di sana terdapat foto tangan Adi dan seorang cewek yang sudah pasti Rachel sedang bergandengan
"apa-apaan sih ini?! kenapa gua harus ngeliat mereka gandengan kaya gini? hah!! suasana hati gua jadi panas liatnya" batin Chika, lalu memasukkan Hpnya ke dalam saku dengan sorot mata yang terlihat seperti marah.
"Lo kenapa Chik?" tanya Devan yang masih fokus pada jalanan
"nggak, gua nggak papa" jawabnya ketus
Devan yang pikirannya masih panas pun akhirnya tidak mempermasalahkannya, yang ada ntar gua tambah pusing mikirnya, begitulah pikir Devan. Ia hanya fokus pada jalanan dan sesekali melihat Chika yang masih terlihat kesal dengan sudut matanya.
"tau lah, gua aja masih pusing, mending nggak usah mikirin dan tanya ama Chika" batin Devan
Beberapa saat setelahnya, akhirnya mereka sampai. Rumah tingkat besar dan halaman rumah yang luas, mereka merupakan keluarga terpandang tapi mereka sedikit tertutup.
"udah sampe, gua duluan Chik" pamit Devan sebelum menutup pintu mobilnya
"hmm"
Setelah Devan masuk, Chika baru keluar dari mobil. Ia jalan dengan kaki yang sengaja di hentak-hentakkan.
Saat masuk rumah, Chika langsung melihat papah-mamahnya yang sedang menonton tv sambil tertawa bersama. Karna menonton serial drama komedi
"eh adek, gimana sekolahnya?" tanya mamahnya saat melihat Chika yang baru masuk
"b aja, kaya biasanya"
"kok kamu cemberut nak? kenapa?" sekarang giliran Papahnya yang bertanya
"nggak papa, cuma capek aja"
"kamu udah makan sayang?" tanya mamahnya yang berjalan mendekat lalu membelai rambut Chika
"aku sama kak Devan tadi udah makan di tempat biasa, ya udah aku ke kamar ya mah? pah? bye" setelahnya Chika langsung menaiki tangga dengan menunduk
"pah, Chika kenapa sih? kok cemberut?"
__ADS_1
"papah juga nggak tau mah, coba nanti mamah tanya sendiri ke adek, siapa tau nanti dia mau cerita sama mamah"
"iya pah, nanti mamah coba deh"