[Revisi] Cinta Komedi Remaja

[Revisi] Cinta Komedi Remaja
Bantuan datang


__ADS_3

Skip


"yakin Chel tempatnya di sini?" tanya Faiza


"iya, nih liat! GPS nya ngarah ke sini" jawab Rachel sambil melihatkan GPS hpnya


"iya sih.....tapi.....beneran nggak?" tanya Faiza lagi


Rachel pun memutar bola matanya malas sebelum menjawab pertanyaan Faiza


"ck, Lo nggak percaya? ya udah gua masuk sendiri aja" Rachel pun ingin melangkahkan kakinya tapi lengannya di tahan Tasya


"sstt......udah jangan ninggalin kita, gua curiga ada sesuatu di sini, mana ada banyak orang pingsan lagi di depan gedung itu" kata Tasya menunjuk gedungnya


"mau gua telpon polisi nggak? ortu gua ada kenalan polisi nih, emang kalian berani apa ke dalem sendirian? gua takut nih masalahnya" tawar Jennie


"mm..... jangan dulu deh, kita liat dulu baru kita telpon, nggak papa ada gua" jawab Rachel


Tiba-tiba.....


Dor!!!


Rachel dan teman-temannya pun kaget mendengar suara tembakan


"weh, apaan tuh?! kita pulang aja yok.....gua takut, ini gedungnya aja serem sekarang malah ada suara tembakan, pulang yok.... please.....gua takut" bujuk Jennie sambil bergelayut di lengan Tasya


"ih! paan sih Lo, minggir ah!" risih Tasya sambil menghempaskan tangan Jennie dari lengannya


"tau! pulang aja yok, kalo masalahnya begini gua juga takut" timpal Faiza


"nggak Chel, gua ada, kalo mereka kagak berani masih ada gua, yok masuk, biarin ni dua curut di sini sendiri" kata Tasya


"nggak-nggak! gua telpon aja deh polisinya, gua nggak mau kalian kenapa-napa" usul Jennie


"iya tuh bener! paling nggak buat jaga-jaga aja" timpal Faiza lagi


"sstt..... nggak! ntar aja, gua liat kondisinya dulu, kalian nggak usah khawatir gua itu gini-gini juga pernah ikutan ekstrakurikuler bela diri di SMP" jelas Rachel


"tapi Chel...." terpotong


"udah nggak usah lebay, gua juga ada, malahan gua sabuk hitam waktu SMP, ya..... sedikit-sedikit masih ingetlah jurus-jurusnya" potong Tasya agak sombong


"iya gua tau Lo bisa bela diri gitu, cuma ini tembakan Sya, kita tangan kosong mereka punya pistol" jelas Jennie


Dorr!!


"tuh! mereka mainnya pistol" kata Jennie sedikit gemetar dan memeluk lengan Faiza karna takut


"aaaaaa......mamah......aku mau pulang....." rengek Faiza


"heh! jangan berisik.......aduh.....nanti kita ketauan" suruh Tasya sedikit berbisik


"tapi.....tapi gua takut......" rengek Faiza dan Jennie berbarengan


"ck, ya udah deh Lo telpon polisi, nah sambil gua ke dalem gedung itu, Lo ikut nggak Sya?" tanya Rachel


"ikut, nah kalian telpon tuh polisinya, yuk Chel" Tasya dan Rachel pun mengendap-endap memasuki gedung yang tadi ia cari di GPS hpnya


"eh eh eh! aduh.....gimana nih Jen?" panik Faiza


"mm.....ya ya udah gua telpon polisi sekarang" Jennie pun menelepon polisinya


Di sisi


"liat? kalian bakal gua tembak pake pistol itu, mau?" tanya Chika sambil menunjuk suruhannya yang tadi menembakkan peluru ke tembok dengan dagunya


"licik Lo Chik!!" teriak Adi


"hahahaha apa? licik? gua kaya gini juga karna Lo Di!!" kata Chika


"kenapa gua?"


"karna Lo nggak mau jadi pacar gua sampe sekarang!! Lo nggak ngerasa gua selalu caper ke Lo dari SMP?! dan gua lakuin ini juga karna gua pengen milikin Lo Adi!!!" jelas Chika dengan emosi


Adi hanya santai menanggapinya dan menampilkan smirknya


"ck, dasar, ternyata itu maksud lo dan sekarang Lo mau bunuh gua gitu? percuma dong Lo caper ke gua dari dulu" kata Adi menatap Chika remeh


"Weh Di, maksud lo apa?! Lo mau kita di bunuh gara-gara ni cewek?" kaget Exel


Adi tidak menjawab Exel tapi dia tetap menatap Chika dengan smriknya, Chika yang ditatap pun gelagapan menanggapi Adi


"jawab Chika" suruh Adi

__ADS_1


"lo-lo itu ya......!!!" kesal Chika mengepalkan tangannya


"apa? Lo kalo mau bunuh, bunuh aja tapi jangan bunuh temen-temen gua, Lo pikir mereka apa hah?! mereka nggak tau apa-apa tentang ini, jadi jangan buat temen-temen gua menderita bahkan mungkin mati gara-gara obsesi Lo ke gua Chika!!!"


Chika seperti berfikir sejenak, merencanakan sesuatu yang akan menguntungkannya pasti. Tak lama, Chika selesai dengan pikirannya lalu mendekati Adi dengan smrik di wajahnya


"Lo mau gua bunuh?" tanya Chika lembut pada Adi


"ck, Lo nggak denger tadi gua ngomong apa?"


"eum....gua sebenernya bisa aja sih bunuh Lo sekarang dan temen-temen Lo, karna Lo bisa liat kan? suruhan gua banyak, sekali tebas juga Lo pada bakal mati" jelas Chika


"jadi?"


"bagus, Lo emang pengen mati sekarang ya? oke deh gua turutin" Chika pun berjalan mundur dan masih dengan smriknya


"heh!! Lo gila Di?! Lo mau ngorbanin kita?! parah sih Lo Di" protes Radit


Farsya daritadi diam dan masih terus menatap Riki yang duduk dengan posisi badan diikat juga dengan dua orang suruhan Chika yang berada di kanan kirinya. Farsya berharap semoga Riki tidak apa-apa, karna dia merasa bersalah karna telah melibatkan orang lain dalam masalahnya


Chika yang sadar pun langsung mendekati Farsya dan menepuk-nepuk kepala Farsya membuat sang mpu menatap Chika sendu


"kenapa? hmm? takut ya kalo dia kenapa-napa?" tanya Chika dengan wajah yang dibuat-buat


"Chik......kenapa sih Lo ngelakuin ini? kalo Lo mau Lo bisa bunuh gua aja sekarang, nggak usah libatin mereka, mereka nggak tau apa-apa Chik" kata Farsya dengan mata yang berkaca-kaca


"utututu.....cup cup cup.....jangan nangis cantik.....nanti cantiknya ilang loh" ucap Chika masih dengan wajah yang dibuat-buat


"Sya, nggak usah nangis, Lo tenang aja Riki pasti nggak kan kenapa-napa, percaya ama gua" ucap Rangga yang tepat berada di sebelah Farsya


"iya tuh bener, aku nggak akan ngapa-ngapain dia kok, kamu tenang yah..." Chika menepuk kepala Farsya lagi lalu beralih mendekati Adi dan berjongkok di depan Adi


"gimana? mau bunuh gua sekarang?"


"eum.....gimana yah? gua juga bingung, Lo mau nya gimana?"


"ck, nggak usah sok bingung deh Lo, cepet lakuin apa yang Lo mau!!"


"ups, sabar dong jangan emosi, ya udah deh gua punya permintaan ke Lo, permintaan ini gampang kok, kalo Lo bisa temen-temen Lo bakal bebas termasuk Lo tapi.....kalo Lo nggak mau...." Chika menjeda kalimatnya lalu menatap teman-teman Adi sekilas


"kalian bakal mati di tangan gua dan cuma Lo doang yang bakal selamat, oh iya kalo Lo selamat tapi Rachel juga ikut nggak selamat loh"


"hah?! apa?!" kaget Adi saat mendengar kata Rachel


"kenapa? hmm? nggak mau ya kalo kesayangannya Lo kenapa-napa?"


"gua nggak licik, ini gua yang sebenarnya, jadi gimana? mau ngorbanin temen-temen Lo termasuk Rachel demi Lo selamat? atau milih putusin Rachel trus beralih ke gua? hmm?"


"gu-gua....." gugup Adi sambil terus berfikir, teman-temannya hanya menatap Adi penuh harap


"gimana sayang? mau milih gua atau milih Rachel bakal mati? gimana? gua masih baik hati loh bikin pilihan buat Lo"


"gu-gua....."


"semua keputusan ada di tangan Lo Adi, pikir baik-baik"


"sial! gua dijebak, gua nggak mau sama si licik Chika tapi.....gua juga nggak mau egois dan ngorbanin semua orang yang gua sayang demi gua, gua nggak siap liat Rachel dan temen-temen gua mati" batin Adi


"please Di, pilih yang tepat, gua nggak mau mati konyol kaya gini" batin Exel


"sumpah ya, gua nggak pernah bayangin kalo gua sampe kaya gini, hidup dan mati gua ada di tangannya Adi, sumpah kaya drama" batin Radit


"gua nggak papa berkorban buat Lo Chel, demi kebahagiaan Lo sama Adi gua nggak papa, tapi.....Riki sama yang lain nggak tau apa-apa, mereka harusnya nggak ikutan di masalah ini" batin Farsya yang sudah menunduk meneteskan air matanya


"oke Adi, mungkin ini pilihan yang tepat, demi semuanya" batin Adi


"oke! gua-" terpotong


Jangan bergerak!! atau kami tembak!!


teriak polisi yang sudah mengepung mereka


Chika langsung berdiri dan kaget melihat banyak polisi sudah mengepungnya dan ada Rachel di sana


"sial! gua terkepung!" batin Chika kesal


"cepet serang!!" suruh Chika pada suruhannya


Tapi dalam sekejap mata, polisi mampu mengalahkan mereka karna jumlah polisi lebih banyak dari pada suruhan Chika. Chika yang melihat pun mengerang kesal lalu mencoba kabur dari polisi


"dasar nggak becus!!" gumam Chika saat menuruni tangga


Rachel dan yang lainnya pun berlari mendekati tempat Farsya dan lainnya untuk melepaskan ikatan tali di tubuh mereka

__ADS_1


"Adi!!!" teriak Rachel


"Rachel? akhirnya......kok kamu bisa tau kita di sini?"


"udah nggak usah banyak tanya, sekarang aku mau buka ikatan kamu" balas Rachel lalu mencoba melepaskan ikatan tali itu dengan gunting yang ada di dalam saku celananya


Saat Farsya sudah terlepas dari ikatan, dia langsung berlari mendekati Riki yang masih pingsan dan masih di ikat walau tertatih-tatih karna siksaan Chika padanya yang mencambuk kaki juga badannya. Muka Farsya sangat cemas menatap Riki


"Ki........ Ki......bangun Ki....." ucap Farsya lirih sambil menepuk-nepuk pipi Riki


"gua bakal ngelepasin ini dulu" gumam Farsya lalu melepaskan ikatan tali dengan susah payah


Teman-temannya pun hanya menatap sedih Farsya dan Riki dari tempat mereka di ikat tadi, karna Riki di ikat di tengah roftop gedung


"akhirnya....." seru Farsya lalu mencoba menurunkan tubuh Riki agar berbaring di pangkuannya


Rangga yang ingin mendekati Farsya dan Riki pun ditahan lengannya oleh Tasya


"udah diem aja dulu, kasih mereka waktu ntar kalo ada apa-apa baru kita kesana" ucap Tasya yang seolah-olah tau jalan pikiran Rangga sekarang


"Ki....... hiks... hiks.....Ki.....bangun..... maafin gue Ki...... makasih udah dateng buat nolongin gua......." kata Farsya yang menangis melihat Riki yang ada di pangkuannya


"Ki......bangun.....hiks..." tetesan air mata Farsya mengenai wajah Riki


"Riki...... please......gua mau Lo bangun sekarang!!!!" kesal Farsya masih dengan menangis dan memukul-mukul dada Riki lalu memeluk wajah Riki, berharap Riki bisa bangun


"please Riki...... please..... bangun...... bangun buat gua..... please..... hiks"


Merasa Riki kenapa-napa, Adi dan lainnya pun mendekati Farsya


"udah Sya.....kita bawa aja ya ke rumah sakit?" kata Faiza yang sudah jongkok di samping Farsya


"iya!! bawa Riki sekarang!! cepet!! gua nggak mau dia kenapa-napa!!" teriak Farsya menatap Adi


"minggir" suruh Adi lalu Adi dan Rangga memapah Riki untuk pergi dari gedung itu


Farsya berdiri, dia masih membeku menatap punggung Riki dengan membekap mulutnya sendiri karna menangis


"udah Sya.....dia pasti nggak kenapa-napa, dia cuma pingsan" ucap Rachel mencoba menenangkan Farsya


"Sya.....jangan nangis dong.....gua jadi ikutan sedih" Jennie pun langsung memeluk Farsya dari samping


"tapi gua takut Riki kenapa-napa, dia pingsan gara-gara berantem, kepalanya di pukul, gua takut......" kata Farsya lirih sambil menundukkan kepalanya menangis


Mereka pun langsung memeluk tubuh Farsya untuk meyakinkan semuanya akan baik-baik saja


"tenang aja, dia kuat kok, gua yakin dia nggak kenapa-napa" ucap Tasya menenangkan Farsya


"maaf mba, mas" panggil salah satu polisi pada Farsya dan teman-temannya


Exel dan Radit yang masih ada di tempat pun menjawab polisi


"iya pak ada apa?" tanya Radit


"begini mas, mbak, saya dan rekan polisi yang lainnya akan membawa mereka ke kantor sekarang, boleh kita meminta salah satu dari kalian ikut ke kantor untuk memberikan keterangan?" tanya polisi itu


"oh! baik pak, biar saya aja yang ikut" jawab Radit


"baik mas, mari ikut dengan kami" polisi itu pun mendahului Radit


"bro, Lo temenin mereka aja, gua yang ke kantor polisi" suruh Radit lalu pergi mengikuti polisi


"oke, ati-ati bro!!" teriak Exel


"ekhm....." Farsya dan lainnya yang tadi berpelukan pun menoleh ke arah Exel


"kita ke rumah sakit sekarang aja, kita liat keadaannya Riki" kata Exel


"iya, bener tuh, yuk Sya, Lo juga banyak luka kaya gini.....aduh.... pasti sakit" heboh Faiza menatap tubuh Farsya khawatir


Farsya hanya tersenyum menanggapinya


"gua nggak papa kok" balas Farsya dengan suara seraknya karna habis menangis


"nggak papa gimana?! badan sama baju Lo sampe robek-robek kaya gini Sya!!" kesal Tasya


"gua udah biasa, biasanya gua juga sering jatoh kan kalo latihan basket?"


"Farsya......itu latihan basket cuma paling luka di siku atau di lutut, nah ini sekujur tubuh Lo Sya....."


"udah Sya nurut ya? kita semua khawatir sama Lo" ucap Rachel lembut


"udahlah, Lo nurut aja, gua aja ngerasa remuk ni badan, lah Lo yang kagak tau lagi gua berapa kali Lo di pukul di siksa di sini masih bilang nggak papa?! udah deh nggak usah sok kuat" kata Exel

__ADS_1


"Lo nggak usah ngegas bisa nggak? temen gua lagi sakit ini" tanya Faiza kesal


"iye-iye, ya udah yok, bisa jalan kan Lo?" tanya Exel, Farsya mengangguk lalu teman-temannya memapah dia agar bisa jalan


__ADS_2