![[Revisi] Cinta Komedi Remaja](https://asset.asean.biz.id/-revisi--cinta-komedi-remaja.webp)
Setelah makan siang, mamah Devan mengetuk pintu Devan berniat menanyakan sesuatu pada anaknya itu.
tok.....tok.....tok.....
"Devan!! buka nak, mamah mau ngomong" teriak mamah dari luar pintu
"sebentar mah, aku lagi pake baju"
kreak....
Pintu kamar pun dibuka oleh Devan, dan menampakkan mamah yang masih cantik walau sudah berkepala empat.
"apa mah?"
"boleh mamah masuk dulu?"
"eh, iya, masuk mah"
Mamah Devan pun masuk dan duduk di sofa kamar Devan, dibelakang Devan hanya mengikuti dan berfikir tumben mamahnya datang juga raut wajahnya terlihat berbeda, terlihat serius
"ada apa sih mah?"
"duduk" Devan duduk di sebelah mamahnya dan masih melihat mamahnya dengan heran
"ada apa mah?"
"mamah mau nanya sama kamu, kamu masih mau mendem perasaan kamu?" tanya mamah dengan tatapan mata serius
"a-apaan sih mah? nggak jelas mamah, perasaan apa juga?" Devan hanya memalingkan wajahnya dari wajah mamahnya
"mamah beneran Devan, mamah tau semuanya"
Seketika Devan menatap mamahnya dan menatapnya dengan serius
"maksud mamah?"
"kamu suka kan sama Chika? adik kamu?"
"ma-mamah tau dari mana?"
"nggak usah mamah tanya sama kamu juga mamah tau kamu suka sama Chika, pertama kali kamu ketemu sama Chika mamah bisa liat gerak-gerik kamu, tatapan kamu, perilaku kamu ke Chika juga udah keliatan"
"a-aku juga nggak tau mah, apalagi sekarang aku malah bantuin dia buat deket sama cowok" jujur Devan menunduk
Mamah yang tersentuh pun mengelus rambut sang anak tercinta dengan lembut. Beliau tau bagaimana rasanya menjadi Devan, pasti berat.
"mah, apa aku salah suka sama adek tiri aku?" tanya Devan yang masih menunduk dan memegang kepalanya frustasi
"nggak kok, kamu nggak salah, mamah tau kok rasanya, tapi mamah pesen mending jangan terlalu cinta dan sayang sama Chika karna kamu tau sendiri kalo Chika itu adek kamu. Adek yang seharusnya kamu jaga sebagaimana kamu jaga adek kandung kamu sendiri"
Devan yang mendengar pun menolehkan kepalanya dan menatap mamahnya sendu
"aku juga udah nyoba mah, tapi aku satu rumah sama dia udah pasti aku ketemu apalagi aku yang anter jemput dia, itu yang bikin aku susah ngelupain dia dan sadar kalo Chika cuma adek aku, nggak seharusnya aku suka sama adek aku sendiri"
"iya-iya mamah tau, tapi akan susah kalo kamu tetep ngarepin Chika, Devan, dia juga nganggep kamu sebagai kakak laki-lakinya dia doang, nggak lebih"
__ADS_1
Perkataan mamah membuat mental Devan down kembali, seperti tidak ada harapan lagi untuk dia masuk ke kehidupan Chika
"hahaha, mungkin aku udah nggak ada harapan, terlalu bodoh buat mencintai seseorang yang seharusnya nggak aku cintai" ucapnya dengan smrik dan tatapan kosongnya
"maaf sayang, bukannya mamah mau bikin kamu down, tapi come on, diluar sana banyak cewek yang mau jadi kekasih kamu, bukan adek kamu"
"iya mah...... makasih ya udah bikin aku sadar, selama ini emang aku bodoh, akhirnya aku bisa tau kenyataan yang kejam ini" ucapnya tersenyum tapi matanya seperti sedang menahan air matanya agar tidak keluar
"maaf sayang......" mamah pun kembali mengelus surai kepala anaknya yang sedang menunduk menahan air matanya
"mamah nggak usah minta maaf seharusnya aku yang minta maaf, maaf kalo aku mencintai adik aku sendiri, anak papah aku" ucap Devan menatap mamahnya kembali
"nggak, kamu nggak salah, disini cinta kamu cuma salah tempat, mamah yakin kamu bisa melewatinya sendiri dan mungkin kamu bisa menghindar sementara kalo kamu nggak kuat, mamah selalu ada buat kamu sayang, i love you my boy" ucap mamah memeluk dan mencium pucuk kepala Devan seolah menenangkan hati anaknya yang sedang gundah
Devan yang dipeluk pun hanya terus menahan air matanya, dia tidak mau menangis di depan mamahnya. Jadi dia terus tersenyum terpaksa walau matanya berkata lain dengan bibirnya yang terus tersenyum.
"thank you mom, your my motivation, your my energy why i'm still here, thank you so much"
"yess, i still here to you in everything"
Devan yang merasa cukup akhirnya melepas pelukan mamahnya dan kembali menatap mata mamahnya yang juga seperti menahan air mata
"mah nggak usah nangis, aku bisa kok, mamah nggak usah khawatir"
"mamah percaya kamu bisa tapi nggak ada ibu yang bisa nggak khawatir ke anaknya saat anaknya dalam kesusahan"
"ya aku tau, i know, tapi mah aku bisa aku akan perlahan melepas dengan caraku sendiri, aku akan mencoba menjadi kakak yang baik, yang melindungi adiknya dan memberi kasih sayang yang seharusnya bukan kasih sayang seorang lelaki pada seorang gadis"
"maaf udah bikin hidup kamu rumit dengan masalah ini, mamah nggak tau kalo jadinya kaya gini"
"mamah bangga sama kamu, mamah akan selalu ada buat kamu kapanpun kamu mau, dimana pun kamu berada doa mamah akan menyertaimu, kamu anak mamah satu-satunya dan kamu harapan mamah satu-satunya"
"mamah juga perempuan pertama yang aku cintai di dunia ini, aku akan inget kata-kata mamah, makasih mah"
Setelah mengucapkan kata itu, tiba-tiba mamah Devan menangis. Devan yang melihat pun kembali memeluk mamahnya ini dengan sayang, begitu juga dengan mamah, dia membalas pelukan Devan dan terus memberikan kata semangat pada anak laki-lakinya ini.
Dikira cukup, mereka melepas pelukan hangat mereka lalu mamah Devan pamit keluar dan menyuruh Devan agar istirahat
"mamah keluar ya? kamu istirahat aja, jangan dipikirin dulu"
"ya mah, makasih udah ngasih aku nasehat, kalo nggak mungkin aku akan terus-terusan kaya gini"
"iya, udah tugas mamah buat ngasih nasehat sama kamu, ya udah mamah ke bawah ya sayang" ucapnya berdiri dan mengelus sebentar rambut Devan
"iya mah"
...----------------...
Ditempat lain ada sepasang kekasih baru yang masih berduaan di pinggir danau walau waktu sudah sore, tepatnya jam 15.30 WIB.
Mereka saling tertawa dan menjahili.
tung.....tung......
Saat mereka menikmati sore dipinggir danau tiba-tiba ada suara penjual es krim. Biasanya di sebut es tung tung, sesuai namanya es tung tung sendiri mempunyai ciri khas yaitu penjualnya akan membunyikan sebuah gong kecil yang berbunyi "tung tung" jika dipukul.
__ADS_1
"eh! ada es tung tung, kamu mau Chel?"
"mau! udah lama aku nggak makan es tung tung lagi"
"sebentar ya? aku beli dulu, di situ" ucap Adi menunjuk penjual es yang sedang mangkal di dekat pohon tidak jauh dari tempat mereka duduk
"iya, jangan lama-lama ya? aku keburu kepengin"
"iya...... bentar ya?" setelah itu Adi pergi membeli es tung tung itu
Adi membeli 2 cup sedang untuk Rachel dan dirinya. Saat Adi membeli es tung tung, Rachel malah terfokuskan oleh anak gadis kecil yang cantik sedang berlari-lari senang sambil membawa balon ditangannya. Anak kecil itu sedang bermain kejar-kejaran dengan teman sebayanya, seorang anak laki-laki yang tampan. Bahkan sangat tampan, imut, dan memiliki mata yang sipit, sepertinya mereka anak blasteran? begitu pikir Rachel.
Rachel sangat gemas pada anak kecil itu sampai tidak sadar Rachel mengembangkan senyumnya. Senyum yang manis, matanya masih fokus melihat tingkah kedua anak itu. Sampai Adi baru datang sambil membawa es di kedua tangannya.
Adi yang heran dan penasaran pun mengikuti arah pandang Rachel. Di sana Adi juga mengembangkan senyumnya, dengan sengaja dia menempelkan 1 cup es tung tung ke pipi Rachel.
Rachel yang terlalu fokus akhirnya tersadar dan menoleh, Adi sedang tertawa sampai mengeluarkan lesung pipinya yang lucu. Tapi tidak bagi Rachel, dia masih kesal karna Adi sudah mengagetkan dirinya dan malah tertawa.
"ih.....dingin tau, ngapain sih ngagetin?" tanyanya ketus lalu memasukkan 1 sendok es ke mulutnya
Adi pun duduk sambil melihat kembali ke arah 2 anak kecil tadi tak lupa juga dengan senyumannya.
"lagi liatin mereka ya?" tanya Adi masih melihat 2 anak kecil tadi
"iya, mereka lucu tapi kamu malah ngagetin aku"
"ya kan aku cuma bercanda, tapi mereka kaya kita dulu ya? suka main bareng, lari-lari bareng, hujan-hujanan bareng, seru deh" ucapnya sambil memasukkan 1 sendok es tung tung ke mulutnya
" masa sih? menurut kamu seru? menurut aku nggak tuh, kamu malah nggak ngebolehin aku hujan-hujanan, aku hujan-hujanan aja juga karna berhasil kabur dari kamu"
"ya kan aku ngelarang kamu juga buat kebaikan kamu, biar kamu nggak sakit"
"iya, tapi kamu terlalu berlebihan, aku bersin aja langsung panik, gimana aku sakit? kayaknya kamu udah kebingungan"
"ya aku khawatir ke kamu"
"iya-iya, khawatir boleh tapi jangan terlalu, aku malah ngerasa nggak bebas"
Seketika keadaan hening, mereka sibuk menghabiskan es tung tung nya. Sampai mereka mendengar suara anak kecil yang sepertinya terjatuh. Mata mereka refleks melihat ke seberang dimana anak kecil tadi berlarian. Dan benar saja kalau gadis kecil itu terjatuh.
"akh.......hiks....hiks.... mamah......atu atit......" rengek anak gadis itu sambil memegang lututnya yang memerah
Dengan sigap sang anak lelaki kecil itu menghampiri gadis kecil yang sedang menangis
"kamu nggak papa? mau aku gendong?" tanyanya yang sudah jongkok menjajarkan badannya dengan badan gadis kecil tadi
"nggak mau.......atu maunya mamah......hiks...."
"tapi Tante lagi nggak dirumah"
"telus gimana? ati atu atit.....hiks....." gadis kecil itu kembali memegang lututnya dan menangis
"Di, kamu nggak mau bantuin mereka? kamu kan udah SMA harusnya kamu bantuin mereka" saran Rachel pada Adi yang sedang fokus melihat interaksi 2 anak kecil di seberang sana
"ya kamu kira aku nyebrang ke sana? kamu mau aku tenggelem?" ucap Adi ketus sambil melihat Rachel sebal
__ADS_1
"ya aku kan cuma tanya, nggak usah marah dong"