
Kini usia kandungan dania genap 4 bulan, keakraban dengan fakran tak luntur, ayah dania juga ibunya menerima fakran dengan bahagia, tetapi entah hanya dimata dania saja.
Dania kini diruang perpustakaan ayahnya, disana kebanyakan buku tentang kerja ayahnya dan buku tebal yang tersusun rapi, sering terlintas tentang fakhri yang entah apa kabarnya, hanya dari telpon saja dania tak puas, ia sangat ingin mengajak fakhri ke singapura, tetapi terhalang dengan kuliah Fakhri dan tugas-tugasnya.
Dania mengambil 1 buku, tiba-tiba terjatuh beberapa foto, sepertinya berasal dari buku itu, dania memungutnya.
"Dania, ternyata kau disini, membaca apa?"tanya ayah dania dingin memasuki ruangan itu.
Dania menoleh ke asal suara, tidak menjawab dan fokus melihat foto tadi, mata dania terbelalak, ternyata itu dirinya, saat dirinya semasa sekolah dan ada 1 foto dania habis dibulli, dania bergetar lalu menoleh ke ayahnya yang tenang-tenang saja duduk disofa ruangan itu.
"A-ayah, a—apa, apa maksudnya ini ayah?"
"Lihat sampul buku itu,"
Dania melihat sampul buku itu, itu adalah diari keluarga, Dania tetap menunduk dan mengatakan yang sangat ingin disampaikannya.
"Selama aku disana, apa ayah tak ada keinginan sedikitpun membawaku kesini? Apa karena ibu saja ayah membawaku kesini? Apa alasannya kenapa dania tak bisa kesini saat tamat SMA dulu yah? Bukannya itu janji ibu dan ayah saat aku masih sekolah?"
"Apa maksudmu dania? Ayah hampir tak mengerti apa yang kau bicarakan?!"tekas ayahnya dingin.
"Apakah ayah menganggap dania baik-baik saja disana yah? Setelah tamat SMA, aku tetap dikucilkan yah! Aku dikucilkan kepada teman-temanku! Aku merasa tak bebas! Ditambah lagi fakhri sudah pergi melanjutkan pendidikannya,"ujar dania dingin tak menatap ayahnya.
"Bukannya kau melanjutkan pendidikan juga seperti fakhri?! Kenapa kau memilih tetap dirumah dan merenungi dirimu! Ayah sudah percaya kepada kakakmu bahwa kau disana baik-baik saja,"sahut ayah dania duduk dibangku kerja nya, kembali menghadap laptop.
"Tidak ayah! Aku tidak baik-baik saja! Aku tak baik-baik saja! Aku sangat tak ingin menetap disana, aku ingin didekat ibu! Aku tak betah disana! Selalu dihindari semua orang, kecuali kak fadhil dan orangtua fakhri,"sarkas Dania melihat ayahnya.
"Itu salah dirimu sendiri dania! Kenapa kau tak melanjutkan pendidikanmu bersama fakhri! Malah memilih melayani putra bungsu dari pak abraham hingga kini kau masih mengandung anak itu!"sergah ayahnya.
Dania terkejut dengan ucapan ayahnya, merasa bahwa ayahnya mengetahui jika itu adalah anak dari putra bungsu pak abraham.
"Tidak ayah! Tidak! Yang kukandung bukanlah cucu dari pak abraham!!"tekas Dania tak mengakui.
"Jika memang anak fakhri, tidak mungkin kini kandunganmu sudah sebesar itu, ayah saja tidak percaya,"ujar ayah dania, ayah Dania juga tak percaya tetapi ayahnya ingin tau dari dania.
"Apa yang membuat ayah percaya bahwa ini adalah anak putra bungsu pak abraham!"tanpa sadar darnia mengucapkan itu, padahal ia tak ingin mengatakan hal itu kepada ayahnya, namun Dania mengabaikannya mendengar ayahnya mengungkit putra bungsu pak abraham.
__ADS_1
"Putra bungsu pak abraham mengincar identitasmu, berusaha menghubungi ayah, dan akhirnya ayah menyambut mereka, awalnya ayah tak percaya, tetapi ayah kira itu ada benarnya,"
"Ini salah ayah dan ibu juga! Kenapa ayah percaya dengan omongan kak fadhil! Aku sudah tak betah disana! Aku sudah ingin pergi darisana! Tetapi kenapa dia menahanku! Bahkan untuk pergi kerumah orangtua fakhri saja kakak melarangku! Bukan aku yang jahat yah!"tekas dania lagi.
"Jadi setelah ini keinginanmu apa dania?!"
"Dania, tak ingin lagi pulang kesana yah! Jika pulang, dania ingin kerumah orangtua fakhri saja,"dania terdiam, ia memang sudah benar-benar bosan disana.
"Apa yang sebenarnya yang terjadi dengan anak bungsuku ya Tuhan? Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa bisa menjadi seperti ini?"bathin ayah dania menghunus nafas kasar lalu mengusap wajahnya kasar.
Dibalik ruang perpustakaan, ibu dania menangis juga mendengar pengakuan dania, ibu dania juga tak ingin dania seperti ini, diperlakukan dengan cara yang tidak adil.
"Sebenarnya ayah disingapura berusaha mendirikan usaha juga yang dikelola kakakmu di medan, dan ayah juga berusaha berjuang agar tak bangkrut dan mempertahankannya, disingapura ayah menjadi manager perusahaan orang, dan sangat sulit untuk pulang."
"Ayah terlalu membela kak Fadhil!"sergah Dania.
Mulut ayah Dania tercekat, tak bisa mengatakan apa-apa, bahkan ayah Dania tak menyadari apa yang dilakukannya kepada putrinya, dan menganggap semua baik-baik saja, ayah Dania menghela nafas lalu pergi meninggalkan dania diruang pustaka.
Malamnya, ayah dania duduk diteras didepan kamar, menatap bintang malam dan juga terang bulan membuat ayah dania semakin rileks walaupun ingatan tentang ucapan putra pak abraham dan putri bungsunya masih terngiang-ngiang di kepalanya.
"Istriku, aku mendapat kabar tak baik dari medan sana,"
"Apa itu suamiku?"
Ayah dania terdiam sejenak, menarik nafasnya pelan"Dia, dalvino, mengaku anak dari pak abraham, orang yang disegani juga dikota medan itu, menyampaikan pesan, aku tak tau itu kebenaran atau tidak, dia terus terang mengatakan bahwa anak yang dikandung dania adalah anaknya, cucu abraham, entah darimana dia mendapatkan nomorku, tetapi, sepertinya itu masalah besar buatku,"
"Jangan percaya dulu, terkadang orang bisa saja iseng atau menjual nama agar dibayar sesuai kemauannya,"
"Ya, aku berfikir seperti itu, tetapi, apakah benar anak kita dania disana masih dibulli hingga sekarang?"
"Mereka selalu memberikan lelucon yang tak masuk akal, membuat orang yang sangat serius mendengarkannya menjadi marah dan tak terima apa yang dikatakannya, aku akui, benar jika dania disana masih dibulli karena kepintarannya. Tetapi aku percaya, suatu hari nanti dania akan menindas mereka sesuai apa yang mereka lakukan! Orang bodoh tak akan menyerah melakukan hal yang onar, tetapi jika dia pintar, dia pasti menyerah dan berhenti melakukan hal yang membuatnya sia-sia saja, manusia bebas hidup dan melakukan apa saja, tetapi tidak dengan pandangan orang yang melihatnya,"cetus ibu Dania tak menatap suaminya.
Ayah dania terdiam mendengar ucapan ibu dania, mencernanya"Ada benarnya juga, tetapi, beberapa bulan ini, aku akan mencoba dania memegang jabatanku sekarang,"
"Jika terjadi hal-hal yang buruk bagaimana?"
__ADS_1
"Aku akan membenarkannya, bos perusahaan juga sangat mempercayaiku,"
"Baiklah, tetapi, dania melahirkan lama lagi, jadi kau harus menunggu hingga dania lahiran."
"Tidak perlu, aku percaya dania bisa mengendalikannya walaupun sedang mengandung, aku dan dia dulu mengalami masa lalu sama, saat sekolah orang lain sering mengucilkanku, hingga kini mereka tau bahwa aku sangat sulit dijumpai, aku tidak menyalahkan mereka, aku mencoba memaafkan mereka, jika tak kumaafkan, aku tak bisa tenang istriku,"keluh ayah dania datar.
Malamnya juga, dania sembari menidurkan fakran, dania membaca buku yang ada fotonya, buku itu tulisan ibunya, berisikan juga tentangnya, ibunya juga menuliskan kesalahannya dalam mendidik dania dan juga doa-doa yang ditulisnya agar dania tak selamanya seperti yang putri bungsunya rasakan.
Dengan air mata yang masih mengalir, dania masih melanjutkan membaca hingga ibunya masuk kekamar.
"Dania, apa yang kau baca?"
Dania menoleh ke ibunya, memeluk ibunya erat, menangis sesenggukan.
"Dania baca apa?"
"Terimakasih bu, walaupun ibu disini, ibu tak melupakanku, dania memaafkan kesalahan ibu, mungkin saat dania disana juga ada hikmahnya bu, agar dania menjadi pribadi yang lebih baik, dan tak selalu bergantung dengan orangtua lagi, dan berubah untuk percaya diri kembali, sekali lagi, terimakasih bu,"ucap dania menangis sesenggukan.
"Hal itu yang ibu lupa katakan kepadamu, tapi ibu dan ayah ingin kau mengerti sendiri, ayo duduk disini,"ucap ibu dania lalu mengajak dania duduk dibibir tempat tidur"Memangnya kakak iparmu tidak pernah menasehatimu?"
Dania menggeleng dan masih diam.
Ibu dania menghela nafas berat dan masih melihat putri bungsunya yang kini sudah disisinya.
"Apakah istri kakakmu sering berbicara denganmu?"
Dania menggelengkan kepalanya.
"Berarti dia tak memperdulikanmu?"
"Aku bersumpah aku akan membuat mulutnya bungkam atas perlakuanku disuatu hari nanti Bu!"
"Asalkan itu tak menyakiti kakakmu, ibu rela, ibu juga menjadi kurang suka dengannya,"
Dania memeluk ibunya sembari bersandar disamping ibunya.
__ADS_1
Ibu Dania langsung mencium pipi dania, merasa tenang putrinya berada disampingnya.