
3 hari setelah pernikahan Dania dengan Fakhri, Dania sudah sepakat dengan Fakhri akan tinggal dirumah Fakhri sementara, dan sebagian Dania membawa barang-barangnya kerumah Fakhri, namun, Dania terlupa dengan buku hariannya.
Tepat juga setelah itu, ibu Dania masuk lagi, melihat kamar putrinya yang begitu rapi dan banyak buku-buku pengetahuan disekelilingnya, ada foto putrinya bersama sahabatnya yakni orang yang menikahinya 4 hari lalu, dan foto putrinya dengan keluarganya, tapi saat ibu Dania melihat ke tempat tidur Dania, mata ibu Dania menangkap suatu buku yang tepat berada disamping tempat tidur.
Ibu Dania berfikir jika Dania lupa membawanya atau sengaja ditinggal, ibu Dania mengambil buku itu dan melihat buku itu, saat dibuka, lembar-lembar buku itu berjatuhan, ibu Dania langsung mengambilnya dengan perlahan dan melihat selembar kertas yang ditulis Dania.
Bandung, 5 Oktober 2018
"Hai, apa kabar? masih bisa semangat? aku tau ini bisa, tanpa mereka, tanpa semangat dari mereka, mungkin mereka sebenarnya ingin menyemangatimu, namun kau salah mengartikan, salahkah aku masih ingin meminta perhatian kepada kalian? Dan begitu tamat SMA, aku ditinggal dengan sengaja dengan orangtuaku, meninggalkanku bersama orang dengan separuh hati menjagaku, mempercayaiku bisa bisa secepatnya mendapatkan jati diri, namun salah, apa yang terjadi nanti jika aku melakukan kesalahan, apakah mereka membunuhku?
Percayalah, aku kini tak baik-baik saja
Separuh sayap kalian menjagaku, membuatku masih merasa jatuh di langit yang tinggi, menganggap ku bisa menyulam sayap yang patah diangkasa sehingga aku goyah, kemudian jatuh, tanpa perhatian kalian, kalian anggap aku bisa berdiri sendiri.
Kak Fadhil, kakak tau kan aku siapa? Semenjak kakak sudah menikah, semenjak kakak sudah memiliki kehidupan yang baru, aku bagaikan pengganggu, aku bagaikan orang yang hanya membuat kalian kesusahan, semakin lama aku bukanlah seorang adik yang membutuhkan arahan dari kakak, aku seperti orang yang mengikuti keinginan hati walaupun salah, aku lelah kak! Ajak aku ke ayah ibu agar aku tak menyusahkan mu lagi!
Kusadari, aku adalah orang baik, aku sama seperti kalian, namun hanya karena aku merasa keberuntungan selalu berada dipihakku, kalian menjauhiku, hanya itu saja membuat kalian iri padaku?
Salahku hanya itu kan? Jika aku sekarang ini masih diatas derajat kalian, kalian bisa apa? Aku akan membuktikannya, tapi, aku tak punya pegangan untuk mengukuhkan semua itu, aku berharap padanya."
Nyonya D~
Lembar per lembar ibu Dania membaca diari Dania yang berserakan, ada yang sudah sobek, namun di lem kembali, isinya tentang perasaan Dania kepada Fakhri.
"Kau tau, kepulangan mu adalah harapanku, setiap pagi, disinar mentari yang baru muncul diantara gemerlapnya langit, membuatku menumbuhkan harapan, seseorang yang akan hadir kembali ke hidupku, menemaniku, melukiskan senyuman dibibir ku walau hanya sekali.
Kuberharap kau membawaku kealammu, menemanimu juga, dan menjadi pahlawan yang lahiriah untuk bumi ini sehingga menjadikan Negeri ini tegak kembali dan tidak hancur dimakan waktu oleh perbuatan kita sendiri, namun melihat perbedaan dari sisi manusia, membuat kita sebagian menyalahkan, dan sebagian membenarkan, hanya diri ini sendiri yang tau bagaimana benarnya diri ini memperlakukan orang lain, dan agar dikatakan orang baik.
Namun kita yang berbeda memang harus mememahami sesama, dan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa memahami hari seseorang sampai dikatakan dia adalah orang hebat."
Tuan F~
Ibu Dania menangis melihatnya, masih tidak tega dengan tulisan anaknya sendiri, walaupun tidak ada terselip nama keluarganya dan kekasih Dania, tetap saja ibu Dania merasakan apa yang dirasakan Dania saat tinggal dirumah bersama kakaknya dan juga kakak iparnya.
°°°°
Dihalaman rumah kepemilikan ayah dania, yang kini ditempati Fadhil, pak Ramdi ahmad yang sering dipanggil pak Ramdi tersebut bersantai dan disampingnya juga, ada ibu Dania yang duduk disamping pak Ramdi.
"Kutebak, bukan istriku, tetapi cucuku,"tebak pak Ramdi tak menoleh ke sampingnya.
Siti Maysaroh, yang sering dipanggil Siti tersebut tersenyum mendengar ucapan suaminya"Suamiku, kau masih tidak mengenal istrimu?"
"Oh kau," pak Ramdi langsung menoleh dan menegakkan badannya.
"Pak, sebaiknya kita bawa saja Dania ke Singapura, disini dia tak tenang,"pinta ibu Dania.
"Siti, sampai kapan putri kita bisa mandiri jika orangtua masih disisinya!"tolak pak Ramdi melihat istrinya yang memohon.
"Tapi jika terjadi apa-apa dengannya siapa yang salah? Kita atau dia? Dia hanya seorang anak yang baru saja selesai pendidikan SMA nya pak!"
__ADS_1
"Kau anggap dia baru tamat sekolah,"pak ramdi kembali bersandar di sandaran kursi"Sudah 4 tahun lamanya kita meninggalkannya, dan sampai kini juga Fakhri sebentar lagi akan wisuda, kau bilang dia baru tamat SMA?! Entah apa yang menimpanya sampai dia tak percaya diri untuk bangkit, semoga dia cepat bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya."
"Tapi, tanpa bimbingan kita, apakah dia bisa?"
"Selama ini dia berada didekat Fadhil, Fadhil pasti bi ..."
"Enggak pak enggak! Dania merasa segan saat ingin berbicara dengannya! Dia tak puas! Kali ini dia anggap berbeda pak! Aku bersumpah, aku tak rela melihat anakku setres hanya gara-gara jauh dari orangtuanya,"ujar ibu Dania khawatir memotong ucapan pak Ramdi.
"Kau tak tau Siti! Dia mengalami itu sejak kita masih disini! Hal yang tak perlu difikirkan suka sekali difikirkannya!"
Afifah pergi ke ruang tamu, namun mendengar seperti ada yang beradu argumen di teras samping, Afifah melanjutkan jalannya sembari mendekati suara itu berasal, dan benar, semakin mendekat, semakin terdengar suara kedua mertmtuanya yang tengah ribut, dan menyebut tentang Dania.
"Maka dari itu kita harus membawanya ke Singapura pak,"
"Pendek sekali pemikiranmu Siti! Dia sudah menikah dengan Fakhri, dia lebih tau kemana akan dia tuju,"
"Semoga saja itu jalan terbaik ya Allah,"doa Siti sembari berharap, ibu Dania juga tak rela putrinya terluka, namun ayahnya Dania selalu menekankan bahwa Dania harus hidup mandiri dan bersikap dewasa menghadapi masalah.
Mendadak Dania merasa bersalah setelah mendengar perdebatan mertuanya"Apa aku ada salah dengan Dania ya? Kusadari itu ada,"Afifah langsung terbayang saat Afifah tak memperdulikannya, Afifah hanya sibuk mengurusi anaknya, berbincang dengan Dania juga jarang, palingan hanya bertanya, itupun sebentar, bisa dikatakan kurang akrab, namun Fadhil juga mengetahuinya, tetapi hanya diam dan tetap berada disisi adiknya.
•^•^•^•^•
Dalvino sibuk mencari suatu barang penting miliknya Diruangan kantornya, mencari diberbagai tempat namun tidak ada, dalvino Kebingungan mencari dimana lagi, dan mencari ditempat yang sama.
"Ah dimana dia?!!"dalvino resah, dan sejenak mengingat kemarin saat jumpa dengan sefira, yakni mantan kekasihnya yang gagal nikah bersamanya.
Sefira Munaldi
"Ada apa sayang?"tanya dalvino, yakni orang yang membatalkan pertunangannya.
Sefira tersenyum manis dan mendekati dalvino, memberikan secarik surat bertuliskan undangan pernikahan dari sefira, dan kekasih barunya, Afrian.
"Semoga kau bisa datang, aku menunggu kehadiranmu," ucap sefira kemudian tersenyum kembali"Aku pamit, ada urusan lain," sefira pergi dan memasuki mobilnya, kemudian pergi meninggalkan dalvino.
Dalvino terpaku, lalu melihat surat undangan yang diberikan sefira kepadanya, bertuliskan 'kepada seluruh keluarga Abraham Wijaya' dalvino langsung kembali dan tak melihat dibawah mobilnya ada sebuah surat yang paling penting, namun dalvino langsung meninggalkannya.
Tak lama, sebuah tangan mengambil surat itu, yakni Dania yang mengambilnya, lalu melihat surat itu, tetapi karena ada yang menelponnya, Dania memasukkan surat itu ke kantongnya lalu pulang.
"Halo Dania," sapa Fadhil ditelpon.
"Iya kak," jawab Dania.
"Kau dimana? Kenapa pergi? Hari ini hari akadmu, kau harus pulang secepatnya,"
"Baiklah aku akan pulang, secepat yang aku bisa,"Dania mematikan telponnya lalu pergi.
_"_"_"_"_"_
Dania duduk didepan rumah orangtua Fakhri, menghirup udara segar, didepan rumah orangtua Fakhri banyak pepohonan dan bunga-bunga yang bermekaran di pagi hari ini, membuat fikiran Dania tenang dan damai, namun selintas fikirannya teringat jika ingin memulangkan surat terpenting yang berada ditangannya, dan ingin datang ke alamat yang ada, namun rasa malas mengelabuinya dan memilih duduk menikmati semilir angin membuatnya hampir mengantuk.
__ADS_1
"Dania,"panggil Fakhri yang tiba disamping Dania, kemudian duduk disamping Dania.
Dania menoleh ke asal suara, lalu kembali melihat suasana didepan rumah orangtua Fakhri.
"Papa!"panggil fakran yang kini telah menjadi anak Dania dan juga Fakhri.
Dania menatap wajah fakran sekilas seperti tak peduli.
"Iya sayang, ada apa?"tanya Fakhri melihat fakran.
"Pa, tadi aku liat kakek ngaduk gula, fakran mau rasa, tapi kakek marah,"keluh fakran.
"Iya sayang, karena masih dalam wajan, nanti tangan fakran jadi terluka," ujar Fakhri lembut.
"Oh begitu pa, mama kenapa termenung?"tanya fakran ke Dania yang termenung, tak sadar saat fakran menegurnya.
"Ibu mikirin dedek bayi,"bisik Fakhri ke fakran, membuat Dania langsung tersadar dan melihat fakran cemberut.
"Fakran kenapa? Gak mau punya adik?"tanya Dania dengan tak suka melihat wajah fakran.
Fakran menggelengkan kepalanya dan masih cemberut.
"Sini sayang, kan enak punya adik, ada teman bercanda, ada teman untuk dilindungi,"ujar Fakhri.
"Kalau fakran gak disayang lagi gimana?"tanya fakran ke papanya.
"Enggak kok, papa dan mama tetap sayang, iya kan ma?"tanya Fakhri.
"Iya dong,"jawab Dania pasti, Dania langsung mengusap perutnya dan masih tenggelam dalam fikirannya.
"Oh ya, aku tadi dapat chat dari grup kuliahku, bagi yang mau sidang skripsi sudah dipersilahkan diberikan judul skripsi nya, tetapi, kenapa rasanya gue pengen mau berhenti, mau nerusin cari uang,"ujar Fakhri tak melihat Dania.
Dania ya g mendengarnya langsung menoleh"Pendek banget pemikiranmu?"tanya Dania menoleh sekilas Fakhri.
"Mama, papa, fakran ke nenek ya?" Tanya fakran.
"Iya sayang,"jawab Fakhri.
Fakran langsung pergi kedalam dan Dania juga melihatnya.
"Gue ngerasa kalo setelah menikah ini ..."
"Lu gila ya, udah sebentar lagi mau wisuda, eh malah mau berhenti, pas ada fakran dihiduplo dan belum nikah, gak ada terdengar gue Lo mau berhenti,"potong Dania dengan heran.
"Iya sih, tapi gak apa-apa kan?"tanya Fakhri ragu.
"Gak apa-apa, gak masalah, gue sangat mendukung Lo untuk kuliah, bukan putus kuliah,"support Dania.
Fakhri tersenyum lalu menatap dania"Terimakasih my wife,"
__ADS_1
"Your welcome,"balas Dania.