
09:00 PM
Saskia yang berjalan bergegas menuju mobilnya tiba-tiba mendapat telpon dari seseorang, ia segera melihatnya, dan ternyata dalvino. Saskia langsung menekan tombol hijau di ayar gawainya.
"Halo, ada apa?"tanya Saskia di telpon.
"Ibuku, menyuruhmu untuk kerumah, kau tak lupa dengan rumahku kan?"tanya dalvino yang kini tidak dirumahnya, melainkan dirumah kakaknya.
"Om, bukain dong jajan aletha!! Aletha mau makan ini!!"ucap seorang anak kecil mendekati dalvino menyuruh ia membuka jajan.
"Oke!!"dalvino mengambil yang diberikan kemanaannya dan membukakan jajan itu.
Saskia tersenyum"Kau ada dimana? Kenapa ada anak kecil?"
"Yaa aku ada dirumah kakak perempuanku, namanya Zahrah."
"Jam berapa aku ke rumahmu? Soalnya aku juga ingin pergi."
"Ibuku menyuruh sekarang, bagaimana? Apakah kau bisa?"
"Sangat bisa, ya sudah aku segera kesana."
"Hati-hati ya!!"
"Om! Menelpon siapa?"
"Menelpon calon istri om!"balas dalvino lalu mencium pipi kemanaannya.
Saskia tertawa kecil mendengar ucapan dalvino lalu mematikan telpon, ia langsung menghidupkan mobilnya dan segera menuju ke rumah keluarga Abraham.
Ditengah jalan, Saskia terfikir kenapa dalvino tidak menjemputnya dulu? Seperti tidak ada rasa romantisnya kepada tunangannya, dan ia juga secepatnya membuyarkan fikirannya yang mendadak seperti itu.
""""
Sefira menelpon Windi, yaitu staf di kantor pak Abraham, ia menunggu Windi mengangkat telponnya, semakin lama ia resah karena ulah Chandra yang selalu mengejarnya.
"Halo sefira? Ada apa?"tanya Windi yang mengangkat telpon sefira.
"Windi! Chandra hari ini datang?"tanya sefira balik.
"Kenapa? Apakah kau ingin libur lagi? Jika kau terus menerus libur, gajimu selama ini akan lenyap, dan jabatanmu juga menghilang, jadi ... Hadapi saja resikonya, kau itu cantik, jadi kau pasti sangat bisa mencari lelaki lain selain dalvino! Ingat itu!!"jelas Windi merasa bosan.
"Memang!! Memang bisa! Tetapi tidak semua orang bisa segampang itu ternyata memahami perasaan orang lain!!"tekas sefira tak terima dengan ucapan Windi.
"Jadi sampai kapan kau seperti ini? Dalvino juga tak datang dan Chandra ... Ia ada disini, dia berpakaian sangat rapi dan ... Lumayan tampan."ujar Windi melihat sekitar dan pandangannya juga menangkap Chandra, namun ia tak kunjung mendengar suara sefira, ia melihat ke layar handphonenya, ternyata sefira sudah mematikan telponnya.
"Semuanya tidak ada yang becus!! Aku menginginkan dalvino, malah mereka memberikan Chandra kepadaku! Sampai kapanpun aku takkan pernah bisa menerima dia!!"dengus sefira yang duduk di bibir tempat tidur, merasa kenapa semua orang tidak berpihak kepadanya.
Tak lama notif chat dari nomor asing masuk, namun gaya chatnya seperti pegawai dari perusahaan pak Abraham. Namun ia membencinya saat membaca semuanya.
__ADS_1
+62823×××
Kepada sefira munaldi, apakah kau hari ini tak datang? Aku merindukanmu, kau juga sering sekali libur, ada apa denganmu?
Sefira mendelik melihat chat itu, tebakannya ialah chandra, sefira langsung membalas chat itu.
Sefira Putri Munaldi
Ya, akhir-akhir ini dirumahku sering ada acara keluarga, jadi maaf jika sering tak datang
Sefira mencoba menahan amarahnya ingin mencaci maki, ia mengusap dadanya dan melempar handphonenya ke tempat tidur.
Di kantor, Chandra duduk di bangku jabatannya, yakni asisten pak Abraham, ia melihat notif chat dilayar handphone nya, senyumnya mengembang melihat sefira membalasnya, ia ingin membalas namun urung karena ada yang menelponnya.
""""
Sampai dirumah keluarga pak Abraham, Saskia ditegur ramah dengan Satpam dirumah keluarga Abraham, ia memarkirkan mobilnya didepan rumah lalu keluar dengan buah tangan yang dibawanya untuk calon ibu mertuanya.
Dari ruang tamu, berdiri seorang wanita paruh baya melihat saskia yang masuk kerumahnya, ia langsung mendekati calon Saskia dan memeluknya.
"Calon menantuku, kau sangat cantik hari ini, ayo duduk dulu, ibu kira dalvino tak menyampaikannya padamu, ternyata ia menyampaikannya."ucap Amerta bahagia, ibu dalvino dan nyonya besar di rumah pak Abraham.
"Dalvino memberitahuku Bu, saat Saskia ingin pergi kerja, ia langsung menelponku, ini bingkisan untuk ibu."tanya saskia lalu memberikan bingkisan ke ibu dalvino, yakni Amerta.
"Ya ampun! Terimakasih ya! Ibu akui dulu juga sefira seperti ini, kau tau sefira kan?"
Saskia mengangguk sembari melihat Amerta.
"Terlalu obsesi dengan dalvino, iya kan Bu?!"
Amerta tersenyum"Ia, ibu tak menyangka, tetapi ..."Amerta termenung mengingat perilaku putra bungsunya yang tak dekat dengannya.
"Kenapa Bu? Apakah ... Ibu dan dalvino kurang dekat?"
"Ya, itu juga, dan kau, apakah dekat dengan dalvino juga?"
"Kejadian saat dalvino tunangan dengan sefira juga Saskia tau Bu, karena, kami berteman sudah lama."jawab Saskia mengingat saat pertama kali jumpa dengan dalvino.
"Semoga, kau dan dalvino sampai ke pelaminan nanti, ibu rasanya takut, marah dan trauma dengan kejadian dulu saat melamar putri keluarga munaldi."
"Menurut ibu, jika sekarang ini sefira masih tergila-gila dengan dalvino, apa yang ibu lakukan?"
Amerta terkejut, merasa tak mungkin itu terjadi, namun ia berfikir lagi"Ibu ingin, kau dan dalvino secepatnya menikah, dan pergi dari sini, karena ... Ibu juga menjadi tak suka dengan kelakuan putri pak munaldi itu!"
"Tidak masalah dengan saya Bu, dalvino juga resah jika melihat wanita itu, dia seperti akan memakan dalvino."tukas Saskia.
"Iya, oh ya! Ibu lupa! Kamu dan dalvino belum booking baju pengantin kan? Soalnya ibu sangat lupa bertanya dengan dalvino soal baju pengantin, soalnya pernikahan kalian sebentar lagi mau dilaksanakan,"
"Iya Bu, tak terasa,"sahut Saskia.
__ADS_1
"Yuk ke butik teman ibu! Jadi kalau udah beli udah tenang,"Amerta langsung mencari supirnya, dan menyuruh supirnya untuk membawa mereka ke butik temannya, dan Saskia mengikuti dari belakang.
Sampai di toko butik, mereka disambut hangat dengan pegawainya, Saskia melihat deretan baju pesta lalu baju pengantin"Bu, apakah kita kesini tidak perlu bersama dalvino? Dan apakah khusus untuk Saskia saja?"
"Oh iya ibu lupa! Tunggu ya ibu telpon dalvino dulu!"Amerta mengambil gawainya lalu menelpon putra bungsunya.
Dirumah Zahrah, dalvino dan zafka datang kerumahnya dan bermain bersama anak Zahrah, walaupun terlihat dingin dan saat berbicara ketus, dalvino dan afizar suka bermain dengan anak kecil, dimulai merawat bunga, bermain masak-masak bersama, dan bermain boneka.
Afizar terbaring di lantai, menatap langit rumah Zahrah, ia merasa sangat letih bermain hampir 1 harian bersama anak Zahrah.
"Wuih! Capek banget! Kayaknya tenanga ku berpindah ke anak kecil itu!"keluh afizar memejamkan matanya, ia merasa sangat lelah.
Sedangkan dalvino bulak balik bertanya dan seperti teman sebaya dengan aletha, yakni anak Zahrah, mengikuti aletha bermain permainan anak.
"Hey, apakah ini bajunya masih sedikit? Paman merasa bosan melihat baju ini dari kemarin sampai hari ini."ledek dalvino melihat baju boneka aletha ditangannya, lalu menyisir rambut boneka itu.
"Paamaan!! Kata ibu gak boleh boros, kita harus hemat!! Kata ibu hemat itu pangkal kaya!!"sahut aletha melihat dalvino lalu melanjutkan merapikan baju boneka nya.
"Hey! Masih kecil saja sudah pandai berpribahasa ya! Keren sekali!!"jerit afizar yang mendengar suara aletha.
"Sudahlah! Istirahat dulu! Biarkan aku bermain dengan aletha! Jangan menganggu!"ketus dalvino dingin.
"Paman afizar!! Boneka nya kenapa gak dimainkan, nanti dia sedih!"rengek aletha.
"Sudahlah, aku ingin tidur, sini bantal boneka nya, Paman sangat mengantuk."keluh afizar meraih bantal boneka yang bergambar boneka beruang.
"Tidak! Ini untuk panggung Boneka! Boneka aletha dan boneka paman dalvino mau nyanyi!"dengus aletha melihat bonekanya yang bergaun biru muda.
Afizar langsung mengambil boneka itu, dan terjadilah cek Cok antar paman dan kemanaan.
Dalvino tertawa melihatnya dan tiba-tiba mendapat telpon dari seseorang, ia melihat layar ponselnya, ternyata ibunya, ia langsung mengangkat.
"Halo ma, ada apa?"
"Dalvino kau dimana sekarang? Ibu lupa hari ini jika kamu harus booking baju pengantin dengan Saskia!"
"Ibu Carikan saja untuk Saskia dulu baru dalvino menyusul."
"Tetapi kau dimana sekarang?!"
"Dalvino kini dirumah kak Zahrah, dalvino rindu bermain dengan cucu pertama ibu, jika diliat dia sangat memerlukan dalvino bermain dengannya."
Amerta menghela nafas berat"Baikah, titip salam dengan aletha ya, nanti ibu akan memberitahumu warna jas apa yang akan kau pakai dihari pernikahan nanti."
"Iya ma, ini juga ada kak afizar, dia tertidur kelelahan."ujar dalvino.
"Ya ampun jadi kalian diam-diam ngumpul dirumah Zahrah? Dimana Zahrah? Coba berikan dulu telponnya dengan Zahrah, kakakmu itu juga sudah lama tak kerumah!"
"Ya ma! Zahrah disini!"sahut seseorang dari samping Dalvino, dalvino melihat ke asal suara itu dan ternyata kakaknya.
__ADS_1
"Ini, ibu ingin bicara padamu!"dalvino memberikan ponselnya ke kakaknya, lalu ia melanjutkan bermain dengan anak kakaknya itu. Tiba-tiba dalvino teringat tentang Dania, ia tak kunjung mendapatkan wanita itu, juga kefikiran apakah Dania akan hamil darinya? Atau sudah digugurkan, ia sangat ingin tau bagaimana kabar wanita itu, namun terlalu banyak halangan yang ia lewati.
"Aku bersumpah aku akan berjumpa dengan wanita itu nanti, di waktu yang tepat!"bathin dalvino yakin.