
Di tempat kerja Fakhri, semuanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, selama seminggu ini ia mengerjakan tugasnya dengan baik juga dengan sikap baik ayah asya membuat Fakhri menghilangkan rasa buruk sangka nya kepada ayah asya bahwa tidak seperti yang ia rasakan.
"Fakhri, kau dipanggil bos ke kantornya."suruh Azka yang mendekati Fakhri, lalu menghentikan langkahnya.
Fakhri yang sedang mengecek di tempat peralatan dapur, langsung menoleh ke Azka.
"Pak afiyan memanggilku?"tanya fakhri heran.
"Iya,"jawab Azka sembari menganggukkan kepalanya.
"Oke terimakasih ya,"
"Iya,"
Fakhri yang berjalan pergi ke kantor menoleh ke belakang, Azka mengikutinya.
"Kau ingin kemana lagi?"tanya Fakhri.
"Ke kantor juga,"jawab azka datar.
"Loh disuruh bersamaan ya, ada apa ya?"
"Entahlah aku juga tidak tahu."
Saat sampai didepan pintu, Fakhri membuka kenop pintu lalu berjalan masuk.
"Permisi pak, ada apa pak?"tanya Fakhri berjalan mendekati pak afiyan yakni ayah asya yang duduk di bangku khususnya dan didepannya juga ada meja.
Saat Fakhri ingin duduk, satu pukulan keras mendarat di kepala Fakhri bagian belakang, membuat Fakhri langsung pingsan dan ambruk.
"Kerja bagus!"ketus pak afiyan dingin menoleh ke Fakhri yang sudah terbaring di lantai.
Azka tersenyum senang melihat aksinya yang bagus.
Mereka langsung membawa Fakhri pergi ke secepatnya sebelum Fakhri tersadar.
Di ruangan itu, Fakhri tersadar merasakan kepalanya masih berdenyut, membuatnya tak mampu bangkit, melihat sekitar ruangan itu seperti dirumah sakit, juga bajunya yang menurutnya berbeda, ia mengira jika memakai baju kerjanya, tetapi kini memakai jas hitam dan celana juga.
"Ya Tuhan dimana aku! Siapa yang membawaku kesini!"bathin Fakhri, ia belum mampu menggerakkan kepalanya, menoleh ke samping kanannya, terlihat seorang pasien wanita bersama ibunya yang melihatnya.
"Papa, lelaki itu sudah sadar! Cepat kesini!"ucap wanita itu seperti menelpon seseorang, lalu berjalan ke Fakhri.
"Ka-kau sudah sadar?"tanya ibu itu yang sudah didekat Fakhri.
Fakhri ingin menganggukkan kepalanya tetapi masih terasa sakit, mulutnya juga berusaha bergerak menanyakan dimana ia sekarang.
Pintu kamar itu terbuka dan terlihat seseorang lelaki yang masuk lalu mendekatinya juga.
"Akhirnya kau sadar, baiklah ini demi putri kita, aku sudah yakin jika dia pantas dengan putri kita."ujar lelaki itu yang lain dan tidak bukan adalah pak afiyan, bosnya juga ayah asya.
__ADS_1
"Maksudnya, apa? Maksudnya apa?"tanya Fakhri yang sudah berhasil menggerakkan bibirnya walaupun masih meringis kesakitan.
"Bangkitlah, sekarang kau sudah pulih."ujar pak afiyan.
"Te-tetapi, kepalaku masih terasa sakit."
"Kau apakan dia tadi?"tanya nyonya afiyan menoleh sekilas suaminya, yakni pak afiyan.
"Aku menyuruh karyawan lain untuk memukul kepalanya,"
"Apa tidak ada cara lain?!"
"Ini sudah terlanjur hemalia."jawab pak afiyan.
Fakhri yang mendengar itu merasa kesal, tetapi kepalanya masih berdenyut sakit.
"Kau panggil dokter dulu, dia sedang kesakitan!"
"Iya sabar."ucap pak afiyan keluar.
Setelah datang dokter, dokter menjelaskan jika kepala fakhri masih perlu perawatan lagi dan benturan yang terkena kepala Fakhri terlalu kuat.
"Pak, apa maksudnya ini?"tanya Fakhri menoleh ke pak afiyan.
"Keputusan saya sudah bulat! Saya akan menikahkan mu dengan asya,"
"Sekarang kau harus menuruti perintah saya! Jika tidak kau tidak akan bisa pulang!"ancam pak afiyan, sejak dari dulu ia mengira asya akan menikah dengan Fakhri. Tetapi tidak, asya memilih menikah dengan kekasihnya tetapi pak afiyan merasakan hal yang aneh yang terjadi kepada asya. Dan benar, hal itu sudah terjadi sekarang.
Fakhri meringis memejamkan matanya mengingat ancaman pak afiyan juga anak-anaknya dan Dania yang mencarinya.
"Sekarang kau duduk!"titah pak afiyan menatap Fakhri.
Fakhri mencoba untuk duduk, bersandar di dinding.
"Jabat tangan saya!"perintah pak afiyan memberikan tangan kirinya, mengakadkan Fakhri dengan asya yang masih terbaring di tempat tidur.
Pak afiyan memulai akadnya, mengucapkan ijab qobul dengan Fakhri yang pasrah, ia tak menyangka ini terjadi, juga bujukan Dania yang terlintas di kepalanya membuatnya ingin menangis. Dan tanpa sadar air matanya sudah menetes di pipinya, merasa menyesal tetapi itu sudah terjadi di dirinya, ia ingin menjerit melihat ini memanggil Dania yang seperti menjebaknya, berfikir bagaimana nanti saat ia pulang? Semua mengkhawatirkannya dan mungkin sekarang semuanya menunggunya pulang, terlintas di fikirannya jam berapa sekarang, ia menoleh ke sekitar mencari dinding, tetapi pak afiyan memanggilnya.
"Fakhri, sekarang kau, ucapkan ijab qobul nya,"
Fakhri terdiam, berfikir apa yang pak afiyan katakan pas akad, menoleh ke wajah pak afiyan.
"Pak, aku, aku tidak bisa melanjutkan seperti ini, aku bisa berada didekat bapak dan juga semuanya, tetapi jangan sampai akad pak, Fakhri tidak mau, Fakhri tak terima pak,"tolak Fakhri tidak terima dengan apa yang dilakukan pak afiyan sekarang.
"Tolong fakhri, tolong bapak, jangan katakan itu, ikuti rencana bapak, bapak ingin asya bahagia, tidak dengan kekasihnya itu! Kekasihnya itu telah melukai asya! Dan sekarang asya tidak sadar!!"ketus pak afiyan, tatapannya juga tajam menoleh Fakhri yang memelas, masih bersandar di dinding dengan tempat tidur yang pas di dekat dinding.
Fakhri menelan ludah, memejamkan matanya.
"Sekarang ikuti bapak! Bapak mohon ku harus menolong asya!"ketus pak afiyan dengan tangannya yang menjabat tangan Fakhri.
__ADS_1
Pak afiyan mengucapkan ijab qobul lagi, walaupun tidak ada mahar tetapi ia bersikukuh menikahkan dengan asya. Dan akhirnya Fakhri mengucapkan ijab qobul dengan lancar walaupun dengan air matanya mengalir membasahi pipinya dan akhirnya Fakhri dan asya sah menjadi suami istri walaupun didepan mata pak afiyan dan istrinya.
Fakhri kembali berbaring ke tempat tidur.
"Hentikan tangisanmu Fakhri, jika sakit kepalamu sudah pulih kau haru mendekati asya." Ucap pak afiyan pergi meninggalkan Fakhri serta istrinya yang melihat asya.
Saat malam, Fakhri tersadar dari tidurnya dan bangkit, ia menoleh ke seseorang perempuan yang masih terbaring di tempat tidur juga selang infus di tangannya, Fakhri mencoba turun dari tempat tidur lalu perlahan berjalan mendekati wanita itu.
Tiba didekat wanita itu, Fakhri menatap nanar wajah wanita itu, ia kenal lalu terkejut, dia adalah asya. Tetapi ia tak tahu kenapa bisa asya terbaring disini, juga wajahnya pucat, seperti tertidur dengan tenang.
Fakhri memegang tangan asya, menggenggam erat lalu melepaskannya lagi, ia pergi ke jendela, merasa rindu dengan Dania juga anak-anaknya, teringat dengan handphonenya yang menurutnya diletakkan di kantongnya, tetapi sekarang kemana, mendekati pintu mencoba membuka pintu itu dan tiba-tiba muncul dua orang suster yang masuk.
"Permisi, kami ingin mengecek pasien yang bernama asya,"
"Ya, ya silahkan suster,"balas Fakhri memberikan suster masuk memeriksa asya.
Fakhri juga mengikutinya dari belakang mereka, lalu mengamati suster dengan telaten mengecek asya.
"Suster, asya sakit apa? Kenapa dia tidak sadarkan diri?"
"Oh jadi pasien ini mengalami keguguran, kandungannya sudah 2 dan kurang nafsu makan, kecelakaan yang ia alami cukup hebat jadi cukup lama untuk memulihkan keadaannya."
"Memangnya ia kecelakaan apa?"
"Dia mengalami banyak fikiran dan terlalu giat bekerja, untuk para ibu yang hamil muda sangat bahaya kalau bekerja,"
Fakhri perlahan faham dengan ucapan suster itu, ia menjadi prihatin dengan keadaan asya, tetapi bagaimana dengan dirinya? Fakhri berfikir apakah benar jika dirinya ada maka asya bisa sadarkan diri.
Mata asya perlahan terbuka, melihat langit-langit kamar, menoleh ke suster yang masih mengecek saluran darahnya dan infusnya.
"Aku baik-baik saja, tolonglah, tolong lepas, aku baik-baik saja."lirih asya dengan suaranya pelan.
Fakhri juga mendengar ucapan asya, ia mendekati tempat tidur asya, menoleh ke asya, dan tepat saja pandangan asya dan Fakhri bertemu.
Asya membulatkan matanya, ingin mengucapkan sesuatu dan menangis pilu.
"Asya, asya sadarlah, kau baik-baik saja sekarang!"ucap Fakhri menggenggam tangan asya.
"Fakhri!!"panggil asya yang masih menangis"Aku, aku kehilangan janinku! Aku kehilangan janinku!"
"Sudah sudah jangan menangis, jangan menangis asya, kau harus kuat, kau tidak boleh lemah!"seru Fakhri dan tanpa sadar dia memeluk asya setelah itu mencium keningnya.
"Kau janji tak meninggalkanku?"tanya asya menatap nanar Fakhri dengan raut wajahnya yang sedih.
"Akan kuusahakan, aku akan kembali ke istri dan juga anak-anakku."
"Temani aku dulu, aku sangat merindukanmu."ucap asya menggenggam tangan Fakhri erat.
Fakhri mengangguk lalu merunduk, ia merasa tak yakin akan menepatinya tetapi ia berusaha pergi dari sini, ini penjara baginya, ditambah lagi sekarang tidak ada pak afiyan dan istrinya membuat Fakhri seperti terpenjara.
__ADS_1