
Dania terbangun dari tidurnya, merasa sedari tadi ada suara orang yang berbicara, menoleh ke sebelahnya yang ada Fakhri. Dan ternyata Fakhri mengigau, Dania memperhatikan wajah Fakhri, seperti ketakutan dan khawatir.
Mungkin didalam mimpi Fakhri ia merasa masih dirumah asya, masih ditahan disana dan belum diizinkan pulang, sementara Fakhri tidak betah disana.
Dania ingat ucapan Fakhri saat sebelum bekerja ditoko ayah asya, ia tak mau lagi jumpa dengan asya walaupun ayahnya, Fakhri tetap bersikeras tetapi Dania melarang Fakhri untuk berfikir positif karena berbahaya. Dirinya langsung menyadarkan Fakhri.
"Tolong aku pak, aku ingin pulang! Aku ingin jumpa dengan keluargaku! Mereka pasti rindu denganku! Tolong izinkan aku pulang pak!"gumam Fakhri yang masih mengigau, walaupun meringkuk, tangannya bergetar ketakutan.
Dania menepuk pipi Fakhri, mencoba menyadarkannya, menepuk pelan beberapa kali tetapi Fakhri tetap tidak bangun.
"Mungkin hanya seperti ini tak berlaku, baiklah jika kau bangun itu bukan salahku!"bathin Dania kesal akhirnya ia menepuk kuat pipi Fakhri sembari memanggil nama Fakhri.
Mata Fakhri langsung terbuka, tersadar dengan tepukan kuat di pipinya, terlihat juga Dania yang menoleh ke wajahnya dengan kesal.
"Kau mengigau sangat kuat!"
"Ya ampun!"ucap Fakhri lalu mengusap wajahnya beberapa kali"Maafkan aku! Maafkan aku!"
"Tapi maaf, bagaimana caranya kita pulang?"
"Hah?"
"Iya, kita masih dirumah asya! Kita belum—,"
"Tidak apa-apa, asalkan bersamamu aku aman."gumamnya yang spontan memeluk tubuh Dania.
Dania tertawa geli melihat ulah Fakhri, padahal sebelumnya Fakhri seperti orang ketakutan, setelah ia berkata seperti tadi Fakhri langsung begini.
"Kau tidak diberi ayah asya pulang?"
"Tidak, aku benci disana,"Fakhri melepas pelukannya lalu ikut duduk disebelah Dania"Aku harus berpura-pura sandiwara ke asya, bahwa aku baik-baik saja,"
Mendadak Fakhri terpikir dirinya yang sudah menikah dengan asya, ia tidak tahu itu sudah halal atau enggak, sampai-sampai saat Fakhri dirumah asya, Fakhri bersikeras tak mau tidur satu ranjang dengan asya. Ditambah lagi saat asya menoleh ke Fakhri tatapannya seperti menggoda, membuatnya geli melihat ulah asya.
"Jadi saat kau pulang, ayah asya ada atau tidak?"
__ADS_1
"Aku tak melihatnya, aku hanya melihat ibunya saja, saat itu aku tak terpikir lagi untuk pamit dengan ayah asya, yang kufikirkan bagaimana cara untuk pulang saja,"
"Kenapa tidak kabur lewat jendela saja?"tanya Dania.
"Aku tidak bisa memanjat, tetap juga aku bisa ketahuan dengan ayah asya, membuatku sangat frustasi sangat disana."
Dania merangkul pundak Fakhri"Maafkan aku ya, ini salahku, aku terlalu membujuk mu untuk bisa bekerja disana, dan rasanya aku menyesal,"
"Sudah terlambat Dania, tidak ada lagi yang disesalkan,"keluh Fakhri.
"Iya, tetapi hal yang terpenting kau baik-baik saja,"
"Disana aku memang dituntut harus baik, tidak boleh sakit, aku harus bisa membujuk asya agar doa ceria lagi, ibunya bilang jika dengan ibunya, ia tak mau bicara dan hanya diam saja."
"Memangnya dia sakit apa?"
"Dia ... Dia kecelakaan,"
"Kecelakaan? Saat mengendarai mobil, motor? Atau dibonceng?"
Dania tertawa kecil"Bersandiwara seolah semuanya baik-baik Saja?"
"Iya,"Fakhri mengambil tangan Dania yang merangkulnya, lalu menggenggam erat"Ayahnya bersikeras untuk menjadikan aku menantunya,"
"Aku siap menjadi istri kedua, asalkan kau harus pintar membagi waktu untuk anak-anak dan aku,"
"Mau dibayar berapapun aku takkan mau menikah dengannya Dania, aku lebih baik denganmu."
Dania tersenyum"Jangan seperti itu, ingat fakran anak kandung asya, suatu saat asya akan memainkan perannya lagi. Kurasa bagaimanapun juga dia akan mencari dirimu, memohon padamu agar menikah denganmu, atau tidak mengakui fakran adalah anaknya,"
"Entahlah, semoga jangan,"
"Jadi bagaimana? Kau memaafkan ku?"tanya Dania menoleh ke wajah Fakhri.
Fakhri menoleh ke jam yang menunjukkan pukul 02:00, ia langsung kembali tertidur, juga Dania mengikuti Fakhri.
__ADS_1
****
Asya duduk termenung dibibir tempat tidurnya, setelah acara pemakaman hingga hari ini, ia lebih banyak diam, walaupun banyak yang membujuknya dan menyemangatinya, dia hanya tersenyum kecil lalu termenung kembali.
Sesekali air matanya turun, menangis dengan histeris sembari tertidur. Ibunya mencoba membujuknya tetapi asya tetap menangis dan menyuruh ibunya pergi.
Kini seorang wanita paruh baya yakni ibu mertuanya masuk ke kamarnya, raut wajahnya khawatir dengan keadaan asya yang masih termenung. Dia duduk disebelahnya lalu mengusap pundak asya.
"Nak, ikhlaskan arka ya, biar dia pergi dengan tenang, mama yakin kamu ikhlas dengan kepergian arka. Arka memang anak yang baik, tetapi—,"
"Pergi, aku mohon pergi!"ketus asya dengan pelan, tak menoleh ke wajah ibu mertuanya.
"Mama tak ingin liat kamu seperti ini, mama khawatir sama kamu nak,"
"Bukannya kalian sudah merencanakan ini! Kalian memang sengaja membunuh arka! Kalian membuat arka sengsara demi kesenangan kalian! Seharusnya kalian bahagia melihat arka pergi!"ucap asya getir tanpa melihat ibu mertuanya.
"Arka memang sangat patuh dengan orangtua, bukankah berpahala bagi seorang anak membahagiakan orangtuanya? Itu tidak salah nak! Memang sudah ajalnya!"balas ibu mertuanya menoleh ke wajah asya dari samping.
"Aku mohon pergi!"teriak asya, hingga mengamuk memukul-mukul ibu mertuanya.
Ibu mertuanya langsung pergi dengan menangis melihat asya yang menghusirnya.
Asya langsung teriak sekuat-kuatnya lalu menangis histeris, terbaring meringkuk memeluk guling. Dia sangat kehilangan seseorang yang ia cintai, begitu lamanya arka meninggalkannya dan baru saja sekarang arka muncul dan membuat asya tidak mencarinya lagi. Dengan pernikahan yang mereka lakukan setelah wisuda membuat asya sangat bahagia, tetapi ia sangat ingat ketika ayah arka ingin meminjam uang dengan mereka, sampai memakai KTP arka untuk melakukan pinjaman online, membuat Fakhri dikejar-kejar tagihan hutang dan terkadang asya yang membayarnya, tetapi tetap kurang, hingga tiba-tiba ia melihat arka yang sudah menjadi mayat dengan beberapa luka tembakan di kaki arka. Mungkin arka sudah berusaha melarikan diri tetapi sudah ketahuan.
*****
Dan saat pagi dirumah Dania, tepatnya setelah mengantarkan anak-anak, Dania menemani Fakhri mencari kerjaan, dan akhirnya diterima disebuah disebuah kantor menjadi konsultan hukum.
"Akhirnya dapat juga, sudah kubilang dari kemarin lebih baik aku bekerja yang lain saja, kau malah tak mendengarkan ucapanku!"tutur Fakhri bahagia lalu melipat tangannya di dadanya menoleh ke Dania.
Dania yang menyetir mobil tersenyum"Baiklah, jangan lupa saat gajian kita harus jalan-jalan! Dan kau harus belajar naik mobil,"
"Iya doakan saja aku mudah pandai saat belajar naik mobil nanti."ucap Fakhri dengan santai.
Mungkin lembaran baru Fakhri bekerja sudah dimulai, sudah lama Dania membujuk Fakhri untuk belajar naik mobil, tetapi Fakhri bersikukuh tidak mau belajar dan memilih menaiki motor saja.
__ADS_1