
Hari ini Saskia berjalan pulang dengan mengendarai mobilnya sedari meeting di kantornya. Awalnya Dalvino tak mengizinkan Saskia pergi sendiri dan dalvino juga ingin ikut tetapi Saskia melarangnya, akhirnya dalvino mengalah dan mendoakan Saskia semoga cepat sampai tujuan.
Dengan jalanan yang kini sedang macet, sesekali Saskia memakan camilannya juga minum. Jalanan padat dan ada juga mobil yang kesempatan menyalip dari belakang.
Tak lama jalanan pun tampak mulai bisa dilewati walaupun pelan-pelan, tetapi saat Saskia menjalankan mobilnya, sebuah mobil menabrak mobil Saskia dari belakang dan terus mendorong mobilnya terus kedepan. Saskia dengan cepat menginjak rem mobilnya dengan kuat namun nihil mobil itu tak kunjung berhenti. Karena sibuk melihat kebelakang dan melihat remnya, ia terkejut melihat mobil box didepannya yang berjalan perlahan membuatnya menyangka dia akan menabraknya juga.
"Tidaaaaaaakkkk!!!"teriak Saskia, dan akhirnya mobilnya menabrak mobil box itu dan terjadi tabrakan beruntun.
****
Dalvino menoleh ke jam dinding, menunjukkan jam 4 sore, ia menunggu Saskia pulang sembari duduk diruang tv, janjinya Saskia mengatakan akan pulang siang ini tetapi kini sudah sore. Dalvino berpikiran jika jalanan macet, ia menunggu sembari menonton acara tv kesukaannya sembari memakan jajan yang ia beli di market.
Tiba-tiba sebuah foto jatuh mengejutkannya, ia menoleh ke foto itu, lalu bangkit mendekati foto itu, kaca foto itu pecah dan tepat saja itu foto pernikahan mereka. Merasa ada yang mengganjal, tetapi dengan cepat menepisnya takut jika itu hanya firasat buruk yang menghantuinya dan bukanlah kebenaran.
Dalvino meletakkan foto itu di meja, lalu menoleh ke meja didepannya, mengambil handphonenya lalu menyalakannya, tak ada notif dari Saskia yang ada hanya notif berita dari situs internet. Ia menggulir layar dan mencari aplikasi WhatsApp, melihat Saskia yang terakhir membalasnya saat jam 8 pagi.
"Seharusnya ia sudah sampai, tapi ... Kenapa lama sekali?"tanya dalvino.
Menoleh ke tv dan tepat saja bertukar menjadi acara berita. Dalvino melihat acara itu dan sebuah insiden kecelakaan yang berada di kota, ia kenal dengan daerah kecelakaan itu, cukup dekat dari rumahnya, saat reporter mengarahkan ke tempat itu, dalvino memicingkan matanya melihat sebuah mobil yang ia kenal.
"Enggak, itu pasti halusinasi ku saja,"ucapnya dengan matanya yang masih melihat tv. Menduga jika mobil korban kecelakaan itu ada mobil Saskia disana, tetapi ia merasa tak mungkin, menganggap jika dirinya sudah rindu dengan Saskia dan salah melihat.
Dan saat reporter menyebut plat mobil yang dalvino duga adalah mobil Saskia, ternyata benar adanya, membuat dalvino segera ingin pergi ke tempat kejadian.
Sampai disana, dalvino keluar dari mobilnya dan tepat saja mobil Saskia ingin dibawa truk derek dan orang-orang masih ramai disana.
Dalvino langsung berlari menuju mobil Saskia"Pak! Pak tunggu!! Jangan tarik mobilnya dulu!"
__ADS_1
Sopir truk derek itu menoleh ke dalvino yang menyuruhnya menghentikan mobilnya, juga orang yang membantu sopir itu, langsung terheran.
"Ada apa pak? Apakah bapak orang terdekat dari korban?"tanya seorang lelaki yang mendekati dalvino.
"Saskia ... Mau dibawa kemana mobilnya?"
"Kami akan membawa ke kantor polisi sebagai bukti dari insiden kecelakaan tadi,"
"Tapi, dimana korbannya?"
"Oh sudah dibawa kerumah sakit pak, turut berduka cita ya pak, korban meninggal ditempat, mobilnya terhimpit dari depan juga belakang, dan sekarang pelaku insiden tersebut sudah diamankan polisi,"
"Enggak! Enggak mungkin! Saskia pasti lompat! Saskia pasti kabur! Ia gesit dalam melarikan diri!"ketus dalvino mendengar ucapan seorang yang berbicara didepannya, ia kenal betul Saskia, wanita yang sangat cerdik dan pandai dalam segala hal, juga gesit, tak percaya jika Saskia menjadi korban dalam kecelakaan itu.
Orang yang berkerumun melihat kejadian, langsung mendekati dalvino, merasa iba dengan dalvino.
"Lebih lanjutnya bapak pergi kerumah sakit aja, korbannya udah diamankan dirumah sakit."
"Saskia, aku tahu kamu masih hidup, kamu pasti bohongin aku! Aku merindukanmu Saskia!"ucap dalvino sendiri, jalanan juga tidak macet membuatnya dengan cepat bisa menuju ke rumah sakit.
Sampai dirumah sakit, dalvino langsung bertanya dimana ruang mayat kepada suster yang ia jumpai saat sampai disana.
Setelah diberitahu suster tersebut, dalvino langsung pergi menuju kamar mayat, mencari Saskia disana, ia yakin jika Saskia tak ada disana dan pasti melarikan diri.
Dan tepat saja, saat dalvino membuka penutup wajah mayat yang ketiga, ia tercengang, melihat wajah Saskia yang pucat pasi dan perban tebal di kepalanya, mungkin dokter sudah memeriksanya tetapi nyawa Saskia sudah tidak tertolong.
Dalvino menguatkan dirinya, ia merasa melemas melihat Saskia, menahan tangisnya agar tak menetes didepan mayat Saskia.
__ADS_1
"Aku, aku akan membawa kau pulang, tenang saja, kau akan istirahat dengan tenang, sayangku."lirih dalvino.
Sekarang, dirumah yang dalvino tempati, sebuah ambulans memasuki pekarangan rumahnya, juga keluarga dalvino dan Saskia yang sudah menunggu mayat Saskia yang akan dimakamkan.
Rian juga Savira yakni ayah ibu saskia yang sudah menunggu Saskia, Savira langsung memeluk suaminya, melemas sembari menangis histeris melihat ambulans, merasa tak menyangka jika Saskia meninggalkannya.
Nadya, yakni Kakak Saskia, langsung melemas, terduduk melihat jasad adiknya telah sampai, ia menangis sejadi-jadinya lalu menunduk.
Pak Abraham dan juga istrinya saling berpelukan, tak menyangka jika istri putra bungsunya telah tiada.
Pernikahan dalvino dan Saskia masih 2 bulan, mereka juga belum diberikan momongan, tetapi itu tak menjadi risau bagi mereka, yang terpenting keakraban diantara mereka tak terputus. Juga tentang kesibukan, mereka menjalankannya dengan baik walaupun banyak yang mengatakan Saskia tidak usah bekerja lagi. Tetapi Saskia tetap bersikeras untuk bekerja karena sudah menjadi kebiasaannya.
Dalvino juga sampai, dengan wajah yang murung juga matanya yang sembab.
Dari kejauhan, nyonya Amerta yakni ibu dalvino. Mendekati putra bungsunya itu lalu memeluk erat.
"Yang sabar ya nak, Tuhan tau kamu pasti sanggup menghadapi ini,"lirih nyonya Amerta menangis yang masih memeluk dalvino.
Perlahan, tangan dalvino ikut memeluk ibunya, mencoba menahan tangisannya tetapi tak bisa, seperti ada yang memaksanya untuk menangis. Dalvino langsung membalas pelukan ibunya dan menangis sejadi-jadinya.
"Ibu, ibu aku kehilangan wanita yang kucintai Bu! Aku kehilangan dia Bu! Aku menyesal Bu!"jawab dalvino dengan sesenggukan.
Kakak-kakak dalvino juga ada disana, afizar yang sangat suka menjahili adiknya, ikut menangis melihat adiknya.
Setelah acara pemakaman, mereka berdoa lalu menyalami dalvino serta memeluknya, rekan-rekan kerja dalvino juga hadir di pemakaman.
Dan lama kelamaan satu persatu bubar pulang, tinggal dalvino, ayah ibunya juga saudara kandung dalvino.
__ADS_1
Dalvino berjongkok, memegang nisan Saskia, lalu menciumnya seperti saat sebelum Saskia dikuburkan. Dalvino mencium kening Saskia.
"Wanita mana lagi yang bisa menggantikan dirimu? Aku sangat kehilangan dirimu, aku sangat merindukanmu, aku takut kehilanganmu, tetapi kau dengan beraninya pergi meninggalkanku."lirih dalvino lalu mencium nisan Saskia, ia tak sanggup lagi ingin menangis, merasa tangisannya telah kering dan habis.