
Dania terus memandangi surat yang berada di tangannya, ia terus membaca, dan catatan kesehatannya juga tetap sama, dan yang membuatnya bersyukur saat mengandung ialah mulanya sudah berhenti dan tinggal kapan menunggu bayinya lahir.
Namun ia masih terngiang-ngiang dengan ucapan bidan yang berada di ruangan USG jika bayi yang dikandungnya kembar.
...Flashback on...
"Buk, boleh USG sekali lagi?"tanya Dania yang masih berbaring di ranjang pasien.
"Boleh, sebentar ya."jawab bidan itu ramah dan langsung mengambil alat untuk USG dan juga memberikan gel di perut Dania, lalu bidan itu memeriksa di bagian perut Dania, dan di layar monitor itu juga sudah terlihat bayi, dan ternyata hasilnya masih tetap sama, yakni 2 bayi kembar.
"Bayinya kembar, dan .... Sepertinya jenis kelaminnya berbeda, dan ini sudah 7 bulan jadi ..."
"Gimana buk? Ada masalah dengan perkembangan bayinya?"
"Kok kayak 3 ya, tapi apa saya salah lihat ya."
"Buk, saya udah lama periksa disini dari 2 bulan kehamilan saya, masa iya sih ibu masih ragu sama janin yang di perut saya."
"Ya udah kamu tetap rajin olahraga ya, makan makanan yang sehat biar perkembangan bayinya baik, juga kamu jangan gampang overtinking ya, soalnya kalau lagi hamil ga boleh terlalu banyak berfikir."perjelas ibu bidan itu, lalu ia menghentikan USG dan mengambil hasil dari USG Dania.
Dania masih penasaran, terasa kurang yakin, namun ia juga berusaha untuk tidak berfikir yang tidak-tidak dengan bayi yang di perutnya.
...Flashback off...
"Kau percaya bayinya kembar?"tanya Dania ke Fakhri yang berada disampingnya, melipat surat yang ia baca tadi.
"Percaya, karena anak adalah anugerah Tuhan yang dititipkan kepada kita."jawab Fakhri menoleh sekilas Dania sembari berjalan mengiringi Dania.
"Iya tapi aku rasa 1 saja sudah cukup, lagian aku tak bisa memakai baju kesukaanku, kau tau kan banyak bajuku yang sudah tidak bisa kupakai,"keluh Dania memikirkan baju-bajunya yang sering ia pakai dahulu, dan akhirnya saat ini dia hanya sering memakai sweater Hoodie yang jumbo dan baju kaos yang besar, juga berat badannya semakin bertambah.
"Sabar aja, mungkin sebentar lagi kau bisa memakai baju itu lagi, lagian melihat wajahmu seperti ini semakin chubby ya!!"ucap Fakhri menoleh ke Dania lalu tersenyum melihat wajah Dania.
__ADS_1
"Iya benar, jika kembar aku pusing bagaimana menjaganya, memakai pembantu memang enak tapi bagaimana nanti mereka berbuat sesuatu yang buruk dengan anakku, juga aku takut—."
"Jangan terlalu banyak berfikir, santai saja, dan kita harus berfikir yang baik, agar hasilnya nanti baik."
Dania berhenti, memegang pinggangnya yang merasa sudah mulai lelah berjalan, menghela nafas berat"Lagian nanti, jika aku lahiran ... Kau bisa tidak ada di sisiku?"
Fakhri yang ikut berhenti melihat Dania yang berhenti, ia langsung mengusap rambut Dania"Akan ku usahakan, tapi aku tak berjanji untuk bisa ada disaat itu."
"Kau tetap sama saja ya, masih suka mengusap rambutku!"celetuk Dania memanyunkan bibirnya.
"Kau sangat cantik jika marah!"ujar Fakhri tertawa kecil.
"Sudah ayo kita ke mobil, rasanya aku lelah untuk berjalan."
"Oke ayo nyonya Dania!!"tekas fakhri menuntun Dania ke mobil.
Sampai di mobil, mereka saling diam, namun akhirnya pak supir mobil Dania memecah keheningan mereka.
"Pak singgah ke kafe ya! Mendadak aku lapar, dan rasanya ingin makan stik kentang."
"Aku tahu, pak supir sering bawa aku kesana."
"Saat kesana kau sendirian atau dengan ibumu?"
"Dengan ayah dan ibuku, mereka juga tak tega merelakan ku keluar sendirian walaupun dengan fakran."
"Biasanya kau memesan berapa bungkus?"
"1 bungkus stik kentang juga sudah membuatku kenyang."
Sampai di kafe itu, dan tepat seperti tebakan Dania, di kafe itu menyediakan menu stik kentang, dan Dania memesan 3 bungkus stik kentang, Fakhri heran dengan yang dipesan Dania, namun ia hanya diam saja dan melihat bagaimana stik kentang di Singapura.
__ADS_1
Fakhri menjadi mengingat saat ia masih SMA dan sering di traktir Dania makan di warung dan kafe yang diinginkan Dania, mereka sama-sama siswa dan siswi yang sangat pintar, namun banyak teman dikelas menjauhi mereka berdua dan dengan senang hati dania berteman dengan Fakhri hingga menjadi pasangan suami istri.
Setelah hampir lama menunggu akhirnya stik kentang datang dan pelayan memberikan pesanan mereka dimeja.
Fakhri mengamati stik kentang lalu mengambilnya, ia langsung memakannya, menebak rasa stik kentang itu sama atau tidak dengan yang pernah ia rasa, dan menurutnya ini yang lebih enak.
"Gimana? Enak kan?"tanya Dania yang melihat Fakhri memakan stik kentang itu.
"Lebih enak dari yang kita makan dulu saat pulang sekolah, untuk fakran ada?"tanya Fakhri menoleh ke wajah Dania.
"Ada, rencana aku ingin membeli burger king, karena semenjak disini dia lebih suka jajan itu, dan dia juga sangat lahap makan."ujar Dania.
Fakhri mengangguk, ia mengingat saat fakran tinggal bersamanya di kampus, Fakhri selalu menitipkan fakran di kedai dan juga dengan ibu kos, dan untungnya juga ibu kos Fakhri sudah tau apa yang sudah terjadi hingga semakin lama fakran semakin besar. Namun Fakhri tidak memberitahukan kepada fakran jika asya adalah ibunya.
Fakhri memberikan stik kentang ke Dania, berharap Dania mengerti dan sesuai keinginan Fakhri, Dania langsung melahap stik kentang yang Fakhri berikan, lalu mereka tertawa.
"Kau mencintaiku?"tanya Fakhri menatap Dania.
"Kenapa mendadak bertanya seperti itu? Hm? Apa yang terjadi?"tanya Dania yang membalas tatapan Fakhri.
"Aku sejak dulu tidak pernah mencintai siapapun, dan aku juga tidak tahu kapan aku jatuh cinta, aku mau tau kapan aku jatuh cinta, maka dari itu aku bertanya kepadamu, kau mencintaiku atau tidak?"tanya Fakhri dengan nada lembut.
Dania tersenyum"Jika aku mencintaimu, apa yang kau lakukan?"tanya Dania kembali.
Fakhri tertawa geli lalu bersandar sembari mengambil stik kentang.
"Apa ada wanita yang mengetuk pintu hatimu?"tanya Dania menoleh sekilas ke Fakhri.
"Hampir, tapi aku harus cepat-cepat membuang perasaan itu, karena dia juga sudah ada yang menginginkannya."
Dania menganggukkan kepalanya, merasa tidak curiga namun ia merasa kenapa selalu butuh dengan Fakhri.
__ADS_1
"Jika kau ikut denganku pergi kuliah, mungkin kita sudah hampir wisuda, mungkin bareng denganku."
Dania termenung mengingat saat itu, saat ia ingin kuliah tapi ingin pergi ke Singapura untuk liburan untuk bertemu dengan orangtuanya, meminta kakaknya untuk mengantarkan namun kakaknya tak menuruti permintaannya, kakaknya selalu mengabaikan permintaannya dan membiarkan Dania bebas sampai jarang pulang, ditambah lagi kakak iparnya yang tak suka dengannya membuat Dania bertambah depresi, karena sebelum orangtua Dania pergi ke Singapura, Dania sangat begitu dekat dengan ibunya tetapi karena ayah Dania ada tugas disana terpaksa ibu Dania ikut, dan Dania tinggal dengan kakaknya ia merasa nasibnya sangat tidak beruntung saat itu.