3 Anak Genius Mencari Ayah

3 Anak Genius Mencari Ayah
Beginikah Seorang Dalvino?


__ADS_3

Afizar masuk kerumah ayahnya dan tepat diruang tamu ada ibunya yang sedang membaca buku.


"Selamat pagi Bu!"sapa afizar mendekati ibunya lalu Salim.


"Juga afizar, habis darimana?"tanya ibunya menoleh ke afizar.


"Dari rumah."afizar duduk disebelah ibunya.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Ibu perhatikan kau lebih sering kesini daripada pergi bekerja."tanya ibunya penasaran.


"Iya Bu, aku menitipkan ke karyawan ku, dan disana aku hanya sesekali aja,"jawab afizar bersandar di kursi itu.


"Apa aman kalau begitu?"


"Aku hanya pasrah saja Bu, jika ada masalah aku akan ganti karyawan."


Amerta tertawa dengan tingkah anaknya dan melanjutkan membaca buku.


****


"Aku hari ini libur."ucap dalvino didepan laptop, menelusuri Instagram seseorang demi mendapatkan identitas orang itu, yakni Dania.


"Oh ya, sakit atau jalan-jalan dengan calon istrimu?"tanya Chandra di telpon.


"Sakit."


"Oh kalau begitu cepat sembuh ya,"


"Ya,"dalvino mematikan telpon lalu menopang dagunya masih tak habis fikir jika ia takut Dania mengandung anaknya.


"Hei!"sapa seseorang dari pintu kamarnya, yakni afizar yang datang berjalan ke adik bungsunya.


Dan dalvino buru-buru menutup laptopnya dan resah.


"Hei! Apa yang kau lakukan?"tanya afizar disebelah adiknya.


Dalvino tak menoleh ke afizar, memijat kepalanya.


"Dalvino, apa yang kau fikirkan? Kau memikirkan malam pertamamu atau bulan madu dimana bersama Saskia? Jika tentang itu kenapa kau tidak tanyakan ke aku saja."gerutu afizar namun adiknya berusaha menyembunyikan.


"Tidak semua itu,"tolak dalvino.


"Jadi apa?"


"Kak zafka menelponku tadi, dia menyuruhku ke rumahnya, tapi aku malas untu pergi kesana, juga ..."


"Nah ayo apalagi?! Kalau tidak dengan kakak saja! Soalnya hari ini kakak tidak kemana-mana."


"Aku sedang malas, tidak selera untuk pergi kesana."


"Jika kau malas kapan bergeraknya dalvino!"tekasnya, mendadak ia penasaran dengan ulah dalvino tadi di laptopnya, ia juga malas jika bertanya dengan dalvino, tapi dalvino selalu seperti merahasiakan sesuatu dengannya, tanpa aba-aba afizar membuka laptop dalvino dan terkejut apa yang dilihat dalvino.


Dalvino juga terkejut dan menutup kembali laptopnya, tapi ditahan dengan afizar agar afizar tau.

__ADS_1


"Kak! Tutup laptopnya! Kalau tidak aku hempaskan!!"tekas dalvino memaksa kakaknya menutup laptopnya.


"Dihempaskan juga percuma!! Datanya masih utuh dan rahasiamu tetap bisa terbongkar!"hardik zafka memaksa membuka laptop lagi.


"Kak!! Biar aku jelaskan! Tapi kakak harus menutup laptopku!!"


"Kau selalu merahasiakan semua halmu!! Tapi kali ini tidak!! Serapat apapun kau menutup rahasiamu tetap tercium juga!! Ayo buka!!!"


Dalvino pasrah dan akhirnya laptop terbuka, namun yang dimunculkan dilayar itu sudah berbeda.


Afizar langsung melihat ke dalvino yang kebingungan.


"Kau ini!! Belum nikah saja wajahmu seperti itu?! Apalagi sudah menikah!"ketus afizar berkacak pinggang menoleh ke dalvino.


"Terserah apa katamu!!"balas dalvino cuek.


Tiba-tiba suara handphone dalvino berbunyi, ia segera melihat ke layar handphonenya, ternyata kakak sulungnya, yakni zafka. Dalvino menekan tombol hijau yang tertera dilayar handphonenya.


"Dalvino, kau bisa atau tidak kesini? Kakak perhatikan kau tak kunjung datang?"tanya zafka.


"Aku sedang diperjalanan kesana,"ucap dalvino berbohong.


"Dengan siapa? Sendiri atau dengan teman? Atau dengan tunanganmu."


"Tidak semuanya, kecuali dengan afizar."jawab dalvino lalu menoleh ke afizar yang tersenyum.


Di perjalanan, afizar dan dalvino saling diam, berkalut dengan fikiran masing-masing. Afizar yang masih penasaran dengan Dalvino, dan dalvino tak mau rahasianya dibongkar, sampai-sampai afizar ingin berbicara tapi bingung mau berbicara darimana.


"Siapa sebenarnya yang kau cintai? Kenapa kau bingung seperti ini??"tanya afizar penasaran sembari mengemudi mobil.


"Ingatlah, sekarang kau harus memikirkan bagaimana hubunganmu dengan Saskia, lupakan apa yang membuatmu penasaran, jika orang yang kau cari tetapi tak mau denganmu bagaimana? Apakah kau tetap mencarinya? Kecuali jika dia pernah dekat denganmu lalu dia mendekatimu."


"Tapi kak aku tidak biasa, aku sudah biasa seperti ini terus kefikiran dengan wanita itu?!!!"


"Lagian juga jika kau terasa ada hutang dengan wanita itu, apakah wanita itu mencarimu? Tidak kan?! Dan tidak ada yang mencoreng namamu kan? Dia juga tidak mengancam untuk apa kau kepikiran dengannya!!"


"Awalnya memang tidak ada tapi jika anak yang dia kandung sangat mirip dengan anakku bagaimana?"


"Hey apa yang dia berikan padamu kenapa kau menjadi overtinking begini? Semakin kufikir ini semakin lama merusak otakmu dalvino!!!"bentak afizar penuh penekanan.


Dalvino terdiam merasa sangat tersinggung dan sangat diremehkan, tapi itu ada benarnya namun tetap sama, fikirannya masih berkalut tentang Dania.


Sampai di rumah zafka, afizar memarkirkan mobilnya didepan rumah zafka lalu keluar dengan adiknya.


Dalvino yang baru keluar dari mobil merasa adem dan damai melihat sekeliling rumah zafka penuh dengan kebun buah dan sayuran, terlihat sederhana, namun sangat menyejukkan pandangan.


Zafka keluar rumah dan terlihat kedua adiknya yang sudah sampai, ia mendekati adiknya dan bersalaman serta memeluk adiknya.


"Hei kak, tampaknya kau sangat rindu denganku."


"Tidak juga."balas zafka menyalami dalvino lalu memeluknya.


"Kau sudah tak tampak seperti anak kecil lagi ya,"ujar zafka melihat wajah dan tubuh dalvino, tingginya juga sudah kalah dengan zafka dan gagahnya juga kalah dengannya.

__ADS_1


Dalvino tersenyum sembari melihat kakaknya"Jika adikmu ini masih seperti dulu bagaimana?"


Zafka menjitak kepala dalvino"Kelihatannya kau banyak masalah? Ayo ke belakang, disana banyak buah menunggu untuk dimakan bersama."


"Kak afizar?"tanya dalvino panik lalu melihat ke posisi afizar tadi, ternyata sudah menghilang.


Zafka menepuk pundak dalvino"Sudahlah dia sudah duluan kesana."


"Apakah kak afizar sering kesini?"tanya dalvino sembari berjalan ke belakang bersama zafka.


"Hmm sering juga, tapi dia kesini bukan untuk rindu melihatku, tapi hanya ingin memakan buah saja."jawab zafka yang masih berjalan disamping adiknya.


Sampai disana, dalvino menggelengkan kepalanya melihat tingkah afizar yang sudah duduk didepan buah beserta ada bumbu rujak juga ada kakak iparnya serta keponakannya yang ikut meramaikan suasana.


"Dalvino, ayo kesini."ajak zafka duduk di bangku agak jauh dari afizar.


Dalvino mengikuti kakaknya lalu matanya masih terasa dimanjakan oleh pemandangan di sekelilingnya yakni pohon-pohon rindang yang meneduhkan matanya.


"Apa yang kau fikirkan? Apakah masih wanita itu?"tanya zafka.


"Darimana kakak tau?"


"Ya atau tidak."


"Ya."jawab dalvino singkat, sebenarnya dalvino ingin mengungkapkan semuanya namun ia takut terjadi seperti dengan afizar, bertengkar dan terus bertengkar.


"Kenapa kau tidak mencoba mematainya saja?"tanya zafka.


Ucapan zafka terus mengelilingi kepala dalvino, ia rasa itu benar.


"Bukankah dari situ kau akan mendapatkan buktinya."lanjutnya.


"Kakak tau darimana jika aku masih memikirkan wanita itu?"tanya dalvino penasaran sembari menoleh ke zafka.


"Dari afizar."jawabnya.


"Bukankah afizar kesini hanya untuk ingin makan buah saja?"


"Tidak juga, dia menceritakan apa yang ia rasakan padamu, dan makanya itu kakak menyuruhmu untuk kesini,"


"Untuk menceritakan masalah yang kualami?"


"Ya, apa guna nya seorang kakak bagimu? Apakah selama ini kau memandang rendah kedudukan seorang kakak dimatamu? Baiklah jika kau menganggap kakakmu tak memperdulikanmu, berarti kau ada orang tua juga yang selalu bersamamu, namun kau juga sangat puas dan tak harus memikirkan beban yang ada di kepalamu, dan untuk urusan percintaan kau sangat lemah, jauh berbeda dari kakak."


"Iya, kakak yang berani mengambil ambisi dan keputusan, menganggap santai semua masalah yang kakak alami, sama seperti kak afizar,"


"Kau terlalu peduli dengan hal yang tak seharusnya kau fikirkan, apakah dia akan menghancurkan mu? Atau, kau ingin terus-terusan seperti ini? Penasaran tapi tak mencarinya secara nyata. Ingat dalvino perasaan itu harus dikeluarkan dengan bukti, bukan dengan ilusi dan fikiran yang selalu membohongi mu."


"Bagaimana wanita itu jika dia hamil anakku, dan wajahnya mirip sepertiku?"


"Lihat saja bagaimana cara dia mengatasinya, mencarimu atau mengabaikanmu, intinya kau tak perlu memikirkan itu."ujar zafka.


Dalvino merasa apa yang dikatakan zafka benar, mendadak dia terfikir dengan sefira yang masih mengintainya.

__ADS_1


"Tapi, bagaimana dengan sefira?"tanya dalvino lagi.


"Dia perlahan seperti merendahkan harga dirinya didepanmu, tapi semua itu tidak perlu ambil pusing, itu akan hilang nantiny, cepat atau lambat akan hilang."jawab zafka.


__ADS_2