3 Anak Genius Mencari Ayah

3 Anak Genius Mencari Ayah
Buah tak jauh jatuh dari pohonnya


__ADS_3

"Kau benar setuju kan dengan apa yang kulakukan?"


Siti, yakni ibu Dania mengacungkan jempol sembari mengangguk yakin dengan apa yang akan dilakukan pak ramdi.


Pak ramdi tersenyum lalu pergi ke ruang tamu, ia merasa jika ada Dania maka sangat tepat untuk melancarkan aksinya.


Dania duduk di ruang tamu, bermain dengan fakran yang mencoba meletakkan susunan angka dan mengajarinya cara menyusun lalu menebak susunannya.


"Dania,"panggil pak ramdi dari belakang.


Dania langsung menoleh ke ayahnya yang memanggilnya dan pak ramdi duduk di depan Dania.


"Ada apa ayah?"tanya Dania.


"Badan ayah terasa tak enak, apakah kau bisa hari ini menggantikan ayah bekerja? Ayah sudah bilang kepada mereka jika hari ini ayah digantikan, tetapi ayah mau kau yang menggantikannya."


"Apa tanggapan mereka? Apakah memang semudah itu mereka percaya?"tanya Dania penuh keraguan.


"Iya, mereka percaya kepada ayah, dan disana tinggal tanda tangan dan ikuti arahan dari manager lain, ayah ke kamar lagi ya, ayah merasa sangat dingin disini."jawab pak ramdi lalu pergi ke kamar dengan meringkuk mengigil berpura-pura sakit didepan Dania.


Dania merasa ini adalah kesempatannya ingin mengetahui tempat kerja ayahnya, dan ditambah lagi ada sopir yang mengantar menjadi mudah untuk pergi kesana.


Di ruang kerja pak ramdi, semua temannya bertanya-tanya siapa yang menggantikan pak ramdi, dan merasa mencari-cari pak ramdi yang biasanya datang awal, kini tidak ada.


Tak lama pintu terbuka, semua orang langsung menoleh ke arah pintu yang terbuka, dan masuklah seorang wanita yang seperti usia 21 tahun dan berjalan ke meja pak ramdi, dan dia adalah Dania.


Setelah Dania duduk dibangku kerja ayahnya, seorang manajer disebelah ayahnya terkejut melihat seorang wanita yang disebelahnya, ia merasa jika disebelahnya adalah pak ramdi, tetapi kenapa mendadak ada wanita dibangku pak ramdi.


Semua yang disana juga menyadari kehadiran Dania, dan menerka-nerka siapa wanita itu.


"Apakah dia selingkuhan pak ramdi?"


"Atau dia anak pak ramdi? Kita kan tak pernah jumpa dengannya."


"Kurasa dia orang suruhan pak ramdi, sedikitpun aku tak bisa melihat dia mirip dengan pak ramdi."


"Kau perhatikan dengan baik-baik, dia sangat mirip dengan pak ramdi!"


Begitulah yang dikatakan orang disekitar pak ramdi, Dania mengambil bolpoin dan melihat tag nama ayahnya di meja, sangat bagus dan tampak terhormat, ia sedikit tersenyum melihatnya. Mata Dania melihat map biru di meja itu, tampak tebal namun seseorang memanggilnya.


"Nona, izin saya berbicara dengan anda."ucap seseorang disebelah Dania, ia terlihat tampan dan sangat berwibawa, ditambah mata hitamnya dan tajam.


Dania mengangguk"Silahkan."


"Map biru itu mohon dibaca, dan ditanda tangan, jika anda pengganti sementara pak ramdi, maka tulis keterangannya."ujarnya, dengan tag namanya Elfiano Zarfan.


Dania langsung melihat sekali lagi map biru itu lalu mengambilnya, ia menoleh ke Elfiano lalu tersenyum"Terimakasih."

__ADS_1


"Sama-sama."jawab Elfiano mengangguk lalu melihat tugasnya kembali.


Tak lama seorang lelaki masuk ia memperhatikan para manajer yang sibuk tanda tangan.


"Seperti biasa ya semuanya, setelah tanda tangan dan membaca arahan, maka langsung ke lapangan untuk mengecek kondisi."ucapnya lalu pergi.


Dania seperti tau cara bekerja mereka, ia selesai tanda tangan lalu pergi sembari membawa map itu.


"Hey? Cepat sekali dia pergi?"


"Mungkin dia sudah pernah kerja yang seperti ini."


Ellena, yakni wanita yang memperhatikan Dania pergi dan mendengar ucapan temannya itu langsung tepuk tangan dan menggelengkan kepalanya.


Tiba Dania di tempat khusus divisi, ia dengan mahir mengkoordinasikan mereka dengan fasih dan penuh pemahaman, layaknya seperti ayahnya kepada para divisinya. Walaupun para divisi itu tak tahu siapa ia, tapi Dania tau tata caranya dan hanya membawa sejenak map yang diberikan oleh Direktur.


Setelah mengkoordinasi, Dania membuka gadgetnya dan terlihat Fakhri menelponnya sampai 5 kali, juga memberikan pesan sampai 3 kali, Dania tersenyum melihat tingkah temannya sekaligus suaminya itu, Dania langsung membalas. Tiba-tiba muncul Elfiano yang sepertinya sudah selesai Memberikan arahan kepada divisinya.


"Hai Dania! Apakah kau sudah selesai?"


"Belum, di kertas akhir di map ini aku kurang tau cara melakukannya?"


"Oh begitu, bolehkah aku bertanya padamu?"


"Iya, katakan saja."jawab Dania meletakkan hpnya di kantong bajunya.


"Emm apakah kau pekerja seperti ini juga? Kau sepertinya lancar dalam melakukan di kantor ini, dan manajer yang lain bertanya-tanya tentangmu,"


Elfiano menganggukkan kepalanya yakin.


Dania menghela nafas berat, cuek sekilas"Aku tidak pernah bekerja seperti ini, namun aku mengetahui apa yang dilakukan para manager, sampai direksi."jawabnya dingin.


"Apakah pak ramdi menceritakan detail tentang perusahaan ini?"


"Tidak, kakakku juga mempunyai industri seperti ini, kakakku menceritakan apa yang terjadi di industri miliknya hingga bisa jatuh menjadi bangkit kembali, namun aku tak mengetahui jika ada dorongan dari ayahku. Pak ramdi adalah ayahku."


Elfiano mengangguk, lalu suara hp Dania terdengar, Dania langsung mengambil hpnya dan melihat nama Fakhri yang terpampang.


"Permisi, aku pergi dulu."ia langsung pergi dan mengangkat telpon Fakhri.


"Halo Fakhri, kau sedang apa?"tanya Dania didepan jendela, yang sudah mengangkat telpon Fakhri.


"Ya aku baik saja disini, aku rindu denganmu, boleh kan?"


Dania tertawa geli melihat tingkah Fakhri"Jika tidak boleh lebih baik tidak usah kuangkat telponmu."


"Ya, sekarang kau ada dimana? Tapi tunggu! Aku tebak dulu! Pasti kau masih berada di Singapura! Iya kan?"

__ADS_1


"Iya, aku masih disini, rasanya ... Aku tak ingin kembali kesana, aku kesal dengan sikap istri kak Fadhil yang selalu marah setiap hari."


"Begitu ya, kalau fakran bagaimana?"


"Ibu kandungnya tidak mencarinya?"


"Ibu kandungnya masih dekat denganku, tetapi ayah biologisnya kabur."


"Kau terlalu baik saat disana, tapi ... Aku tetap menyukaimu."


Ucapan Dania membuat Fakhri tertawa geli"Bagaimana dengan anak diperutmu? Pasti sudah semakin besar ya!"


"Iya, sebentar lagi dia akan keluar 4 bulan lagi, dan ... Aku ingin kau saja yang menjadi ayahnya, aku tak bisa berpaling lagi,"


"Soal itu aman bagiku, jika kau menjaga fakran."canda Fakhri.


"Tenang, fakran baik-baik saja denganku, jadi kau selama ini menganggap fakran tidak aman denganku?"tuduh Dania curiga.


"Tidak tidak, kau tau, aku sudah lama tak menghubungimu, apakah itu salah?"tanya Fakhri.


Dania tertawa geli mendengar omongan Fakhri"Tidak, biasa aja."


Ibu Dania menemani fakran bermain di ruang tamu, fakran juga terlihat sangat bahagia bermain bersama ibu Dania, dengan mainan yang banyak dihadapannya, dan terkadang sambil bermain fakran sampai tertidur pulas.


Dania yang baru saja pulang menoleh ke arah ibunya dan fakran yang bermain, Dania tersenyum senang lalu pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Malamnya, diruang makan, Dania ikut menyiapkan makanan dimeja. Dan diam-diam ibu Dania memandang wajah Dania yang tak terlihat lelah, sangat santai dan giat membantu ibunya bekerja.


"Dania, bagaimana dengan hari ini? Lancar atau tidak?"


Dania tersenyum sembari meletakkan piring di meja"Lancar, semuanya terlihat mudah."


"Nah, berarti ayah rasa, kau bisa menggantikan ayah nanti."


"Jika Dania menggantikan ayah, apa yang ayah kerjakan?"


"Ayah akan menikmati masa tua ayah melihat anak-anak ayah sudah tumbuh dewasa dan sangat pintar."


"Tetapi, bagaimana kau mengetahui semua itu Dania? Bukankah kamu tidak pernah bekerja?"


"Ibu, Dania walaupun tidak pernah terjun ke lapangan, kak Fadhil memberitahuku apa saja di kantornya, juga perusahaannya,"


"Kenapa kau tidak ingin mengikuti jalan seperti kakakmu disana Dania?"


"Istri kak Fadhil mencoba mengajarkanku seperti apa yang dia lakukan, dan itu sama saja membuatku tidak berubah."


"Jika disini? Bagaimana?"

__ADS_1


"Kemungkinan aku merasakan kebebasan ayah."


Ayah Dania mengangguk sembari tersenyum, mendadak fikirannya teringat dengan Dania yang sedang hamil, apakah bisa dan tidak kesusahan? Ayah Dania berdoa semua Dania baik-baik saja.


__ADS_2