3 Anak Genius Mencari Ayah

3 Anak Genius Mencari Ayah
Dipermalukan


__ADS_3

Hari ini adalah hari ulang tahun pak ramdi, dan dirayakan di Medan. Mereka merayakannya disebuah kafe yang pak ramdi sewa, pak ramdi juga mengundang rekan-rekan lamanya berkumpul untuk membahas bisnis mereka.


Dania juga Fakhri duduk di bangku yang tersedia untuk tamu, didepan mereka juga ada anak-anak mereka yang sedang lahap menyantap makanan didepan mereka, ada kue juga nasi yang mereka bawa ke meja.


Fidi yang sudah selesai makan menoleh ke sekitar, sangat ramai, menyapu pandangannya tetapi ia melihat seorang yang ia kenal, yaitu dalvino yang sedang berbincang dengan orang lain.


"Wah ada om dalvino! Feya ada om dalvino disana!"teriak fidi menoleh ke arah dalvino sembari menunjuk.


Dania yang mendengar ucapan fidi langsung melihat ingin menahan fidi"Nak tunggu dulu, sebentar lagi ada makanan penutup datang,"


"Mama, tetapi ada om dalvino disana, sebentar saja ya ma,"rengek fidi membuat wajah memohon didepan Dania.


"Dalvino? Papa mu mengundang dalvino kesini?"tanya Fakhri yang juga mendengar ucapan fidi, ia menoleh ke Dania.


"Entahlah, kurasa iya, soalnya papa ku dulu banyak juga kenalannya jadi kemungkinan ada,"


"Bagiamana nanti tiba-tiba dalvino menganggap ketiga anak-anak itu anak kandungnya?"


Dania terdiam, jika dia ada, kemungkinan papanya akan dipermalukan ditengah keramaian, ditambah lagi jika dalvino mengakuinya dan ingin menikah Dania, itu tidak masuk akal juga untuknya.


"Bagaimana?"tanya fakhri menoleh ke Dania yang termenung.


"Fakhri, aku tak terfikir dengan soal itu ... Aku harus memberikan gak asuh saja kepada dalvino?"ujar Dania tanpa menoleh ke Fakhri.


"Baiklah kita lihat saja nanti,"


"Dan kemungkinan fidi, feya dan Fara hanya mengakuinya sebagai paman saja, bukan orang lain atau seperti ayah kandungnya."


Fakhri mengangguk, ia mengikuti ucapan Dania, dan sekali melihat fidi, ia sudah berlari menuju dalvino.


"Om dalvino!"panggil fidi yang sudah sampai didekat dalvino.


Lantas dalvino juga menoleh ke arah sumber suara, sudah ada fidi yang sedang tersenyum senang melihat dirinya, langsung saja dalvino menggendongnya.


"Hey kau sangat tampan malam ini,"puji dalvino.


"Baju ini pilihan mama, kami sekeluarga warna bajunya sama semua om, keren kan?"ucap fidi yakin.


"Iya pantas saja kau berbeda dari biasanya,"


"Memangnya biasanya seperti apa om?"


"Biasanya kau terlihat kurang tampan, dan malam ini sangat tampan,"puji dalvino.


"Dalvino, dia bukannya cucu pak ramdi? Benar kan?"tanya seseorang disebelah dalvino menoleh ke fidi.


"Iya, dia anak kandungku,"jawab dalvino santai.

__ADS_1


"Hah? Bagiamana ceritanya? Lagian, kau baru saja menikah? Kenapa bisa sudah punya anak sebesar ini? Ah kau pasti bercanda!"ujar orang itu lagi, panik melihat dalvino, ia sangat tak percaya dengan ucapan dalvino.


Dan dalvino hanya tersenyum, lalu mencium pipi fidi.


"Memangnya wajahnya tidak ada kemiripan denganku pak?"tanya dalvino menyamakan wajahnya dengan fidi.


Bapak itu juga memastikan, melihat-lihat wajah dalvino juga fidi yang terheran.


"Tidak mirip, wajah kalian berbeda,"


"Baiklah, mungkin kali ini aku akan mengakuinya,"pungkas dalvino, lalu ia pergi ke panggung pentas musik, dan kebetulan saja musik masih terdengar. Saat dalvino sampai sana, dalvino meminta kepada seluruh anggota musik menghentikan aktifitasnya dahulu.


Dalvino mengambil mikrofon, lalu bersiap berbicara kepada didepannya yang ramai orang.


"Selamat malam semuanya, saya ucapkan kepada pak ramdi selamat ulang tahun, semoga bertambah usia maka bertambah sehat dan rejeki yang lancar,"


"Om om! Fidi juga mau bicara di mikrofon juga!"seru fidi spontan ingin mengambil mikrofon ditangan Fakhri.


"Baiklah,"dalvino memberikan mikrofon itu.


"Kakek! Selamat ulang tahun, semoga kakek sehat terus, dan selalu tersenyum, marahnya dikurangin soalnya fidi jarang bermain dengan kakek!"ucap fidi lalu memberikan mikrofon itu ke dalvino.


Semua orang yang berada disitu tertawa mendengar ucapan fidi, juga celotehan fidi yang lancar membuat mereka tertawa.


Dania yang masih duduk bersama Fakhri disana juga ikut tertawa. Fidi dan feya ingin pergi ke dalvino, tetapi Dania melarang keras untuk kesana, menakut-nakuti mereka agar tidak mendekat dalvino.


"Ibu, kenapa tertawa?"tanya feya dengan mimik sedih diwajahnya.


"Pasti kak fidi seru disana,"sahut Fara menoleh ke panggung itu.


"Tidak! Kak fidi, kak fidi pasti berani balik lagi! Mama bilang om dalvino itu penjahat!"bisik feya ke telinga Fara, dan Fara mengangguk percaya.


"Malam ini, saya dalvino anak dari pak Abraham, bahwa malam ini saya akan mengakui kesalahan saya kepada pak ramdi, kalau saya adalah ayah kandung dari anak ini, jadi saya telah membuat kesalahan besar sehingga anak saya dan juga Dania. Mungkin saat ini saya merasa waktu yang tepat untuk meminta maaf, dan saya harap Dania dan juga pak ramdi memaafkannya,"


Dari ucapan dalvino tersebut, membuat telinga Dania panas, ia ingin sekali menampar kuat berkali-kali pipi dalvino sampai minta ampun tak ingin muncul didepan matanya lagi, Dania berdiri ingin mendatangi dalvino tetapi tertahan dengan Fakhri yang menghalanginya, menarik tangan Dania sampai menoleh ke dalvino.


"Fakhri! Apa yang kau lakukan?!"cetus Dania menarik tangannya.


"Tidak, om dalvino berbohong!"seru fidi, seperti tau jika yang dikatakan dalvino salah, ia berbicara di mikrofon itu, tentu Dania dan Fakhri mendengarnya juga.


"Om tidak boleh berbohong! Kata mama berbohong itu berdosa! Tidak boleh berkata seperti itu,"


"Memangnya om berbicara apa?"


"Om bilang kalau aku adalah anak om, aku itu anak pak Fakhri! Pak Fakhriansyah! Itu papaku yang duduk disana!"ucap fidi lalu menunjuk ke arah Dania dan Fakhri duduk.


Sebagian orang melihat Dania dan Fakhri, mungkin sebagian dari mereka faham. Dan juga heran dengan tingkah dalvino.

__ADS_1


Pak ramdi yang berdekatan dengan pak Abraham terdiam, mereka tahu sejak awal tetapi dalvino tidak pernah mengatakan kepada ayahnya bahwa ia akan mengatakan itu, membuat pak Abraham dipermalukan didepan khalayak ramai.


Pak ramdi menoleh ke pak abraham"Anakmu sudah merencanakan dari awal jika dia mengatakan hal itu didepan khalayak ramai? Atau memang sengaja—,"


Pak Abraham langsung meninggalkan pak ramdi yang bertanya, melihat pak Abraham berjalan ke arah dalvino.


Dan benar saja, pak Abraham yang sudah sampai didepan dalvino langsung menarik anaknya, membawa anaknya pergi.


Dalvino heran dengan ayahnya yang menariknya, tetapi pak Abraham mengambil fidi lalu menurunkannya.


"Ayo kita pergi!"ketus pak Abraham mengambil tangan dalvino lalu pergi meninggalkan fidi yang masih melihat dalvino pergi.


Mungkin sebagian orang sudah mengambil video, tetapi tidak ada yang bertanya, juga mengatakan dalvino berbohong.


********


"Dalvino!! Apa yang kau lakukan tadi!!! Kau mempermalukan ayah!! Besok koran tentang kau tadi malam pasti sampai di kantor ayah! Perusahaan ayah akan dipermalukan!!"bentak pak Abraham ke dalvino, mereka kini sudah dijalan mengarah pulang.


"Ayah!! Aku tahu ini mempermalukan ayah! Aku hanya ingin mengasuh anak-anakku! Aku hanya ingin mengambil anak-anakku saja!"balas dalvino tak terima dengan ucapan ayahnya.


"Jangan banyak cerita!! Besok kau harus pergi dari sini! Lebih baik diperusahaan cabang saja!"


"Ayah tolonglah!"


"Tidak dalvino!! Ayah akan mendengar mu sampai masalah ini padam!!"


Dalvino terdiam mendengar ucapan ayahnya, mungkin sekarang ini sudah terlambat untuk mengakui semuanya, ia mengingat saat Dania menolak jika anaknya diberikan kepada dalvino. Dia berharap suatu saat nanti ketiga anaknya kan mengakuinya sebagai ayah.


******


Dania duduk didepan rumah, menunggu ayahnya, ia tak sempat ikut dengan ayahnya juga ibunya pergi ikut.


"Ayah belum pulang juga?"tanya seseorang disebelah Dania, yaitu Fakhri yang datang mendekati Dania.


Dania hanya diam saja, ia masih berkalut dengan fikirannya.


Fakhri menghela nafas panjang, lalu mengusap wajah Dania.


Sontak Dania langsung tersadar dari lamunannya menoleh ke Fakhri.


"Fakhri!! Apa yang kau lakukan?!!"seru Dania.


"Soalnya kau tidak menjawab pertanyaanku,"


"Ayah, ayah belum kembali, aku rasanya ingin pindah, aku ingin pergi dari sini,"


"Tapi ... Anak-anak masih sekolah disini,"

__ADS_1


"Kita bisa pindah, aku sudah malas disini!"ketus Dania menoleh ke Fakhri.


Fakhri merentangkan tangannya, mengkode untuk memeluk Dania. Dan pas saja Dania langsung bangkit memeluk erat Fakhri, wajahnya masih berkalut bingung dan khawatir.


__ADS_2