3 Anak Genius Mencari Ayah

3 Anak Genius Mencari Ayah
Gak pengen punya momongan?


__ADS_3

"Disini pemandangannya lebih indah ya daripada disana, pantas saja kau jarang pulang,"ucap Saskia yang sedang melihat ke jendela yang menghadap ke laut, ditambah lagi jika dibuka jendelanya, angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya dan membuatnya sangat nyaman.


"Siapa bilang? Disini aku rindu denganmu setiap hari,"jawab dalvino yang berada di samping Saskia.


"Apa yang kau rindukan dariku? Ocehanku ketika kau melakukan kesalahan?"


"Bisa jadi, jika kau disini rasanya aku tenang, kenapa aku tak terfikir untuk mengajakmu dari kemarin,"


"Ditambah lagi aku tak mengatakan ingin ikut jadinya kau juga tak tau, ya kan?!"


"Iya, aku disini karena desakan ayah, jika disana mungkin kita bisa setiap hari berbulan madu,"


"Yaaa, eh ngomong-ngomong kau sudah mengeluarkan sefira dari cabang pertama?"


"Belum,"


Saskia mengerutkan keningnya, menoleh ke dalvino"Hah? Kata ... Kata Chandra dan .... Foto table yang di dinding kantor, sudah tidak ada nama sefira."


Dalvino menahan tawanya, sesekali melirik ke Saskia yang masih melihat pemandangan didepan matanya.


"Apa itu jebakan? Ah tidak mungkin saja,"


"Kenapa kau terfikir seperti itu? Apakah dia sahabatmu sekarang? Jika kalian sahabatan lebih baik aku menikahi sefira juga, agar kalian bertemu setiap hari,"seloroh dalvino tak menoleh ke Saskia.


"Kau ingin aku mati konyol?"


Dan kalimat itu membuat dalvino tertawa.


Handphone saskia berbunyi, ia langsung melihat di layar, sudah tertera ibunya yang menelpon, ia menghela nafas kesalnya, menunda tidak mengangkat telpon itu.


Dalvino menoleh ke Saskia, heran kenapa Saskia tidak mengangkat terus telpon itu.


"Siapa yang menelpon?"tanya dalvino.


"Wanita yang membesarkan ku dari bayi hingga dewasa,"jawab Saskia datar.


"Oh ibumu?"


"Ya,"


"Ya sudah angkat saja, barangkali rindu, lagian kita juga tidak pernah jalan-jalan kesana,"


"Lebih baik tidak usah, disini saja,"


"Ya sudah jika kau tak ingin mengangkat telpon itu lebih baik aku saja, biar aku saja yang menghadapinya."

__ADS_1


"Bagaimana nanti jika staf mu datang dan kau masih enak berbicara dengan ibuku?"tanya Saskia, menolak jika dalvino mengangkatnya.


"Aku akan menundanya,"


"Bagaimana nanti jika pegawaimu datang memintamu observasi lapangan? Bukankah kau juga sibuk?"


"Tidak apa-apa, ibu juga faham denganku dan jika aku bilang aku masih bekerja, ibu pasti faham,"


"Jika begitu kenapa kau menelponnya? Merepotkan dirimu saja,"


"Tidak, tidak apa—,"


"Sudah-sudah, telponnya juga sudah mati, tidak ada lagi yang dipermasalahkan!!"ketus saskia memotong ucapan dalvino.


Dalvino mengangguk faham lalu telpon Saskia berbunyi lagi, ia langsung merampas dari tangan Saskia tetapi tak semudah ia bayangkan, Saskia juga bersikeras agar dalvino tak mengangkat telpon dari ibunya.


"Angkat saja telponnya!!"ketus dalvino kesal menoleh ke mata Saskia.


"Tidak! Tidak perlu!"


"Jika tidak kau akan menjadi anak durhaka! Kau tidak tahu kalau doa seorang ibu itu Afdhol?"


"Jika kau mengatakan seperti itu jadi kenapa disaat awal kita menikah! Kita sudah melakukan apapun itu tetapi kenapa masih belum ada tanda? Kita menikah sudah 2 bulan dalvino!! Tidak ada tanda sedikitpun! Aku malas jika ibu bertanya denganku apakah sudah ada tanda-tanda atau belum! Itu yang membuatku malas!"keluh Saskia.


Dalvino terdiam, apa yang Saskia katakan tadi sangat benar, sedangkan dirinya sudah berusaha juga Saskia.


Saskia langsung memberikan handphone itu ke tangan dalvino, lalu ia berbaring di kursi.


Dan saat handphone berada ditangan dalvino, tak lama telpon masuk lagi, masih tetap dari tadi yaitu dari ibu saskia.


"Halo Saskia,"


"Halo Bu, maaf ini dalvino, apa kabar ibu?"


"Kabar ibu baik, kami sekeluarga juga baik nak, kamu apa kabar? Udah lama kalian ga kesini, sibuk banget nampaknya,"


"Iya Bu kabar kami baik semua, dalvino juga agak sibuk jadi belum bisa untuk pergi kesana,"


"Eh nak dalvino, Saskia nya dimana? Ibu mau bicara agak penting sedikit sama dalvino,"


"Oh ya, iya Saskia lagi pergi sebentar ke toko, jadi hanya ada dalvino sendiri disini Bu,"dalvino melihat Saskia yang sudah duduk di kursi, cuek ke dalvino, dari awal ia melarang dalvino untuk mengangkat telpon itu tetapi dalvino sangat keras kepala.


"Iya, sebenarnya Saskia sudah ngisi? Maksudnya udah hamil? Soalnya kalian kan udah nikah hampir 3 bulan, dan ibu berharap dari kalian bisa memberikan cucu untuk ibu,"


"Tapi bu jika saat ini belum waktunya bagaimana Bu? Soalnya soal rejeki kan enggak tau,"

__ADS_1


"Tapi kenapa ga ikut program hamil aja? Tuh lagi Saskia suruh aja senam gitu, minum susu dan buah biar mempercepat proses penyuburan, trus kalian udah periksa kemarin?"jawab ibu Saskia spontan lalu bertanya lagi.


"Kami sudah periksa, dan hasilnya tetap sama, kami disuruh sabar dulu, juga saran yang diberikan dokter sudah kami jalankan Bu,"


Saskia ingin menyahut tetapi berfikir ia takut jika dirinya dan ibunya bertengkar.


"Baiklah jika kalian sudah mengikuti, semoga kalian tabah dan sabar untuk segera diberikan momongan ya, lagian Saskia juga ga ada ngabarin apapun semenjak kalian menikah, ibu juga khawatir kenapa tidak ada menelpon sama sekali, lagian Saskia sudah kembali bekerja lagi di tempat tugasnya?"


"Belum Bu, katanya tidak ada kasus apapun di kantor polisi, dan dia santai-santai saja disini."


"Menjengkelkan sekali!! Kenapa seperti itu dia?! Berarti Saskia tidak ada kegiatan apapun! Kenapa tidak ada niat menelpon ibu?! Padahal dia sudah tidak bekerja lagi!"


"Iya iya Bu, bukannya tadi sudah dalvino bilang kalau Saskia mengikuti program hamil,"jawab dalvino tenang, dan ternyata benar, ibu Saskia sangat kesal ditambah lagi Saskia tak pernah berfikir untuk tidak pernah menelpon ibunya.


"Sudah kutebak itu pasti terjadi."bathin Saskia masih cuek dengan dalvino, enggan menoleh ke dalvino.


"Oh iya ibu lupa hehehehe, baiklah kalau begitu ibu doakan semoga Saskia cepat ngidam, biar dia cepet rasakan jadi ibu! Biar dirasakannya jadi ibu! Biar ga nakal lagi!"


"Iya iya Bu, semoga Saskia berubah,"


"Aaamiiin aaamiiin, ya sudah ya ibu tutup dulu, ibu ngantuk mau tidur dulu,"


"Iya Bu, jangan lupa baca doa ya Bu."


"Ah iya iya,"ucap ibu Saskia. Dan akhirnya ibu Saskia mematikan telponnya.


Dalvino juga sudah menyadari jika ibu Saskia sudah mematikan telponnya, lalu berjalan mendekati Saskia sembari memberikan handphonenya.


Saskia menoleh ke dalvino, panik melihat dalvino sudah selesai, ia mengambil handphonenya.


"Sudah selesai telponnya? Telingamu tidak panas mendengar ucapan ibuku?"


"Tidak."jawab dalvino singkat, lalu duduk di samping Saskia.


Saskia menoleh ke dalvino yang berada disebelahnya"Tetapi setelah itu kau berbohong kepada ibuku?"


"Alasan itu akan aku amalkan agar terjadi kenyataan."


"Iya pelan-pelan juga aku sudah mengikuti kegiatan itu, tetapi aku benci jika aku sudah meminum jus untuk kesuburan, ada saja manusia lain yang menyarankan yang lain, memangnya mulutku tong sampah bisa menerima semua makanan?"


"Tidak-tidak, kau meminum jus itu dari tanggal berapa?"


"Dari bulan semalam, udah sebulan juga aku meminum jus itu, lalu apakah ada yang kurang menurutmu?"


"Kurma muda sudah pernah?"

__ADS_1


"Tidak, aku tidak suka rasa seperti itu, menyiksa lidahku!!"jawab Saskia jutek.


__ADS_2