
Fakhri duduk di bangku berhadapan dengan dosennya yang melihat-lihat skripsinya, yang hanya berbatas meja. Menurutnya itu sudah sangat benar ditambah lagi dosen pembimbingnya sangat kenal dengannya. Yaitu guru di sekolahnya dulu.
"Fakhri, ini sudah sangat sempurna, kata-kata yang sangat menarik dan tidak plagiat, kau tau saya sudah banyak juga tahun ini menjumpai mahasiswa yang hanya meng copy-paste skripsi atau juga tugas, Sampai saya hafal bagaimana isi dari yang ada di internet, tetapi kalo ini kau menunjukkan inspirasi baru dan karya baru, kau pasti lulus."ucap Arya, yakni dosen pembimbing Fakhri.
"Iya, terimakasih pak."jawab Fakhri dengan senyum sekilas.
Arya tertawa kecil"Kau selalu saja berkata seperti itu, dengan kalimat sederhana dan tutur yang baik, sudah daftar sidang?"
"Iya rencana begitu, tetapi hal yang paling penting saya harus menjumpai anda, karena saya percaya bahwa anda bisa membantu."
"Iya tentu itu kewajiban saya."jawab Arya spontan"Eh ngomong-ngomong kenapa pas nikah ga undang-undang?"
"Iya sebenarnya saya belum mau menikah, tetapi karena desakan orangtua saya, yaa terpaksa deh."jawab Fakhri tersipu, ia menyangka hanya sedikit yang tau, lagian juga lupa ingin mengundang orang lain saat ia menikah.
"Enggak apa-apa, orang tua mah memang suka gitu, kalo bisa tiap hari nanyain jodoh tu, padahal kalo udah ada malah dibilang suruh nikah terus, ya kan?"ucap Arya lalu bertanya.
Fakhri tersenyum lalu tertawa kecil"Lagian kalau menunda skripsi memang tidak ada masalah kan?"
"Tidak, hey buruan daftar sidang nanti kau tak bisa sidang sampai semester 13!"seru Arya menyuruh Fakhri segera daftar.
"Okelah izin ya pak saya kesana."
"Oke aman, ini skripsinya semuanya tuntas, besar harapan saya ketika di dosen penguji nanti kau lulus."
"Aamiin pak, sekali lagi terimakasih ya pak."
"Tidak usah terimakasih, jika bisa sekali lagi kau membawakan aku tumpeng nasi kuning saja."seloroh Arya lalu tertawa.
Fakhri tertawa juga"Oke pak pamit izin mundur diri."ia menangkupkan tangannya, lalu berbaik pergi.
"Iya iya hati-hati."Arya menatap punggung Fakhri yang semakin jauh.
Setelah sudah dapat urutan sidang, langkah Fakhri terhenti mendengar seseorang menegur dirinya dari belakang.
"Woy Fakhri!! Hedeuh gue capek banget dah rasanya, untung aja Lo denger kalo enggak udah gue lempar hp ni ke badan elo."panggil Abiya yang mengejar Fakhri, ia memelankan langkahnya ketika sudah pas dengan Fakhri.
Fakhri menoleh ke asal suara, dan ternyata teman 1 tempat kos dengannya dulu saat masih kuliah.
"Eh Abiya, habis darimana kayak capek banget?"tanya Fakhri heran.
"Iya gue baru jatuh dari pesawat trus kesini, lalu gue keluar dan jumpa elo."jawab ya santai memegang pinggangnya.
__ADS_1
"Ada ada aja lu!"Fakhri tertawa mendengar ucapan Abiya.
"Iyaa gue dari sini ke kakak gue, dia minta antarkan flashdisk, katanya penting banget, ditambah lagi gue ga bawa mobil cuma motor aja, kayak berjemur gue rasa. Eh elu juga ngapain kesini?"
"Mau daftar sidang."
"Lah iya Lo belum selesai, kenapa lama banget?"
"Iya kan udah gue bilang sama elu."
"Iya iya iya, ampun ndoro. Eh Lo ga liat grup kelas kita? Ada wa kan dari asya? Gue kira Lo nikah sama dia."
Fakhri mengerutkan keningnya"Ya kagak lah, emangnya dia nikah sama siapa?"
"Sama arka, arka juga udah wisuda, bareng gue, iya bareng asya juga."
"Alhamdulillah kalau begitu."
"Iya, Lo udah siapin kadonya? Btw acaranya besok. Eh kayaknya lu memang bener-bener ga tau deh soalnya lu gue liat ga pernah bohong, buruan Dateng bestie lu tuh saat masih kuliah!"
"Iya iyaaa nanti malam gue beli deh."
Fakhri tertawa geli mendengar ucapan Abiya, dan juga Abiya yang tertawa puas mengingat ucapannya tadi.
Dania duduk di teras rumah bersama anak-anak, memperhatikan anak-anaknya bermain bersama, agar tidak ada perselisihan lagi, walaupun fakran egois ingin bermain bersama fidi saja, Dania membujuknya agar semuanya bermain bersama-sama.
Manik mata Dania menoleh ke pagar, dan sudah ada Fakhri yang berjalan mendekatinya, Dania langsung bangkit dan menyalami Fakhri.
"Nakal, kenapa tidak belajar naik mobil saja?"tanya Dania melipat tangannya di dada setelah salam.
"Tidak ada waktu, mungkin setelah wisuda."
"Aku takut setelah wisuda kau malah menyewa sopir untuk mengantar jemput."
Fakhri tertawa"Tenang saja, aku sudah daftar wisuda, jadi tak lama lagi tinggal kau ajarkan aku. Oke?!"
Dania memberikan jempol untuk Fakhri dan tak lama disusul anak-anak yang menyerbu Fakhri, memeluk Fakhri yang baru pulang.
Fakhri memeluk lututnya"Eh eh kok malah peluk terus?! Memangnya papa udah mandi?"
"Hah papa belum mandi? Ih jorok papa harus mandi dulu!!"jawab feya menoleh ke arah Fakhri.
__ADS_1
"Gak apa-apa yang penting peluk papa."sela fakran.
"Sudah papa mau masuk."
"Ayo ayo masuk juga, sudah senja, kita harus ...."
"Masuk ke dalam rumah!!"jawab Fara spontan.
Dania tertawa kecil melihat Fara, lalu masuk kedalam rumah disusul anak-anaknya.
Setelah mandi, dan juga makan, Fakhri pergi ke kamar membuka lemari mengecek apakah baju putinya ada, juga jas yang ia beli 4 hari yang lalu, mempersiapkan baju untuk sidangnya besok. Saat ia mengeluarkan baju itu dan membawa ke tempat tidur, ia terkejut melihat Dania yang sudah berdiri disampingnya.
"Ya ampun Dania!! Kau mengejutkanku saja!"ucap Fakhri panik, dan untung saja bajunya tidak jatuh.
Dania tertawa pelan"Kenapa mengambil baju itu?"
"Iya besok."Fakhri mendekatkan wajahnya ke telinga Dania"Aku sidang kuliah, kuharap kau datang bersama para bayiku."
Dania tertawa"Lalu setelah itu? Kemana lagi?"
"Oh ya aku harus menelpon orangtuaku dulu."Fakhri meletakkan baju kemeja putihnya ditempat tidur lalu mengambil handphonenya di meja rias.
Terlihat di handphonenya banyak sekali notifikasi, ia membuka pesan itu ternyata sangat ramai chat di wa grup kelasnya dulu.
"Sepertinya kita besok akan pergi undangan."ucap Fakhri yang masih melihat pesan-pesan wa di grup kelasnya dulu.
"Memangnya siapa yang menikah?"tanya Dania berjalan mendekati Fakhri.
Fakhri menoleh ke wajah Dania"Asya, wanita yang mendekatiku dulu."
"Oh baguslah, akhirnya dia menemukan cinta sejatinya."
"Iya, jadi bagaimana? Kita harus pergi?"
"Kenapa bingung? Sudah pasti kita pergi, jangan risau untuk hadiah, di toko banyak hadiah yang sudah tinggal beri nama."
"Iya,"jawab Fakhri singkat.
"Kau kenapa? Seperti bimbang gitu? Kau tak ingin datang?"
"Iya, aku datang,"lirih Fakhri.
__ADS_1