3 Anak Genius Mencari Ayah

3 Anak Genius Mencari Ayah
Imbalan minta maaf


__ADS_3

Fakhri mencoba menelpon dania lagi namun nihil, Dania tetap tak mengangkat telponnya, tampak aktif nomor wa Dania mungkin Dania kesal dengan dirinya yang tak kunjung menjawab telponnya.


"Dania, ayo angkat Dania! Aku sudah ingin kesana sebentar lagi, sampai kapan kau akan membiarkan seperti ini? Huft sedang apa dia sekarang?"Fakhri terdiam berfikir ingin mengerjai Dania, tapi ia tak tahu dimana rumah Dania di Singapura.


Fakhri melihat sekeliling bandara, dan dia terus menatap jam yang menurutnya detiknya sangat lama, dia memilih duduk di tempat antrian bersama orang lain.


Ia melihat orang disekelilingnya ada yang tertidur juga bermain game, mungkin ini adalah misi nya untuk menuntaskan apa yang diinginkan Dania, sudah menerima uang transportasi juga tiket dari Dania, Fakhri berharap Dania takkan marah lagi dengannya.


Perjalanan menuju Singapura tinggal 30 menit lagi, dan sudah tepat di pintu bandara dengan orang lain, sesekali ia makan jajan yang ia beli di kampus dan mencoba menelpon dania. Namun Dania tak mengangkat telpon itu.


...Dahdania Sari...


Dania mencoba menyibukkan diri di kantor ayahnya, ia menyuruh ayahnya libur dan digantikan dengan dirinya, walaupun dengan keadaan hamil besar, Dania tak memungkiri itu, Dania terus bekerja dan sedari tadi pagi ia memilih tak membawa handphone nya lalu memilih melupakan.


Mengingat saat Dania sedih tapi ayahnya membencinya saat melihat dirinya menangis, Dania menjadi kesal dan langsung meletakkan handphonenya sembarangan.


Tak lama telpon di meja kerja ayah Dania berbunyi, Dania mengabaikannya, tapi tampaknya si penelpon itu tak menyerah untuk menelpon lagi dan akhirnya Dania mengangkatnya.


"Halo selamat pagi, apakah ada masalah?"tanya Dania ramah penuh penasaran, walaupun di hatinya mendadak penuh kesal namun berusaha ramah dengan si penelpon.


"Ya selamat siang nyonya Dania, saya ibu Siti istri dari ayahmu yang pertama dan untuk selamanya!"


Dania tersenyum kecil mendengar ucapan ibunya"Ibu ada apa?! Kenapa mendadak menelpon?"


"Kau kenapa meninggalkan handphone mu?!! Fakhri menelpon mu entah ke berapa kalinya, namun tidak kau angkat, dan lebih arahnya lagi kenapa tidak dibawa handphonenya?!! Kau ada masalah dengan Fakhri makanya kau tidak mengangkatnya?"tanya ibu Dania panjang lebar.


Dania menghela nafas berat"Entahlah Bu sulit diungkapkan, mungkin menurut Dania lebih baik Dania menjauh dari handphone itu daripada hancur lebur. Oh ya ibu ada mengangkat telpon itu?"


"Ada, katanya nanti malam dia sudah sampai di bandara, kau harus cepat pulang nanti sore, biar kita bisa menunggunya di bandara."


"Menunggu itu melelahkan Bu!"

__ADS_1


"Kau tau darimana menunggu itu melelahkan?! Menurut ibu tidak! Itu adalah hal yang paling seru ketika kita tau jika emosi naik turun tak tentu waktu!!"


"Iya Bu tapi bagaimana Dania harus cepat bersiap sedangkan Dania masih ada banyak tugas dan ditambah ibu menelpon jadinya tambah lama."keluh Dania.


"Iya iya pokoknya harus cepat!!"


"Dania usahakan, jika Dania lupa berarti bukan salah Dania."jawabnya riang.


"Jangan menjadi durhaka kepada suamimu!!"


"Bu tapi dia ..."dan hal yang paling benci menurut Dania akhirnya muncul, lagi seru bercerita dan telpon mendadak mati, Dania resah dan meletakkan kembali telpon ayahnya.


Dania merenung memikirkan Fakhri, jika ia pulang maka menurutnya teman tempat bercerita sudah pulang, Dania merasa bersyukur sekali mempunyai teman seperti Fakhri, yang suka mendengar dan memberi motivasi terbaik, dan selaras dengannya, namun keinginan mereka berbeda, Fakhri ingin berkuliah dan membahagiakan orang tuanya, tapi dania memilih untuk tidak berkuliah, menurutnya dirinya belum menemukan apa arti dirinya di hidupnya, dan mungkin saat Fakhri pulang adalah tempat yang pas untuk bercerita.


...Fakhriasyah...


Kini Fakhri sudah berada di pesawat, duduk dibangku dan melihat ke jendela, mengaktifkan mode pesawat, ia menghela nafas panjang, tak terasa sudah berangkat ke Singapura dan berjumpa dengan Dania.


Dan menurutnya sekarang, dirinya tak mencintai Dania dan menikahi Dania hanyalah sebatas teman dan sudah lama dekat satu sama lain, Fakhri juga tak tau Dania mencintai lelaki lain atau tidak, yang tau hanyalah cita-cita Dania yang dulu dia impikan, ingin menjadi CEO dan ingin berkumpul dengan ayah dan ibunya kembali.


Fakhri masih ingat saat Dania iri kepadanya, walaupun bukan dari golongan orang kaya, tapi keakraban dalam keluarganya sangat ramah dan sangat seru, mereka tidak mengandalkan harta, melainkan pengetahuan dan keterampilan dalam pendidikan, orang tua Fakhri selalu menasehati dan mengingatkan, sampai Fakhri menikah orang tuanya juga tetap hangat.


Fakhri juga lega sudah diberikan waktu peluang dari ketua prodinya, seharusnya setelah proposal Fakhri akan melanjutkan sidang skripsi, dan setelah itu wisuda. Tetapi melihat Dania yang sudah mengirimkan tiket untuknya juga biaya transportasi, Fakhri harus berangkat agar Dania tak marah kepadanya.


"Mungkin semakin lama aku dan Dania akan saling jatuh cinta,"bathinnya dengan pandangannya masih menatap ke jendela, bisa-bisanya dirinya terfikir kan tentang itu. Dan tentang dalvino, Fakhri juga tahu namun ia memilih tak memperdulikan tentang apa yang sudah dalvino lakukan dengan Dania, yang difikirkan Fakhri ia harus menyemangati Dania.


Asya Ergo kerumah kos Fakhri, lalu sampai disana langsung mengetuk pintu rumah kos Fakhri juga memanggil, namun tak kunjung di sahut dari dalam.


"Fakhri!! Fakhri kau ada didalam?"asya heran dan melihat jendela, tertutup kain jendela dan lampu teras rumahnya hidup, asya mencoba menelpon Fakhri namun diluar jaringan.


"Fakhri kemana? Kenapa dia pergi tak bilang kepadaku? Tumben Fakhri seperti ini."celetuknya bingung dan mencoba menelpon Fakhri lagi.

__ADS_1


"Neng? Cari siapa?"tanya seseorang dari belakang asya, dan asya langsung menoleh ke sumber suara.


"Ca-cari Fakhri, ada liat Fakhri ga?"tanya asya dengan orang itu, dan sepertinya itu adalah mahasiswa juga, namun asya tak mengetahuinya, karena rata-rata di daerah Fakhri semuanya anak kuliahan.


"Oh Mas Fakhri, dia pergi tadi malam pas jam-jam 8 gitu, katanya mau Pulang kampung."jawab Mahesa, yakni orang yang menegur asya.


"Oh, kamu tinggal di kos mana?"tanya asya masih menatap wajah Mahesa.


"Oh, aku disebelah kos Fakhri, oh ya aku masuk rumah dulu ya, soalnya laper belum makan."ujar Mahesa sembari pamit ingin masuk ke rumah kosnya.


"Ah iya, aku juga mau pergi, makasih infonya ya!"sahut asya.


Mahesa tersenyum lalu pergi meninggalkan asya. Dan asya juga pergi.


Di kafe, afizar duduk didepan adiknya, melipat tangannya di dada melihat tingkah adiknya yang seperti berfikir, sedangkan dirinya senyum-senyum melihat tingkah adiknya, karena dalvino juga tak kunjung mengatakan apa yang dia rasakan, namun dia tetap diam dan mengikuti apa yang dalvino mau.


"Setelah ini kemana?"tanya afizar dengan kacamata hitam yang dipakainya.


"Setelah ini mencari perusahaan ayah Dania,lalu—"


"Lalu apa? Mengaku-ngaku jika kau menghamili anaknya lalu akan menikahi anaknya? Dan kalian hidup bahagia?"


Dalvino hanya terdiam mendengar ucapan afizar, namun pikirnya jika pergi tidak bersama afizar kemungkinan dalvino sudah sampai di tempat kerja ayahnya.


"Undangan manajer grup perusahaan itu ... Benar atau tidak?"


"Benar, aku lihat jarang perusahaan di Medan ikut bergabung disana,"


"Ya, yang banyak hanya pekerja yang kesana."


"Lagian kita tidak boleh lama-lama disini, karena kau sebentar lagi akan melaksanakan akad nikah, dan setelah datang dari undangan, kita langsung pulang."

__ADS_1


Dalvino terdiam sembari mengangguk lalu menyeruput teh dimeja depan ia duduk.


__ADS_2