
Hari yang ditunggu tiba, dimana hari pertemuan kedua dari belah pihak dalvino dan Saskia bertemu untuk kedua kalinya, dan kini Saskia dirias dikamarnya dan ditemani ibunya yang melihat Saskia yang dirias dengan gaun pengantin yang sudah melekat di badan Saskia.
Di halaman rumah Saskia juga sudah dirias dengan tema pernikahan outdoor dan nuansa biru muda, dan keluarga dari dalvino juga sudah tiba di kediaman Saskia.
Tak lama kakak Saskia masuk sembari melihat Saskia yang sudah cantik memakai baju pengantinnya.
"Setelah sekian lama menanti akhirnya kau menikah Saskia, sekali lagi selamat ya untuk adikku!!"seru Kakak Saskia melihat Saskia yang tersenyum mendengar ucapan kakaknya.
"Sekali lagi terimakasih juga."sahut Saskia dingin.
"Oh ya riasannya lama lagi? Soalnya mempelai laki-laki sudah menunggu disana."ujar Nadya.
"Kenapa tidak bilang dari tadi Nadya! Jika dibilang dari tadi mungkin Saskia sudah siap!"Tekas ibu Saskia menoleh ke kakak Saskia, yakni Nadya.
"Sekarang sudah siap Bu, udah bisa turun kebawah."ucap perias yang sudah siap Make up saskia.
"Sudah waktunya juga, ya sudah ayo turun nanti lama banget dalvino menunggu."sahut kakaknya mengajak Saskia turun.
Saskia perlahan berdiri, ia merasa sudah mantap untuk menjadikan dirinya istri dari anak pak Abraham, dan ia juga tak menyangka jika dalvino sudah membuktikan keseriusannya, Saskia mengira dalvino akan mengulanginya seperti dengan sefira namun berbeda.
Nadya yakni kakak Saskia membantu Saskia berdiri dan menuntun Saskia yang berjalan perlahan, takut terpijak gaunnya juga ibunya Saskia mengiringi Saskia berjalan.
Dalvino duduk di bangku akad nikah, ia merasa tak menyangka hari pernikahannya telah tiba, ditambah juga dengan Saskia ia tak mengira jika itu terjadi, ia menoleh ke arah pintu rumah Saskia langsung tercengang melihat Saskia yang sudah berjalan menuju ke bangku akad nikah, ia merasa tak pernah melihat Saskia dirias secantik itu dan juga gaun putih yang Saskia kenakan membuat Saskia semakin cantik.
Saskia langsung duduk di sebelah dalvino, dan menoleh sekilas ke dalvino yang tercengang melihatnya.
"Hentikan kekonyolanmu itu, aku tak pernah melihat wajahmu sejelek itu!"ketus Saskia menoleh ke dalvino.
__ADS_1
"Katakan jika aku masih rebahan dirumah, tidur, atau mabuk."sahut dalvino melihat Saskia.
"Iya kurasa kau sedang tidur."ucap Saskia tak menoleh ke wajah dalvino.
Dalvino langsung tertawa kecil mendengar ucapan Saskia.
Setelah sesi akad, mereka berfoto bersama kedua keluarga dan terlihat sangat bahagia, juga afizar yang bahagia melihat adiknya yang tidak galau dan tidak menjomblo lagi.
Namun setelah berfoto bersama, saat bersalaman, dalvino menahan tangan afizar yang bersalaman dengannya.
"Hey kakak ipar kemana?"tanya dalvino menoleh dengan serius.
"Jangan kau tanya, aku sudah tak perduli dengannya,"jawab afizar berbisik di telinga dalvino.
"Tetapi dia masih pulang kerumah kan?"tanya dalvino yang bertanya balik.
"Tapi kurasa suatu saat nanti papa dan mama juga tau, dan sepertinya itu tidak lama."jawab dalvino.
"Sekarang kau sudah seperti peramal, sudah Kakak ingin makan!"ketus afizar lalu menyalami Saskia yang tersenyum.
"Hati-hati ya Saskia, kadang dalvino suka berfikiran aneh saat dia tidak ada kerjaan, jadi sibukkan saja dia setiap hari."ujar afizar ke Saskia.
"Berarti waktu saat SMA tak cukup ya untuk mengetahui sifat dalvino."fikir Saskia sembari tertawa, ia tau jika afizar bercanda.
Teman-teman dalvino juga menghadiri acara pernikahan dalvino serta sefira juga ikut serta ada disana.
Chandra duduk dekat dengan sefira, dan sefira tak peduli dengan ada Chandra disana, ia fokus dengan ponselnya.
__ADS_1
"Sefira! Aku kira kau tidak datang, ternyata ada, kau yakin ingin menyaksikan pernikahan dalvino, tidak merasa janggal atau dendam—."
"Aku tak perduli, aku hanya menuruti kata-kata ibuku saja."
"Ibumu menyuruh datang? Padahal kau kan mantan tunangan dalvino? Apa kau tak berkecil hati dan—."
"Jangan berfikir yang tidak-tidak! Untuk apa kau mengurusi itu? Hanya mengundangku untuk marah?!"ketus sefira dingin tak menoleh ke Chandra.
Chandra yang ingin mengatakan hanya membuat sefira marah, karena menurutnya saat sefira marah dia kelihatan cantik dengan alis tebal dan bibir imutnya, ia menjadi tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan sefira, dan sedangkan sefira hanya tak memandangi wajah Chandra.
"Sudah, aku ingin pergi! Aku ada penting diluar!"ucapnya spontan lalu pergi ke pelaminan ingin menyalami dalvino.
"Eh tapi kau ... Malah pergi,"Chandra langsung mengikuti sefira yang sudah pergi, ia malah mengikuti sefira dari belakang agar sefira sudah tau, entah juga sefira sudah tau tetapi hanya diam melihat tingkah Chandra yang sangat membuatnya kesal.
Sampai di pelaminan, sefira menyalami dalvino dahulu dengan senyuman manisnya, lalu menyalami Saskia juga sembari berkata selamat menempuh hidup baru kepada kedua pengantin itu.
Dalvino hanya tenang melihat sefira, tak ingin berkata, ia juga tersenyum melihat sefira, dan ia lihat mata sefira seperti tak ada dendam kepada dalvino juga Saskia.
Saskia juga begitu, ikut tersenyum namun dihatinya penuh selidik melihat sefira yang ikut berbahagia dan tidak marah atau dendam padanya, entah juga dari dalam atau dia sudah merancang sesuatu dibaliknya.
Chandra yang tak ketinggalan menyalami Saskia dan dalvino sembari tersenyum dan sempat bergurau, sefira yang menyadarinya langsung cepat pergi tak ingin ketahuan dengan Chandra yang selalu membuatnya resah.
Sampai dimobil, sefira langsung pergi tancap gas dan dijalan pas saja tidak terlalu ramai, menurutnya ia sangat lama bersandiwara tadi, tetapi ia sangat menuruti permintaan ibunya yakni jangan dendam dan marah, harus melihat bagaimana kedepannya dengan sikap dalvino yang membuat sefira ingin pergi selama-lamanya dari bumi ini.
"Kenapa ibu selalu menggagalkan rencana ku! Ibu selalu tak faham dengan apa yang kurasakan! Kurasa selama ini ia merasa bahwa bukanlah dalvino yang salah, tetapi aku yang salah! Sebenarnya siapa anaknya?! Aku atau dalvino?! Dalvino hanya tenang dan senang tanpa mengingat diriku, tetapi aku? Aku selalu saja mengingat dia!"tekas sefira, ia berhenti dan menangis sejadi-jadinya, ia ingat saat dalvino bertunangan dengannya dan sudah ingin membuat acara pernikahan, namun dalvino selalu menggagalkan apa yang ia inginkan, termasuk saat ia jumpa dengan Saskia, rasanya ia ingin menjambak rambut Saskia dan memberi pelajaran kepada Saskia agar tak mendekati dalvino lagi.
Menurut sefira, sedikit langkah lagi dalvino akan mencintainya namun tidak, Saskia selalu ada di sisi dalvino dan merebutnya selalu tak tau jika sefira dan dalvino sudah bertunangan, dan menurutnya topeng dalvino terlalu tebal untuknya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa terlalu lama disana! Aku harus pergi!! Jika tidak aku selalu merasa tersiksa disana!! Kurasa disana aku perlahan akan mati!!"ketusnya sendiri sembari menangis, ia tak menyangka dalvino melakukan hal itu untuknya, ia juga sudah berusaha mesra dan selalu ada untuk dalvino namun tetap saja Saskia seperti mengintainya.